Masha Allah, 3 Manfaat Dzikir ini Perlu Kamu Ketahui :
1. Diberi Keberuntungan
Berdzikir dapat membawa seseorang pada suatu keberuntungan. Allah Swt, berfirman : “Maka, berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama Allah Sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung. ” (QS. al-Anfaal 8 : 45)
Berdasarkan surat al-Anfaal ayat 45 itu, kita tahu bahwa ibu hamil yang banyak berdzikir mendapat keberuntungan dari Allah Swt, berupa anak yang terlahir dalam keadaan sempurna, sehat, serta bersikap shalih maupun shalihah.
2. Mengatasi Problem Psikologis
Stress adalah cirri-ciri orang yang hatinya tidak tenteram. Stress yang dialami oleh ibu hamil akan dapak buruk bagi kesehatan anak yang dikandungnya.
Elizabeth Hurlock, seorang pakar janin, menyatakan kalau kondisi psikologis yang baik atau tidak, yang dialami oleh seorang ibu hamil bisa memengaruhi psikologis anak dalam kandungannya, sehingga besar kemungkinan pengaruh negative itu berubah jadi bawaan anak. Sehingga, anak jadi seorang penakut, pemarah, penyedih, dan lain sebagainya.
Untuk mengurangi rasa stress, Allah Swt, memerintahkan kita untuk mengingat-Nya lewat dzikir. Sebab, dzikir bisa menentramkan hati. Perintah Allah itu ada dalam al-Qur’an, tepatnya pada ayat berikut :
“ (Yaitu), orang-orang yang beriman serta hati mereka menjadi dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. ” (QS. ar-Ra’d 13 : 28).
Menurut M. Afif Anshori (2003), dari hasil penelitiannya ia menyebutkan bahwa timbulnya gangguan kejiwaan, sesungguhnya berpangkal pada ketidaksadaran diri kalau dirinya itu tidak mampu mengejar yang dicita-citakan. Namun, mereka tetaplah memforsir semua potensi akal budinya hingga kelelahan. Menurut anggapannya, semua kemauan bila diusahakan dengan pengerahan seluruh potensi tenaga serta fikiran, harus akan tercapai. Akan tetapi mereka tidak menyadari kalau kemampuan manusia begitu terbatas serta ada kelemahannya. Akibatnya terjadi shock, stress, depresi, frustasi, serta beragam kekalutan mental yang lain.
Disinilah utamanya dzikir supaya manusia tahu serta mengetahui jati dianya serta Tuhannya. Seperti kita kenali, dzikir pada prinsip pokoknya yaitu memusatkan fikiran serta perasaan pada Allah Swt, lewat cara menyebut nama-Nya secara berulang-ulang. hal ini membuat seseorang memiliki pengalaman “berhubungan” dengan Allah Swt, hingga dengan sendirinya akan menghilangkan rasa keterpisahan pada manusia dengan Tuhannya.
Dzikir memiliki kemiripan dengan beragam teknik meditasi pada kebiasaan agama-agama lain, baik pada tekniknya ataupun efek yang ditimbulkannya. Banyak kenyataan penelitian yang sudah membuktikan kalau dzikir tidak hanya
berpengaruh pada perkembangan ruhani seseorang, tetapi juga berpengaruh pada dimensi fisi. Misalnya, dalam menyembuhkan beragam penyakit fisik, seperti stress, kecemasan, serta depresi.
Sementara itu, dalam pojok pandang kaca mata ilmu kedokteran jiwa/kesehatan jiwa, dzikir adalah terapi psikistrik, setingkat lebih tinggi dari pada psikoterapi umum. Hal ini karena dzikir mengandung unsure spiritual keruhanian/keagamaan/ketuhanan yang bisa membangkitkan harapan (hope) serta rasa yakin diri (self confidence) pada diri seseorang yang sedang sakit, sehingga mempercepat proses penyembuhan.
Banyak fakta yang juga sudah membuktikan kalau orang-orang yang alami kekalutan mental (mental disorder) karena mereka alami kekeringan jiwa akibat jauh dari beberapa etika religious. Kenyataan-fakta ini bisa dihubungkan dengan teori kepribadian yang di sampaikan oleh Sigmund Freud, kalau jika seseorang tidak berdzikir hidupnya akan selalu dalam dampak ID (Das Es), serta akibatnya orang itu akan jadi psikopat, yaitu keadaan seorang yang tidak memerhatikan beberapa norma semua tindakannya, karena ego (Dash Ich) manusia bakal selalu ikuti dampak alam bawah sadar (ID) dengan demikian pengaruh super ego (alam moral) tidak berfungsi.
Jika diliat dari pojok pandang psikologis, orang yang berdzikir (dzakirin) adalah orang yang jauh dari kegoncangan jiwa (ambivalen) akibat penderitaan. Hal ini karena orang yang selalu berdzikir, super egonya senantiasa berperan sebagai alat control pada perilaku kesehariannya. Dengan demikian, bisa dipahami kalau dzikir memiliki kemampuan untuk mengatasi semua masalah psikologis yang dihadapi oleh manusia. Sebab dzikir, dapat jadikan sebagai alat keseimbangan (equilibrium) untuk jiwa serta ruhani manusia di mana mereka ada.
Keseimbangan itu pastinya begitu diperlukan ibu hamil dalam melindungi kandungannya sepanjang lebih Sembilan bulannya. Dengan selalu berdzikir pada Allah Swt., ketenteraman batin ini akan begitu baik untuk perubahan janin, baik secara fisik ataupun spritualnya, sehingga kelak lahir anak yang shalih serta shalihah.
3. Diingat Oleh Allah
Seorang yang rajin berdzikir akan diingat oleh Allah Swt. Allah akan menambahkan nikmat padanya. Allah Berfirman :
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Serta, bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku. ” (QS. al-Baqarah 2 : 152).
Ibu hamil serta anak dalam kandungannya adalah dua entitas yang berbeda, tetapi satu kesatuan. Bila ibu hamil mengingat Allah, jadi janin dalam kandungannya juga mengingat Allah. Dengan demikian, Allah akan mengingat si ibu hamil beserta janin dalam kandungannya.
Seorang termasuk ibu hamil yang diingat oleh Allah Swt. Akan terpenuhi semua kebutuhannya. Sesaat, janin yang diingat oleh Allah akan dijadikan-Nya sebagai anak yang shalih ataupun shalihah yang akan menyelamatkan dianya serta orang tuanya.
sumber : muslimterkini.com

Posting Komentar