Terjaring Operasi Zebra Mengaku Teman Wartawan

foto: cong kenek


Pernahkah anda terjaring operasi zebra? Jika kena, lebih baik jangan banyak bantah. Apalagi ngandalkan profesi yang dekat dengan aparat. Karena gak mempan

Yu Tub kesehariannya adalah menjual warung kopi di kawasan Lumajang. Saking nyamannya racikan kopinya, ditambah dengan tempatnya yang bikin kerasan, membuat sejumlah pejabat sering nongkrong di tempatnya. Tak cuma itu, aparat juga tak jarang yang singgah di warungnya. Termasuk sejumlah profesi lain seperti marketing dan awak jurnalis. Semua kumpul dan menjadikan warung tersebut sebagai tongkrongan favorit untuk ngobrol kesana-kemari Nah, siang itu Yu Tub sudah menyelesaikan tugasnya. Barulah dia pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia bergegas berbelanja ke pasar. “Aku ape blonjo disek pak, jogoen omahe,” pamitnya pada Mat Tasan suaminya. Secepat kilat, diapun berangkat. Mengendarai sepeda motor tanpa membawa surat-surat. Sesampainya di kawasan PB Sudirman, terkejutlah dia. Sebab disana sudah berjajar polisi menghentikan sejumlah kendaraan. “Adiah enek operasi. Iki tah sing diarani operasi zebra. Pingin delok koyok opo gedene zebra sing sioperasi,hehehe” katanya penasaran sambil tertawa sendiri. Sambil lalu, diapun melihat operasi itu dari atas sepeda motor yang melaju pelan. Tanpa sadar di depannya sisi samping, berdiri polisi tepat di samping kendaraannya.

“Menepi dulu buk,” sapa santun polisi itu. Spontan Yu Tub terkejut. Dia mengerem mendadak dan terlihat gugup. “Ya pak, iya iyaaa, saya berhenti,” jawabnya. “Mohon maaf bu, selamat siang. Mohon tunjukkan surat suratnya,” kata polisi tersebut. Saat itulah, Yu Tub kelihatan panik. Dia kebingungan melihat ke kanan dan ke kiri. Lagi-lagi polisi menanyakan surat-suratnya. “Surat-suratnya buk. Sim dan STNK nya,” tanyanya agak tegas. Yu Tub bukannya mengeluarkan yang diminta polisi. Melainkan memulai berdalih banyak hal. “Begini loh pak polisi. Saya ini cuma belanja sebentar. Rumah saya di dekat sini. Masak masih di razia,” katanya merayu dengan gayanya yang lumayan endel. Polisi tetap tak menggubris. “Begini bu, sekarang ini operasi zebra. Kami harap ibu tidak menghambat. Mohon keluarkan suratsuratnya,” tegasnya lagi. Yu Tub tetap tidak nurut. Malah dia mdngeluarkan jurus yang kenal dengan pejabat dan aparat. “Di warung saya setiap hari jadi tempat ngopinya pejabat loh pak,” katanya. “Pak polisi termasuk atasannya sampean juga sering ngopi ditempat saya,” tambahnya. Polisi itu tetap saja tak merespon. Malah geleng-geleng dengan jawaban Yu Tub. Karena tak menggubris, Yu Tub mengeluarkan jurus andalan. “Wes pak ojok ruwet-ruwet. Aku akeh kenalan karo wartawan pisan,” katanya. Polisi tetap tak merespon. “Wartawan sopo,” tanya polisi dengan tersenyum. “Jenenge Cong Kenek pak. Lek gak percoyo iki omongo tak telepone areke,” dalilnya berapi-api. “Aku weruh lek asline gak enek wartawam jenenge Cong Kenek. Iku cuma cerita lucu neng koran toh,” jawab polisi sambil mesam-mesem. Secepat mungkin, polisi membawa menepi Yu Tub, langsung diarahkan untuk mengisi surat tilang. “Pak, iki Cong Kenek ape ngomong,” tambah Yu Tub lagi. “Sudah bu, silahkan diisi surat tilang ini. Itu petugasnya silahkan dijawab nama dan alamat ibu,” jelasnya. Yu Tub akhirnya ngaplo. Dia menurut saja arahan polisi. Diapun rela membawa pulang surat tilang untuk disidangkan bulan depan. Di tengah jalan, dia mengumpatumpat. “Kurang ajar, aku dibujuki Cong Kenek iki,” batinnya. Keesokan harinya, Yu Tub kembali beraktifitas. Datanglah Cong Kenek seperti biasanya ngopi. “Awakmu iki ngisruh Cong, jarene lek dicegat polisi kon nyebut awakmu. Tapi aku tetep ae. Iki aurat tilange. Tolong uruseb. Buktekno lek ancen awakmu kenal cidek karo polisi,” ucapnya mengomel. Cong Kenek lanssung ngakak-ngakak. Tak cuma dia, Mat Nganu, Mat Pi’i dan Mat Soleh yang tak lain adalah pejabat dan wartawan semakin mingkel-mingkel. “Kok percoyo karo Cong Kenek Yu sampean iki. Lawong arek iki nggedabrus,” sindir Mat Nganu yang bikin seisi warung ngakakngakak. “ojok maneh kancane, lawong bojone ae wes ora percoyo kok,” sambung Mat Soleh lalu mingkel-mingkel.