Tampilkan postingan dengan label Kisah-Teladan. Tampilkan semua postingan

Dunia Nabi ~ Dengan mengendarai untanya Rasulullah Saw, berjalan di tengah-tengah barisan manusia yang penuh sesak, dengan luapan semangat dari kalbu yang penuh cinta dan rindu, berdesak-desakan berebut memegang kekang untanya, karena masing-masingnya menginginkan untuk menerima Rasul sebagai tamunya. Rombogan Nabi itu mula-mula sampai ke perkampungan Bani Salim bin Auf, mereka mencegat jalan unta sembari berkata:

"Wahai Rasul Allah tinggallah Anda pada kami, jumlah kami banyak, persediaan cukup, serta keamanan terjamin.!" Tawaran mereka yang telah mencegat dan memegang tali kekang unta itu, dijawab oleh Rasulullah Saw. "Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanakan perintah !"


Kendaraan Nabi terus melewati perumahan Bani Bayadhah, kemudian ke kampung Bani Sa'idah, dan ke kampung Bani Harits Ibnul Khazraj, kemudian sampai di kampung Bani "Adi bin Najjar. Setiap suku atau kabilah untuk mencoba mencegah jalan unta Nabi, dan tak henti-hentinya meminta dengan gigih agar Nabi Saw, sudi membahagiakan mereka dengan menetap di kampung mereka. Sedang Nabi menjawab tawaran mereka sambil tersenyum syukur  dibibirnya ujarnya; "Lapangkan jalannya, karena ia terperintah!"

Nabi sebenarnya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya, diatas tanahnya bakal muncul suatu masjid yang akan memancarkan kalimat-kalimat Allah dan Nur-Nya ke seantero dunia. Dan di sampingnya akan berdiri satu atau beberapa bilik dari tanah dan bata kasar, tidak terdapat disana harta kemewahan dunia selain barang-barang bersahaja dan seadanya !

Tempat ini akan dihuni oleh seorang Mahaguru dan Rasul yang akan meniupkan ruh kebangkitan pada kehidupan yang sudah padam, dan yang akan memberikan kemuliaan dan keselamatan bagi mereka yang berkata.

"Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka tetap diatas pendirian bagi mereka yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan itu dengan keaniayaan, bagi mereka yang mengikhlaskan Agama mereka semata-mata untuk Allah, dan bagi mereka yang berbuat kebaikan di muka bumi dan tidak berbuat binasa. Benarlah Rasululah Saw, telah menyerahkan sepenuhnya pemilihan ini kepada qadar illahi yang akan memimin langkah perjuangan kelak.
Oleh karena inilah ia membiarkan saja tali kekang untanya terlepas bebas, tidak ditepuknya kuduk unta itu tidak pula dihentikan langkahnya, hanya dihadapkan hatinya kepada Allah, serta diserahkan dirinya kepada-Nya dengan berdo'a, "Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihkanlah untukku....!"

Di muka rumah Bani bin Malik bin Najjar unta itu bersimpuh kemudian ia bangkit dan berkeliling di tempat itu, kemudian pergi ke tempat ia bersimpuh tadi dan kembali bersimpuh lalu tetap dan tidak beranjak dari tempatnya. Maka turunlah Rasul dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan. Salah seorang Muslimin tampil dengan wajah berseri-seri karena sukacitanya, ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkanya ke rumahnya kemudian mempersilakan Rasul masuk. Rasul pun mengikutinya dengan diliputi oleh hikmah dan berkah.

Maka tahukah anda sekalian siapa orang yang berbahagia ini, yang telah dipilih taqdir bahwa unta Nabi akan berlutut di muka rumahnya, hingga Rasul menjadi tamunya, dan semua penduduk Madinah akan merasa iri atas nasib mujurnya. Nah, ia adalah pahlawan yang jadi pembicaraan kita sekarang ini, Aku Ayyub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang pertamanya dengan Rasulullah. Sebelum ini, yakni sewaktu perutusan Madinah pergi ke Mekah untuk mengangkat sumpah setia atau bai'at, yaitu bai'at yang diberkati dan terkenal dengan nama "Bai'at Aqabah kedua", maka Abu Ayyub al-Anshari termasuk diantara tujuh puluh orang Mu'min yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah Saw, serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela. Dan sekarang ketika Rasulullah sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat bagi Agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besarnya telah melimpah kepada Abu Ayyub, karena rumahnya telah dijadikan rumah pertama yang didiami muhajir agung, Rasul yang mulia.

Rasul telah memilih untuk menempati ruangan rumahnya tingkat pertama. Tetapi begitu Abu Ayyub naik ke kamarnya di tingkat atas ia pun jadi menggigil, dan ia tak kuasa membayangkan dirinya akan tidur atau berdiri disuatu tempat yang lebih tinggi dari tempat berdiri dan tidurnya Rasulullah Saw itu. Ia lalu mendesak Nabi dengan gigih dan mengharapkan beliau agar pindah ke tingkat atas, hingga Nabi pun memperkenalkannya pengharapannya itu.
Nabi akan berdiam di sana sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya. Dan semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, menghasut kabilah-kabilah lain serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur ilahi, semenjak itulah Abu Ayyub mengalihkan aktifitasnya kepada berjihad di jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pendeknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengorbankan nyawa dan harta bendanya untuk Allah Rabbul'alamin. Bahkan sesudah Rasul wafat pun, tak pernah ia ketinggalan menyertai pertempuran yang diwajibkan atas Muslimin sekalipun jauh jaraknya yang akan ditempuh dan berat beban yang akan dihadapi !

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras ataupun perlahan adalah firman Allah Ta'ala. "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit..!"(Q.S. At-Taubat ayat 41)

Satu kali saja ia absen tidak menyertai balatentara Islam, karena sebagai komandannya khalifah mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin, sedang Abu Ayyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Hanya sekali saja, tidak lebih..! Sekalipun demikian, bukan main menyesalnya atas sikapnya yang selalu menggoncangkan jiwanya itu katanya: "Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang akan jadi atasanku.!" Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam peperangan. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai prajurit dalam tentara Islam, berperang dibawah benderanya dan membela kehormatannya.!

Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Mu'awiyah, ia berdiri di pihak Ali tanpa ragu-ragu, karena ialah Imam yang telah dibai'at oleh Kaum Muslimin. Dan tatkala Ali syahid karena terbunuh, dan khilafah berpindah kepada Mu'awiayah. Abu Ayyub menyendiri dalam kezuhudan, bertawakkal lagi bertaqwa. Tak ada yang diharapkannya dari dunia hanyalah tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang  dalam barisan para pejuang.

Demikianlah, sewaktu diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan dan dirindukannya.! Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat, Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya sedang berlomba dengan keinginannya hendak menemui Allah.
Maka bertanyalah panglima pasukan yang waktu itu Yazid bin Mu'awiayah: "Apa keinginan anda, wahai Abu Ayyub?" Sungguh, ia telah meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal, agar jasadnya dibawa dengan kuda sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh ke wilayah musuh, dan disanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, hingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin diatas kuburnya dan diketahuinyalah bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan dan keuntungan  yang mereka cari !

Dan sungguh, wasiat Abu Ayyub itu telah dilaksanakan oleh Yazid ! Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat makam pekuburan laki-laki berjiwa besar. Hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang-orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Ayyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci. Dan anda akan tercengang jika mendapati semua ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata: "Orang-orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka  mengalami kekeringan."

Sekalipun perang dan pertempuran sarat memenuhi kehidupannya, hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya adalah tenang tenteram laksana desiran kayu dikala fajar menjelma. Sebabnya ia pernah mendengar ucapan Rasulullah Saw yang terpateri dalam hatinya: "Bila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah yang terakhir atau hendak berpisah. Jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata yang menyebabkan engkau harus meminta maaf.! Lenyapkan harapan terhadap apa yang berada ditangan orang lain.!"

Dan oleh karena itulah tak pernah lidahnya terlibat dalam suatu fitnah dan dirinya tidak terjerembab dalam kerakusan dunia. Ia telah menghabiskan hidupnya dalam kerinduan ahli ibadah, maka sewaktu ajalnya datang tak ada keinginannya di sepanjang dan selebar dunia kecuali cita-cita yang melabangkan kepahlawanan dan kebesarannya selagi hidupnya: "Bawalah jasadku jauh-jauh.....jauh masuk ketanah Romawi, kemudian kuburkan aku disana..!" Ia yakin sepenuhnya akan kemenangan, dan dengan mata hatinya dilihatnya bahwa wilayah ini telah termasuk dalam taman impian Islam, dalam lingkungan cahaya dan sinarnya.

Karena itulah menginginkannya sebagai tempat istirahatnya yang terakhir, yakni di ibukota negara itu, di mana akan terjadi pertempuran yang menentukan, dan dari bawah tanahnya yang subur, ia akan dapat mengikuti gerakan tentara Islam, mendengar kepakan benderanya, dan bunyi telapak kudanya serta gemerincing pedang-pedangnya. Sekarang ini ia masih terkubur disana. Tetapi tidak lagi mendengar gemerincing pedang, atau ringkikan kuda! Keadaan telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat yang dituju, sejak waktu yang lama. Tetapi setiap hari, dari pagi hingga petang didengarnya suara adzan yang berkumandang dari menara-menaranya yang menjulang diangkasa, bunyinya:

"Allah Maha Besar......... Allah  Maha Besar.."

Dan dengan rasa bangga, di dalam kampungnya yang kekal dan di mahligai kejayaannya ia menyahut: "Inilah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya..!"

Sumber : Google

Kisah Abu Hanifah Yang Menginspirasi ~ Abu Hanifah adalah seorang ulama besar yang namanya masih dikenang hingga kini. Dalam sejarah (Islam), dia telah menorehkan episode-episode kehidupan yang bisa diteladani. Dia ahli ibadah dan ahli fiqih. Kecemerlangan pemikiran Abu Hanifah di bidang fiqih menobatkan dia sebagai salah satu imam dari empat mazhab besar dalam sejarah Islam.


Semua itu tak membuat dia jumawa. Padahal saat masih kecil, dia sudah membuat banyak orang berdecak kagum. Suatu hari Irak kedatangan utusan dari Kaisar Romawi. Utusan itu dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki keahlian debat cukup brilian. Setelah mendapat izin dari khalifah, utusan itu menantang debat ulama-ulama Irak.

Utusan itu menaiki mimbar, kemudian berkata lantang, “Siapakah di antara kalian yang bisa menjawab pertanyaanku?”

Sebelum hari itu, utusan kaisar tersebut memang telah mengalahkan beberapa ulama Irak. Tapi diluar dugaan, tiba-tiba ada anak kecil yang mengacungkan jari, kemudian berdiri, “Katakan apa pertanyaanmu, nanti aku akan menjawabnya.”

Semua orang terhenyak kaget, dan bertanya-tanya siapa sebenarnya anak kecil itu. “Siapa engkau wahai anak kecil? Tanya  utusan kaisar tersebut. Banyak orang yang jauh lebih tua dengan sorban besar telah kukalahkan. Bagaimana kau yang masih kecil akan bisa mengalahkanku?

Anak kecil itu menjawab bahwa ilmu dan kemuliaan itu hanya milik Allah.

Utusan itu seperti tidak memiliki pilihan lain, akhirnya dia pun mengajukan pertanyaan “Apakah Allah itu ada?”

“Ya, Allah ada.” “Lalu, dimana Dia berada?” tanya sang utusan. “Allah tidak bertempat,” jawab anak kecil itu tanpa ragu.

“Bagaimana bisa sesuatu yang tidak bertempat bisa kau katakan ada?” Jawaban tentang pertanyaan itu ada pada tubuhmu, “ jawab anak kecil itu. Kini coba katakan di mana letak ruhmu?

Utusan itu kebingungan menjawab, tapi belum sempat utusan itu menemukan jawaban, anak kecil itu meminta seseorang menghidangkan segelas susu. Lalu anak kecil itu kembali bertanya, “Apakah di dalam susu ini terdapat lemak?”

“Ya”, jawab sang utusan.

“Lalu, dimana letak lemak tersebut?”

Sang utusan tak bisa menjawab, dan merasa kalah. Lalu dia mengajukan pertanyaan lain. “Apa yang ada sebelum Allah ada dan apa yang ada setelah Allah?”

“Tidak ada yang sebelum Allah dan tidak ada yang setelah-Nya,” jawab anak kecil itu.

“Bagaimana menjelaskan sesuatu yang ada tapi tidak ada sebelum dan sesudahnya?”

“Jawaban untuk pertanyaanmu ini juga ada dalam tubuhmu.”

“Apa itu, wahai anak kecil?”

“Apa yang ada sebelum jempolmu dan apa yang ada setelah jari kelingkingmu?”

Ilmuwan itu berkata, “Tidak ada apa-apa sebelum jempolku dan tidak ada apa-apa pula setelah kelingkingku.”

Begitu juga Allah tidak ada apa-apa sebelum-Nya dan tidak ada apa-apa setelah-Nya.”

Utusan itu tak bisa berkutik lagi. “Sekarang satu lagi pertanyaanku. “Apa yang sedang dilakukan oleh Allah sekarang ini?”

Sebelum anak kecil itu menjawab dia meminta kesempatan untuk menjawab diatas mimbar. Utusan itu pun turun, dan anak kecil itu kemudian naik mimbar. “Sekarang ini yang sedang dilakukan Allah adalah menjatuhkan derajat orang sesat sepertimu dari atas ke bawah, dan meninggikan derajat orang-orang yang berada dalam kebenaran seperti  aku dari bawah ke atas.” 

Siapa anak kecil itu? Dia tak lain adalah An-Nu’man bin Zauthi At-Taiin Al-Kufi yang di kemudian hari dikenal dengan nama Abu Hanifah (padahal usianya saat itu baru 7 tahun). Abu Hanifah lahir pada tahun 80 Hijiriyah di Kufah, salah satu wilayah di Irak. Dia anak dari seorang kepala suku di Kufah.

Selain dikenal sebagai ahli Fiqih, Abu Hanifah jugga dikenal sebagai seorang ahli ibadah. Hampir semua orang yang pernah dekat dengan Abu Hanifah punya kesaksian, Abu Hanifah biasa memiliki wudhu shalat Isya dan bertahan hingga waktu Shubuh. Sepanjang waktu antara Isya dan Shubuh, dia menunaikan shalat  dan munajat. Ia tidur sebentar antara  Zuhur dan Ashar. Bahkan, hal itu dilakukan Abu Hanifah selama kurang lebih 40 tahun.

Wajar jika setiap malam Abu hanifah mendengar keluhan dari salah satu  tetangganya, seorang pemuda yang suka mabuk. Saat Abu hanifah mau menunaikan shalat malam, saat itu pula. Abu Hanifah mendengar pemuda mabuk itu sambil melantunkan syait: “Mereka menyia-nyiakanku!  Dan semua orang yang disia-siakan sepertiku! O.....siapakah yang telah menyia-nyiakan!. Hari yang tak  menyenangkan !! dan hari terkuncinya lisan.

Setiap malam, Abu Hanifah mendengar keluh kesah pemuda mabuk itu. Hingga suatu hari, malam terasa hening. Tak ada lagi ocehan pemuda itu. Abu Hanifah kemudian mendatangi rumah pemuda itu, dan mendapatkan kabar bahwa pemuda itu telah ditangkap oleh pihak keamanan.

Esok pagi harinya, Abu Hanifah mendatangi kediaman Gubernur, dan meminta pemuda itu dilepaskan. Setelah pemuda itu dilepaskan, Abu Hanifah berujar, “Wahai pemuda, apakah kami menyia-nyiakanmu?”

“Tidak Kini aku tahu bahwa engkau telah menjaga dan memperhatikan kami. Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau telah memuliakan tetanggamu.” Akhirnya, pemuda itu pun bertaubat.

Sekalipun Abu Hanifah adalah seorang ulama besar, dia tidak lantas berpangku tangan. Dia tetap bekerja, berdagang dan bahkan bergaul dengan siapa saja dari berbagai kalangan. Bahkan, dia dikenal ringan tangan membantu orang.

Suatu hari, Abu Hanifah memberi hadiah sehelai pakaian kepada salah seorang  teman. Tapi karena baju itu ada sedikit cacat, dia berpesan untuk menyampaikan kecacatan baju itu jika satu hari akan dijual. Sang teman rupanya lagi punya kebutuhan, dan baju itu pun di jual. Sayang dia lupa memberitahukan soal kecatatan baju tersebut.

“Engkau kenal dengan orang yang membeli baju itu ?” tanya sang Imam.

“Aku tidak kenal, bahkan lupa dengan ciri-ciri orang yang membeli baju itu.”

Akhirnya untuk menebus kehati-hatian itu, sang imam bersedekah senilai harga baju tersebut.

Dalam ilmu fiqih. Abu Hanifah adalah salah satu ulama besar yang tak diragukan lagi. Tetapi ketika sang ibu meminta Abu Hanifah untuk menanyakan sesuatu masalah, Imam Abu Hanifah pun tidak membantah.

“Aku telah menyaksikan darah setelah hari-hari suci, hingga aku tak tahu apa aku  harus meninggalkan shalat atau tidak,” kata Ibu Abu Hanifah. “Coba pergilah ke Abu Abdurrahman Umar bin Dzurr, dan tanyalah masalah ini kepadanya!.”

Abu Hanifah yang sebenarnya tahu dan bahkan mampu menjawab masalah itu pun tak membantah. Dia menuruti perintah sang ibu, mendatangi rumah Umar bin Dzurr dan bertanya seperti yang diinginkan sang ibu.

Umar bin Dzurr hanya tertawa setelah mendengar cerita Abu Hanifah, “Engkau  bertanya mengenai persoalan, sedangkan kami mengambil ilmu darimu.”

“Sesungguhnya ibuku memerintahkanku, beliau memiliki hak atasku,” jawab Imam Abu Hanifah dengan santun.

“Wahai Abu Hanifah, apa yang telah engkau sampaikan mengenai masalah itu?” tanya Umar bin Dzurr.

“Aku berkata demikian, demikian.” Jawab Imam Abu Hanifah.

“Pergilah dan katakanlah kepada ibumu demikian, demikian.” Jawab Umar bin Dzurr.

Abu Hanifah pulang, dan menjelaskan penuh adab kepada sang ibu,” Abu Abdirrahman Umar bin Dzurr menerangkan kepada ibu demikian, demikian.”

Abu Hanifah sebenarnya pantas menerima tawaran untuk menjadi hakim. Sebab, dia mumpuni di bidang fiqih, dan bijaksana. Tetapi , Abu hanifah tergolong ulama yang tidak haus jabatan. Suatu ketika, Abu hanifah ditawari jabatan hakim agung. Tapi dia menolak.

Penolakkan itu, rupanya membuat sang khalifah marah. Abu Hanifah meninggal pada 150 H saat dia masih dalam penjara. Abu Hanifah meninggal pada usia 70 tahun.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo

Kisah Sedekah Rp 2.000 Dibayar dengan Rp 50.000 ~ Kejadian ini terjadi beberapa bulan yang lalu dimana kondisi keuangan saya sedang dalam kesusahan. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan  yang lain-lain untuk sekadar mengisi kebutuhan sehari-hari saja terasa berat. Untuk masak dan makan esok hari, saya tidak tahu, karena uang yang saya pegang Cuma ada Rp. 2.000,- saja.


Terus terang hati saya sedih, bingung harus bagaimana. Namun saya tidak putus asa. Saya serahkan nasib saya kepada Allah. Oleh karena  itu, keesokan paginya, saya pergi ke Pasar Kaget. Di sana uang Rp. 2.000,- satu-satunya ‘harta’ yang saya miliki saat itu, saya berikan kepada pengemis yang ada di pasar.

Saya berpikir, biarlah saya sekalian tidak punya uang sepeser pun. Lebih baik saya sedekahkan saja sekalian apa yang jadi milik saya.

Saya percaya, Allah akan membalas usaha saya ini. Karena ganjaran kebaikan sedekah pastilah akan dibalas dengan kebaikan pula.

Lalu saya niatkan dalam hati. Bismilalahirrahmanirahim. Setelah beberapa menit dari pasar, saya putuskan untuk pulang ke rumah terlebih dulu. Tak berapa lama saya pun langsung berangkat ke tempat kerja. Ya saat itu pergi bekerja tanpa sepeser pun yang ditangan. Saya tak lagi memikirkan bagaimana nanti saya makan. Saya juga tidak merisaukan bagaimana saya bisa sampai ke kantor pergi-pulang.

Saya bekerja seperti biasa. Sampai tak terasa tiba waktunya pulang ke rumah. Akan tetapi, sore harinya beberapa jam sebelum saya pulang dari tempat kerja saya kedatangan tamu.

Tanpa saya duga si tamu itu yang memberikan saya uang tips sebesar Rp. 50.000,- Alhamdulillah.

Saya senang sekali menerima pemberian yang tiba-tiba ini. Karena dengan begitu saya masih bisa melanjutkan kehidupan saya hingga beberapa hari ke depan dengan baik.

Saya hanya bisa mengucap syukur, ternyata dengan kebesaran Allah swt, ada jalan untuk makan esok hari. Tak henti-hentinya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak yang baik yang telah memberi saya uang.

Semoga pengalaman ini bisa memotivasi kita semua dalam beramal shaleh dan berbuat kebaikan kepada sesama manusia semampu kita. 

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo

Dunia Nabi ~ Di sebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ada seorang Bani Israel yang mengunjungi sahabatnya untuk meminjam uang sebesar seribu dinar. Teman yang menghutangnya pun meminta syarat. “Hadirkan beberapa saksi agar mereka menyaksikan (hutangmu ini).” Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!” kata si peminjam.


“Kalau begitu, coba datangkan seseorang yang bakal menjaminmu!” sahut temannya memberikan syarat lain. “Cukuplah Allah yang menjaminku!” jawabnya. Begitu yang dipinjami mengulangi persyaratannya lagi, tetapi yang meminjam pun kembali menyampaikan jawaban serupa.

“Baiklah. Akan kuberikan seribu dinar untuk engkau pinjam. Ya sudah, biarlah Allah saja yang menjaminnya” ucap si pemberi pinjaman. Ia merasa sahabatnya yang membutuhkan uang itu memang jujur, dapat dipercaya dan bertanggung jawab untuk mengembalikan pinjamannya sesuai dengan tempo yang disepakati.

Lantas uang itu diserahkan kepada sahabatnya. Setelah mendapatkan uang pinjaman, si penghutang pun pergi menyeberangi lautan untuk kembali  manjalankan bisnisnya di tempatnya.

Singkat cerita, tak terasa pinjaman itu sudah jatuh tempo dan harus segera dikembalikan. Sadar harus mengembalikan pinjamannya, hari itu ia mencari kapal yang bisa mengantarkan dirinya ke sahabatnya yang memberikan pinjaman padanya. Lelaki itu memang sudah niat untuk mengembalikan uang yang dipinjam. Di tentenglah uang seribu dinar ke tepi  pantai, sekian lama bolak-balik, mondar-mandir tak jua mendapati kapal.

Tampak lelaki itu mulai gelisah karena kapal yang dinantikannya tak kunjung tiba. Dia sedih karena bila tak bisa mengembalikan uang di hari itu, sama artinya ia  mengingkari janji yang telah disepakati. Padahal dirinyalah yang meminta agar Allah  swt yang menjadi saksi dan menjadi penjaminnya.

Hatinya gundah-gulana. Hingga beberapa saat kemudian dilihatnya ada sebatang kayu yang sementara mengapung. Tiba-tiba ia mendapat sebuah ide. Dalam benaknya, uang sebanyak itu bisa disiasati untuk dimasukkan ke dalam lubang kayu, kemudian dihanyutkan ke laut. Konyol memang, tetapi  tidak mengapa  ini dilakukan sebagai wujud kesungguhannya  dalam menepati janji.

Segera  dipungut kayu itu. Ia lubangi  sampai kira-kira uang seribu  dinarnya bisa  masuk semua  di dalamnya. Tak lupoa ia menyertakan sepucuk surat  yang isinya menjelaskan keadaan dirinya yang sebenarnya sehingga tidak bisa datang langsung untuk mengembalikan uang pinjaman. Setelah itu, lubang kayu tersebut ditutup hingga  rata. Barulah kemudian dihanyutkannya ke laut.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku berhutang seribu dinar kepadanya. Dia meminta penjamin kepadaku, lalu aku  menjawab. Cukuplah Allah  sebagai penjamin. Dan dia rela dengan-Mu, lalu dia memintaku seorang  saksi dan aku berkata ‘Cukuplah Allah sebagai saksi’. Dia pun rela kepada-Mu. Sesungguhnya aku telah berusaha mencari perahu untuk mengirim haknya, tetapi aku tidak mendapatkan, dan aku menitipkannya kepada-Mu” demikian ia berdoa.

Setelah itu ia pulang ke rumahnya sembari memasrahkan semuanya pada Allah swt. Ia yakin bahwa Allah akan membereskan urusannya. Benar saja, permohonan  lelaki tersebut terjawab. Allah swt menjaga kayu yang berisi uang tersebut di tengah lautan dan mengarahkan ombak di lautan agar menghempaskan kayu itu ke pulau dimana sahabat lelaki tersebut berada.

Nun jauh diseberang lautan, sang pemberi pinjaman tengah menunggu temannya itu. Cukup lama ia menanti, tapi tanda-tanda kedatangannya tak nampak. Saat hendak pulang, pandangannya tiba-tiba tertuju pada kayu yang mengambang, mendekati daratan. Lalu  dihampirilah kayu itu untuk dibawa pulang sebagai  kayu bakar. Sesampai  di rumah, kayu itu dibelah dan ternyata di dalamnya terdapat  uang seribu dinar dan sepucuk surat dari sahabatnya.

Beberapa waktu kemudian, setelah ada kapal yang mengantarnya ke pulau seberang, dia datang menemui sahabatnya yang meminjaminya uang dengan perasaan bersalah. Di tangannya sudah ada seribu dinar lagi, karena khawatir  uang yang dikirim lewat  sebatang kayu tidak sampai ke tangan sahabatnya.

“Demi Allah, sebelum kedatanganku kali ini, aku telah berusaha mencari kapal, namun sungguh sayang aku tidak mendapatkannya. Maafkan, aku, Kawan” katanya meminta maaf.

Sejurus kemudian, ia berikan uang seribu dinar yang  baru dibawanya dari rumah kepada sahabatnya itu. “Apakah engkau mengirimkan sesuatu?” tanya sahabat yang memberi pinjaman.

Bukankah telah kukatakan bahwa aku tidak mendapatkan kapal yang bisa mengantarkanku ke tempat ini?” jawab sang peminjam.

Kemudian sahabatnya itu mengabarkan. “Sesungguhnya Allah telah mengantarkan uang pinjamanmu yang kau taruh di dalam lubang  sebatang kayu. Karena itu bawalah uang seribu dinar kembali dengan beruntung!”
Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah diatas.

Pertama, setiap muslim diperintahkan untuk berlaku jujur, amanah serta menepati janji. Barang siapa yang melakukan sifat-sifat tersebut, niscaya ia diberi balasan yang baik, di dunia maupun di akhirat. Barang siapa yang meninggalkan khianat karena Allah dengan segenap kejujuran dan keikhlasan, niscaya Allah mengganti  hal tersebut dengan kebaikan yang setimpal.

Kedua, anjuran untuk senantiasa tawakal kepada Allah swt, dalam segala urusan dan kondisi. Apabila usaha dan ikhtiar sudah dilakukan maksimal, segera pasrahkan diri kepada Yang Kuasa. Begitu pula yang dilakukan oleh lelaki yang berhutang tersebut. Ketika jatuh tempo, uang seribu dinar itu sudah ia siapkan untuk diantarkan kepada sahabatnya. Akan tetapi karena perjalanannya menyeberang lautan, maka ia harus mendapatkan kapal. Mengingat di hari itu tak ada kapal, apa daya, ia berspekulasi dengan cara mengirimkan  uangnya melalui sebatang kayu yang terapung yang dihanyutkan ke laut. Ia pasrahkan kepada Allah swt agar menjaga dan mengantarnya kepada sahabatnya.

Ketiga, anjuran untuk  mencatat hutang, mendatangkan saksi dan jaminan dalam hutang. Seperti diketahui hutang adalah persoalan serius yang akan terbawa di kehidupan setelahnya, apabila belum selesai di dunia. Karena itu, perlu dicatat, perlu ada saksi dan jaminan agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan salah satu pihak di kemudian  hari.

Keempat, kisah tersebut adalah bagian dari karamah yang diberikan kepada orang yang shaleh. Sulit dinalar akal sehat,  sebatang kayu yang berisi  uang seribu dinar yang dihanyutkan dilautan bisa sampai ke tujuan (ditangan) orang yang dituju. Tidak jatuh ke tangan orang lain. Ini termasuk aneh, yang terjadi bukan secara  kebetulan saja. Akan tetapi berkat doa orang shaleh tersebut. Allah swt, menjawabnya dengan mengirimkan sebatang kayu yang berisi uang tersebut kepada orang yang tepat sasarannya.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo

Kisah Sedekah Lima Real Sang Ustadz ~ Baru saja uang lima real terlepas dari sakunya, saku sang ustadz kembali terisi dengan uang sejumkah lima puluh real. Bukan Cuma itu, ketika ustadz Wawa kembali ke penginapan, salah seorang panitia perjalanan umrah menghampirinya dan memberinya sejumlah uang.


Menurut Ustadz Wawa, sedekah bisa dilakukan siapa saja,  mulai  dari pejabat, rakyat hingga konglomerat. Sebab sedekah tidak hanya berwujud materi, tapi juga tenaga dan lain-lainnya yang non materi. “Jika kita terus tersenyum untuk setiap orang itu artinya sedekah kita lebih banyak dong, Ustadz?” Tanya seorang murid kepada gurunya. Sang Ustadz tersenyum.

“Tapi Ustadz, kalau kita sedekah senyum, jangan-jangan berbalas senyum juga. Misalnya kita tersenyum sekali, maka kita akan mendapat senyum sepuluh kali lipat. Apa begitu Ustadz?” Tanya murid yang lain.

“Waah......Ustadz tersenyum-senyum saja. Apa ini dalam rangka mengumpulkan pahala?” Nah, yang ini hanya pertanyaan batin seorang murid saja, ia tak berani karena takut di bilang suul adab.

Setelah ustadz Wawa tak lagi tersenyum, ia ganti memandang murid-muridnya satu persatu, kemudian berujar  dengan lembut.” Semua pahala ataupun balasan yang akan diterima oleh seseorang yang bersedekah bisa bermacam-macam bentuknya. Dan ini otoritas mutlak Allah Yang Maha Rahim, tak ada yang bisa memprediksi apalagi, memastikan kalau seseorang bersedekah senyum, maka ganjarannya bisa jadi ganjaran dari Allah swt.

Kemudian ustadz Wawa, menceritakan sebuah pengalaman yang semoga menjadi contoh. Bagi ustadz Wawa, menginjakkan kaki di Tanah Suci, merupakan sebuah impian yang tidak hanya diupayakan melalui ikhtiar, tapi juga doa tulus, memohon kepada Rabb Yang Maha Kuasa untuk memberikan jalan menuju ke Baitullah Alhamdulillah, ikhtiar dan doa yang didakwakannya membuahkan hasil ustadz Wawa meyakini, bisa jadi tiket ke Baitullah yang ia dapatkan secara grartis itu dalah imbalan dari sedekah-sedekah yang selama ini lakukan, baik dengan sengaja ataupun tanpa disengaja.

Setelah Mengajar

Hari itu, Ustadz Wawa seperti biasa menjalani aktivitas mengajar di Jakarta Selatan. Dalam melaksanakan rutinitas itu, ia selalu berusaha menjalaninya sebaik mungkin dengan seikhlas-ikhlasnya. Kesabarannya terajut dalam senyum, kelambatan seorang murid dalam menangkap pelajaran yang diberikannnya disikapi dengan lemah lembut, dengan ketelitian dan mengulang-ulang pelajaran tanpa bosan, sehingga sang murid merasa senang.

Jika kenakalan yang diperlihatkan sang murid, ia pun bersikap bijaksana, memberikan contoh melalui kisah ataupun melakukan pendekatan yang membuat murid menemukan ketenangan. Mungkin saja, si murid sedang punya masalah, sehingga ia melampiaskan di ruang belajar.

Begitulah Ustadz Wawa. Segala sesuatunya diusahakan dengan sebaik mungkin dan Insya Allah itu juga merupakan sedekah. Ketika proses belajar mengajar selesai, seorang lelaki dewasa menghampirinya “Ustadz, sebaiknya Angtum mempersiapkan pasport secepatnya dan mengurus dokumen yang lain”, ucap lelaki itu setelah melakjukan salam. Ustadz Wawa tertegun “Paspoirt? Untuk apa ?” tanyanya  dalam hati.

“Dalam bulan ini, ustadz bersama kami dan yang lainnya berangkat umrah,” tambah lelaki itu lagi mempertegas. “Umrah? Alhamdulillah,” ucap Ustadz Wawa dalam hati “Inilah jalan itu”

Jalan menuju Baitullah itu memang sudah dilalui Ustadz Wawa dan keberangkatannya ke Tanah Suci pun mendapatkan pengawalan khusus. Sebab, sungguh tak disangkanya, kalau langkahnya ke Baitulllah bersamaan dengan pejabat tinggi. Tentu saja segala fasilitas yang diterimanya adalah fasilitas dengan kelas istimewa. Pesawat, hotel dan makanan yang ia terima  selama ibadah umrah adalah sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ini. Dan itulah Rezeki dari Allah Yang maha Pemurah.

Sedekah 5 (Lima) Real

Saat menjalani rukun-rukun ibadah umrah, setelah Ustadz Wawa berhasil mencium Hajjarul Aswad, ia melihat seorang  petugas kebersihan yang ia yakini adalah orang dari Indonesia. “Dia seperti orang Indonesia dari wilayah Jawa bagian Barat,” begitu  pikirnya.

Maka untuk membuktikannya, ia pun mendekati petugas kebersihan itu kemudian mengajaknya bicara. Ternayata....... perkiraan itu tidak meleset. Petugas itu berasal dari daerah Sukabumi, Jawa Barat. Kemudian Ustadz Wawa membicarakan keberuntungan petugas yang dapat bekerja di Tanah Suci ini. Yang pasti, meski petugas kebersihan, gaji bulanannya cukup besar.

Namun di luar dugaan sang petugas kebersihan justru mengeluhkan penghasilannya. “Gaji di sini memang cukup besar jika di rupiahkan, tapi sebenarnya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari disini yang cukup tinggi,” begitu paparnya.
   
Ustadz  Wawa miris. Ia merogoh uang disakunya, tapi yang ia dapatkan hanya uang sejumlah lima real. “Hanya ini uang yang saya bawa, Pak, semoga ada manfaatnya” begitu ucap  Ustadz Wawa. Sebenarnya ia masih ada sedikit  uang di hotel, tapi  itu untuk kebutuhan selama umrah.

Petugas kebersihan yang menerima uang lima real dari Ustadz Wawa mengucapkan terima kasih. Tak lama setelahnya, ia kembali menyaksikan jamaah yang sibuk berdesakan untuk mencium Hajarul Aswad, salah seorang jamaah perempuan dilihatnya terhempas saat melakukan hal itu. Serta merta ia menolong dan membantunya mencium Hajjarul Aswad itu. Alhamdulillah, berhasil imbasnya, suamin perempuan yang dibantunya itu mengucapkan  terima kasih  dengan menghadiahi sang ustadz sejumlah uang lima puluh real.

Baru saja uang lima real terlepas dari sakunya, kini sakunya kembali terisi dengan uang sejumlah lima puluh real. Bukan Cuma  itu, ketika Ustadz Wawa kembali  ke penginapan, salah seorang panitia perjalanan umrah menghampirinya dan memberinya sejumlah uang. “Ini hanya sekadar untuk belanja nanti” begitu ucapnya. Puji  Syukur kepada Allah  swt yang telah memberikan rezeki Insya Allah, ini juga berkah dari sedekah yang telah dijalaninya selama ini. Wallahu ‘alam Bisshawab.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo

Kisah Sedekah Tukang Tambal Ban Menjadi Anak Gedongan ~ Pedagang yang satu ini sering kena oprakan karena jualan di lapak pinggir jalan. Kini, ia  berubah menjadi pengusaha yang mapan. Semuanya berkah sedekah.

Nasib pedagang lapak di pinggir jalan memang penuh duka. Maklum, mereka berdagang di tempat yang rawan penertiban atau penggusuran. Belum lagi, dari sisi keamanan, mereka juga rawan dengan kecelakaan. Apalagi, bagi pedagang lapak yang rata-rata tidak menyewa tempat. Di mana ada lapak (tempat kosong), ya dia berdagang di situ tanpa harus mengeluarkan uang kecuali seperak dua perak untuk keamanan.


Begitu pula yang dirasakan oleh tukang tambal ban yang satu ini. Sebagai tukang tambal ban di pinggir jalan, ia sering kali kena oprakan atau penertiban. Sehingga ia pun harus berpindah-pindah lapak hanya untuk menghindari penertiban tersebut. Keadaan demikian sempat membuatnya frustasi. Bagaimana tidak, dengan modal pas-pasan ia tak mampu menyewa sebuah tempat yang layak. Yang bisa dilakukannya adalah  mencari lahan kosong di pinggir jalan dan disitulah ia membuka lapaknya.

Suatu kali, temanya main ke tempat lapaknya. Ketika mereka asyik berbicara, tiba-tiba  seorang pengemis berdiri meminta. Si tukang tambal ban merasa terganggu dengan kehadiran pengemis tersebut. Dia menolaknya, dan pengemis itu pun berlalu. Demikian  berturut- turut hinggga ada beberapa pengemis yang selalu ditolaknya.

Kawannya bertanya.”Di sini banyak pengemis yang datang ya?” “Wah, kalau dituruti, sehari bisa puluhan orang. Saya selalu menolak mereka. Buat apa mengajari orang malas,” kata si tukang tambal ban itu.

Kawannya diam sejenak. Lalu berbicara. Katakan, sebaiknya jika ada pengemis jangan ditolak. Meskipun serartus perak, berikanlah kepadanya!” Situkang tambal ban tersenyum kecut dan menanggapi dengan sikap dingin. “Pengemis sekarang bukanlah orang yang benar-benar miskin. Di daerahnya, mereka memiliki rumah besar, ternak banyak dan sawah yang luas, Mengemis dibuat sebagai mata pencaharian. Jika  menuruti pengemis, bisa bangkrut aku. Sedangkan sejak pagi tak satupun kendaraan yang berhenti untuk mengisi angin ataupun minta ditambal,” ujarnya dengan lirih.
Temannya berusaha nasehati dengan bijak, “Berpikir begitu boleh-boleh saja. Tetapi saya tetap yakin bersedekah itu lebih bermanfaat dan menguntungkan diri sendiri. Aku menggemarkan diri bersedekah sudah beberapa tahun lalu.”

“Kamu berbicara begitu karena memang sudah pantas melakukan sedekah. Penghasilanmu besar, punya mobil dan rumah bagus. Sedangkan diriku, hanyalah seorang tukang tambal ban, tidak lebih dan tidak kurang” ujar tukang tambal ban tidak mau mengalah.

“Aku dulu juga seperti dirimu. Kau tahu kan, kehidupanku compang-camping? Sekarang makan, besok harus hutang ke tetangga. Tetapi aku tidak pernah berhenti  bersedekah. Maaf, ini bukan pamer ataupun membanggakan diri, tetapi maksudku berbagi  pengalaman dengamu! Setiap ke masjid , aku selalu memasukkan uang  meskipun hanya recehan. Setiap ada pengemis datang selalu kuberi jika memang masih ada uang. Tetapi kalau lagi tidak ada, air minum juga sudah sangat senang. Itu kulakukan secara istiqomah. Sungguh ! Aku mengalami sebuah kejadian luar biasa sejak itu. Rezeki-ku sangat  lancar. Setiap ada rencana selalu berhasil. Setiap transaksi selalu sukses. Apa saja yang kulakukan selalu membawa berkah hingga kamu lihat sendiri seperti  sekarang ini”, kata temannya itu penuh serius.

Si tukang tambal ban tidak segera menjawab. Dia tampaknya sedang berpikir. Temannya lalu berkata lagi. “Memberi sedekah tidak  harus kepada  pengemis. Kamu bisa mengulurkan tanganmu kepada sanak saudara atau siapa saja asalkan ikhlas.”

“Asal tahu saja, sedekah yang lebih tinggi harganya ialah ketika dirimu dalam keadaan sempit. Jangan menunggu kaya baru bersedekah. Saat sekarang ini kamu harus  memulainya,” begitu temannya dengan sangat bijak dan mengena dalam memberikan saran.

Si tukang tambal ban mulai bisa menangkap makna  memberi dari kata-kata temannya tersebut. Ia begitu  tergugah dengan apa yang dilakukan oleh temannya. Dia tahu betul kondisi temannya itu sebelumnya yang kini berubah menjadi orang sukses.  Ternyata, resep semuanya itu adalah sedekah. Berkaca pada kondisi temannya itu, sang tukang tambal ban pun mulai percaya dengan kekuatan sedekah. Sejak itu ia pun mulai  menekadkan diri untuk rajin bersedekah.

Keesokan harinya si tukang tambal ban mulai menyediakan uang recehan. Selama uang recehan masih ada, ia tidak pernah menolak pengemis yang datang kecuali jika sudah habis jatahnya baru ia menolaknya. Bahkan, setiap pergi ke masjid dia tidak pernah melupakan sedekkah ke kotak infaq.

Semenjak itu rezekinya lancar. Setiap hari sejak pagi hingga petang sambung-menyambung motor yang berhenti minta ditambalkan  ataupun sekadar mengisi angin. Bahkan, dua  keponakannya yang menganggur diajaknya untuk membantu pekerjaan itu.

Sekarang, si tukang tambal ban telah memiliki tabungan. Dari tabungannya dia mampu menyewa tempat dan membangunnya meskipun tidak permanen. Sehingga dia kini bisa bekerja dengan tenang karena tidak harus dikejar-kejar oleh polisi pamong praja.

Seiring waktu, si tukang tambal ban tidak hanya melayani jasa menambal atau mengisi angin, tetapi berkembang menjadi sebuah usaha ban kanisir. Bahkan dia mempunyai puluhan pelanggan perusahaan jasa angkutan. Kalau dulu dia menerima uang recehan  dari pelanggannya. Sekarang dia menerima cek dari perusahaan sebagai pembayaran ban kankisir. Anak buahnya semakin bertambah.

Keadaan hidup si tukang tambal ban telah mapan. Dia bisa membeli rumah dan mobil. Setiap tahun zakat malnya dibagikan di kampung halamannya untuk orang-orang miskin dan yatim piatu. Bahkan dia telah berangkat  haji bersama istrinya. Dengan kata lain, kini dia tukang tambal ban sudah berubah menjadi anak gedongan.

Demikian sebuah kisah yang luar biasa tentang seorang tukang tambal ban. Dari kisah ini kita bisa belajar tentang banyak hal, terutama tentang keutamaan sedekah. Siapa sangka seorang tukang tambal ban yang tadinya hanya buka lapak, kini jadi pengusaha yang besar dan mapan. Siapa sangka yang dulu sering dioprak-oprak karena dianggap mengganggu kenyamanan lingkungan, kini malah jadi mitra yang baik dengan aparat keamanan.

Semua itu bisa terjadi karena satu hal, rajin bersedekah. Inspirasi hidup yang didapatkan dari temannya benar-benar telah merubahnya dari orang jalanan menjadi orang  gedongan, dari orang lapak di pinggir jalan menjadi pengusaha yang mapan. Kita pun bisa seperti itu. Syaratnya sederhana, rajinlah bersedekah! Tunggu saja, kesuksesan hidup akan menghampiri anda.

Oleh Eep Khunaefi

Kisah Teladan Lelaki Yang Meninggal Saat Berzikir ~ Gemuruh zikir baru usai di tempat itu, Suara tasbih, tahmid, shalawat, kalimat thayyibah, gema ayat-ayat al-Qur’an  sudah tak terdengar lagi. Semua jamaah kini tengah bersantai. Melepas penat. Gerah memang begitu terasa.

Tampak sebagian di antara mereka menikmati suguhan makanan tradisional yang sudah tersaji dihadapan mereka. Sembari satu sama lain bercengkerama, sebagian lagi menyeka peluh yang mengunci badan mereka setelah kurang lebih tiga jam tadi mulut mereka melafadzkan kalima-kalimat zikir.


Dimajelis itu, suasana begitu guyub nan rukun. Keakraban diantara mereka terjalin begitu erat. Ini terlihat dari mimik yang berbinar-binar. Begitu sumringah jauh dari raut sedih. Tetapi ada satu pemandangan yang berbeda. Di barisan depan tidak jauh dari Ustadz Helmi (60 tahun  nama samaran), tampak Jalal (53 tahun nama samaran) belum beranjak dari zikirnya. Duduk bersila dengan kedua tangannya masih tengadah. Posisi berdoa, kedua matanya mengatup. Wajahnya menunduk.

“Coba bangunkan dia, Pak ! Tampaknya tertidur,” bisik Siroj (65 tahun, nama samaran) pada Hakim (48 tahun samaran) di sampingnya.

“Biar, Pak!” Jawab Hakim. Hakim yang duduknya persis bersebelahan dengan Jalal lantas menepuk pundak teman satunya itu. Sebelumnya, ia lihat sekilas wajah Pak Jalal yang tenang, sepertinya lelap dalam kantuknya.

Pak...... bangun Pak! Sudah selesai. Pak kata lelaki itu sambil menepuk bahunya pelan.

Beberapa detik ia menunggu respon, tetapi tidak kunjung datang. Lelaki itu masih tidak bergerak. Diam membisu seribu bahasa. Tepukan di bahu yang kedua, tetap tak ada respon sama sekali. Sewaktu itu Hakim masih berpikir bahwa temannya ini benar-benar sudah terlelap tidur. Siroj hanya memperhatikan saja.

“Tak mau bangun. Pak! “ucap Hakim. “Coba engkau gerakkan agak kencang sedikit!. Mungkin tepukanmu tadi terlalu pelan sehingga tak muncul reaksi sama sekali”

Untuk kesekian kalinya. Hakim mencoba membangunkannya lagi. Kali ini sambil memegangi kedua bahu Jalal. Tangan kiri Hakim menggerakkan bahu kiri Jalal, sedang tangan kanan Hakim menggerakkan bahu kanan Jalal secara bergantian. Sehingga tubuh Jalal seakan bergoyang-goyang

Dari tadi, Siroj melihatnya. Tetapi tampaknya usaha temannya untuk membangunkan Jalal belum juga berhasil Jam dinding di rumah shahibul bait penyelenggara zikir sudah menunjukkan  pukul 23,15. Siroj pun mulai resah kenapa Pak Jalal tak kunjung terjaga dari ketidaksadarannya. Penasaran, ia lalu menghampiri.

“Bapak geser dulu, biar saya yang coba!” kata Siroj. Jamaah yang lain mulai mengalihkan perhatiannya pada Hakim dan Siroj yang sedari tadi berupaya membangunkan Pak Jalal tapi tak kunjung berhasil. Sementara Siroj masih berupaya lagi.

“Pak......Pak..... ayo bangun Pak!” Sebagian jamaah yang lain bertanya-tanya, ”Ada apa, Pak? Kenapa Pak Jalal?”. Akhirnya setelah sekian lama menemui kegagalan Siroj memegangi tangan Jalal. Tangan itu sudah terasa dingin. Diraba urat nadinya, lalu ia lekatkan telinga kanannya pada dada Jalal. Detak jantungnya sudah tak berdegup. Berkali-kali ia menyakinkan.

Beberapa jamaah lain mulai menghampiri. Termasuk di antaranya Ustadz Helmi yang ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Ternyata, nafas lelaki yang melanggengkan dzikir ini sudak berhenti. Tak ada pergerakkan sama sekali. Tanda kehidupan sudah sama sekali tak berfungsi.

Siroj kemudian gelengkan kepala memberi isyarat kepada Ust. Helmi  bahwa teman yang belum pernah absen mengikuti zikir berjamaah setiap sepekan sekali  ini sudah tiada.

“Inna lillahi wa inna ilahi rajiun,” kata Ust. Helmi.

Kedua mata Ust. Helmi menitikkan air mata. Air mata kesedihan sekaligus kebahagian. Ia bersedih lantaran Jalal, salah seorang jamaah majelis zikir yang dipimpinnya sudah meninggal dunia. Tetapi sang ustadz juga bahagia karena sahabatnya itu dipanggil oleh Allah swt dalam keadaan berzikir di majelis zikir.

“Malam ini, kita saksikan saudara kita, Bapak Jalal sudah di panggil menghadap kepada Allah swt, semoga beliau  khusunul khatimah” ucap Ustadz Helmi.

“Amien.....amien....ya rabbal ‘alamin” jawab para jamaah. Seketika di majelis zikir itu berubah menjadi suasana duka. Acara santai usai zikir yang penuh dengan keramahan  langsung terhenti. Semua yang ada di tempat itu menjadi saksi mata atas kematian sahabat mereka yang Insya Allah meninggal dalam keadaan khusunul khatimah.

Tengah malam, sunyi di kampung itu. Di sebuah rumah sederhana, dimana sebagian besar masyarakatnya sedang tertidur pulas, terlihat ada kesibukan kecil di dalamnya. Ya warga dan kerabat yang mulai bertakziah di rumah duka.

Tak Neko-Neko

Majelis zikir yang di selenggarakan rutin seminggu sekali tiap malam Senin ini sejatinya sudah berjalan lama sekali. Zikir berjamaah ini diikuti warga Tegal Ijo. Jumlah anggotanya sekitar 80 orang, tempatnya berpindah-pindah dari satu rumah warga, ke rumah warga yang lain di minggu berikutnya. Waktunya sehabis  Isya’ sekitar pukul 20.00 hinga 23.00.

Majelis zikir ini sudah berdiri sejak kakek buyut mereka. Dan ditradisikan masyarakat secara turun-temurun hingga sekarang. Karena itu boleh dibilang tradisi ini sudah mendarah daging bagi masyarakat kampung itu.
Terkecuali Pak Jalal, yang sejak muda sudah mengikuti zikir ini. Di samping zikir mingguan di kampungnya, sosok bapak tiga orang anak ini memang begitu getol  menjalankan ritual ibadah dalam kesehariannya. Ini dapat dilihat setiap kali azan berkumandang di masjid, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan segala rutinitasnya.

Tak lain agar bisa mengikuti shalat fardhu secara berjamaah. Setiap taklim uang diselenggarakan di masjid, di mushala atau di majelis-majelis lain, ia berusaha menghadiri selagi tak ada udzur. Iatnya hanylah thalabul ilmi. Pun puasa hari  Senin dan hari Kamis tak ditinggalkannya, sebisa mungkin ia jalani hidup sebaik-baiknya di usianya yang sudah menapak lebih dari setengah abad. 

Prinsipnya tidak neko-neko dalam menjalani hidup. Karena ia  menganut pepatah Jawa yang mengatakan bahwa “ wong urip iku mung mampir ngombe” (hidup itu singkat seperti orang sedang mampir untuk minum) Yang bisa dimaknai dari kalimat tersebut bahwa hidup itu hanya sebentar. Setelah kehidupan yang singkat, ada kehidupan lain yang lebih kekal sifatnya. Karena itulah manusia, mesti bijak mengisi hidupnya.

Lelaki sederhana itu sadar, manusia tak hidup untuk selamanya di dunia. Semua ada waktunya. Ada kelahiran pasti ada kematian. Tak seorang pun yang bisa mengelak dari kematian. Akan tetapi meskipun singkat, semua ada konsekuansinya Allah menuntut pertanggung jawaban manusia atas waktu yang dikaruniakan-Nya.

Itulah yang di pegang Jalal kuat-kuat, karena itu, ia memaksimalkan waktu yang ada secara arif. Ia harus menyeimbangkan komunikasi antara dirinya sebagai manusia biasa dan sesamanya, pun komunikasi antara dirinya sebagai hamba dan Sang Khalik. Ia harus bisa membagi secara adil antara urusan dunia dan urusan akhirat. Kalaupun ia melakoni hal-hal yang sifatnya duniawi, seperti bertani, semata ia niatkan lillahi ta’ala. Ia bekerja karena untuk menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga yang menafkahi keluarganya agar mendapat ridha Ilahi.

Sebagai seorang petani, praktis waktunya sehari-hari ya rutin mengolah lahan pertaniannya, dan di sela-selanya ia juga mencari rerumputan untuk makanan 2 (dua) ekor sapi peliharaannya. Ia membelinya dari sapi kecil dan kemudian dibesarkan setelah sebesar maka dijualnya.

Dari hasil pertanian dan pembesaran sapi, lumayanlah hasilnya. Cukup bisa membantu untuk menompang hidupnya sekaligus biaya pendidikan anak-anaknya.

Begitulah ritme keseharian Pak Jalal. Tak ada yang mencolok dari seorang petani seperti dirinya, semua  berjalan apa adanya. Tidak neko-neko namun ada makna Sampai Allah swt, kemudian memanggilnya di bulan November 2002 saat ia merapalkan zikir dan doa bersama di malam itu.

Menurut Hakim, tetangga sekaligus teman satu majelis zikir, Jalal  adalah petani sedernana, bersahaja, yang memasrahkan  hidupnya pada Yang Kuasa. Pekerjaan hariannya hampir sama dengan penduduk kampung lainnya sebagai petani biasa. Bedanya, ia punya kesadaran yang kuat bahwa hidup itu harus berarti. Berarti  dihadapan Allah  swt, sehingga apa  yang dilakukan diniatkan karena Allah swt. Semoga khusnul khatimah.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo

Kisah Sedekah Yang Menyembuhkan Kanker Paru-Paru ~ Tidak diduga, atas izin Allah, hanya dengan rutin sedekah tak lebih dari 50 ribu, justru bisa menyembuhkan kanker paru-paru yang di deritanya.

Secanggih apapun pengobatan ilmiah (kedokteran) tidak akan bisa menyembuhkan penyakit seseorang jika Allah tidak berkehendak. Sebab, Allah-lah yang menghendaki penyakit seseorang itu sembuh atau tetap sakit. Atas dasar itu, terkadang, pengobatan yang tampak sederhana dan murah justru  lebih  ampuh, salah satunya sedekah.


Sebut saja namanya Enzen Zainudin. Usianya baru 16 tahun, bisa dikatakan masih remaja. Maklum, dia anak MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Purwakarta. Sebagai siswa, Enzen sebenarnya termasuk anak aktif di sekolah.  Hal itu bisa dilihat dari posisinya sebagai  Ketua OSIS di sekolahnya. Sebuah jabatan yang memang  karena ia memiliki kelebihan, bisa  karena pintar di kelas atau karena punya bakat kepemimpinan.

Dengan posisinya itu, Enzen pun cukup dihormati di sekolahnya. Hanya saja, kegiatan Enzen di sekolah dan lingkungan pergaulan di luar rumahnya seketika menjadi terganggu ketika ia terkena penyakit yang cukup serius. Awalnya, enzen hanya mengira penyakit biasa. Tapi, anehnya, tak sembuh-sembuh. Setelah diperiksa dokter, Enzen begitu terkejut. Sebab, penyakit yang dideritanya bukan lagi biasa, tapi sungguh luar biasa, yaitu penyakit kanker paru-paru. Sebuah penyakit yang berbahaya dan mematikan.

Seketika Enzen menjadi  shock. Ia benar-benar terkejut dan tidak menyangka jika diusianya yang masih  remaja sudah harus  menanggung  penyakit yang demikian berbahaya. Apalagi kedua orang tuanya, mereka jauh lebih shock dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.  “Saya putus asa. Saya tidak tahu harus berobat kemana lagi. Seharian saya diam di kamar,” ujar Enzen. Ia pun mengaku menjadi pemurung sejak itu. “Saya jadi pendiam dan tidak banyak bicara,” ujarnya lebih lanjut.

Bahkan, bayangan kematian kerapkali muncul di pikirannya. Ensen menyadari bahwa kanker paru-paru adalah penyakit yang sangat mematikan. Hanya kecil saja kemungkinannya untuk sembuh. Karena itu, bayangan hidupnya yang singkat di dunia juga kerapkali menghantuinya. “Saya merasa tidak akan lama hidupnya” ujar Enzen penuh khawatir.

Kanker paru-paru adalah kanker yang bermula di paru-paru. Paru-paru terletak di dada. Mereka membantu  Anda bernapas. Ketika Anda bernapas, udara masuk  melalui hidung, turun ke tenggorokan Anda (trakea), dan ke dalam paru-paru, kemudian menyebar melalui pipa-pipa yang di sebut bronkus. Sebagain besar kanker paru-paru mulai dalam sel-sel yang melapisi pipa-pipa tersebut (bronkus).

Biasanya, kanker paru-paru bisa dideteksi ketika seseorang berusia 40 tahun keatas, namun di usianya yang baru 16 tahun, Enzen justru telah terkena penyakit yang membahayakan itu. Keadaan ini pun telah membingungkan keluarga besarnya. Bagaimana penyakit itu bisa menyerang Enzen ?

Kanker paru-paru biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok. Namun, Enzen  masih remaja dan bukanlah seorang perokok. Lalu, sebab apalagi yang membuat Enzen bisa  terkena penyakit itu. Masalahnya, Enzen juga tak memiliki riwayat penyakit turunan. Namun, dari pada memikirkan hal-hal yang tak berguna, keluarga pun berniat menginapkan Enzen di rumah sakit.

Harapan keluarga agar Enzen untuk sembuh sangat besar. Wajar saja, sebab, Enzen adalah harapan keluarga yang bisa membanggakan kelak. Sangat  disayangkan,  jika waktu remaja Enzen banyak dihabiskan dalam ranjang  pesakitan. Sangat disayangkan pula, jika sebagain besar usianya harus bergelut dengan penyakit yang sulit disembuhkan tersebut. Bukan berarti tak bisa sembuh, tapi cukup sulit. Jarang sekali, orang yang bisa keluar dari penyakit ini.

Namun, harapan itu tinggal kenangan. Hanya sebuah kata dalam pikiran yang tak akan bisa mungkin mewujudkan dalam kenyataan. Pasalnya, keadaan Enzen ternyata semakin parah. Sehingga ia harus dirawat di rumah sakit berbulan-bulan.

Bisa Anda tebak sendiri, berapa uang  yang harus dikeluarkan untuk biaya pengobatannya? Yang jelas, jumlahnya tidak sedikit. Sehari saja di rumah sakit biayanya sangat mahal, apalagi berbulan-bulan. Keluarga pun pesimis, sudah tidak ada  harapan hidup ditambah  oleh harta benda yang tersedot habis ke rumah sakit.

Sebelumnya, Enzen sendiri sering bolos dan absen dari sekolah karena penyakitnya itu. Posisi Ketua Osis pun ia tingglakan karena sudah tak kuasa lagi mengurusnya. Bahkan, ada satu ujian kelulusan yang  tak ia ikuti. Akhirnya, ia pun dikeluarkan dari sekolahnya. Enzen pun bertambah stres. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Demikianlah Enzen, sudah terkena sakit parah, ia pun harus dikeluarkan dari sekolahnya.

Keajaiban Sedekah   

Dalam situasi putus asa akhirnya Enzen mendapatkan inspirasi untuk bersedekah. Meski masih remaja, nampaknya ia sudah sadar bahwa yang mendatangkan penyakit adalah Allah. Berarti, Allah pula yang menyembuhkannya. Karena itu, jalan satu-satunya adalah dekat dengan Allah. Dan hal itu bisa diwujudkan, salah satunya, dengan jalan bersedekah di jalan Allah.

Sebagai remaja yang tak punya uang banyak, apalagi  masih minta pada orang tua ditambah sudah banyak uang yang dikeluarkan orang tuanya untuk mengobati dirinya, Enzen pun hanya rutin bersedekah tak lebih dari Rp. 50.000,- kepada orang yang berhak menerimanya. Bagi banyak orang, uang segitu tentulah tak berarti apa-apa. Tapi, bagi seseorang yang sedang tak punya uang, termasuk Enzen, uang segitu termasuk lumayan. Namun, Enzen ikhlas menyedekahkannya dengan harapan bahwa Allah swt, akan memberikan jalan yang terbaik untuk  penyakitnya.

Benar saja, Tak butuh lama sejak Enzen mengikhlaskan sedekah yang tak seberapa itu, keajaiban Allah akhirnya tiba. Keadaan Enzen berangsur-angsur membaik. Bahkan, puncaknya, Enzen sudah berhasil keluar dari masa krisisnya. Ia pun dinyatakan telah sembuh total dari penyakit yang dideritanya. Dokter yang menangani Enzen sendiri menjadi  terkejut karena penyakit  itu bisa sembuh dari tubuh Enzen.

Betapa bahagianya Enzen menghadapi kenyataan itu. Ternyata, sedekah itu kalau dilakukan  dengan ikhlas,  berapa pun nilainya, akan dibalas oleh Allah dengan  balasan yang tak terkira. Sejak, itu Enzen yang masih remaja itu semakin yakin akan kekuatan sedekah dan kebesaran Allah swt, dibalik perbuatan ringan tangan tersebut. Semoga kita bisa belajar dari kisah ini ! 

Oleh Eep Khunaefi

Kisah Sedekah Dengan Singkong Berbuah Haji ~ Hanya sedekah singkong kepada anak yatim, berbuah haji dua puluh empat tahun kemudian. Bagaimana kisahnya?

Janganlah kita anggap sepele sebuah kebaikan itu. Meski kecil dan tidak berarti, bisa jadi bagi yang lain sangat berarti. Bagi kita hanyalah sebuah sampah, bagi orang lain yang membutuhkan bisa jadi sebuah permata.


Kisah berikut ini menunjukkan kepada kita betapa kebaikan yang ikhlas, meski sangat kecil, ternyata dicatat  Allah dan dibalas-Nya dengan  anugerah yang  besar. Rasanya tak mungkin, tapi semua itu nyata terjadi. Kita pun hanya bisa mengagumi kebesaran-Nya untuk itu.

Sebut saja namanya Sutikno. Ia seorang pedagang gorengan di Jakarta. Sebagai pedagang gorengan, kita bisa tebak sendiri berapa penghasilannya. Kalaupun jualannya habis, tetap tidak akan membuatnya bisa membeli mobil, rumah, apalagi apartemen. Kecuali ia memang bisa menabung penghasilannya (berhemat) dan bertahun-tahun baru bisa mengumpulkannya. Kalaupun itu bisa terjadi, mungkin hanya satu dari sekian ratus orang yang bisa melakukannya.

Meski penghasilannya kecil, bagi Sutikno, tetap itu merupakan profesinya dan harus  dijalaninya dengan penuh ikhlas dan sabar. Sebab, tidak mudah bisa bertahan hidup di perkotaan yang sangat ganas dengan gaya dan pola hidupnya. Tak pandai berusaha, bisa-bisa ia jadi gelandangan atau menjadi pengemis. Sutikno tentu tidak ingin seperti itu. Maka, menjadi pedagang gorengan pun menjadi alternatif terbaik baginya saat itu, yaitu tahun 1980-an.

Suatu saat Sutikno melihat seorang bocah laki-laki lalu lalang di depan gerobaknya dengan pakaian lusuh. Wajahnya sedih dan memelas, seolah ia berharap sesuatu dari Sutikno. Tapi, Sutikno belum ngeh (sadar). Ia  hanya  berpikir bahwa bocah itu sama dengan lelaki kecil lainnya yang seringkali ia lihat.’

Hingga ke empat hari berturut-turut, bocah itu seringkali terlihat lalu-lalang di depan gerobaknya dengan keadaan yang sama, pakaian lusuh dan wajah memelas. Hal ini pun mengundang tanda tanya Sutikno dan menggelitik sanubarinya.

Bocah yang dari jauh hanya memandangi gerobak Sutikno penuh harap itu pun dipanggilnya. Hari itu Sutikno sengaja menyisakan sepotong singkong goreng butut yang biasanya  tak laku dijual. Melihat ada aba-aba dari sang pedagang gorengan, bocah itu pun segera berlari dan menghampiri gerobak Sutikno dan menyambar gorengan yang diberikannya sambil berucap “Terima Kasih, Bang.!” Matanya berbinar dan senyumnya terkembang.

Dua puluh empat tahun kemudian, Sutikno masih berjualan gorengan dan mangkal di tempat  biasa. Hanya  saja, ia kini telah berubah menjadi tua. Bagaimana dengan bocah itu? Entahlah, apakah ia masih  hidup,  menjadi  gelandangan dan pengemis atau malah tumbuh menjadi orang yang sukses?

Yang jelas, suatu ketika Sutikno kedatangan seorang lelaki gagah di tempat jualannya. Lelaki itu datang dengan sebuah mobil mewah dan berhenti persis di depan gerobaknya. Usai membuka pintu mobilnya, lelaki itu segera turun dari mobil dan menghampiri Sutikno. 

Lelaki itu tampaknya mengenal baik wajah Sutikno. Lain halnya dengan Sutikno, ia begitu asing dengan wajah lelaki gagah itu. Ketika ada mobil mewah berhenti dan lelaki gagah itu  menghampirinya, ia pun berpikiran bahwa lelaki itu mungkin hendak membeli  gorengannya, seperti lelaki lain pada umumnya.

 “Pak, ada singkong butut?” tanya lelakin parlente itu. Betul saja, lelaki itu memang berniat ingin membeli gorengannya. Tetapi, kenapa ia menanyakan singkong buntut, padahal dengan penampilannya yang parlente seharusnya ia menjauhi makanan yang sudah seharusnya dibuang.

“Kagak ada, Mas! Singkong butut mah dibuang. Kenapa tidak beli yang lain saja? Nih, ada pisang sama singkong goreng,” ujar si pedagang  gorengan itu.

“Saya kangen singkong bututnya Pak. Dulu bapak ‘kan yang pernah memberi saya singkong goreng butut. Dulu , ketika saya masih kecil, dan ayah saya  baru  saja wafat, tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman mengejek karena saya tidak bisa jajan. Selama empat hari saya berlalu-lalang di depan gerobak bapak ini, sampai  bapak memanggil saya dan  memberi sepotong singkong goreng butut yang langsung saya sambar. Saya masih ingat, Pak,” tuturnya.   
  
Sutikno terperangah mendengar penjelasan pemuda itu. Segera ia memandangi wajahnya dan barulah ia ingat siapa lelaki yang ada di hadapannya. Dialah bocah yang dulu pernah meminta gorengan singkong buntut kepadanya. Dulu, ia begitu lusuh dan menderita. Tapi  kini ia telah berubah menjadi orang yang sukses.

“Yang saya beri dulu kan Cuma singkong buntut. Kenapa kamu masih ingat sama saya?”  tanya pedagang  itu penasaran. “Bapak tidak sekedar memberi saya singkong butut, tapi juga kebahagiaan,” papar si pemuda itu.

Pemuda itu kemudian bercerita bahwa sesaat setelah menyambar singkong itu dia langsung memamerkan kepada temannya-temannya. Ia ingin membuktikan bahwa  dia masih bisa jajan. Sesuatu yang dianggap remeh, tapi baginya itu membuatnya sangat  bahagia, sehingga dia berjanji suatu saat akan membalas budi baik kepada pedagang gorengan itu.

“Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Bapak. Tapi, daya ingin memberangkatkan Bapak  berhaji, semoga Bapak bahagia,” ujar si pemuda itu. Pedagang  gorengan  itu  hampir-hampir tidak percaya. Dua puluh empat tahun  silam ia telah membahagiakan seorang  anak yatim. Maka Allah pun membalas amal shalehnya itu. Subhanallah!

Demikian sebuah kisah yang menakjubkan tentang keajaiban sedekah. Bagaimana mungkin hanya sepotong  gorengan singkong yang sudah jelek tetapi diganti oleh sebuah haji yang bernilai puluhan juta rupiah, jika bukan karena kehendak Allah. Karena itu, janganlah menganggap sepele sebuah kebaikan, meski itu sekecil apapun. Sebab, bisa jadi, dari hal yang kecil itu, kalau dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka Allah akan membalasnya dengan sesuatu yang jauh lebih besar seperti kisah Sutikno diatas.

Bukan hanya itu, ketika kita melihat orang lain  bersedekah kecil (ringan), janganlah kita merendahkannya atau menyepelekannya. Sebab, bisa jadi, dari situlah sesungguhnya awal kesuksesannya akan dimulai. Semoga kita bisa belajar dari kisah ini! Amien.

Oleh Eep Khunaefi

Kisah Sedekah Dengan Mobil, Menyelamatkan Dari Meja Hijau ~ Astaghfirullah! Dari mana Ramjid mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang begitu singkat? Dalam ribuan minggu pun rasanya Ramjid tak akan dapat mengumpulkan uang miliaran rupiah.


Manusia tak bisa memprediksi kapan musibah itu datang. Ia bisa menimpa siapa saja. Karenanya, yang bisa dilakukan manusia hanyalah “la haula wala quwata ilaa billah”. Pasrah kepada Zat Yang maha Kuasa dan Zat Yang Maha Mengetahui.

Ramjid, seorang lelaki muda, bertubuh tegap dan atletis, adalah seorang pekerja keras. Banyak  hal positif yang dilakukannya dalam mengisi waktu. Mungkin, baginya, adalah satu kebodohan jika tidak dapat mempergunakan masa dengan sebaik-baiknya, maunya hanya berhela-hela saja tanpa harus memikirkan mau jadi apa kelak?

Kerja keras dan selalu berpikir positif adalah satu keharusan jika seseorang ingin meraih kesuksesan. Dalam segala hal, dalam segala bidang, kerja keras dan berpikir positif mutlak diperlukan.

Buah manis bernama sukses, hasil dari kerja keras dan selalu berpikir positif telah diraih Ramjid. Beberapa usaha yang diharapkannya. Terutama usahanya di bidang  tambang Batubara. Ada kebahagiaan dan kebanggaan  di hati Ramjid melihat pencapaian yang telah diraihnya dalam bisnis batu bara ini, namun  siapa sangka musibah tiba-tiba datang merangkulnya. Musibah yang sama sekali jauh dari pikirannya, kini begitu dekat dan membuat Ramjid sungguh bersusah hati. Sebuah modus penipuan nyaris menenggelamkannya ke ruang gelap dan pengap, jeruji besi.

Tanpa Firasat

Seperti biasa, Ramjid tak pernah berburuk sangka kepada siapapun yang hendak berbisnis dengannya. Su’udzon itu jauh dari hatinya, sebab Su’udzon dapat menjadi faktor penghambat atas kelancaran usahanya. Karena itu, ketika ada seseorang berkeinginan mengembangkan kerjasama jual-beli batubara, maka dengan suka cita dan tanpa curiga Ramjid menyambut dan percaya sepenuhnya.

Kepercayaan yang diberi Ramjid disambut simpatik oleh rekan bisnis barunya itu. Hal tersebut dibuktikan dengan lancarnya pembayaran itu berlanjut pada rencana jual-beli berikutnya. Seperti  biasa, setelah perjanjian sama-sama disepakati, bisnis itu pun kembali bergulir dengan harapan tak ada kendala.

Seperti biasa, Ramjid tetap husnudzon dan merasa rekan bisnisnya akan menaati kelancaran pembayaran yang sudah disepakati. Namun, tanpa mengalami firasat apa pun, tiba-tiba saja kendala datang menyambangi, rekan bisnis Ramjid mulai mengulur waktu. Pembayaran mulai ditunda-tunda, semakin lama semakin panjang jangkanya, kemudian perlahan menghilang tanpa kabar. Dan selanjutnya rekan bisnis Ramjid, raib seperti di telan bumi.

Kebingungan tentu saja menyerap dan membungkus hati Ramjid. Rasa takut  pun sedikit mulai menteror. Semakin lama, bentuk ketakutan Ramjid semakin jelas, terlebih ketika persoalan itu sudah sampai ke tangan yang berwajib. Astaghfirullahal’Adzim!. Apa yang harus dilakukan Ramjid?

Pada panggilan pertama ke kantor polisi, Ramjid datang hanya sebagai saksi atas masalah yang terjadi. Meskipun pihak pemilik batubara menyeret Ramjid sebagai orang yang harus bertanggung jawab, namun status yang ditetapkan untuk Ramjid masih sebagai saksi. Status itu masih menunggu perkembangan  kasus baru yang akan berubah seiring dengan kejelasan permasalahannya.

Menjadi saksi atau pun tersangka, bagi Ramjid tetaplah sebuah masalah besar yang harus segera diselesaikan. Terkecuali jika Ramjid mampu mengembalikan sejumlah uang yang nota bene di bawa lari oleh rekan bisnis Ramjid. Ramjid harus bertanggung jawab sepenuhnya, meskipun dalam kasus ini Ramjid adalah orang yang tertipu.

Waktu terus bergulir berteman resah dan galau. Namun keadaan seperti itu harus tetap dijalani Ramjid. Ia belum bisa berpaling dari persoalan ini, ketika pihak berwajib kembali memanggil untuk yang kedua kalinya dan lagi-lagi Ramjid tidak mampu mengelak. Meskipun pada panggilan yang kedua ini status Ramjid tetap sebagai saksi. Bukan mustahil, jika kejernihan persoalan ini belum menampakkan diri, status Ramjid akan meningkat jadi tersangka. Ini sangat menakutkan.

Manakala sidang kedua dilakukan, ketakutan Ramjid semakin menggurita. Posisinya semakin melemah. Bayang-bayang meja hijau semakin melengkapi ketakutannya. Sebab, dalam sidang kedua itu, jika Ramjid ingin keluar dari masalah yang menjeratnya, ia harus menyiapkan uang  yang jumlahnya miliyaran rupiah hanya dalam tempo tujuh hari.

Astaghfirullah! Dari mana Ramjid akan mendapatkan uang yang sebanyak itu dalam waktu yang begitu singkat? Dalam ribuan minggu pun rasanya Ramjid tak akan dapat mengumpulkan uang miliyaran rupiah. Ramjid pun, terjerat dalam renungan yang panjang, terkurung dalam kerangkeng kebingungan. Haruskah dirinya berjibaku  untuk mencari  uang miliyaran rupiah dalam tempo yang  sangat singkat? Ataukah ia memasrahkan dirinya untuk diseret ke meja hijau, kemudian dijebloskan ke ruang tahanan yang menyiksa ?

Kalau pun Ramjid berjibaku  mencari uang dengan mengumpulkan selurub harta  yang ia miliki, itu masih sangat jauh dari menyukupi. Sebuah mobil yang ia miliki, tak akan mencapai nilai ratusan juta rupiah. Ramjid pun mulai kalut. Harus bagaimana dirinya? Dalam suasana kalut yang akut itu, seketika Ramjid ingat perkataan seorang mubaliqh. ”Bersedekahlah kalian, sesungguhnya sedekah itu dapat mengatasi berbagai kesusahan, penyakit, utang dan sebagainya.” 

Mengingat perkataan itu, ada semangat yang tiba-tiba menyengat. Anda gairah yang membangkitkan keinginan untuk bisa keluar dari jerat persoalan. Ramjid bangkit. Ia ingin bersedekah dengan ikhlas, ia hampir melupakan itu. Dan kini, Ramjid akan menyedekahkan harta paling berharga satu-satunya yang ia punya. Serta merta ia bangkit dan mengambil kunci yang tergeletak di meja kerjanya. Kunci mobil itu ditimang-timangnya sesaat.

 “Akan saya sedekahkan mobil ini ke panti asuhan. Pasti sangat besar manfaatnya untuk mereka, “ bathin Ramjid semakin mantap. Maka tak membuang waktu lagi Ramjid bergerak menuju panti asuhan yang terdekat. Di sana ia langsung menyerahkan kunci dan kendaraan untuk dipergunakan sebagai sarana akomodasi panti asuhan. Tentu saja sedekah Ramjid diterima oleh pimpinan panti asuhan dengan suka cita. Untaian doa pun terucap dari mulut pimpinan itu. Ramjid terharu, kemudian pergi meninggalkan panti asuhan itu.

Berkah Sedekah

Selang beberapa hari setelah menyedekahkan kendaraannya, disebuah pusat perbelanjaan Ramjid bertemu dengan lelaki yang berusia 60 tahunan, Ramjid mengenali lelaki itu, ia adalah ayah dari teman  sekolahnya dulu.

Pertemuan tanpa sengaja itu melahirkan percakapan yang serius, hingga ke masalah pekerjaan. Ramjid, dengan tak banyak pikir, menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Penipuan dalam jual-beli batubara itu sungguh membuatnya takut.

Cerita lengkap Ramjid membuat ayah temannya itu berkesimpulan bahwa persoalan itu murni penipuan. Sebagai korban, Ramjid selayaknya mendapat bantuan, bukan tuduhan.

Ayah teman Ramjid itu bertanya, siapakah pengusaha batubara itu? Dengan spontan Ramjid menyebutkan sebuah nama. Dengan spontan juga ayah teman Ramjid menyambut.” Dia teman baik saya dalam bisnis batubara.”

Ada harapan yang tiba-tiba mencuat dalam dada Ramjid. Semoga ayah temannya itu dapat membantunya keluar dari persoalan yang mengerikan ini.  “Kita temui dia sekarang. Saya yakin dia dapat memaklumi persoalan yang murni penipuan ini,” ajak ayah teman Ramjid.

Harapan Ramjid semakin menggunung, ketika ayah teman Ramjid bertemu dengan teman bisnisnya dengan mengakui Ramjid sebagai kemenakannya, kemudian menjelaskan persoalan yang sebenarnya yang dialami Ramjid. Maka hari itu juga, warna langit berubah cerah. Bola mata Ramjid pun jadi berbinar, karena orang yang telah membawa persoalan penipuan ini ke pihak, karena orang yang telah membawa persoalan penipuan ini ke pihak  berwajib berjanji akan menarik tuntutannya dan akan membebaskan Ramjid dari segala tuntutan dan kewajiban mengembalikan uang  yang bernilai miliyaran rupiah itu.

Allahu Akbar. Ada puji-pujian rasa syukur yang menggema di dada Ramjid. Dan Ramjid  semakin yakin dengan kekuatan sedekah. Dengan keikhlasan sedekahnya yang tidak seberapa, Ramjid menerima berkah terbebas dari dakwaan meja hijau dengan tuntutan miliyaran rupiah. Alhamdulillah…………!!!!

Oleh Eep Khunaefi

Kisah Sedekah Ibu Rumah Tangga Yang Divonis Mandul ~ Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Meski  telah divonis  mandul oleh dokter, nyatanya ia bisa hamil atas izin Allah.

Bagi seorang istri, apa yang Anda rasakan ketika divonis mandul oleh dokter? Hancur, tak karuan, sedih, dan stres. Sebab, bagi seorang istri (wanita) kesuburan adalah utama. Tidak  bisa hamil terasa kiamat bagi seorang istri. Meski dapat anak bisa lewat jalan lain (bayi tabung, adopsi dan sebagainya), tetapi, tetap saja hal itu dinilai kurang sempurna. Istri  manapun pasti menginginkan dirinya subur dan bisa melahirkan.
ilustrasi oleh www.muslimahcorner.com
Itu juga yang dirasakan oleh Chamelia saat dirinya divonis mandul oleh dokter. Sebagai seorang perempuan, jelas hal itu merupakan pukulan yang sangat telak. Pasalnya, apa sih yang dicari dalam suatu pernikahan kecuali salah satunya hadirnya seorang anak. Dan Chamelia menginginkan anak dari pernikahannya dengan Mart Andreyas dengan cara normal dari rahimnya sendiri. Namun, semuanya hancur setelah vonis yang tidak terduga itu.

Untungnya, Chamelia memiliki seorang suami yang luar biasa. Sebagai suami, Mart tidak  ikut remuk hatinya, meski sempat terguncang juga. Tetapi, ia lepas  bangkit  dan menyadari  bahwa semuanya telah diatur oleh Allah. Ia tidak terlalu kecewa dan menumpahkan kemarahannya pada sang istri. Tidak jarang seorang suami  marah ketika diketahui istrinya mandul. Tetapi, Mart tidak. Ia malah memberikan dukungan kepada sang istri tercinta  untuk bersabar sambil terus mencari usaha agar semuanya bisa berjalan normal.

Bagi Mart, anak itu merupakan milik Allah. Jika ia sudah berkehendak, tidak ada yang mampu menghalanginya. Begitu juga jika ia dan istrinya diberikan kepercayaan oleh Allah untuk punya anak, maka apapun halangannya akan bisa dilewati.

Dalam kondisi yang masih sedikit frustasi, Chamelia mendapatkan saran dari salah seorang temannya untuk berkonsultasi ke Wisatahati. Tanpa pikir panjang lagi. Ia pun segera bergegas pergi ke sana. Di sana ia bertemu dengan Ustadz Saefudin. Chamelia pun berkonsultasi kepadanya. Dari situlah, Pak Ustadz tahu kegundahan yang dirasakan oleh Chamelia.

Seperti sudah sering menghadapi kasus serupa. Pak Ustadz pun segera menganjurkan Chamelia untuk shalat Taubat 6 rakaat sebelum tidur, membaca  istighfar sampai tidur, shalat Tahajud 6 rakaat, kemudian ditambah shalat Hajat, dan shalat Dhuha 6 rakaat. Tidak lupa, Chamelia juga disarankan untuk memperbanyak sedekah. “Semua  harus kami amalkan dengan istiqamah dan ikhlas, hanya  ridha dan kasih sayang Allah yang kami  harapkan. Karena kami yakin bahwa Allah Maha Berkehendak dan memiliki  segalanya. Kami pasrah  anak yang  punya Allah. Jadi kami hanya meminta dengan Allah saja, itu yang kami pikirkan.” Ujar Chamelia.

Tidak lama setelah pertemuannya dengan Ustadz Saefudin dan telah melakukan beberapa kali amalan yang disarankan olehnya, Chamelia dan sang suami ditakdirkan untuk nertemu  dengan Ustadz Yusuf manshur, dalam suatu acara di Masjid Baiturrahman, Semarang.

Dalam ceramahnya, Ustadz  Sedekah  tersebut kembali  menyengat pasangan itu dengan konsep sedekahnya. Saat itu kepada para jamaah, Ustadz Yusuf Manshur mengimbau supaya jangan ragu-ragu untuk mengeluarkan seluruh yang ada di dalam dompet untuk disedekahkan.

Tanpa pikir panjang lagi, Cahmelia dan suaminya mengeluarkan dompetnya masing-masing dan kemudian menyedekahkan seluruh isinya. Hanya Rp. 10.000,  yang disisakan   di dompet sang suami, itu pun untuk ongkos pulang (beli bensin atau hal lainnya di tengah jalan). Kepada sang Ustadz, Chamaelia dan suamnya pun minta didoakan agar dikaruniai seorang anak. “Yang penting, Ente semua pada rajin sedekah,” pesan Ustadz Manshur. Saat itu bulan Januari 2008.

Waktu terus berjalan, Chamelia dan sang suami pun rajin melakukan apa yang diperintahkan oleh Ustadz Yusuf manshur. Penantian Chamelia dan sang suami  akhirnya berbuah manis. Tiga  bulan  kemudian, tepatnya di bulan Maret 2008, Chamelia dinyatakan positif hamil oleh dokter. Betapa bahagianya Chamelia! Rupanya Tuhan telah mendengarkan doa-doanya selama ini. Begitu juga dengan sang suami, ia turut bahagia.

Kini, mereka pun percaya bahwa Tuhan tidak tidur. Tidak  ada yang mustahil bagi Allah, jika ia sudah berkehendak. Sesuatu yang sangat sulit bagi manusia, ternyata begitu mudah bagi Allah. Karena itu, teruslah berdoa dan optimis menghadapi hidup ini, itulah prinsip hidup Chamelia dan sang suami.

Pada bulan November 2008, anak Chamelia pun lahir dengan nama Nesya Fiedella Syabil. Betapa bahagianya Chamelia dan sang suami! Apalagi, setelah dipastikan bahwa anaknya lahir dalam keadaan normal dan sehat walafiat, tidak kurang satu apapun.

Kelahiran anak ini melengkapi kebahagiaan mereka berdua sebelumnya di awal tahun 2008, yaitu ketika  mereka berhasil membeli tanah  dengan harga yang sangat standar. Di atas tanah itulah lalu dibangun sebuah rumah cukup megah bernilai Rp. 300.000.000,-. “Hingga kini,  saya masih belum percaya bisa bangun rumah dengan nilai sebesar itu” cerita Chamelia.

Jadi, rupanya, selain ingin punya anak, ternyata Chamelia dan sang suami pun ingin punya rumah sendiri. Maka mereka pun rajin bersedekah dan shalat-shalat sunnah seperti Dhuha, Tahajud, Hajat dan sebagainya. Berkat semuanya itu, mereka pun diberikan kemudahan. Ada yang menjual tanah dengan harga  murah kepada mereka. Mereka pun membelinya, lalu membangun rumah diatasnya. Nah, saat membangun rumah inilah Chamelia hamil. Jadi, semuanya berjalan begitu cepat sejak mereka menginginkan sesuatu.

Bagi pembaca sekalian, hendaklah kisah Chamelia ini bisa kita jadikan sebagai sebuah  inspirasi bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Meskipun kata dokter istri kita divonis mandul, tetapi jangan langsung menyerah. Sebab, yang memberi kita anak itu bukan dokter, tetapi Allah. Maka, lakukan hal-hal yang disenangi Allah yaitu sedekah, shalat Tahajud, Dhuha, Hajat, dan sebagainya. Insya Allah, Allah akan mewajudkan keinginan kita.

Allah swt berfirman, “Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu,” (QS. Al-Mu’minuun ayat 60). Jadi, Anda ingin punya anak,  mintalah kepada Allah, niscaya Dia akan mengabulkan permintaan Anda. Jangan datang kepada dukun atau orang pintar lainnya yang kurang memberikan manfaat.

Oleh Eep Khunaefi

Kisah Ibu Yang Rajin Sedekah Mendapat Mukjizat Kehamilan ~ “Keajaiban sedekah memang luar biasa. Bahkan, balasannya itu terkadang diluar kemampuan akal manusia.”

Sebagai seorang ibu, kehamilan adalah fitrah manusia yang terjadi akibat hubungan sah (suami – istri). Karena itu, ibu mana  yang tidak senang ketika merasa dirinya hamil, meski ada saja wanita yang tidak menginginkannya karena alasan yang kadang tidak masuk akal, seperti hubungan yang tidak sehat, kemiskinan dan sebagainya.
sumber gambar : senyumkudakwahku.blogspot.com
Begitulah yang dirasakan Fitri Barakah. Meski ia pernah punya anak, tetap saja ia merasa  senang dan bangga ketika ia dinyatakan hamil lagi. Puji syukur pun ia  panjatkan kepada Allah swt. Kehamilan yang kedua kalinya ini pun berusaha ia jaga dengan sebaik mungkin.

Namun, tahun 2007, ketika kandungannya berusia 8 minggu, Fitri mengalami  keguguran. Ia pun shock, (terguncang) hatinya, meski ia cepat menyadarinya dan segera bangkit dari rasa sedihnya tersebut. Untuk membersihkan area vital dari berbagai macam virus, Fitri  lalu dikuret. Proses itu berjalan lancar dan Fitri pun merasa lega.

Usai  kejadian itu, Fitri pun berharap ia akan bisa hamil lagi secepat mungkin. Ia cukup yakin bahwa ia akan bisa hamil dalam waktu yang tidak lama. Sebab rahimnya dalam kondisi normal. Karena itu, yang bisa ia lakukan hanyalah banyak berdoa kepada Allah Swt.

Di tengah penantiannya untuk bisa hamil lagi, Fitri pun mencoba untuk memeriksakan kondisi rahimnya ke dokter. Takut terjadi sesuatu atau hal lain yang bisa menghambat proses kehamilannya. Benar saja, berita negatif itu kemudian didengarnya dari dokter yang memeriksanya. Ternyata, telah terjadi penyumbatan di saluran rahimnya. Penyumbatan  itu berpotensi bisa membahayakan dirinya. Ia pun harus segera dikuret lagi untuk kedua kalinya.

Fitri tidak percaya mendengar hal ini. Bagaimana mungkin ia harus  dikuret lagi, sementara belum lama ini ia telah melakukannya? Apakah Allah memang tidak mengizinkannya untuk hamil lagi? Dari pada stres memikirkannya, Fitri hanya bisa tawakal kepada Allah. “Saya pasrah sekali melihat kenyataan ini. Semuanya sudah diatur oleh Allah swt,” ujarnya dengan lirih saat itu.

Sementara sang suami menemaninya dengan setia ketika di UGD. Laki-laki itu terus memotivasinya untuk tetap bersabar dan serahkan semuanya kepada Allah swt.  “Maklum, rasanya sakit sekali,” ceritanya lebih lanjut.

Belum lama Fitri keluar dari shock-nya, tiba-tiba dokter kembali memberitahu bahwa kemungkinan dirinya bisa hamil tidak mudah lagi seperti sebelumnya. Kalau pun bisa, mungkin dalam waktu lama.

Fitri yang awalnya sudah tenang kembali terguncang. Padahal, ia ingin sekali bisa hamil lagi. Soalnya, anaknya yang pertama sudah cukup besar dan sudah waktunya untuk punya adik lagi. Lagi pula, usia Fitri sendiri masih muda dan masih pantas untuk bisa memiliki anak lagi. Jangan sampai ia tak  memiliki anak lagi, Fitri pun benar-benar sedih.

Namun, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang hamba selain pasrah kepada segala yang telah diputuskan oleh Allah. Itulah arti sebuah tawakal. Begitu pula yang dilakukan Fitri dan sang suami. Ia tidak bisa menengok  kembali dan saatnya menatap ke depan. Pasti ada jalan. Pasti ada keajaiban. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Jika dia sudah berkehendak, apapun yang tampak mustahil bagi manusia, akan terlihat sangat mudah di mata Allah.

Fitri pun mencoba mencari cara, di tengah doanya yang tak pernah putus. Pada awal  tahun 2008, Fitri tanpa sengaja membaca buku karya Ustadz Yusuf Manshur tentang keajaiban sedekah. Ia pun tertarik. Dalam buku itu ditulis bahwa sedekah itu mampu menyelesaikan setiap persoalan manusia, termasuk soal kehamilan.
Buku itu benar-benar menggugah pemikiran Fitri, seketika rasa optimisme itu muncul lagi. Tidak cukup  dengan apa yang telah dibacanya, ia pun mencoba  untuk mencari kaset dan CD tentang ceramah Ustadz Yusuf Manshur, soal keajaiban sedekah. Merasa sudah cukup puas dengan informasi itu, ia pun mulai bertindak. Fitri mulai rajin sedekah. Bukannya yang kemarin tidak pernah sedekah. Ia sudah melakukannya, hanya saja kadarnya belum banyak. Kalau kemarin baru sebatas 2,5%, kini sedekahnya ia tingkatkan berkali lipat. Setiap bulan ia sedekah  kepada anak-anak Yatim Piatu, salah satunya kepada para santri  di Darul Qur’an asuhan Ustadz Yusuf Manshur.

Waktu terus berjalan. Tidak sampai dalam hitungan tahun, awal tahun 2008, ternyata Fitri merasa dirinya hamil lagi. Hal itu ia rasakan ketika haidnya tidak datang. Merasa penasaran, ia pun memeriksakan dirinya ke dokter dan ternyata hasilnya positif. Fitri pun merasa senang dan tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah swt, atas segala karunia yang telah Allah berikan kepadanya.

Ketika usia kandungannya 32 minggu, Fitri dan suami memeriksakan kehamilannya kepada dokter. Sekadar ingin mengetahui jenis kelaminnya. Dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jenis  kelaminnya adalah lelaki. Hal ini pun sangat disyukuri oleh Fitri dan suaminya. Soalnya anak pertamanya berjenis perempuan yang  bernama Niken Aisyah. Pada waktunya, Fitri pun melahirkan anak keduanya dengan kondisi selamat. Bayinya lahir dengan normal.

Setelah melahirkan anak kedua, Fitri tidak lekas menghentikan sedekahnya. Setiap bulan tetap ia bersedekah kepada anak-anak Yatim Piatu, bahkan kadang  menambahnya di hari-hari yang tidak ditentukan. Kini keberkahan hidup yang lain juga menimpanya. Usaha  laundry-nya juga meningkat tajam. Konsumennya semakin bertambah dan otomatis hal ini menambah pundi-pundi  keuangannya.

Atas apa yang terjadi pada dirinya, Fitri pun tak lupa untuk mengingatkan sang suami  agar rajin bersedekah. Bahkan, anak pertamanya yang bernama Niken yang sudah tumbuh besar juga dilatih untuk rajin bersedekah. Sebab, sedekah itu tidak ada ruginya sama sekali.

Kepada saudara dan para sahabatnya, Fitri juga rajin  mengajak mereka untuk bersedekah. Awalnya, mereka  segan. Namun, seiring waktu, akhirnya mereka berkenan dan rela setiap bulan mengeluarkan sedekah untuk anak-anak yatim piatu, terutama para santri di PPPA Darl Qur’an milik Ustadz Yusuf Manshur. Mereka pun kerapkali menemukan keajaiban akibat sedekah ini.

Oleh Eep Khunaefi

Ngawi Cyber

Diberdayakan oleh Blogger.