Lahap Sate Buat Malam Jumatan, Ndilalah Istri Bocor

Foto: Cong kenek
Persiapan malam jumat itu beda-beda. Ada yang praktis dengan melahap sate untuk mendongkrak stamina. Tapi semua itu sia-sia. Sebab siangnya istri bilang sudah bocor. Kapok!

Empat kawanan yakni Cong Kenek, Mat Tasan, Mat Pi’i dan Mat Nganu pada Kamis pagi kemarin meruput menuju ke desa Pronojiwo. Mereka sengaja datang memenuhi undangan untuk melaporkan selamatan desa disana. Dengan mengendarai mobil, keempatnya begitu semangat. Persiapan dan peralatan laporan juga sangat lengkap. “Pokoke rek, ojok ngisin-ngisini. Awak dewe kudu tampil meyakinkan,” kata Cong Kenek asal Desa Bades Kecamatan Pasirian. “Iyeh rek, pokoke lek enek panganan ojok isin-isin. Sikat wes, ha ha ha” jawab Mat Pi’i asal Sumbersuko. “Aku manut sing tuwekan mas,” tanggap Mat Tasan asal Yosowilangun. “Bener San. Lek sing tuwek gak bener kari nguncalne Piket Nol,” sahut Mat Nganu. Melewati lika-liku jalan di Piket Nol, keempatnya akhirnya sampai di balai Desa Pronojiwo. Belum apa-apa, pagi itu juga, semua diberi hidangan yang enak-enak. Ada sate gule, rawon, guleh dan aneka macam buah. “Iling pesene Mat Pi’i mau rek. Hajar wes,” ungkap Cong Kenek sambil melahap sate. Tiga kawanan lainnya sebenarnya malu melihat Cong Kenek.
Sebab, cara makannya diluar kebiasaan. Dia melahap sate tak berkukuran. Untung saja tusuknya gak bisa dimakan, jadinya disisakan. Tapi karena lebih senior, jadi dibiarkan begitu saja. Selesai menikmati hidangan, keempat kawanan itupun kembali melaksanakan tugasnya. Mereka mengumpulkan bahanbahan untuk menyusun laporan. Mereka juga terliha berpencar mencari data dan dokumen penting agar laporannya menarik. Selesai itu, siang harinya mereka kembali ke balai desa. Seperti biasa, karena sudah waktunya jam makan siang, keempat kawanan yang dispesialkan ini kembali disuguhi hidangan. Lagi-lagi Cong Kenek menyikat sate sampai hampir habis. Mat Pi’i yang usianya sebaya kemudian menegerunya. “Cong, mbok yo iling konco-koncone lek mbadog Cong,” katanya menegur. “Wes ayo hajar wes. Iki gawe persiapan malam jumat engkok rek. Biasane aku kan gawe set panjang. Dadine kudu akeh nambah stamina,” jelasnya sambil melahap sate. Tiga temannya itupun ngakak-ngakak mendengar jawaban itu. Usai menyantap hidangan, keempat kawanan ini tak bisa keluar area desa. Sebab, pawai budaya sedang ramai-ramainya memadati jalan. Mat Pi’i kemudian mencari akal.
Dia meminta izin lewat pada panitia dan memamsang tulisan di depan kaca mobil. “LIPUTAN PAWAI BUDAYA” berkat tulisan itu mereka bisa keluar area karena warga perlahan-lahan memberi jalan. Nah, setelah lewat dari kepungan warga itu, seluler Cong Kenek berdering kencang. “Haloo sayang, aku wes ape balik iki sayang,” katanya saat menerima telepon dari Yu Tub istrinya. “Iya wes mas, ndang balik ojok suwi-suwi,loh yoh,” jawabnya. Seperti biasa, Cong Kenek mulai pamer pada tiga kawannya saat di dalam mobil. Suara di HPnya dia putar kencangkencang. “Deloken rek, iki bojoke yahmene wes ngajak. Buktine aku dikongkon ndang balik,” ujarnya dengan mengeraskan suara dalam smartphonenya. Saat sesumbar itulah, Yu Tub kemudian nyerangap. “Opo mas? Aku iki gak penak awak. Ndang muleh ojo keluyuran wae. Wes ndak usah omong malem jumat barang. Aku bocor iki. awakku rasane remek kabeh,” ujar Yu Tub. Spontan ungkapan itu membuat suasana seisi mobil pecah. Semua terbahak-bahak menertawakan Cong Kenek. Bahkan Mat Pi’i ngakak-ngakak sampai keluar air liur muncrat.
 “Kapok sampean mas, rasakno saiki bojone bocor, engkok bengi diantemno neng endi,’ ujar Mat Nganu sambil terpingkal-pingkal. Mat Tasan juga demikian meledek. “Tak golekno solusi tah mas ben tetep iso ngantem. Piye lek tak terne neng mburine Polsek Sumbersuko, ha ha ha ha,” jelas Mat Tasan. “Emboh rek, aku pegel lek ngeneh. Ojok pringisan wae,” ujar Cong Kenek dengan gaya super jengkel. Disela-sela itu, ternyata giliran Mat Pi’i yang mendapat telepon. Tentu dari Yuk Nah istrinya. “Opo maah, aku sik neng Pronojiwo iki,” katanya lewat sambungan telepon. “Ndang balik paah, iki akeh ater-ateran kudu dikirim neng Pasirian,” pinta Yuk Nah. “Urusan koyok ngunuh mosok aku.

Wes budal dewe maren,” jawab Mat Pi’i dengan nada kesal lalu menutup sambungan telepon. Mat Pi’i juga mengabaikan suara tanda pesan masuk pada selulernya. Beberapa saat kemudian, Cong Kenek yang usil membuka HP Mat Pi’i. isinya simpel. ‘engkok malem jumat loh paah’. “Ha ha ha, iki rek pesene bojone Pi’i. wes ndang balik kowe. Ben jatahe gak dikurangi. Ndang ater-ater disek,” kata Cong Kenek. Pi’i yang penasaran kemudian membuka isi pesan dari Yuk Nah, istrinya. “Waduh iyo. Saiki kan malam jumat yoh. Palang, terpaksa iki wes marine aterater,” ujarnya lemas. Jawaban itu membuat tiga kawanan dalam mobil giliran menertawakan Mat Pi’i. “Kapok koen,” kata Cong Kenek mengece. Tapi Mat Pi’i tidak menyerah. “Lek aku biasa ae Cong. Cuma dikon ater-ater ae kan gampang. Lawong bojoku gak bocor. Sik iso kan rek. Timbang bojomu bocor yo kudu oleh ucapan kan Cong Kenek iki rek,” kata Pi’i. “Ucapan opo,” sahut Cong kenek. “Selamat menjalankan ibadah puasa,” ujar Mat Pi’i, Mat Tasan dan Mat Nganu dengan kompak dalam mobil lalu menertawakan Cong Kenek bareng-bareng.