![]() |
| Foto: Cong Kenek |
Menjadi pegawai negeri sipil merupakan abdi negara. Bekerjanya adalah melayani rakyat. Syukursyukur jika ada reward dari pekerjaanya itu. Bukan cuma menunggu jadwal mutasi
Seragam coklat muda dengan sepatu kinyiskinyis setiap pagi dipamerkan Cong Kenek. Jam tangan di lengan kiri yang mengkilap dan tas yang dicangklong tak pernah dilupakan. Belum lagi aroma parfum yang menyengat. Bisa bikin orang yang berpapasan klepek-klepek. Begitulah gaya Cong Kenek setiap hari. Dia tidak pernah lupa mengenakan asesoris dan penampilannya itu. “Pelayan iku kudu nyetil, ben gak dirasani wong,” ungkap Cong Kenek saat bertemu Mat Tasan di tempat kerjanya. Sehari-hari gayanya yang sok pamer itu selalu ditunjukkan. Meski bekerja di salah satu daerah pinggiran bawah lereng Gunung Semeru, dia tidak pernah kalah dengan pegawai perkotaan. “Alaaaah, percuma gayane nyetil lek kerjone gak pentos,” tanggap Mat Tasan. Diledek seperti itu tak membuat Cong Kenek keder. Justru dia balik meledek. “Ketimbang kerjone gak pentos, terus penampilane awutawutan. Mending kan aku,” ujarnya membela diri.
Gojlokan keduanya seakan tak ada hentinya. Suatu ketika, keduanya mendengar rencana mutasi. Bahwa di lingkungan pemkab yang menaungi mereka bekerja bakal mengadakan mutasi. Datanglah keduanya ke kantor ruangan pimpinan. Di waktu longgar pimpinan mereka sedia menemui. “Sesuai aturan baru yang tertuang dalam UU Aparatur Sipil Negara (ASN), semua pejabat yang menetap di posisinya lima tahun harus di rotasi. Semua akan dimutasi,” ucap Mat Pi’i salah satu atasan mereka. “Terus kulo bade dimutasi kan, Pak,” tanya Cong Kenek dengan nada berharap. “Ojo kuatir awakmu Cong, wong ganteng dewe sak kantor iki kan awakmu, awakmu tak mutasi neng jabatan luweh duwur,” ucap Mat Pi’i memberi harapan lalu tersenyum kecil. Jawaban itu membuat lega Cong Kenek. Mat Tasan yang mendengar ucapan bosnya di kantor siang itu ikut nimbrung bertanya. “Lah, saya dimutasi apa tidak pak?,” tanyanya. “Awakmu sik dibutuhne neng kene,” jawab Mat Pi’i. “Inggih pak,” ujar Mat Tasan.
Berbeda dengan Cong Kenek. “Yen kulo kan sampun waktune pindah toh Pak,” ujar Cong Kenek. “Kalau boleh tahu, kulo dimutasi ten pundi Pak?” tanyanya lagi. “Ojo kuatir, awakmu tak promosikan neng jabatan penting. Luwih duwur teko jabatan saiki. Engkok tak usulne dadi camat,” jawab Mat Pi’i sambil mengedipkan mata pada Mat Tasan Jawaban itu membuat Cong Kenek gembira. “Alhamdulillaaaaah, saestu nggih pak. Kulo saget dadi camat kok pak. Kan Cuma tandatangan mawon pak?,” jawab Cong Kenek dengan Pede. “Iya-iya,” tanggap Mat Pi’i lalu tersenyum bersama Mat Tasan. Mendengar rencana promosi itu, Cong Kenek terus saja nyerocos. Sampai-sampai dia bertanya pada pimpinannya. “Ehmmm, pangapunten Pak, kalau boleh tahu bade diusulkan dados camat pundi?,” tanyanya. “Wes engkok wae, ora usah dipikir. Penting saiki kerjo. Paling uapik dadi camat neng cideke Gunung Semeru. Kan enak, paling duwur,” jelas Mat Pi’i. Mendengar jawaban itu, Cong Kenek langsung keluar ruangan. Sampai dia lupa tidak berpamitan pada pimpinannya. Dia meninggalkan Mat Tasan dan Mat Pi’i dalam ruangan pimpinannya. Dia keluar lalu bersorak-sorai. “Horeee, aku ape dadi camat rek,” ungkap Cong Kenek yang tanpa malu-malu bersuara keras sampai didengar rekan lain di kantornya.
Sementara itu, Mat Tasan yang ada di dalam ruangan bersama Mat Pi’i kembali mengobrol. “Kira-kira apa serius yang barusan itu pak?,” tanya Mat Tasan. “Oalah awakmu percoyo toh. La wong Cong Kenek iku tak kerjain,” ujar Mat Pi’i. “Aku Cuma ngetes, komitmennya dengan pekerjaan. Lek ngeneh carane iso dimutasi tenanan neng pucuke Semeru kono arek kuwi,” ujar Mat Pi’i. “Waduh... Mesakne Pak,” tanggap Mat Tasan. “Wes awakmu ora usah melu-melu. Penting kerjo-kerjokerjo,” jawabnya. “Inggih pak,” sahut Mat Tasan. Berselang tiga bulan kemudian, proses mutasi tak jadi-jadi. Membuat Cong Kenek berharapharap cemas. Padahal dia sudah menyiapkan segalanya. Sepatu baru, seragam baru dan tas baru. Termasuk atribut camat dan kendaraan baru. Maklum, dia kan hobi jaga penampilan. Karena mau jadi camat, dia tidak ingin dinilai camat yang comot. Semua harus serba baru. Karena menunggu sudah terlalu lama, akhirnya, Cong kenek memberanikan diri menemui pimpinannya.
“Pripun pak, kulo rantos-rantos kok mboten siyossiyos? Persiapan kulo sampun siap sedoyo,” tanyanya. Mat Pi’i menjawab enteng. “Persiapan neng endi? Awakmu iki kan ora iso kerjo, mosok telung wulan gak enek prestasine,” jawab Mat Pi’i enteng. “Dadi camat iku angel, duduk gur tandatangan tok,” jelasnya. “Awakmu iki ngurusi administrasi ae sik korat-karit kok njaluk diangkat dadi camat,” jawabnya. “Loh, penampilan kulo kan sampun oke pak. Terus kulo sempat dados pendukunge Pak Bupati rumiyen,” ujarnya bertanya balik. “Walah, Bupati tambah isin lek mempromosikan awakmu,” sanggahnya. “Terus bapak niki yok nopo? Rumiyen kan sampun janji toh pak,” ungkapnya. “Iyo memang aku pernah janji. Tapi iku gawe promosi tok. Ben awakmu kerjone tenanan. Tapi telung wulan kok ora enek prestasine awakmu iki, dadi aku berubah pikiran,” ucapnya. Setelah lama diceramahi, Cong Kenek keluar ruangan pimpinan. Mukanya lesu. Keringat bercucuran. Itu menandakan dia habis dimarahi bosnya. Saat berpapasan dengan Cong Kenek, dia mencoba untuk curhat.
“Piye iki Cong, gara-gara gak cepetcepet mutasi, si Bos berubah pikiran,” ungkapnya pada Mat tasan. “Ya Allah...., sabar ya Cong. Asline bos kuwi Cuma ngetes awakmu cong. Ndelok kinerjamu. Berhubung awakmu gak iso, yo resikomu. Makane tah, kerjone sing bener,” ungkap Mat Tasan. Mendengar jawaban itu, Cong Kenek tambah lesu. Tapi, sejak kejadian itu Cong Kenek semakin giat bekerja. Bahkan, lebih rajin, lebih disiplin dan lebih ramah sembari menunggu jadwal mutasi. “Lah Ngono loh. Kerjo iku dadi abdi negara. Melayani masyarakat. Lek ngeneh kan gak rugi nduwe staf koyok awakmu,” tegur Mat Pi’i disela-sela waktunya di kantor. “Injih pak, terus kapan kulo dipromosiaken?,” tanya Cong Kenek. “Ngenteni Sekretaris definitif disek yoh. Lek apik kerjomu tak usulne. Tapi lek enggak yo emboh,” jawab Mat Pi’i lalu tersenyum-senyum sendiri saat meninggalkan Cong Kenek. Jawaban itu rupanya tak membuat Cong Kenek sadar-sadar. Bahwa dilihat dari golongan, eselon dan kepangkatannya, dia masih belum cukup. Hingga akhirnya, Mat Tasan bercerita padanya. “Asline awakmu iki gak iso dadi camat. Lawong staf kok njaluk didadekne camat. Yo ora iso Cong?,” ujar Mat Tasan.
“Tapi kan wes dijanjeni karo si bos aku iki Mat,” tanyanya lagi. “Artine bos iku ngerjain awakmu. Mosok ora ngerti-ngerti. Pancen ngunuh iku Lek cuma dadi pegawai njogo penampilan. Uteke hahohaho mlulu,” ujar Mat Tasan. Ungkapan itu direspon landai oleh Cong Kenek. Dia masih bersikeras yakin dirinya bisa dipromosikan jadi camat. “Alah emboh wes, pokoke opo jare bos aku iki wes. Mugo-mugo ae cepet mutasi ben iso dadi camat,” pungkasnya

Posting Komentar