Aki Tekor, Mobil Matic Kok Didorong-Dorong

Foto : cong kenek


Jika masih pemula sebagai pengguna mobil matic ya jangan sok tau lah. Jadinya ya kayak Cong Kenek ini. Didorong sampai ke tengah lapangan. Sudah begitu, disaat gagal malah menyalahkan orang lain.


Cong Kenek asal Kecamatan Yosowilangun memang ter golong pemula untuk peng guna mobil matic. Kalau dihitung, lelaki berumur 45 tahun ini ba rangkali masih belum genap sebulan. Itupun ternyata bukan milik sendiri. Melainkan pinjam atau tukar pakai dengan milik temannya bernama Mat Tasan. Kali ini kebiasaan tukar pakai itu diterapkan terus-terusan. “San, tak rasak-rasakno kok penakan matic yoh San. Ketepakan aku engkok sore ape neng omehe dulur. Ijol disek yoh,” katanya. “Wes gowoen Cong, tapi kebekono disek BBM me yoh. Maklum kudu tekor kowe, soale siung butuh kan,” jawab Mat Tasan. Seketika itupula, setelah BBM diisi, mobil ditukar. Cong Kenek langsung ngeplas menjemput anak istrinya ke rumah saudaranya yang ada di Rowokangkung. “Ayo budal buk. Ojo lali arek-arek diajak. Iki gawe mobile Mat Tasan. Ben gak kesel, Matic iki,” jawabnya. Disaat itulah, rombongan keluarga Cong Kenek meluncur ke Rowokangkung dengan mobil hasil pertukaran.
Tak butuh sampai satu jam, merekapun sudah tiba di rumah saudara mereka. Seperti biasa Cong Kenek mamamerkan kepada tetangganya mobil yang disebutnya mobil barunya. Saking seriusnya pamer, dia sampai lupa tidak mematikan lampu saat mobil tersebut diparkir. Hingga keesokan harinya, lampu terus menyala. Dan, sampailah pada insiden pagi harinya. Insiden yang dimaksud adalah mobil itu tak bisa dinyalakan. “Waduh, opo’o iki kok gak kenek. Megeli tenanan mobil iki,” ungkapnya. Saking paniknya dia mengundang teman-teman saudaranya. Kali ini, panik campur malu. “Konslet paling rek. Kok nganti gak kenek ngeneh. Ayo tolong disotok rek,” pintanya. Sedikitnya ada lima orang teman membantu mendorong mobil tersebut. Tapi tetap saja upaya itu tidak membuahkan hasil. Setelah didorong yang biasanya langsung memasukkan pada gigi aktif agar bisa menyala. Tapi ternyata tidak bereaksi. “Adiah, kurang banter sotokane rek,” katanya. Sekali, dua kali telah dicoba. Tetapi tetap saja tak bisa. “Eh paling njaluk digowo neng lapangan. Kan rodok dowo jalure lek neng lapangan rek. Ayo sotok neng lapangan rek. Njaluk tolong aku,” katanya memelas dengan ekringat bercucuran. Semua temannyapun membantu mendorong. Mereka manut saja ketika Cong Kenek meminta bantuan. Sampai akhirnya tibalah mereka di lapangan. Didorong lagi sampai jarak yang begitu jauh.
Tapi tetap saja tidak bisa. Nafas temannya juga ngosngosan. Akhirnya Cong Kenek menyerah. Dia langsung menghubungi Mat Tasan. “San, mobilmu iki kok rewel. Iki gak kenek saiki, akine tekor. Didorong yo gak kenek,” katanya. “Oalah, paling awakmu gurung adus Cong. Kakean duso., makane lek mari ngalak ndang adus,” ledeknya. “Ngawur kowe,” jawabnya. “Wes usahakno Cong, opo jare awakmu wes. Disotok kenek kok biasane,” katanya. Karena sedikit menyerah, Cong Kenek memutus sambungan telepon dengan Mat Tasan. “Yowes, percuma njaluk saran sing duwe. Tibakne gak iso pisan, wes tak uruse aku wes,” jawabnya. Seketika itu pula, Cong Kenek ingat pada Mat Nganu. Teman yang terbiasa men service mobil. Langsung saja dia menghubungi Mat Nganu. “Nu, mobile Mat Tasan iki akine tekor, disotok kok gak kenek yoh,” katanya. “Yo jelas gak kenek Cong. Soale iku matic. Deloken tak, iku mobil matic kan Cong,” jawabnya yang lalu bertanya. Cong Kenek tertegun. “Iyo matic Nu. Terus opo o lek matic. Opo gak kenek dorong?.” Tanyanya. Bukannya menjawab, Mat Nganu malah ngakak-ngakak. “Ha ha ha, gendeng awakmu Cong,” jawabnya. “Sing genah Nu. Piye iki. Aku wes kesel iki. Isin neng wong sak kampung,” jawabnya. Mat Nganu kemudian memberi penjelasan. “Ngeneh Cong. Mulai ndisek jenenge matic iku gak iso disotok. Tapi cobaen ae disek. Menowo awakmu duwe penemuan baru kan hebat, ha ha ha,” jawabnya. “Ngawur maneh arek iki. ayo diwenehi solusi piye penake iki,” pintanya merengek-rengek.
 “Dicoba kok. Pola awakmu iso dadi eksperimen, wakakaka,” jawabnya meledek. Karena kasihan dengan keluhan Cong Kenek, akhirnya Mat Nganu memberi saran. “Maki sampek protol boyokmu tetep gak kiro kenek matic disotok terus dipindah gigi aktif. Awakmu sing gendeng. Iku wes mulai ndisek. Saranku nyiliho akine mobil liyo. Diijol sementara, terus diuripi. Jajalen lak kenek,” katanya. Saran itu langsung ditindaklanjuti oleh Cong Kenek. Sampai akhirnya berhasil menyalakan mesin mobi tersebut. “Oalah, bener Nu, suwun yoh,” ucapnya bersyukur dan berterimakasih. “Wes maringunuh patenono maneh, sotoken maneh ha ha ha,” ledeknya. “Aku gak gendeng Nu. Wes suwun wes,” jawabnya. Disaat bisa dinyalakan, Cong Kenek langsung menghubungi Mat Tasan pemilik mobil. “Wes san, wes kenek. Awakmu iki sing duwe mobil kok gak weruh lek matic gak kenek sotok. Payah awakmu,” katanya menyeluh. “Loh iyo tah, tenanan aku gak weruh. Yo gapopo wes, berarti pengalamanmu kenek gawe pelajaran penting Cong, ha ha ha,” jawabnya. Mat Nganu langsung sambat. Di hadapan teman-temannya dia merasa malu. Bukan cuma malu karena ketahuan jika mobil tersebut milik temannya, tetapi juga ketahuan jika dia tergolong awam urusan mobil matic. “Apes temen aku rek,” jawabnya lalu ndemprok di depan mobil.