Kisah Teladan Lelaki Yang Meninggal Saat Berzikir

Kisah Teladan Lelaki Yang Meninggal Saat Berzikir ~ Gemuruh zikir baru usai di tempat itu, Suara tasbih, tahmid, shalawat, kalimat thayyibah, gema ayat-ayat al-Qur’an  sudah tak terdengar lagi. Semua jamaah kini tengah bersantai. Melepas penat. Gerah memang begitu terasa.

Tampak sebagian di antara mereka menikmati suguhan makanan tradisional yang sudah tersaji dihadapan mereka. Sembari satu sama lain bercengkerama, sebagian lagi menyeka peluh yang mengunci badan mereka setelah kurang lebih tiga jam tadi mulut mereka melafadzkan kalima-kalimat zikir.


Dimajelis itu, suasana begitu guyub nan rukun. Keakraban diantara mereka terjalin begitu erat. Ini terlihat dari mimik yang berbinar-binar. Begitu sumringah jauh dari raut sedih. Tetapi ada satu pemandangan yang berbeda. Di barisan depan tidak jauh dari Ustadz Helmi (60 tahun  nama samaran), tampak Jalal (53 tahun nama samaran) belum beranjak dari zikirnya. Duduk bersila dengan kedua tangannya masih tengadah. Posisi berdoa, kedua matanya mengatup. Wajahnya menunduk.

“Coba bangunkan dia, Pak ! Tampaknya tertidur,” bisik Siroj (65 tahun, nama samaran) pada Hakim (48 tahun samaran) di sampingnya.

“Biar, Pak!” Jawab Hakim. Hakim yang duduknya persis bersebelahan dengan Jalal lantas menepuk pundak teman satunya itu. Sebelumnya, ia lihat sekilas wajah Pak Jalal yang tenang, sepertinya lelap dalam kantuknya.

Pak...... bangun Pak! Sudah selesai. Pak kata lelaki itu sambil menepuk bahunya pelan.

Beberapa detik ia menunggu respon, tetapi tidak kunjung datang. Lelaki itu masih tidak bergerak. Diam membisu seribu bahasa. Tepukan di bahu yang kedua, tetap tak ada respon sama sekali. Sewaktu itu Hakim masih berpikir bahwa temannya ini benar-benar sudah terlelap tidur. Siroj hanya memperhatikan saja.

“Tak mau bangun. Pak! “ucap Hakim. “Coba engkau gerakkan agak kencang sedikit!. Mungkin tepukanmu tadi terlalu pelan sehingga tak muncul reaksi sama sekali”

Untuk kesekian kalinya. Hakim mencoba membangunkannya lagi. Kali ini sambil memegangi kedua bahu Jalal. Tangan kiri Hakim menggerakkan bahu kiri Jalal, sedang tangan kanan Hakim menggerakkan bahu kanan Jalal secara bergantian. Sehingga tubuh Jalal seakan bergoyang-goyang

Dari tadi, Siroj melihatnya. Tetapi tampaknya usaha temannya untuk membangunkan Jalal belum juga berhasil Jam dinding di rumah shahibul bait penyelenggara zikir sudah menunjukkan  pukul 23,15. Siroj pun mulai resah kenapa Pak Jalal tak kunjung terjaga dari ketidaksadarannya. Penasaran, ia lalu menghampiri.

“Bapak geser dulu, biar saya yang coba!” kata Siroj. Jamaah yang lain mulai mengalihkan perhatiannya pada Hakim dan Siroj yang sedari tadi berupaya membangunkan Pak Jalal tapi tak kunjung berhasil. Sementara Siroj masih berupaya lagi.

“Pak......Pak..... ayo bangun Pak!” Sebagian jamaah yang lain bertanya-tanya, ”Ada apa, Pak? Kenapa Pak Jalal?”. Akhirnya setelah sekian lama menemui kegagalan Siroj memegangi tangan Jalal. Tangan itu sudah terasa dingin. Diraba urat nadinya, lalu ia lekatkan telinga kanannya pada dada Jalal. Detak jantungnya sudah tak berdegup. Berkali-kali ia menyakinkan.

Beberapa jamaah lain mulai menghampiri. Termasuk di antaranya Ustadz Helmi yang ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Ternyata, nafas lelaki yang melanggengkan dzikir ini sudak berhenti. Tak ada pergerakkan sama sekali. Tanda kehidupan sudah sama sekali tak berfungsi.

Siroj kemudian gelengkan kepala memberi isyarat kepada Ust. Helmi  bahwa teman yang belum pernah absen mengikuti zikir berjamaah setiap sepekan sekali  ini sudah tiada.

“Inna lillahi wa inna ilahi rajiun,” kata Ust. Helmi.

Kedua mata Ust. Helmi menitikkan air mata. Air mata kesedihan sekaligus kebahagian. Ia bersedih lantaran Jalal, salah seorang jamaah majelis zikir yang dipimpinnya sudah meninggal dunia. Tetapi sang ustadz juga bahagia karena sahabatnya itu dipanggil oleh Allah swt dalam keadaan berzikir di majelis zikir.

“Malam ini, kita saksikan saudara kita, Bapak Jalal sudah di panggil menghadap kepada Allah swt, semoga beliau  khusunul khatimah” ucap Ustadz Helmi.

“Amien.....amien....ya rabbal ‘alamin” jawab para jamaah. Seketika di majelis zikir itu berubah menjadi suasana duka. Acara santai usai zikir yang penuh dengan keramahan  langsung terhenti. Semua yang ada di tempat itu menjadi saksi mata atas kematian sahabat mereka yang Insya Allah meninggal dalam keadaan khusunul khatimah.

Tengah malam, sunyi di kampung itu. Di sebuah rumah sederhana, dimana sebagian besar masyarakatnya sedang tertidur pulas, terlihat ada kesibukan kecil di dalamnya. Ya warga dan kerabat yang mulai bertakziah di rumah duka.

Tak Neko-Neko

Majelis zikir yang di selenggarakan rutin seminggu sekali tiap malam Senin ini sejatinya sudah berjalan lama sekali. Zikir berjamaah ini diikuti warga Tegal Ijo. Jumlah anggotanya sekitar 80 orang, tempatnya berpindah-pindah dari satu rumah warga, ke rumah warga yang lain di minggu berikutnya. Waktunya sehabis  Isya’ sekitar pukul 20.00 hinga 23.00.

Majelis zikir ini sudah berdiri sejak kakek buyut mereka. Dan ditradisikan masyarakat secara turun-temurun hingga sekarang. Karena itu boleh dibilang tradisi ini sudah mendarah daging bagi masyarakat kampung itu.
Terkecuali Pak Jalal, yang sejak muda sudah mengikuti zikir ini. Di samping zikir mingguan di kampungnya, sosok bapak tiga orang anak ini memang begitu getol  menjalankan ritual ibadah dalam kesehariannya. Ini dapat dilihat setiap kali azan berkumandang di masjid, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan segala rutinitasnya.

Tak lain agar bisa mengikuti shalat fardhu secara berjamaah. Setiap taklim uang diselenggarakan di masjid, di mushala atau di majelis-majelis lain, ia berusaha menghadiri selagi tak ada udzur. Iatnya hanylah thalabul ilmi. Pun puasa hari  Senin dan hari Kamis tak ditinggalkannya, sebisa mungkin ia jalani hidup sebaik-baiknya di usianya yang sudah menapak lebih dari setengah abad. 

Prinsipnya tidak neko-neko dalam menjalani hidup. Karena ia  menganut pepatah Jawa yang mengatakan bahwa “ wong urip iku mung mampir ngombe” (hidup itu singkat seperti orang sedang mampir untuk minum) Yang bisa dimaknai dari kalimat tersebut bahwa hidup itu hanya sebentar. Setelah kehidupan yang singkat, ada kehidupan lain yang lebih kekal sifatnya. Karena itulah manusia, mesti bijak mengisi hidupnya.

Lelaki sederhana itu sadar, manusia tak hidup untuk selamanya di dunia. Semua ada waktunya. Ada kelahiran pasti ada kematian. Tak seorang pun yang bisa mengelak dari kematian. Akan tetapi meskipun singkat, semua ada konsekuansinya Allah menuntut pertanggung jawaban manusia atas waktu yang dikaruniakan-Nya.

Itulah yang di pegang Jalal kuat-kuat, karena itu, ia memaksimalkan waktu yang ada secara arif. Ia harus menyeimbangkan komunikasi antara dirinya sebagai manusia biasa dan sesamanya, pun komunikasi antara dirinya sebagai hamba dan Sang Khalik. Ia harus bisa membagi secara adil antara urusan dunia dan urusan akhirat. Kalaupun ia melakoni hal-hal yang sifatnya duniawi, seperti bertani, semata ia niatkan lillahi ta’ala. Ia bekerja karena untuk menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga yang menafkahi keluarganya agar mendapat ridha Ilahi.

Sebagai seorang petani, praktis waktunya sehari-hari ya rutin mengolah lahan pertaniannya, dan di sela-selanya ia juga mencari rerumputan untuk makanan 2 (dua) ekor sapi peliharaannya. Ia membelinya dari sapi kecil dan kemudian dibesarkan setelah sebesar maka dijualnya.

Dari hasil pertanian dan pembesaran sapi, lumayanlah hasilnya. Cukup bisa membantu untuk menompang hidupnya sekaligus biaya pendidikan anak-anaknya.

Begitulah ritme keseharian Pak Jalal. Tak ada yang mencolok dari seorang petani seperti dirinya, semua  berjalan apa adanya. Tidak neko-neko namun ada makna Sampai Allah swt, kemudian memanggilnya di bulan November 2002 saat ia merapalkan zikir dan doa bersama di malam itu.

Menurut Hakim, tetangga sekaligus teman satu majelis zikir, Jalal  adalah petani sedernana, bersahaja, yang memasrahkan  hidupnya pada Yang Kuasa. Pekerjaan hariannya hampir sama dengan penduduk kampung lainnya sebagai petani biasa. Bedanya, ia punya kesadaran yang kuat bahwa hidup itu harus berarti. Berarti  dihadapan Allah  swt, sehingga apa  yang dilakukan diniatkan karena Allah swt. Semoga khusnul khatimah.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo