![]() |
| foto: cong kenek |
Ketika masuk ke hotel mewah, Cong Kenek yang katrok ini hanya plonga-plongo saja. Wong ndeso ini kagum dan takjub melihat kemegahan hotel. Puncak kekonyolan terjadi saat kencing di kamar mandi.
Cong Kenek dan ge rombolannya, malam itu, men dapat undangan istimewa. Yang ngundang adalah Pak Bos sebuah perusahaan besar. Un da ngannya pun di sebuah hotel mewah nan megah. Namanya saja un da ngan, ini jelas acara ‘romantis’ alias rokok mangan gratis. ”Bahkan, bisa-bisa pu langnya dapat sangu lumayan,” batinnya, girang pol. Dengan semangat 45, Cong Kenek pun macak mlipis. Rambutnya yang separo botak disisir ke kiri.
Minyak wangi disemprat-sem prot kan ke tubuhnya. ”Undangan sip iki, kudu macak mboys,” gumannya sambil nggeber motornya menuju lokasi undangan. Sampai di hotel, ternyata kawan-kawannya sudah kumpul di salah satu lobi. Entah urusan apa, pembicaraan serius pun mengalir antara Bos Besar itu dengan gerombolan Cong Kenek ini. Singkat kata, hampir sejam ngerumpi ngalor ngidul yang nggak ada jluntrungnya, tiba-tiba Cong Kenek kebelet pipis. Tengokkanan-kiri, Cong kenek pun membaca sebuah tulisan, toilet. Dia masuk ke sana untuk bung air kecil. ”Daripada di-empet, pipis dulu, ahhh,” batinnya lagi. Tapi di tempat buang air kecil khusus laki-laki itu Cong Kenek merasa kurang enjoy.
Khusus tempat pipis itu bentuknya seperti jamban, dan pipisnya harus nganthuuurr berdiri. ”Duh, nggak asyik blas. Malah bingung aku nek ngene iki. Wawik-e nangdi mengko,” tanyanya, dalam hati (pria ini rupanya biasa pipis ke sungai). Karena merasa nggak nyaman, Cong kenek memilih pipis di kamar mandi yang kebetulan lokasinya tak jauh dari tempat buang air kecil itu. ”Itu dia,” batinnya, sambil masuk ke dalam. Cuuuur, cuur…… crit! Tapi apa lacur? Usai buang hajat kecil di kamar mandi itu, Cong Kenek kembali kebingungan. ”Iki endiiii, banyune,” batinnya. Bak mandi di depannya kosong blong, tidak kelihatan ada air sama sekali. Yang ada hanya dua kran yang satunya warna merah. Mengira kran itu sengaja untuk membasuh kaki, dia lantas memutarnya. Tiba-tiba…. Mak byurrrrr……….!!!! Cong Kenek tersiram air dari atas! Pria ndeso ini kuagetnya minta ampun. Kepalanya basah kuyub oleh siraman air wastafel mandi.
Rupanya, yang diputer-puter tadi adalah kran untuk mandi. Dia teleg-teleg saja. Ya kaget, ya bingung… ya ketawa dalam hati…”Aku cik longor-e. Iki lek konco-konco weruh lak dadi guyon aku,” batinnya. Tak kurang akal (karena handuk tidak ada) dia menggunakan kelambu dalam kamar mandi itu untuk ngelap kepalanya yang basah kutub. ”Amaaan…,” pikirnya. Setelah dirasa agak lumayan, Cong Kenek kembali kumpul rekan-rekannya. Mat Pi’i, sohib beratnya sempat curiga dengan Cong Kenek yang wajahnya kelihatan kumus-kumus itu. ”Omonge pipis… lha kok teles kabeh, Cong,” tanyanya. ”Opo pipismu mau kok arahne munggah too,” sindirnya. ”Hora, Lik. Aku sumuk iki. Ben rodok segerlah. Rambutku sengojo tak siram,” dalihnya, sambil nyedot rokoknya dalamdalam. Dalam hati, Cong Kenek ngikik dalam hati.. (he he heheee..). Oalah, Cong, Cong.. kelakuanmu!

Posting Komentar