Pakai Songkok Pinjaman, Dikira Pak Haji

Foto Cong kenek


Gara-gara memakai songkok putih yang sering dikenakan Pak Haji, Cong Kenek dikira sudah haji. Parahnya, dia ho oh saja saat ditanya soal haji. Baru ketika pertanyaannya detil, dia terlihat klimpungan.

Dalam sebuah resepsi pernikahan di Desa Bades Kecamatan Pasirian, Cong Kenek dengan bangga mengenakan kostum ngejreng. Dandanannya nyetil, pakai jas, parfum semerbak. Satu lagi  yang gak ketinggalan. Yakni mengenakan songkok bulat warna putih. Bukan cuma penampilan, gaya bahasanya juga ke Arab-araban. Saat baru datang, dia yang disambut tuan rumah langsung berucap salam dengan sangat fasih. “Assalamu’alaikuuuum,” ucapnya kencang bikin penerima tamu kaget. Dipersilakanlah dia duduk di ruang kehormatan. Disana ada dua mempelai yang terlihat tampak malu-malu. Ada juga para wali nikah, dan juga para kiai. “Bagaimana kabarnya abah,” tanya Mat Tasan, wali dari mempelai putri. Spontan Cong kenek menjawab dengan mantab.
“Alhamdulillah, khoir, khoir, khoir… (baik.red),” ucapnya seolah lidah ditekuk berlipatlipat. “Abah, bagaimana kabar di tanah suci kemarin? Lancar kan abah?” tanya Mat Pi’i. Pertanyaan itu dilontarkan karena Cong Kenek sudah menampilkan sesosok pak Haji. “Alhamdulillah, lancar semua,” jawab Cong Kenek yang kali ini dengan suara lirih. Gaya menjawab lirih itu sekaligus untuk mengalihkan perhatian. Agar tidak ditanya terus soal kegiatan haji. Maklum, Cong Kenek tahunya cuma dari berita-berita di koran. Bukan berangkat sendiri ke tanah suci. Mat Pi’i bukannya berhenti. Dia malah bercerita panjang lebar seputar aktifitas haji. Termasuk kaitan dengan robohnya crane, dan desak-desakan di Mina. Diceritakan pula dia berhasil selamat karena waktu kejadian tidak di sekitar lokasi itu. “Kalau abah sendiri waktu itu dimana?,” tanya Mat Pi’i. “Ya disana, Alhamdulillah selamat. Sudah sering kayak gitu itu Abah. Saya sudah biasa,” jawab Cong Kenek. Mat Pi’i yang baru sekali berhaji merasa yakin Cong Kenek adalah sosok haji beneran juga. Tanpa sengaja, pertanyaan spesifik dilontarkan oleh Mat Pi’i. “Abah sendiri di kloter berapa hajian kemarin,” tanyanya.

 Pertanyaan itu bikin Cong kenek langsung ketap-ketip. Dia menatap langit-langit ruangan sambil mengalihkan perhatian dengan mengambil minum. Karena tidak ada jawaban, Mat Pi’i menjelaskan dirinya ada di kloter Sub 44. Kembali lagi dia bertanya pada Cong Kenek. “Abah dimana ya,” tanyanya terus. “Kloter 50,” katanya singkat. “Abah berangkat dari Lumajang kan ya?,” sambar Mat Tasan. “Iya,” jawab pelan Cong Kenek. “Lho-lho-lho, Lumajang kan cuma kloter 44, 45, dan 46. Apa abah ini menyusul ikut kloter lain?” tanya Pi’i. Karena dicecar terus, Cong Kenek berhenti menjawab. Dia menolah-noleh ke sekeliling dengan kebingungan. Keringat mulai ndrodos. Beruntung tertutup jas. Tanpa tedeng aling-aling, Cong Kenek langsung menjawab dengan jujur. Suaranyapun mulai lirih. “Jujur, saya ini belum haji. Kemarin tahunya cuma dari berita di koran. Hehehe. Saya pakai kopyah putih ini karena memang gak punya. Ini saja minjam,” ucapnya dengan gayanya cengar-cengir sambil merunduk menghindari malu. Mat Tasan dan Mat Pi’i termasuk tamu kehormatan lain langsung ngakak bersama-sama. Suasana yang sebelumnya sungkan-sun gkanan berubah jadi kocak. Sementara Cong Kenek tambah terlihat mengkeret menahan malu. Mereka baru sadar, orang yang berpenampilan seperti pak Haji malah bukan siap-siapa. Hanya orang yang diajak asalasalan demi memenuhi rombongan. Tawa semakin lantang karena Cong Kenek berani jujur. Dan kelihatan muka aslinya yang culun.