Tampilkan postingan dengan label Kisah-Sahabat-Nabi. Tampilkan semua postingan

Dunia Nabi ~ "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kelak di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (QS. Al-Mujaadalah ayat 22).


Menurut beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenan dengan Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Ibnul Jarrah adalah seorang panglima, cerita kemenangan dan suksesnya menjadi pembicaraan dunia. Ia adalah seorang yang mengesampingkan gemerlapnya dunia yang palsu dan menerjunkan dirinya kedalam berbagai medan perang mencari mati syahid, tetapi selalu saja Allah memberinya hidup. Dia seorang yang kuat yang dapat dipercaya, yang pernah dipilih oleh Rasulullah Saw, menjadi guru di Najran dan salah seorang diantara sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga. Dia adalah seorang panglima yang pernah memohon kepada Allah supaya hari terakhirnya ditentukan ditengah-tengah tentaranya. Allah berkenan mengabulkan permohonannya itu.

Itulah garis-garis besar kepribadian Amiinul Ummah "kepercayaan umat Islam," Abu Ubaidah ibnul Jarrah, penyebar kalimat "Allahu Akbar" di negeri Syam dan sekitarnya. Ada orang yang bertanya kepada Abdullah bin Umar, "Bagaimana dengan Ibnul Jarrah?".

"Rahimahullah Dia seorang yang selalu berwajah cerah, baik akhlaknya dan seorang pemalu," jawab Abdullah.

Sejarah tidak mencatat masa-masa mudanya bersama dengan rekan-rekan sebayanya, tetapi sejarah merekam semua langkahnya ketika menuju ke Baitul Arqam, bergabung dengan kelompok orang-orang Mukmin yang telah memilih Islam sebagai agamanya, beriman kepada Allah sebagai Tuhannya, dan menerima Muhammad Saw sebagai nabi dan Rasul-Nya.

Menurut sejarah, Ibnul Jarrah tergolong orang pertama yang menyambut seruan Islam. Ia bersama beberapa orang rekannya; Utsman bin Mazh'un, 'Ubaidah ibnul Harits bin Abdul Muthalib, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Salamah bin Abdul Asad, pergi menemui Rasulullah Saw, sebelum beliau membuka sekolah dan dakwahnya di Darul Arqam. Beliau menawarkan Islam kepada mereka dan membentangkan apa-apa yang berkenan dengan agama itu, lalu mereka menerima tawaran itu dengan puas dan ikhlas. Sejak saat itulah, ia dan rekan-rekannya itu menjadi manusia baru, seakan-akan terputus hubungannya dengan manusia lama yang bergelimang kejahiliaan dalam keyakinan dan penyembahan berhala.

Pada waktu kaum Quraisy memaklumkan perang terhadap kelompok orang mukmin yang tiada berdaya dan berdosa, dengan melakukan pengejaran dan penyiksaan diluar batas kemanusiaan, Rasulullah Saw, memberikan izin kepada kelompok itu berhijrah ke Habsyah. Diantara para Muhajirin yang menyelamatkan agamanya dari keganasan kaum Quraisy itu ialah Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah.

Meskipun sambutan dan penerimaan raja Habasyah sangat baik terhadap mereka, mereka diterima dengan hormat dan didekatkan dari majelisnya, semua kebutuhan dan hajat keluarganya dipenuhi, baik moral maupun material, namun semua itu tidak berarti bagi mereka dari pada kehidupan di dekat Rasululah Saw, setiap hari mengikuti pelajaran dan bimbingannya, dalam upaya mempertebal keimanannya. Tidaklah heran, ketika mereka mendengar berita bahwa telah dicapai kesepakatan antara Muhammad dan kaum Quraisy, berita gembira itu membangkitkan semangat mereka untuk segera pulang kembali ke Mekkah tanpa mengecek kebenarannya lagi. Setibanya mereka disana, mereka malah mendapat penyiksaan yang lebih ganas dari kaum Quraisy, sampai ada diantaranya yang tewas oleh dendam hitam yang memenuhi lubuk hati musuh terhadap tunas dakwah yang baru merintis itu.

Akibat teror ganas kaum Quraisy itu, penduduk kota Mekkah hidup dalam ketakutan dan kegelisahan yang tiada terperikan. Ibnul Jarrah tak lama tinggal di Mekkah, begitu pula rekan-rekannya yang lain. Kaum Quraisy mengetahui bahwa Muhammad berhasil keluar menembus kepungannya dan pergi berhijrah ke Yatsrib, tempat yang dijadikan model dan landasan bertolaknya Islam dan kaum Muslimin, negara tempat menggembleng para pahlawan, negerawan, alim ulama yang akan dilepaskan keseluruh penjuru dunia untuk membimbing dan memimpin umat manusia ke jalan Tuhan Yang Maha Satu, dengan rasa puas dan ikhlas.

Jalan antara Mekkah dan Yatsrib menjadi saksi ketika Ibnul Jarrah melepaskan kendali kudanya menapak bumi dan bersaing dengan angin, mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya ke Yatsrib. Ketika sampai dihadapan Rasulullah Saw di Madinah, ia hampir tidak dikenal lagi karena debu padang pasir yang ditempuh tanpa henti hampir menutupi wajahnya. Setiba di sana, ia disambut baik oleh Rasulullah Saw dan dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Mu'az. Sa'ad bin Mu'az adalah orang yang telah  mempersembahkan diri dan harta bendanya di jalan Allah dan tidak sudi berkompromi dengan kaum Yahudi, sesudah mereka mengkhianati perjanjian yang sudah mereka tanda tangani bersama Rasulullah Saw, sehingga ia terluka parah dalam perang Ahzab. Ia memohon kepada Allah Ta'ala agar jangan dimatikan sebelum matanya puas melihat Yahudi Bani Quraizhah dihukum. Ternyata, Allah mengabulkan doanya. Bani Quraizhah menolak keputusan Rasulullah Saw, dan minta diputuskan oleh Sa'ad bin Mu'adz, bekas sekutu mereka. Akhirnya, Rasulullah Saw, meminta supaya Sa'ad memberikan keputusannya. Diputuskanlah, semua laki-laki Bani Qurauzhah dibunuh, kaum wanita dan anak-anaknya ditawan dan harta bendanya dirampas.

Rasululah Saw, berkomentar atas keputusan Sa'ad itu, "Engkau telah memberikan keputusan dengan hukum Allah dari atas langit yang ketujuh." Sejak menginjakkan kakinya di Yatsrib, sejak itu pulalah Abu 'Ubaidah menganggap bumi itu sebagai tanah air agama dan dirinya yang harus dipertahankan mati-matian. Ia melakukan tugas kewajibannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari tidak pernah absennya di semua peperangan bersama dengan Rasulullah Saw. Dalam perang Badar, ia selaku tentara, harus senantiasa patuh kepada perintah panglimanya. Sebagai seorang mukmin, ia mempunyai pandangan, sikap dan garis tegas yaitu bahwa semua yang berperang dibawah panji Rasulullah Saw yang mengucapkan kalimat tauhid, mereka adalah saudara, keluarga dan kawan-kawannya, meskipun berbeda asal-usul, warna kulit dan darahnya. Semua yang berperang di bawah bendera Quraisy atau sekutu mereka, mereka adalah musuh aqidah dan lawan dirinya, meskipun mereka keluarga terdekatnya.

Dengan logika dan pemahaman seperti itu terhadap aqidah dan agamanya, dan perannya sebagai seorang mukmin, maka ketika ia melihat ayahnya ikut menghunus pedang ditengah-tengah  pasukan kaum musyrikin, membunuh saudara-saudaranya sesama mukmin, majulah ia menghampirinya, tetapi ayahnya menghindarinya. Walaupun demikian, ia mengejarnya dan memberikan pukulan yang mematikan. Ayahnya adalah kafir, menyekutukan Tuhannya dengan yang lain; kafir terhadap Tuhan Yang menciptakannya; ia mengangkat senjata hendak menumpas agama Tuhannya dan para pendukung agama tersebut. Oleh karena itu, ia sudah tidak berguna lagi bagi Tuhannya. Siapa yang hidupnya dudah tidak berguna bagi Tuhannya niscaya tidak berguna juga bagi seluruh umat manusia.
Dalam perang Uhud, ketika peperangan itu sudah mencapai puncaknya, dimana pihak musuh sudah berhasil mengepung ketat Rasulullah Saw dan menjadikan beliau sebagai sasaran tunggal anak panah dan senjata lainnya, Abu Ubaidah dan beberapa orang rekannya menghunus pedangnya untuk melindungi Rasulullah Saw dari serangan ganas musuh sehingga darah mengucur dari wajah beliau dan beliau mengusapnya dengan tangan kananya seraya mengucapkan, "Bagaimana suatu kaum akan menang sedangkan mereka membiarkan nabi yang menuntunnya kepada Tuhannya terluka wajahnya?".

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu melukiskan peran yang dimainkan Abu 'Ubaidah dalam perang Uhud itu,"pada waktu itu, Rasulullah Saw terkena dua kali bidikan anak panah pada tulang pipinya, lalu aku segera pergi menghampirinya. Ternyata dari sebelah timur ada orang lain yang mendahuluiku, menghampirinya dengan cepat pula. Aku berkata, "Ya Allah, jadikanlah hal itu sebagai kepatuhan kepada-Mu."

Sesudah itu, sampailah aku di dekat Rasululah. Aku melihat Abu 'Ubaidah sudah sampai terlebih dahulu, lalu ia berkata, "Ya Abu Bakar, aku mohon kau membiarkan aku melepaskan panah itu dari wajah Rasululah!" Aku membiarkan Abu 'Ubaidah melepaskan mata anak panah itu dengan gigi depannya dan ia berhasil mencabutnya, tetapi terjatuh ke tanah dan giginya pun patah. Selanjutnya, ia mencabut mata anak panah yang kedua hingga gigi depannya yang satunya patah juga. Sejak itu, Abu 'Ubaidah ompong gigi depannya. Dalam perang Dzatus Salaasil. Rasulullah Saw menugaskannya memimpin pasukan para sahabatnya (diantaranya Abu Bakar dan Umar) sebagai bala bantuan untuk Amru bin Ash. Setibanya pasukan itu, Amru berkata kepadanya, "Ya Abu 'Ubaidah, kau didatangkan sebagai bala bantuan untuk pasukanku."

Abu 'Ubaidah menjawab, "Tidak. Aku dengan pasukanku dan kamu dengan pasukanmu, masing-masing memimpin pasukannya." Amru bin Ash menolak adanya banyak pemimpin, ia tetap mengangap pasukan Abu 'Ubaidah yang baru datang itu harus ada di bawah pimpinannya sebagai bala bantuan. Abu 'Ubaidah berkata, "Ya Amru, Rasulullah Saw, melarangku, kalian berdua janganlah berselisih! Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu!" Alangkah indahnya kata-kata dan sikapnya itu?" Alangkah jujurnya kata-kata itu dalam nilai kejantanan seseorang, "kalau kau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu," pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin dan agama Islam menuntut persatuan dan kekompakan.

Pada suatu waktu, datanglah utusan dari Najran kepada Nabi Saw meminta supaya bersama mereka dikirimkan seorang pengajar agama, mengajarkan hukum-hukum syariat kepada mereka, dan merangkap sebagai penengah (hakim) apabila terjadi perselisihan diantara mereka. Rasulullah Saw berjanji kepada mereka, "nanti malam, kalian datang kembali, aku akan mengirimkan bersama kalian seorang yang terpercaya."

Umar ibnul Kaththab bercerita tentang hal itu, "aku belum pernah ingin mendapatkan pangkat lebih dari itu pada waktu itu, mudah-mudahan akulah orang yang dimaksudkan Rasululah Saw itu, Aku pergi menantikan waktu zhuhur. Sesudah Rasulullah Saw zhuhur, beliau menoleh ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicari. Aku menjulurkan kepalaku supaya beliau melihatku, tetapi beliau masih saja mencari hingga beliau melihat Abu 'Ubaidah ibnul Jarah, lalu beliau berseru; "kau pergi bersama mereka dan putuskan sengketa yang terjadi antara mereka dengan sebenar-benarnya." Demikian keterangan yang jujur dari Umar ibnul Khaththab.

Rasulullah Saw bersabda, "Tiap-tiap umat memiliki orang kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah." Tepat sekali sabda Rasulullah Saw itu, ibnul Jarrah adalah seorang kepercayaan dalam akhlaknya, tidak seorang muslim pun merasa dirugikan olehnya. Ia kepercayaan dalam agamanya, ia berusaha keras menggalakkan dakwah secara merata. Ia kepercayaan dalam memelihara batas-batas negara sehingga semua pihak menghargai kewibawaan dan kekuasaannya. Bagaimana tidak demikian, dia adalah salah seorang dari sepuluh orang pertama yang masuk Islam dan salah seorang dari sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga. Sesudah Saw wafat, banyak orang yang datang hendak membai'at Abu 'Ubaidah menjadi khalifah, tetapi ia menjawab, "apakah kalian datang kepadaku sedangkan ditengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga."

Yang ia maksudkan adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar di Gua Hira, "Di waktu dia berkata kepada temannya, "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah beserta kita." (QS. At-Taubah ayat 40).

Pada waktu itu, Umar ibnul Khaththab radhiallahu'anhu termasuk salah seorang yang datang kepadanya, seraya berkata, "ulurkan tanganmu, aku akan membaiat kau, hai kepercayaan umat, seperti dikatakan Rasulullah Saw." Abu 'Ubaidah menjawab, "belum pernah aku melihat kau tergelincir seperti sekarang sejak engkau Islam. Apakah kau akan membaitku, sedangkan Ash-Shiddiq, sahabat kedua Rasululah Saw, di Gua Hira, ada ditengah-tengah kita?" Rupanya teguran Abu "Ubaidah itu menyatakan Umar. Ia lalu mengirimkan orang untuk memanggil Abu Bakar di rumah Aisyah, Ummul Mukminin, lalu ketiganya pergi ke Saqifah Bani Saaiidah. Setibanya disana, mereka mendapatkan kaum Anshar sedang melakukan rapat. Abu Bakar bertanya keheranan," ada apa ini?" Mereka menjawab, "dari kami diangkat amir dan dari kalian juga diangkat amir."

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata; "para amir dari kami dan para wazir (menteri) dari kalian." Sambutnya lagi, "Aku setuju kalau kalian mengangkat salah seorang diantara dua orang ini; Umar Ibnul Khaththab dan Abu "Ubaidah, kepercayaan umat ini." Kedua orang itu menyatakan, "Tidak mungkin ada seorangpun yang mengungguli kedudukanmu, ya Abu Bakar!". Keduanya lalu membaiatnya. Itulah para pengikut dan sahabat Muhammad, yang telah mendapatkan gemblengan Al-Qur'anul Karim dan mendapatkan rintisan tata cara hidup melalui petunjuk dan pengajarannya.

Suatu waktu, Umar ibnul Khaththab radhiallahu'anhu selaku khalifah Islam mengangkat Abu 'Ubaidah menjadi komandan pasukan kaum Muslimin di Syam, menggantikan Khalid bin Wahid. Pada waktu itu, Khalid sedang ada di medan perang menggempur musuh-musuh Islam. Ia tidak segera memberitahukan berita pengangkatnnya dan pemecatan Khalid itu, sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya. Sesudah Khalid mendengar berita pemecatannya dan pengangkatan Abu 'Ubaidah sebagai pengantinya maka dalam serah terima jabatan itu, Khalid berkata, "kini, telah diangkat untuk memimpin kalian kepercayaan umat ini, Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah".

Abu 'Ubaidah menyambut perkataan itu, "aku mendengar Rasululah Saw bersabda, "Khalid adalah salah satu dari pedang-pedang Allah, ia pemuda idaman." Itulah jabatan kepanglimaan, tetapi tidak menyombongkan mereka. Itulah kepangkatan dan jabatan tinggi dunia, namun mereka tidak lupa daratan karena risalah atau misi mereka terbatas dan tugas mereka jelas, seperti yang dikatakan Rabi' bin Amir, "Allah telah  mengirimkan kami untuk mengeluarkan orang yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya, dari mengabdikan diri kepada hamba-Nya kepada pengabdian diri kepada Allah semata." Kalau jabatan dan kepangkatan tidak bisa menggiurkan dan menggugurkan mereka, begitu pula dengan bujuk rayu dunia lainnya.

Pada suatu waktu, Umar ibnul Khaththab mengirim uang kepada Abu 'Ubaidah sebesar 40.000 dirham dan 400 dinar, lalu ia berpesan kepada pesuruhnya, "perhatikan apa yang dilakukannya." Sesudah uang itu dibagi-bagikan, pesuruh itu melaporkan kepada khalifah Umar. Umar berkata; "Alhamdullillah, yang menjadikan dalam kalangan kaum muslimin orang yang melakukan hal itu." Ketika khalifah Umar datang ke negeri Syam, ia dijemput oleh para perwira militer dan pejabat sipil. Ia bertanya,"mana saudaraku?" Mereka bertanya keheranan, "siapa dia, ya Amirul Mukminin?" Ia menjawab, "Abu 'Ubaidah." Mereka menjawab, "Ia segera datang." Tak lama, ia datang dengan menunggang seekor unta, lalu ia memberikan salam kepada khalifah. Khalifah lalu memerintahkan para penyambutnya pulang kembali dan membiarkannya bersama Abu 'Ubaidah. Keduanya pergi ke rumah Abu 'Ubaidah. Setiba di sana, Khalifah Umar tidak melihat sesuatu apapun selain pedang dan perisainya. Umar bertanya kagum," mengapa kau tidak memiliki sesuatu?".

Abu 'Ubaidah menjawab, "Ya Amirul Mukminin. inipun akan menghantarkan kita ke tempat peristirahatan kita." Umar tidak melihat perabotan dan perhiasan mewah dirumahnya karena ia bukan seorang yang senang duduk-duduk di rumah, tetapi seorang lapangan yang selalu memandang jauh kepada apa yang ada di balik kehidupan ini. Adapun orang-orang yang suka bergelimang dalam kesenangan hidup, mereka sudah terperangkap jaringan setan yang sulit untuk membebaskan dirinya. Dia tahu menempuh jalan hidup dunia menuju perumahan kehidupan abadi di akhirat. Kalau demikian watak keras dan kuat Abu 'Ubaidah menghadapi kehidupan ini, mendalam pengertiannya menempuh hidup dan menghadapi orang hidup, konskuen mempertahankan kebenaran, maka dengan sendirinya ia tidak akan sudi berkompromi dengan kebatilan dan bermanis-manis dengan kecurangan, tidak peduli kedudukkan dan asal-usul seseorang yang dihadapannya.

Pada suatu hari, Jabalah ibnul Aiham, raja Ghassan, masuk Islam, sesudah menerima baik surat Rasulullah yang mengundangnya untuk menganut agama itu. Pada suatu waktu ia berjalan di pasar kota Damaskus, tiba-tiba kakinya menginjak kaki Muzniah, lalu ia langsung menampar Jabalah. Muzniah lalu digiring kepada Abu 'Ubaidah untuk diadili. Mereka berkata; "tuan Hakim, orang ini telah menampar raja Jabalah."

"Dia harus ditampar juga!"

"Apa tidak di bunuh?"

"Tidak."

"Apa tidak dipotong tangannya?"

"Tidak, Allah memerintahkan dilakuan qishash, ditindak sama dengan perbuatannya." 

Jabalah berkata, "apakah kalian mengira aku mau menjadikan wajahku perumpamaan bagi wajah nenek moyangku?" Ia lalu murtad kembali menjadi Kristen dan pergi menyeberang bersama kaumnya ke negeri Romawi

Negeri Syam hampir seluruhnya ditaklukkan, tinggal beberapa buah benteng musuh yang masih dipertahankan. Ketika pasukan Islam di bawah pimpinan penglimanya, Abu 'Ubaidah, hendak memulai pertempuran baru untuk merebut benteng-benteng yang masih dipertahankan musuh itu, tiba-tiba terjadi serangan penyakit menular hebat dikalangan pasukan kaum muslimin. Mendengar berita mengerikan itu, Khalifah Umar ingin menyelamatkan Abu 'Ubaidah dari cengkereman maut itu, lalu ia menulis surat memerintahkan supaya ia keluar dari negeri itu. Isi surat itu antara lain.

"Salam sejahtera kepadamu, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu, harapanku apabila engkau menerima suratku ini supaya cepat-cepat datang menghadapku!"

Abu 'Ubaidah paham maksud Khalifah itu, lalu ia membalasnya, "Ya Amirul Mukminin, aku sudah paham maksudmu. Aku ada ditengah-tengah pasukan kaum muslimin, tidak bermaksud mengutamakan keselamatan diri atau memisahkan diri dari mereka, hingga Allah menentukan apa yang Dia kehendaki terhadapku dan mereka, dan bebaskanlah aku dari tawaran dan harapanmu itu !”. Abu 'Ubaidah rahimahullah wafat karena penyakit menular itu pada tahun 18 H dalam usia 58 tahun. Khalifah Umar radhiallahu 'anhu berkata, "Kalau usia Abu 'Ubaidah lanjut, aku akan mengangkatnya menjadi penerusku. Kalau Allah bertanya, atas dasar apa kau mengangkatnya, aku akan menjawab, "aku pernah mendengar Nabi-Mu mengatakan "Dia kepercayaan Umat ini."

Sebab Turunnya Ayat

Firman Allah. "Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu ayah-ayah, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanankan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya." (Al-Mujaadalah ayat 22).

Dikatakan diturunkan berkenaan dengan Abu 'Ubaidah ibnul Jarrah radhiallahu'anhu ketika ia membunuh ayah kandungnya dalam perang Badar. Ada lagi sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan kepada sekelompok orang Islam pertama, yang mengatakan dengan tegas bahwa ikatan aqidah bagi mereka lebih utama dari pada ikatan keturunan dan keluarga. Bagi mereka, ikatan aqidah merupakan ikatan berbagai macam warna kulit, bangsa dan kedudukan, dihimpun dalam suatu kekeluargaan yang saling mengasihi dalam wadah umat, dibawah pimpinan Nabi Saw dan bimbingan kalamullah, Al-Qur'anul Karim.

Mereka mengatakan juga bahwa firman-Nya, sekalipun orang itu ayah-ayah, "diturunkan berkenaan dengan Abu'Ubaidah ibnul Jarrah ketika ia membunuh ayah kandungnya sendiri, dan kalimat" atau anak" Diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu'anhu ketika ia mengejar anaknya sendiri, Abdurrahman bin Abu Bakar, hendak membunuhnya; dan kalimat,"...ataupun keluarga mereka.." diturunkan berkenaan dengan Umar ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu yang membunuh keluarganya sendiri dalam perang itu. Juga diturunkan berkenaan dengan Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali Thalib dan 'Ubaidah ibnul Harits, semuanya telah bertarung dalam perang itu dan membunuh keluarganya sendiri, antara lain; Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan al-Walid bin Utbah.

Sebagai pelengkap dari ketegasan sikap iman kaum muslimin itu, ketika Rasulullah Saw, bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap para tawanan perang Badar itu, Abu Bakar Shiddiq mengusulkan, "mereka diberi kesempatan menebus dirinya, untuk memperkuat dana perjuangan kaum muslimin dan juga mengingat mereka masih merupakan sanak keluarga. Diharapkan sikap lunak itu akan menggugah hati mereka menemukan hidayah Allah." Umar Ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu berpendapat, "aku tidak sependapat dengan yang lain, ya Rasulullah! Berikanlah kesempatan kepadaku membunuh keluargaku sendiri. Ali sudah berhasil membunuh saudaranya sendiri, Aqil, Si fulan sudah membunuh keluarga karibnya sendiri untuk dibuktikan kepada Allah bahwa dalam hati kita tidak terdapat lagi keakraban dan rasa kasihan dengan kaum musyrikin." Setelah percakapan itu, turunlah ayat tersebut.

Sumber : Google

Dunia Nabi ~ Dia adalah salah seorang diantara dua bersaudara yang hidup mengabdikan diri kepada Allah, dan telah mengikat janji dengan Rasulullah Saw, yang tumbuh dan berkembang bersama-sama. Yang pertama bernama Anas bin Malik pembantu Rasulullah Saw, Ibunya yang bernama Ummu Sulaim membawanya kepada Rasul, sedang umurnya pada waktu itu baru sepuluh tahun, seraya berkata; "Ya Rasulullah..!Ini Anas, pelayan anda yang akan melayani anda, doakanlah ia kepada Allah".


Rasulullah mencium anak itu antara kedua matanya lalu mendo'akannya, do'a yang tetap membimbing usianya yang panjang ke arah kebaikan dan keberkahan. Rasul telah mendo'akannya dengan kata-kata berikut; 'Ya Allah banyakkanlah harta dan anaknya, berkatilah ia dan masukkanlah ia ke surga..!"

Ia hidup, sampai usia 99 tahun dan diberi-Nya anak dan cucu yang banyak begitu pula Allah memberikannya rizqi, berupa kebun yang luas dan subur, yang dapat menghalalkan panen buah-buahan dua kali dalam setahun...!

Yang kedua dari dua bersaudara itu ialah Barra' bin Malik. Ia termasuk golongan terkemuka dan terhormat, menjalani kehidupannya dengan bersemboyan Allah dan surga. Dan barang siapa melihatnya ia sedang berperang mempertahankan Agama Allah, niscaya akan melihat hal ajaib di balik keajaiban ! Ketika ia berhadapan pedang dengan orang-orang musyrik, Barra' bukanlah orang yang hanya mencari kemenangan, sekalipun kemenangan termasuk tujuan, tetapi tujuan akhirnya ialah mencari syahid. Seluruh cita-citanya mati syahid, menemui ajalnya disalah suatu gelanggang pertempuran dalam mempertahankan hak dan melenyapkan bathil.

Dia tak pernah ketinggalan dalam setiap peperangan baik bersama Rasul ataupun tidak. Pada suatu hari teman-temannya datang mengunjunginya, ia sedang sakit, dibawanya air muka, mereka lalu berkata; "Mungkin kalian takut aku, mari diatas tempat tidurku. Tidak demi Allah, Tuhan tidak akan menghalangiku mati syahid..!"

Allah benar-benar telah meluluskan harapannya, ia tidak mati di atas tempat tidurnya, tetapi ia gugur menemui syahid dalam salah satu pertempuran yang terdahsyat..! Kepahlawanan Barra' di medan perang Yamamah wajar dan cocok dengan watak serta tabiatnya. Wajar untuk seorang pahlawan yang sampai-sampai Umar mewasiatkan agar ia jangan jadi komandan pasukan, disebabkan keberaniannya yang luar biasa, keperwiraaan dan ketetapan hatinya menghadang maut. Semua sifatnya itu akan menyebabkan kepemimpinannya dalam pasukan membahayakan anak buahnya dan dapat membawa kebinasaan !

Barra' berdiri di medan perang Yamamah, ketika balatentara Islam yang berada dibawah komando Khalid, bersiap-siap untuk menyerbu. Ia berdiri dan merasakan detik-detik itu, yakni saat sebelum panglimanya memerintahkan maju, amat lama sekali, bertahun-tahun layaknya. Kedua matanya yang tajam bergerak-gerak dengan cepatnya menyelusuri seluruh medan tempur, seolah-olah sedang mencari-cari tempat bersemayam yang sebaik-baiknya untuk seorang pahlawan. Memang tak ada yang menyibukkannya diantara segala urusan dunia, kecuali tujuan yang satu ini !

Dimulai dengan berjatuhannya korban di pihak kaum musyrikin penyeru kezhaliman dan kebathilan akibat ketajaman dan tebasan pedangnya Al-Barra' yang ampuh. Kemudian di akhir pertempuran, suatu pukulan pedang mengenai tubuhnya dari tangan seorang musyrik, menyebabkan tubuh kasarnya jatuh ke tanah, sementara tubuh halusnya menempuh jalannya membubung ketingkat yang tertinggi ke mahligai para syuhada tempat kembalinya orang-orang yang beroleh berkah ! Itulah khayalannya ketika ia menunggu komando.

Khalid mengumandangkan takbir "Allahu Akbar," maka majulah seluruh barisan yang bersatu-padu menuju sasarannya, dan maju pula Barra' bin Malik. Ia terus mengejar anak buah dan pengikut si pembohong Musailamah dengan pedangnya, hingga mereka berjatuhan laksana daun kering di musim rontok. Tentara Musailamah bukanlah tentara yang lemah dan sedikit jumlahnya, bahkan ia adalah tentara murtad yang paling berbahaya. Baik bilangan maupun perlawanan serta perjuangan mati-matian prajuritnya, merupakan bahaya diatas semua bahaya!

Mereka menjawab serangan Kaum Muslimin dengan perlawanan yang mencapai puncak kekerasannya sehingga hampir-hampir mereka mengambil alih kendali pertempuran dan merubah perlawanan mereka menjadi serangan balasan. Waktu itulah kegelisahan terasa merembes ke dalam barisan Kaum Mulimin. Melihat situasi ini, para komandan dan pimpinan pasukan sambil terus bertempur berdiri di atas pelana, berseru dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat dan meneguhkan hati.

Barra' bin Malik mempunyai suara indah dan keras. Ia dipanggil oleh panglima Khalid, dimintanya untuk buka suara. Maka Barra' pun menyerukan kata-kata yang penuh gemblengan semangat dan kepahlawanan, beralasan dan kuat. Wahai penduduk Madinah! Tak ada Madinah bagi kalian sekarang. Yang ada hanya Allah dan surga...!"

Ucapan itu menunjukkan jiwa pembicaranya, dan menjelaskan watak akhlaqnya. Benarlah yang tingal hanyalah Allah dan surga! Karena di dalam suasana dan tempat seperti ini, tidaklah wajar ada pikiran-pikiran kepada yang lain walau kota Madinah, ibu kota Negara Islam, tempat rumah tangga, isteri dan anak-anak mereka! Sekarang tidak patut mereka berpikir kesana ! Sebab bila mereka sampai dikalahkan, maka tak ada artinya kota Madinah lagi ! 

Kaum Muslimin akhirnya memperoleh suatu kemenangan yang gemilang, dan orang-orang musyrikin tersungkur ke jurang kekalahan yang amat pahit. Pada saat itu Barra' bersama kawan-kawannya berjalan dengan bendera Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang musyrik mundur dan melarikan diri ke belakang. Mereka berkumpul dan berlindung di suatu perkebunan besar yang mereka ambil sebagai benteng pertahanan. Pertempuran semakin reda, dan semangat kaum muslimin agak surut. Jika begini tampaknya, dengan siasat yang dipakai tentara Musailamah bertahan di perkebunan itu, mungkin suasana peperangan akan berbalik dan berubah arah lagi.

Maka disaat yang genting itu, Barra' naik ke suatu tempat yang memiliki ketinggian, lalu berseru; "Wahai Kaum Muslimin, bawalah aku dan lemparkan ke tengah-tengah mereka ke dalam kebun itu...!"

Bukankah sudah kukatakan kepada anda sekalian, bahwa ia tidak mencari menang tetapi mencari syahid! Ia benar-benar telah membayangkan bahwa langkah ini adalah penutup yang terbaik bagi kehidupannya, dan bentuk yang terindah untuk kematiannya..! Sewaktu ia dilemparkan ke dalam kebun itu nanti, maka ia segera membukakan pintu bagi Kaum Muslimin, dan bersamaan itu pedang-pedang orang musyrikin akan melukai dan mengoyak-ngoyak tubuhnya, tetapi di waktu itu pula pintu-pintu surga akan terbuka lebar memperlihatkan kemewahan dan kenikmatannya untuk menyambut mempelai baru dan mulia....!

Barra' rupanya tidak menunggu ia digotong dan dilemparkan, malah ia sendiri yang memanjat dinding dan melemparkan dirinya ke dalam kebun dan langsung membuka pintu yang terus diserbu oleh tentara Islam. Akan tetapi mimpi Barra' belum lagi terlaksana, tak ada rupanya pedeng-pedang musyrikin yang sampai mencabut nyawanya, hingga tidak pula ia menemukan kematian yang selama ini didambakan. Benarlah apa yang dikatakan oleh Abu Bakar radhiallahu 'anhu

"Songsong dan carilah kematian, pasti akan mendapatkan kehidupan..!"

Memang tubuh pahlawan itu mendapat lebih dari delapan puluh tusukan dari pedang-pedang musyrikin menyebabkannya menderita luka lebih dari delapan puluh lubang, sehingga sebulan sesudah perang berlalu masih juga dideritanya, dan Khalid sendiri ikut merawatnya di waktu itu. Tetapi semua yang menimpa dirinya ini belum lagi dapat mengantarkannya kepada apa yang dicita-citakannya.
Namun yang demikian itu tidak menyebabkan Barra' berputus asa.....
Kafir musyrikin masih menyerang......
Melintang menghalangi Agama Allah yang terus berkembang......
Seruan jihad tetap berkumandang........
Jalan ke surga masih terbentang........
Sekarang Barra' telah sembuh dari luka perang Yamamah. Dan kini ia maju lagi bersama pasukan tentara Islam yang pergi hendak menghalau semua kekuatan kezhaliman ke jurang kehancurannya, yakni nun di sana...di mana masih berdiri dua kerajaan raksasa dan aniaya, yaitu Romawi dan Persia, yang dengan tentaranya yang ganas menduduki negeri Allah, memperbudak hamba-hamba-Nya dan mengintip kelengahan ummat Islam. Barra' memukul pedangnya dan di setiap tempat bekas pukulan itu berdiri dinding yang kukuh dalam membina alam baru yang akan tumbuh di bawah bendera Islam dengan cepat tak ubahnya bagai timbulnya matahari menjelang siang.

Dalam salah satu peperangan di Irak, orang-orang Persia mempergunakan setiap cara yang rendah dan biadab yang dapat mereka lakukan sebagai perlindungan. Mereka menggunakan pelontar-pelontar yang diikatkan ke ujung rantai yang dipanaskan dengan api, mereka lempar dari dalam benteng mereka, sehingga dapat menyambar Kaum Muslimin dan mengagetkan secara tiba-tiba sedang korban tidak dapat melepaskan dirinya.

Adapun Barra'dan saudaranya Anas bin Malik mendapat tugas bersama sekelompok Muslimin untuk merebut salah satu benteng-benteng itu. Tetapi tiba-tiba salah satu pelontar ini jatuh dan menyangkut ke tubuh Anas, sedang ia tak sanggup memegang rantai untuk melepaskan dirinya, karena masih panas dan bernyala. Barra' menyaksikan peristiwa yang seram ini. Dengan cepat ia menuju saudaranya yang sedang ditarik ke atas alat penggaet dengan talinya yang panas menuju lantai dinding benteng. Dengan keberanian yang luar biasa dipegangnya rantai itu dengan kedua tangannya, lalu direnggut dan dihentakkannya sekuat-kuatnya, hingga akhirnya ia dapat melepaskan diri dari rantai itu, dan selamatlah Anas dari bahaya.

Bersama orang-orang sekelilingnya dilihatnya kedua telapak itu tidak ada lagi di tempatnya...! Dagingnya ternyata telah meleleh karena terbakar dan yang tinggal hanyalah kerangkanya yang memerah coklat dan terbakar hangus...! Sang pahlawan kembali menghabiskan yang cukup lama pula untuk memulihkan luka bakarnya sampai sembuh betul...!.mengirimkan juga pasukan ke Ahwaz.

Apakah belum juga datang masanya bagi si pencinta kematian itu untuk mencapai maksudnya? Sudah, sekarang sudah datang waktunya...! Saat pertempuran Tutsur akan datang, dan disinilah pula Barra' dapat menemui keinginannya yang terbesar. Penduduk Ahwaz dan Persia telah bersekutu dalam suatu pasukan tentara yang amat besar hendak menyerang Kaum Muslimin. Amirul Mu'minin Umar bin Khathab menulis surat kepada Sa'ad bin Abi Waqqash di Kufah agar mengirimkan pasukan tentara ke Ahwaz, dan menulis surat pula kepada Abu Musa Al- Asy'ari di Basrah agar mengirimkan juga pasukan ke Ahwaz, sambil berpesan dalam surat itu; "Angkatlah sebagai komandan pasukan Suhail bin 'Ai dan hendaklah ia dampingi oleh Barra' bin Malik....!"

Dan bertemulah pasukan yang datang dari Kufah dengan yang datang dari Basrah untuk menghadapi tentara Persia di suatu pertempuran yang sengit. Di kalangan tentara Islam terdapat dua orang bersaudara utama yaitu Anas bin Malik dan Barra' bin Malik. Pertempuran dimulai dengan perang tanding satu lawan satu; Barra' sendiri menjatuhkan sampai seratus penantang dari Persia. Kemudian berkecamuklah perang yang baur diantara kedua pasukan dan dari kedua belah pihak berjatuhan korban yang tak sedikit.

Wahai Barra' bersumpahlah kamu kepada Tuhanmu, agar Dia mengalahkan musuh dan menolong kita..!" Maka Barra' mengangkat kedua tangannya ke arah langit dengan berendah diri lalu berdo'a. "Ya Allah, kalahkan mereka... dan tolonglah kami atas mereka..... dan pertemukanlah daku hari ini dengan Nabi-Mu."

Dilayangkannya pandangannya kepada saudaranya Anas yang berperang berdampingan dengannya, seakan-akan hendak mengucapkan selamat tinggal. Dan menyerbulah. Kaum Muslimin dengan keberanian yang luar biasa, suatu keberanian yang tidak dikenal dunia. Dan mereka pun memperoleh kemenangan, suatu kemenangan yang nyata...!

Di tengah-tengah para syuhada yang jadi korban pertempuran, terdapatlah Barra' dengan wajahnya menampilkan senyuman, senyum manis seperti cahaya fajar. Tangan kanannya sedang menggenggam segumpal tanah berlumuran darah, yaitu darahnya yang suci. Dan pedangnya masih tergelatak di sampingnya, kuat tak terpatahakan, rata tanpa goresan. Musafir itu telah sampai ke kampungnya. Bersama-sama temannya yang syahid ia telah mencapai perjalanan hidup yang agung lagi mulia, dan mereka menerima panggilan dari Illahi.

"Itulah surga yang Kami wariskan untuk kalian, sebagai balasan atas amal perbuatan kalian." (QS. Al-Araf ayat 43).

Sumber : Google

Dunia Nabi ~ Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda : "Sabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah Surga!"

Yasir bin 'Amir yakni ayahanda 'Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya. Rupanya ia berkenan dan merasa cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah. Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah  seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, kedua suami isteri itu dikaruniai seorang putera bernama 'Ammar. Keislaman mereka termasuk dalam golongan yang pertama masuk Islam, sebagai halnya orang shalih yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan sebagai halnya orang-orang shalih yang termasuk dalam golongan yang mula pertama masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy.


Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai dengan kondisi, Seandainya mereka ini golongan bangsawan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal, orang yang menggertaknya dengan ungkapan; "Kamu berani meninggalkan agama nenek moyongmu padahal mereka lebih baik daripadamu ! Akan kami uji sampai di mana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu dan akan kami musnahkan bendamu!"

Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit. Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka disiksa dan disulutnya dengan api bernyala. Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini. Dan soal penyiksaan mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan 'Ammar dibawa ke padang pasir Mekkah yang demikian panasnya itu, lalu disiksa dengan berbagai siksaan!

Rasulullah Saw, tidak lupa mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai ajang penyiksaan bagi keluarga Yasir. Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimiliki untuk menolak bahaya dan mempertahankan diri dan rupanya demikian itu sudah menjadi kehendak Allah. Maka Agama baru, yakni Agma Tauhid Nabi Ibrahim yang suci murni, suatu Agama yang hendak dikabarkan panji-panjinya oleh Rasulullah Saw, bukanlah suatu gerakan perubahan secara vertikal dan horizontal, tetapi merupakan suatu tata cara hidup bagi manusia beriman. Dan manusia yang beriman haruslah memiliki dan mewarisi bersama Agama itu, secara lengkap dengan kepahlawanan, perjuangan dan pengorbanan.

Demikianlah, berlaku pula bagi Agama Islam, dan pengorbanan ini. Makna ini telah dijelaskan oleh Al-Qur'an kepada Kaum Muslimin bukan hanya pada satu atau dua ayat saja. Firman Allah Subhanallahu Wa Ta'ala: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) menyatakan;  "Kami telah beriman" padahal mereka belum lagi diuji? (QS. Al-Ankabut ayat 2).

“Apakah kalian mengira akan dapat masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran ayat 142).

"Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar terbukti pula orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabut ayat 3).

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS. At-Taubah ayat 16).

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)" (QS. Ali Imran ayat 179).

"Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman" (QS. Ali Imran ayat 166).

Memang, demikianlah Al-Quran mendidik kaum mukminin bahwa pengorbanan merupakan esensi dari keimanan, dan keberanian menghadapi kekejaman, kekerasan dihadapi dengan kesabaran, keteguhan dan pantang mundur akan membentuk keutamaan iman yang cermelang dan mengagumkan. Oleh karena itu dikala sedang meletakkan dasarnya, memancangkan tiang-tiang dan mengemukakan model contohnya, hendaklah Agama Allah ini memperkukuh diri dengan pengorbanan jiwa dan membersihkan jiwa dengan pengorbanan harta.

Maka Sumayyah, Yasir, dan Ammar dari golongan luar biasa yang beroleh berkah ini, adalah pilihan dari takdir, yang dengan pengorbanan, ketekunan dan keuletan mereka itu, dapat menjadi contoh kebesaran dan keabadian umat Islam secara kuat dan kukuh. Telah kita katakan tadi bahwa Rasulullah Saw, setiap hari berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yasir, mengagumi ketabahan dan pepahlawanannya, sementara hatinya yang mulia bagaikan hancur karena santun dan belas kasihan menyaksikan mereka menerima siksa yang tak terelakkan lagi.

Pada suatu hari ketika Rasulullah Saw mengunjungi mereka, 'Ammar memanggilnya, katanya: "Wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak.” Maka seru Rasulullah Saw: "Sabarlah, wahai Abai Yaqdhan.. "sabarlah, wahai keluarga Yasir... "Tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah Surga....!"

Siksaan yang didiami oleh 'Ammar dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat, Berkata 'Ammar bin Hakam: 'Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang telah diucapkannya."

Berkata pula "Ammar bin Maimun; "Orang -orang musyrik membakar 'Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah Saw lewat di tempatnya kemudian memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda: "Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh 'Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dan dingin di tubuh Ibrahim..!"

Bagaimanapun juga, semua siksaan itu tidaklah dapat menekan jiwa 'Ammar, waktu telah menekan punggung dan mengurus tenaganya. Ia baru merasa dirinya benar-benar celaka, ketika pada suatu hari tukang-tukang cambuk dan para penyiksanya menghabiskan segala daya upaya dalam melampiaskan kedhaliman dan kekejiannya sejak hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya sampai mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Pada hari itu, ketika ia telah sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian beratnya, orang-orang itu mengatakan kepadanya; "Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami," kemudian diajarkan mereka kepadanya kata-kata pujaan itu, sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.

Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya, maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi, hingga beberapa saat diraskannya siksaan orang-orang musyrik terhadap dirinya sebagai obat pembalur luka! Dan seandainya ia dibiarkan dalam perasaan itu beberapa waktu saja,tentulah akan membawa ajalnya.

'Ammar dapat bertahan menanggungkan semua siksa yang ditimpakan atas tubuhnya, ialah karena jiwanya sedang berada pada kondisi puncak. Tetapi sekarang ini, demi disangkanya jiwanya telah menyerah kalah, maka dukacita dan sesal kecewa hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan nyawanya. Tetapi kehendak Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur. Dan tangan wahyu yang penuh berkah itupun terulurlah menjabat tangan 'Ammar, sambil menyampaikan ucapan selamat kepadanya; "Bangunlah 'Ammar. Tak ada penyesalan atasmu."

Ketika Rasulullah Saw, menemui sahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka di usaplah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya bersabda: "Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?"

"Benar" wahai Rasulullah, ujar 'Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasulullah sambil tersenyum; "Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti yang apa yang kamu katakan tadi!"

Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini, "Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan" (QS. An-Nahl ayat 106). Kembalilah 'Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya, bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi, dan apa juga yang akan terjadi, terjadilah dan ia tidak akan peduli. Jiwanya berbahagia, keimanannya di pihak yang menang ! Ucapannya yang dikeluarkan secara terpaksa itu dijamin bebas oleh Al-Quran, maka apa lagi yang akan dirisaukannya?

'Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga penyiksanya merasa lebih dan menjadi lemah, dan bertekuk lutut dihadapan tembok keimanan yang kuat..! Setelah pindahnya Rasulullah Saw ke Madinah, Kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya. Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini 'Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi dari Rasulullah Saw, amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketaqwaan 'Ammar kepada para sahabat yang lain. Bersabda Rasulullah Saw : "Diri 'Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya...!"

Dan sewaktu terjadi selisih paham antara Khalid bin Walid dengan 'Ammar. Rasulullah Saw bersabda : "Siapa yang memusuhi 'Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci 'Ammar, maka ia akan dibenci Allah !". Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid pahlawan Islam itu selain segera mendatangi 'Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta ma'af..!

Jika Rasulullah Saw, telah menyatakan kesayangananya terhadap seorang Muslim sedemikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebebasan jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesemputnaan....! Demikian halnya 'Ammar..! Berkat nikmat dan petunjuk-Nya, Allah memberikan kepada 'Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikkannya secara penuh. Mengenai perawakannya, para ahli riwayat melukiskannya sebagai berikut: Ia adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru, seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara.

Nah, bagaimanakah kiranya garis kehidupan raksasa pendiam yang bermata biru dan berdada lebar,serta tubuhnya penuh dengan bekas-bekas siksaan kejam, dan di waktu yang bersamaan jiwanya telah ditempa dengan ketabahan yang amat menganggumkan dan kebesaran yang luar biasa? Bagaimanakah jalan kehidupan yang ditempuh oleh pengikut yang jujur dan Mu'min yang tulus serta pejuang yang berani mati ini? Sungguh telah diterjuninya bersama Rasulullah sebagai gurunya semua perjuangan bersenjata, baik waktu perang Badar, Khandaq, Tabuk, pendeknya semua tanpa terkecuali. Dan tatkala Rasulullah telah mendahuluinya wafat maka 'Ammar terus berjuang untuk Islam.

Di kala Kaum Muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Persia dan Romawi, begitu juga ketika menghadapi pasukan kaum murtad, 'Ammar selalu berada di barisan pertama, sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa dengan tebasan pedangnya yang tak pernah meleset, ia sebagai seorang Mu'min yang shalih dan mulia tidak satu pun yang dapat menghalanginya dalam mencapai ridha Allah. Dan tatkala Amirul Mu'minin Umar memilih calon-calon wakil negeri secara cermat dan hati-hati bagi Kaum Muslimin, maka matanya tetap tertuju dan tak hendak beralih dari 'Ammar bin Yasir.... Ia segera menemuinya dan mengangkatnya sebagai wali negeri Kufah dengan Ibnu Mas'ud sebagai Bendaharanya. Dan kepala penduduknya Umar menulis sepucuk surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya: "Saya kirim kepada tuan-tuan 'Ammar bin Yasir sebagai 'Amir, dan Ibnu Mas'ud sebagai Bendahara dan Wazir...Kedua mereka adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad Saw, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar....!"

Dalam melaksanakan pemerintahan, 'Ammar melakukan suatu sistem yang rupanya tidak dapat diikuti oleh orang-orang yang rakus akan dunia, hingga mereka mengadakan atau hampir mengadakan persekongkolan terhadap dirinya, Pangkat dan jabatannya itu tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup semasa dengannya di Kufah, yaitu Ibnu Abil Hudzail, bercerita : "Saya salah seorang awam berkata kepadanya sewaktu ia menjadi Amir di Kufah itu; "Hai yang telinganya terpotong!" menghinanya dengan telinganya yang putus ketika menghadapi orang-orang murtad di pertempuran Yamamah. Tetapi jawaban amir yang memegang tampuk kekuasaan itu tidak lebih dari: "Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik. Karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah.

Menang, telinganya itu terputus dalam perang sabi di Yamamah, yakni salah satu diantara hari-hari gemilang bagi 'Ammar....Raksasa ini maju bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Al-Kadzab sehinga melumpuhkan kekuatan musuh...! Ketika dilihatnya gerakan Muslimin mengendor segera dibangkitkannya semangat mereka dengan seruannya yang gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Abdullah bin Umar radhialllahu 'anhu menceritakan peristiwa itu sebagai berikut : "Waktu perang Yamamah saya lihat 'Ammar sedang berada di atas sebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru; "Hai Kaum Muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari Surga? Inilah saya 'Ammar bin Yasir, kemarilah tuan-tuan...!

Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat sengitnya....! Wahai, barang siapa yang masih meragukan kebesaran Muhammad Saw, seorang Rasul yang benar dan guru yang sempurna, baiklah ia berdiri sejenak di hadapan contoh-contoh yang telah ditujukkan oleh para pengikut dan sahabatnya, lalu bertanya kepada dirinya; "Siapakah yang akan mampu mengemukakan teladan dan contoh luhur ini kalau bukan seorang Rasul mulia dan guru yang utama?" Jika mereka menerjuni suatu perjuangan di jalan Allah, pastilah mereka akan maju ke depan dan tidak takut akan kematian..!

Jika mereka para khalifah dan hakim-hakim pengadilan, maka mereka takkan keberatan memerahkan susu untuk wanita janda tua atau mengadon tepung roti untuk anak-anak yatim, sebagai dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar. Dan jika mereka para pembesar, maka mereka takkan main dan merasa segan untuk memikul makanan yang diikat dengan tali di atas punggung mereka, seperti kita saksikan pada 'Ammar, atau menyerahkan gaji yang menjadi haknya lalu pergi menjalin daun (mencari nafkah).

Ketika itu Hudzaifah ibnul Yaman seorang yang ahli bahasa, sedang menghadapi penggilan illahi menghadapi sekarat mautnya. Kawan-kawannya yang sedang berkumpul mengelilingi menanyakan kepadanya; "Siapakah yang harus kami ikuti menurutmu, jika terjadi pertikaian diantara ummat...? "Sambil mengucapkan kata-katanya yang akhir, Hudzaifah menjawab: "Ikutilah oleh kalian Ibnu Sumayyah (Ammar bin Yasir), karena sampai matinya ia tidak akan berpisah dengan kebenaran...!"

Sumber : Google

Dunia Nabi ~ Dengan mengendarai untanya Rasulullah Saw, berjalan di tengah-tengah barisan manusia yang penuh sesak, dengan luapan semangat dari kalbu yang penuh cinta dan rindu, berdesak-desakan berebut memegang kekang untanya, karena masing-masingnya menginginkan untuk menerima Rasul sebagai tamunya. Rombogan Nabi itu mula-mula sampai ke perkampungan Bani Salim bin Auf, mereka mencegat jalan unta sembari berkata:

"Wahai Rasul Allah tinggallah Anda pada kami, jumlah kami banyak, persediaan cukup, serta keamanan terjamin.!" Tawaran mereka yang telah mencegat dan memegang tali kekang unta itu, dijawab oleh Rasulullah Saw. "Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanakan perintah !"


Kendaraan Nabi terus melewati perumahan Bani Bayadhah, kemudian ke kampung Bani Sa'idah, dan ke kampung Bani Harits Ibnul Khazraj, kemudian sampai di kampung Bani "Adi bin Najjar. Setiap suku atau kabilah untuk mencoba mencegah jalan unta Nabi, dan tak henti-hentinya meminta dengan gigih agar Nabi Saw, sudi membahagiakan mereka dengan menetap di kampung mereka. Sedang Nabi menjawab tawaran mereka sambil tersenyum syukur  dibibirnya ujarnya; "Lapangkan jalannya, karena ia terperintah!"

Nabi sebenarnya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya, diatas tanahnya bakal muncul suatu masjid yang akan memancarkan kalimat-kalimat Allah dan Nur-Nya ke seantero dunia. Dan di sampingnya akan berdiri satu atau beberapa bilik dari tanah dan bata kasar, tidak terdapat disana harta kemewahan dunia selain barang-barang bersahaja dan seadanya !

Tempat ini akan dihuni oleh seorang Mahaguru dan Rasul yang akan meniupkan ruh kebangkitan pada kehidupan yang sudah padam, dan yang akan memberikan kemuliaan dan keselamatan bagi mereka yang berkata.

"Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka tetap diatas pendirian bagi mereka yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan itu dengan keaniayaan, bagi mereka yang mengikhlaskan Agama mereka semata-mata untuk Allah, dan bagi mereka yang berbuat kebaikan di muka bumi dan tidak berbuat binasa. Benarlah Rasululah Saw, telah menyerahkan sepenuhnya pemilihan ini kepada qadar illahi yang akan memimin langkah perjuangan kelak.
Oleh karena inilah ia membiarkan saja tali kekang untanya terlepas bebas, tidak ditepuknya kuduk unta itu tidak pula dihentikan langkahnya, hanya dihadapkan hatinya kepada Allah, serta diserahkan dirinya kepada-Nya dengan berdo'a, "Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihkanlah untukku....!"

Di muka rumah Bani bin Malik bin Najjar unta itu bersimpuh kemudian ia bangkit dan berkeliling di tempat itu, kemudian pergi ke tempat ia bersimpuh tadi dan kembali bersimpuh lalu tetap dan tidak beranjak dari tempatnya. Maka turunlah Rasul dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan. Salah seorang Muslimin tampil dengan wajah berseri-seri karena sukacitanya, ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkanya ke rumahnya kemudian mempersilakan Rasul masuk. Rasul pun mengikutinya dengan diliputi oleh hikmah dan berkah.

Maka tahukah anda sekalian siapa orang yang berbahagia ini, yang telah dipilih taqdir bahwa unta Nabi akan berlutut di muka rumahnya, hingga Rasul menjadi tamunya, dan semua penduduk Madinah akan merasa iri atas nasib mujurnya. Nah, ia adalah pahlawan yang jadi pembicaraan kita sekarang ini, Aku Ayyub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang pertamanya dengan Rasulullah. Sebelum ini, yakni sewaktu perutusan Madinah pergi ke Mekah untuk mengangkat sumpah setia atau bai'at, yaitu bai'at yang diberkati dan terkenal dengan nama "Bai'at Aqabah kedua", maka Abu Ayyub al-Anshari termasuk diantara tujuh puluh orang Mu'min yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah Saw, serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela. Dan sekarang ketika Rasulullah sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat bagi Agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besarnya telah melimpah kepada Abu Ayyub, karena rumahnya telah dijadikan rumah pertama yang didiami muhajir agung, Rasul yang mulia.

Rasul telah memilih untuk menempati ruangan rumahnya tingkat pertama. Tetapi begitu Abu Ayyub naik ke kamarnya di tingkat atas ia pun jadi menggigil, dan ia tak kuasa membayangkan dirinya akan tidur atau berdiri disuatu tempat yang lebih tinggi dari tempat berdiri dan tidurnya Rasulullah Saw itu. Ia lalu mendesak Nabi dengan gigih dan mengharapkan beliau agar pindah ke tingkat atas, hingga Nabi pun memperkenalkannya pengharapannya itu.
Nabi akan berdiam di sana sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya. Dan semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, menghasut kabilah-kabilah lain serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur ilahi, semenjak itulah Abu Ayyub mengalihkan aktifitasnya kepada berjihad di jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pendeknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengorbankan nyawa dan harta bendanya untuk Allah Rabbul'alamin. Bahkan sesudah Rasul wafat pun, tak pernah ia ketinggalan menyertai pertempuran yang diwajibkan atas Muslimin sekalipun jauh jaraknya yang akan ditempuh dan berat beban yang akan dihadapi !

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras ataupun perlahan adalah firman Allah Ta'ala. "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit..!"(Q.S. At-Taubat ayat 41)

Satu kali saja ia absen tidak menyertai balatentara Islam, karena sebagai komandannya khalifah mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin, sedang Abu Ayyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Hanya sekali saja, tidak lebih..! Sekalipun demikian, bukan main menyesalnya atas sikapnya yang selalu menggoncangkan jiwanya itu katanya: "Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang akan jadi atasanku.!" Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam peperangan. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai prajurit dalam tentara Islam, berperang dibawah benderanya dan membela kehormatannya.!

Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Mu'awiyah, ia berdiri di pihak Ali tanpa ragu-ragu, karena ialah Imam yang telah dibai'at oleh Kaum Muslimin. Dan tatkala Ali syahid karena terbunuh, dan khilafah berpindah kepada Mu'awiayah. Abu Ayyub menyendiri dalam kezuhudan, bertawakkal lagi bertaqwa. Tak ada yang diharapkannya dari dunia hanyalah tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang  dalam barisan para pejuang.

Demikianlah, sewaktu diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan dan dirindukannya.! Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat, Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya sedang berlomba dengan keinginannya hendak menemui Allah.
Maka bertanyalah panglima pasukan yang waktu itu Yazid bin Mu'awiayah: "Apa keinginan anda, wahai Abu Ayyub?" Sungguh, ia telah meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal, agar jasadnya dibawa dengan kuda sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh ke wilayah musuh, dan disanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, hingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin diatas kuburnya dan diketahuinyalah bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan dan keuntungan  yang mereka cari !

Dan sungguh, wasiat Abu Ayyub itu telah dilaksanakan oleh Yazid ! Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat makam pekuburan laki-laki berjiwa besar. Hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang-orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Ayyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci. Dan anda akan tercengang jika mendapati semua ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata: "Orang-orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka  mengalami kekeringan."

Sekalipun perang dan pertempuran sarat memenuhi kehidupannya, hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya adalah tenang tenteram laksana desiran kayu dikala fajar menjelma. Sebabnya ia pernah mendengar ucapan Rasulullah Saw yang terpateri dalam hatinya: "Bila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah yang terakhir atau hendak berpisah. Jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata yang menyebabkan engkau harus meminta maaf.! Lenyapkan harapan terhadap apa yang berada ditangan orang lain.!"

Dan oleh karena itulah tak pernah lidahnya terlibat dalam suatu fitnah dan dirinya tidak terjerembab dalam kerakusan dunia. Ia telah menghabiskan hidupnya dalam kerinduan ahli ibadah, maka sewaktu ajalnya datang tak ada keinginannya di sepanjang dan selebar dunia kecuali cita-cita yang melabangkan kepahlawanan dan kebesarannya selagi hidupnya: "Bawalah jasadku jauh-jauh.....jauh masuk ketanah Romawi, kemudian kuburkan aku disana..!" Ia yakin sepenuhnya akan kemenangan, dan dengan mata hatinya dilihatnya bahwa wilayah ini telah termasuk dalam taman impian Islam, dalam lingkungan cahaya dan sinarnya.

Karena itulah menginginkannya sebagai tempat istirahatnya yang terakhir, yakni di ibukota negara itu, di mana akan terjadi pertempuran yang menentukan, dan dari bawah tanahnya yang subur, ia akan dapat mengikuti gerakan tentara Islam, mendengar kepakan benderanya, dan bunyi telapak kudanya serta gemerincing pedang-pedangnya. Sekarang ini ia masih terkubur disana. Tetapi tidak lagi mendengar gemerincing pedang, atau ringkikan kuda! Keadaan telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat yang dituju, sejak waktu yang lama. Tetapi setiap hari, dari pagi hingga petang didengarnya suara adzan yang berkumandang dari menara-menaranya yang menjulang diangkasa, bunyinya:

"Allah Maha Besar......... Allah  Maha Besar.."

Dan dengan rasa bangga, di dalam kampungnya yang kekal dan di mahligai kejayaannya ia menyahut: "Inilah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya..!"

Sumber : Google

Dunia Nabi ~ Waktu itu Rasulullah Saw, sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekkah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari dua belas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar (penolong Rasul). Mereka sedang dibai'at Rasulullah (diambil Janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai'ah Al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke kota Madinah, dan bai'at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam. Maka salah seorang dari utusan yang dibai'at Bani itu, adalah Abdullah bin Rawahah.


Dan sewaktu pada tahun berikutnya, Rasulullah Saw, membai'at lagi tujuh puluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai'at Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawalah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai'at itu.

Kemudian sesudah Rasulullah bersama sahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap disana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam membela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah kesana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagallah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat dipatahkan.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal disuatu lingkungan yang langka dengan kepandaian dalam menulis dan membaca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar. Semenjak ia memaluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Dan Rasulullah menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.

Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya; "Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?" Jawab Abdullah; "Kurenungkan dulu, kemudian baru ku ucapkan." Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa henti, demikianlah syairnya.

"Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia dan memberimu keutamaan, dimana orang tidak perlu iri. Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakin terhadap dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.

Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka hendak menjawab atau membela. Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda bawa. Sebagaimana ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa."

Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridha kepadanya, lalu sabdanya; "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah." Dan sewaktu Rasulullah, sedang thawaf di Baitullah pada 'umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di depan beliau sambil membaca syair dari raja nya.

"Oh Tuhan, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedekah dan Shalat !

Maka mohon diturunkanlah sakinah atas kami dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghalang. Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, bila mereka membuat fitnah akan kami tolak dan akan kami tantang." Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah. Penyair Rawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat Al-Quranul Karim yang artinya: "Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat." (Q.S. Asy-Syu'ara ayat 224)  Tetapi kedukaan hatinya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya.

"Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ketempat mana mereka akan kembali." (Q,S Asy-Syu'ara ayat 227 )

Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah Ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan  

"Wahai diri Seandaianya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!" Ia juga menyorakkan teriakan perang: "Menyingkirlah kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu ! setiap kebaikkan akan ditemui hanya pada Rasul-Nya."

Dan datanglah waktu perang Muktah. Abdullah bin Rawahah adalah panglima ketiga dalam pasukan Islam. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah, ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya:
Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan... Mati syahid di medan perang..!!!!
Benar, itulah cita-citanya kemenangan, pukulan pedang ataupun tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia..!!!

Bala tentara Islam akhirnya maju bergerak ke medan perang muktah. Sewaktu oran-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya bala tentara Romawi yang sekitar dua ratus ribu orang, barisan tentara mereka (Romawi) itu seakan tak ada ujung akhirnya dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya..! Pasukan muslimin melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam, dan sebagian ada yang menyeletuk berkata:

"Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitahukan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bala bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi."

Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya siang, berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap: "Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesunguhnya kita berperag melawan musuh-musuh kita bukan berdasarkan bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah! kita tidak memerangi mereka melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah! Ayolah kita maju....! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah...!"

Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: "Sungguh demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah !"

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan jumlah yang lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan yang dahsyat tiada taranya. Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran diantara keduanya.

Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja'afar bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Dikala itu ia memungut panji perang dari tangan kananya Ja'far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam, yang kecil itu tersapu musnah diantara pasukan-pasukan Romawi yang datang membanjiri laksana air bah yang berhasil dihimpun oleh Heraklius.

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, Ibnu Rawahah menerjang ke depan dan ke belakang ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan peduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya itu, saat terlihat kehebatan tentara Romawi seketika sempat terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sementara, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekuatannya dan melenyapkan semua kehkawatiran dari dirinya, sambil berseru:
Aku telah besumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan  selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah kesatria sejati!
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja'far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada)
Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati....!" Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah takdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu kematiannya sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalanannya pulang kehadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syuhada.

Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira baik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya.
Hingga dikatakan, yaitu bila mereka melewati mayatku.
Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!"
"Benar engkau, ya Ibnu Rawahah...! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah....!
Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa'di Syam, Rasulullah Saw, sedang duduk beserta para sahabat di Madinah sambil berbincang-bincang dengan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram tersebut kemudian Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata disebabkan rasa duka dan belas kasihan...! Seraya memandang berkeliling ke wajah para sahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: "Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja'far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula." "Beliau terdiam sebentar, kemudian diteruskannya ucapannya:

"Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu berkatanya pula.
Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga
Perjalanan mana lagi yang lebih mulia
Perjanjian mana lagi yang lebih berbahagia
Mereka maju ke medan laga bersama-sama
Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula
Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasulullah saw yang berbunyi : "Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga.

Sumber : Google

Kisah Abdullah bin Zubeir Radhiallahu ‘Anhu ~ Kita menempuh padang pasir yang panas bagai menyala dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah yang terkenal itu, ia masih merupakan janin dalam rahim ibunya.

Demikian telah menjadi takdir bagi Abdullah bin Zubeir melakukan hijrah bersama Kaum Muhajirin selagi belum muncul ke alam dunia, masih tersimpan dalam perut ibunya..... ibunya Asma, semoga Allah ridha kepadanya, setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah, datanglah saat melahirkan, dan jabang bayi yang muhajir itu pun masuklah ke bumi Madinah bersamaan waktunya dengan masuknya muhajirin lainnya dari sahabat-sahabat Rasulullah Saw.


Bayi yang pertama kali lahir pada saat hijrah itu, dibawa kepada Rasulullah Saw di rumahnya di Madinah, maka diciumnya kedua pipinya dan dikecup mulutnya, hingga yang mula pertama masuk ke rongga perut Abdullah bin Zubeir itu.

Ialah air selera Rasulullah Saw yang mulia. Kaum Muslimin berkumpul dan beramai-ramai membawa bayi yang dalam gendongan itu berkeliling kota sambil membaca tahlil dan takbir. Latar belakangnya ialah karena tatkala Rasulullah Saw dan para sahabat-sahabatnya tinggal menetap di Madinah, orang-orang Yahudi merasa terpukul dan iri hati, lalu mereka melakukan perang urat saraf terhadap Kaum Muslimin. Mereka sebarkan berita bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir Kaum Muslimin dan membuat mereka jadi mandul, hingga di Madinah tak seorang pun akan mempunyai bayi dari kalangan mereka...!

Maka tatkala Abdullah bin Zubeir lahir, hal itu merupakan suatu kenyataan untuk menolak kebohongan orang-orang Yahudi di Madinah dan membatalkan tipu muslihat mereka......! 

Di masa hayat Rasulullah Saw, Abdullah belum mencapai usia dewasa. Tetapi lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah, telah membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya, sehingga darma baktinya dalam menempuh kehidupan di dunia ini menjadi buah bibir orang dan tercatat dalam sejarah dunia. Anak kecil itu tumbuh dengan amat cepatnya dan menunjukkan hal-hal yang luar biasa dalam kegairahan, kecerdasan dan keteguhan pendirian. Masa mudanya dilaluinya tanpa noda, seorang yang suci, tekun beribadah, hidup sederhana dan perwira tidak terkira......

Demikianlah hari-hari dan peruntungan itu dijalaninya dengan tabi'atnya yang tidak berubah dan semamngat yang tak pernah kendor. Ia benar-benar seorang laki-laki yang mengenal tujuan dan menempuhnya dengan kemauan yang keras membaja dan keimanan yang teguh luar biasa. Sewaktu pembebasan Afrika, ia waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun, tampak sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terlukis sepanjang masa. Dalam pertempuran di Afrika sendiri,  Kaum  Muslimin  yang jumlahnya hanya dua puluh ribu tentara, pernah menghadapi musuh yang berkekuatan sebanyak seratus dua puluh ribu orang.

Pertempuran berkecamuk, dan pihak Islam terancam bahaya besar! Abdullah bin Zubeir melayangkan pandangannya meninjau kekuatan musuh hingga segeralah diketahuinya di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan itu tidak lain dari raja Barbar yang menjadi panglima tentaranya sendiri. Tak henti-hentinya raja itu berseru terhadap tentaranya dan membangkitkan semangat mereka dengan cara istimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa rasa takut,menemuinya, padahal untuk sampai kepadanya terhalang oleh tembok kukuh dari tentara musuh yang bertempur laksana angin puyuh.

Tetapi semangat dan keberanian Ibnu Zubeir tidak perlu diragukan lagi untuk selama-lamanya. Dipanggilnya sebagian kawan-kawannya, lalu berkata; "Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku". Dan tak ubah bagai anak panah lepas dari busurnya, dibelahnya barisan yang berlapis itu menuju raja musuh, dan demi sampai di hadapannya, dipukulnya sekali pukul, hingga raja itu jatuh tersungkur. Kemudian secepatnya bersama kawan-kawannya, ia mengepung tentara yang berada disekeliling raja dan menghancurkan mereka!, lalu dikumandangkannya Allahu Akbar! Demi Kaum MUslimin, melihat bendera mereka berkibar disana, yakni di tempat panglima Barbar berdiri menyampaikan perintah dan mengatur siasat, tahulah mereka bahwa kemenangan telah tercapai.

Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui peranan penting yang telah dilakukan oleh Ibnu Zubeir. Maka sebagai imbalannya disuruhnya ia menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah terutama kepada khalifah Utsman bin Affan. Hanya kepahlawanannya dalam medan perang bagaimana juga unggul dan luar biasanya, tetapi itu tersembunyi di balik ketekunannya dalam beribadah, Maka orang yang mempunyai tidak hanya satu dua alasan untuk berbangga dan menyombongkan diriya ini akan menakjubkan kita karena selalu ditemukan dalam lingkungan orang-orang shaleh dan rajin beribadah.

Maka baik derajat maupun kemudaannya, kedudukan atau harta bendanya, keberanian atau kekuatannya, semua itu tidak mampu untuk menghalangi Abudulllah bin Zubeir untuk menjadi seorang laki-laki 'abid yang berpuasa di siang hari, bangun malam beribadah kepada Allah dengan hati yang kusu' niat yang suci. Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz mengatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah; "Cobalah ceritakan kepada kami kepribadian Zubeir". Maka ujar: "Demi Allah! 

Tak pernah kulihat jiwa yang tersusun dalam rongga tubuhnya itu seperti jiwanya! Ia tekun melalukan shalat, dan mengakhiri segala sesuatu dengannya. Ia ruku' dan sujud sedemikian rupa, hingga karena amat lamanya, maka burung-burung gereja yang bertengger diatas bahunya atau punggungnya, menyangkanya dinding tembok atau kain yang tergantung. Dan pernah peluru meriam batu lewat antara janggut dan dadanya sementara ia shalat, tetapi demi Allah, ia tidak peduli dan tidak goncang, tidak pula memutus bacaan mempercepat waktu ruku'nya.

Memang, berita-berita sebenarnya yang diceritakan orang tentang ibadah Ibnu Zubeir, hampir merupakan dongeng. Maka di dalam shaum dan shalat, dalam menunaikan haji dan serta zakat, ketinggian cita serta kemuliaan diri dalam bertenggang di waktu malam sepanjang hayatnya, untuk bersujud dan beribadah, dalam menahan lapar di waktu siang juga sepanjang usianya untuk shaum dan jihadun nafs, dan dalam keimanannya yang teguh kepada Allah, dalam semua itu ia adalah tokoh satu-satunya tak ada duanya.   
   
Pada suatu kali Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu ditanyai orang mengenai Ibnu Zubeir, Ibnu Abbas berkata: "Ia adalah seorang pembaca Kitabullah, dan pengikut sunnah Rasulullah Saw, tekun beribadah kepada-Nya dan shaum disiang hari karena takut kepada-Nya. Seorang putera dari pembela Rasulullah Saw dan ibunya ialah Asma puteri Shiddiq. Maka tak ada seorang pun sedang membicarakan khalifah yang telah pergi berlalu bernama Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, tanpa mengindahkan tata-tertib kesopanan dan tidak didasari, mereka mencelanya, katanya". "Demi Allah, aku tak sudi meminta bantuan dalam menghadapi musuhku kepada orang-orang yang membenci Utsman." Pada saat itu ia sangat memerlukan bantuan, tak ubah bagi seorang yang tenggelam membutuhkan pertolongan, tetapi uluran tangan orang tersebut ditolaknya.

Keterbukaannya terhadap diri pribadi serta kesetiaannya terhadap aqidah dan prinsipnya menyebabkannya tidak peduli kehilangan dua ratus orang pemanah termahir yang Agama mereka tak dipercaya dan berkenan di hatinya! Padahal waktu itu ia sedang berada dalam peperangan yang akan menentukan hidup matinya, dan kemungkinan besar akan berubah arah, seandainya pemanah-pemanah ahli itu tetap berada di sampingnya!

Kemudian pembangkangannya terhadap Mu'awiayah dan puteranya Yazid sungguh-sungguh merupakan kepahlawanan! Menurut pandangannya, Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufan itu adalah laki-laki yang terakhir kali dapat menjadi khalifah Muslimin, seandainya memang dapat! Pandangannya ini memang beralasan, karena dalam soal apa pun juga. Yazid tidak cakap! Tidak satu pun kebaikan dapat menghapus dosa-dosaanya yang diceritakan sejarah kepada kita, maka betapa Ibnu Zubeir akan mau berbai'at kepadanya?

Kata-kata penolakannya terhadap Mu'awiayah selagi ia masih hidup amat keras dan tegas. Dan apa pula katanya kepada Yazid yang telah naik menjadi khalifah dan mengirim utusannya kepada Ibnu Zubeir mengancamnya dengan nasib jelak apabila ia tidak membai'at pada Yazid ! Ketika itu Ibnu Zubeir memberikan jawabannya: "Kapan pun, aku tidak akan bai'at kepada Yazid!" kemudian katanya bersyair: "Terhadap hal bathil tiada tempat berlunak lembut kecuali bila geraham dapat mengunyah batu menjadi lembut."

Ibnu Zubeir tetap menjadi Amirul Mu'minin dengan mengambil Mekkah Al-Mukarramah sebagai ibu kota pemerintahan dan membentangkan kekuasaannya terhadap Hijaz, Yaman, Bashrah, Kufah, Khurasan dan seluruh Syria kecuali Damsyik (Damaskus), setelah ia mendengar bai'at dari seluruh warga kota-kota daerah tersebut di atas. Tetapi orang-orang Bani Umaiyah tidak senang dan puas sebelum menjauhkannya, maka mereka melancarkan serangan yang bertubi-tubi, yang sebagian besar diantaranya berakhir dengan kekalahan dan kegagalan. Hingga akhirnya datanglah masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yang untuk menyerang. Abdullah di Mekah itu memilih salah seorang anak manusia yang paling celaka dan paling merajalela dengan kekejaman dan kebuasannya...! Itulah dia Hajjaj Ats-Tsaqafi, yang mengenai pribadinya, Umar bin Abduln Aziz, Imam yang adil itu pernah berkata: "Andainya setiap ummat datang dengan membawa kesalahan masing-masing, sedang kami hanya datang dengan kesalahan Hajjaj seorang saja, maka akan lebih berat lagi kesalahan kami dari mereka..!

Dengan mengerahkan anak buah dan orang-orang upahannya, Hajjaj datang memerangi Mekkah ibu kota Ibnu Zubeir. Dikepungnya kota itu serta penduduknya selama lebih kurang enam bulan dan dihalanginya mereka mendapat makanan dan air dengan harapan agar mereka meninggalkan Ibnu Zubeir sebatang kara, tanpa tentara dan sanak saudara. Oleh karena tekanan bahaya kelaparan itu banyaklah yang menyerahkan diri, hingga Ibnu Zubeir mendapat dirinya terasingkan atau kira-kira demikian. 

Dan walaupun kesempatan untuk meloloskan diri dan menyelamatkan nyawanya masih terbuka, tetapi Ibnu Zubeir memutuskan akan memikul tanggung jawabnya sampai titik terakhir. Maka ia terus menghadapi serangan tentara Hajjaj itu dengan keberanian yang tak dapat dilukiskan, padahal ketika itu usianya telah mencapai tujuh puluh tahun dan tidaklah dapat kita melihat gambaran sesungguhnya dari pendirian yang luar biasa ini, kecuali jika kita mendengar percakapan yang berlangsung antar Abdullah dengan ibunya yang agung dan mulia itu, Asma' binti Abu Bakar, yakni disaat-saat yang akhir dari kehidupannya. Ditemuinya ibunya itu dan dipaparkannya dihadapannya suasana ketika itu secara terperinci, begitupun mengenai akhir kesudahan yang sudah nyata tak dapat dielakkan lagi.

Kata 'Asma' kepadanya: "Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu ! Apabila menurut keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, maka bersabar dan tawakallah dalam melaksananakan tugas itu sampai titik darah penghabisan. Tiada kata menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan orang-orang Bani Umaiyah..! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan dirimu sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu !"

Ujar Abdullah; "Demi Allah, wahai bunda ! Tidak ananda mengharapkan dunia atau lagi hendak mendapatkannya...! Dan sekali-kali tidaklah ananda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang melanggar batas...!" Kata Asma' pula; 'Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang siang dan bakti kepada kedua orang tuanya. Engkau terima disertai cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubeir ini, pahalanya orang-orang yang sabar dan bersyukur...."

Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat tinggal. Dan beberapa saat kemudian. Abdullah bin Zubeir terlihat dalam pertempuran sengit yang tak seimbang, hingga syahid agung itu akhirnya menerima pukulan maut yang menewaskannya. Peristiwa itu menjadikan Hajjaj utusan Abdul Malik bin Marwan berkesempatan melaksanakan kebuasan dan dendam kesumatnya, hingga tak ada jenis kebiadaban yang lebih keji kecuali dengan menyalib tubuh syahid suci yang telah beku dan kaku itu. Bundanya, wanita tua yang ketika itu telah berusia sembilan puluh tujuh tahun berdiri memperhatikan puteranya yang disalib. Dan bagaikan sebuah gunung yang tinggi, ia tegak menghadap kearahnya tanpa bergerak. Sementara itu Hajjaj datang menghampirinya dengan lemah lembut dan berhina diri, katanya: "Wahai ibu, Amirul Mu'minin, Abdul Malik bin Marwan memberiku wasiat agar memperlakukan ibu dengan baik....!" "Maka adakah kiranya keperluan ibu ? Bagaikan berteriak dengan cara suara berwibawa wanita itu berkata; "Aku ini bukanlah ibumu....! Aku adalah ibu dari orang yang disalib pada tiang karapan..!

Tiada sesuatu pun yang kuperlukan dari padamu. Hanya aku akan menyampaikan kepadamu sebuah Hadits yang kudengar dari Rasulullah Saw sabdanya: "Akan muncul dari Tsaqif seorang pembohong dan seorang pembunuh....! si pembohong telah sama-sama kita ketahui...! Adapun si pembunuh, sepengatahuanku hanyalah kamu".

Abdullah bin Umar radhiyallahu'anhu datang menghiburnya dan mengajaknya, diberikan sebagai hadiah bagi Salome, seorang wanita yang kejam dan hina dari Bani Israil....! Sungguh, suatu pemisalan yang tepat dan kata-kata yang jitu....! Keselamatan kiranya terlimpah atas Abdullah....! Dan kiranya terlimpah pula atas Asma' ibunya..! Keselamatan bagi mereka berdua dilingkungan syuhada yang tidak pernah fana....dan dilingkungan orang-orang utama lagi bertaqwa.

Sumber : Google

Keteladanan Abbad bin Bisyir Radhiallahu ‘Anhu ~ Ketika Mush'ab bin Umair di tiba di Madinah sebagi utusan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah berbai'at kepada Nabi dan membimbing mereka melakukan shalat, maka Abbad bin Bisyir raddhiallahi'anahu adalah seorang budiman yang telah dibukakan Allah hatinya untuk menerima kebaikan. Ia datang menghadiri majelis Mush'ab dan mendengarkan da'wahnya, kemudian diulurkan tangannya mengangkat bai'at memeluk agama Islam. Dan semenjak itu mulailah ia menempati kedudukan utama di antara orang-orang Anshar yang diridhai oleh Allah serta Allah ridha terhadap mereka.


Kemudian Nabi Saw pindah ke Madinah, setelah lebih dulu orang-orang Mu’min dari Mekkah tiba disana. Dan mulailah terjadi peperangan-peperangan dalam mempertahankan diri dari serangan-serangan kafir Quraisy dan sekutunya yang tak henti-hentinya memburu Nabi dan umat Islam. Kekuatan pembawa cahaya dan kebaikan bertarung dengan kekuatan gelap dan kejahatan. Dan pada setiap peperangan itu Abbad bin Bisyir berada di barisan terdepan, berjihad di jalan Allah dengan gagah berani dan mati-matian dengan cara yang amat mengagumkan.

Mungkin peristiwa yang kita paparkan di bawah ini dapat mengungkapkan sekelumit dari kepahlawanan tokoh Mu'min ini. 

Rasulullah Saw dan Kaum Muslimin setelah selesai menghadapi perang Dzatur Riqa, mereka sampai di suatu tempat dan bermalam di sana, Rasulullah Saw, memilih beberapa orang sahabatnya untuk berjaga secara bergiliran. Di antara mereka terpilih 'Ammar bin Yasir dan 'Abbad bin Bisyir yang berada pada satu kelompok.

Karena dilihat oleh 'Abbad bahwa kawannya 'Ammar sedang lelah, diusulkannyalah  agar 'Ammar tidur terlebih dahulu dan ia akan berjaga. Dan nanti bila ia telah mendapatkan istirahat yang cukup, maka giliran 'Ammar yang berjaga untuk menggantikannya.

'Abbad melihat bahwa lingkungan sekitarnya aman. Maka timbul pada pikirannya, mengapa ia tidak mengisi waktunya dengan melakukan shalat, hingga pahala yang akan diperoleh akan jadi berlipat? Demikianlah ia bangkit untuk sholat. Tiba-tiba saat ia berdiri sedang membaca sebuah surat Al-Qur'an setelah Al-Fatihah, sebuah anak panah menancap di pangkal lengannya, kemudian dicabutnya anak panah itu dan tidak menghentikanna shalatnya.

Tidak lama kemudian tertancap lagi anak panah kedua yang mengenai anggota badannya. Tetapi ia tak segera menghentikan shalatnya, kemudian dicabutnya anak panah itu seperti yang pertama tadi, dan dilanjutkannya bacaan surat yang telah ia baca.

Kemudian dalam gelap malam itu musuh memanahnya kembali untuk ketiga kalinya, 'Abbad menarik anak panah itu dan mengakhiri bacaan surat. Setelah itu ia ruku' dan sujud, namun tenaganya telah lemah disebabkan sakit dan lelah, diantara sujud diulurkannya tangannya kepada kawannya yang sedang tidur disampingnya dan tidak ditarik-tariknya sampai ia terbangun.

Kemudian 'Abbad bangkit dari sujudnya dan membaca tasyahud, lalu menyelesaikan shalatnya. "Ammar terbangun mendengar suara kawannya yang tak henti-hentinya menahan sakit; "Gantikan aku berjaga, karena aku telah kena anak panah! "Ammar bangkit dari tidurnya hingga menimbulkan kegaduhan dan takutnya musuh yang menyelinap. Mereka melarikan diri, sedang 'Ammar berpaling kepada temannya seraya berkata: "Subhanallah..! Kenapa saya tidak dibangunkan ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi........ "Ujar 'Abbad.

"Ketika aku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat Al-Qur'an yang amat mengharukan hatiku, sehingga aku tak ingin untuk memutuskannya....! Dan demi Allah, aku tidaklah akan menyia-nyiakan pos penjagaan (ribath) yang ditugaskan Rasul kepada kita untuk menjaganya, sungguh, aku lebih suka mati dari pada memutuskan bacaan ayat-ayat yang sedang ku baca itu....!

"Abbad amat cinta sekali kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan kepada Agama-Nya...Kecintaan itu memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Dan semenjak  Nabi SAW, berpidato dan mengarahkan pembicaraannya kepada Kaum Anshar, ia termasuk salah seorang di antara mereka, Sabdanya; "Hai golongan Anshar...! Kalian adalah utama, sedang golongan lain bagai kulit ari! Maka tak mungkin aku dikhianati oleh pihak kalian. .....!"

Semenjak itu, yakni semenjak 'Abbad mendengar ucapan ini dari Rasul-Nya, dari guru dan pembimbingnya kepada Allah, dan ia rela menyerahkan harta benda nyawa dan hidupnya di jalan Allah dan di jalan Rasul-Nya, maka kita temui dia di tempat pengorbanan dan di peperangan muncul sebagai orang pertama, sebaliknya di waktu pembagi keuntungan dan harta rampasan, sukar sekali untuk menemuinya.

Disamping itu ia adalah seorang ahli ibadah yang tekun, seorang pahlawan yang gigih dalam berjuang, seorang dermawan yang rela berkorban, dan seorang mu'min sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk keimanannya ini....! Keutamaannya ini telah dikenal luas di antara sahabat-sahabat Rasul. Dan Aisyah radhiallahu anhu Ummul Mu'min pernah mengatakan tentang dirinya; Ada tiga orang Anshar yang keutamaannya tidak dapat ditandingi oleh seorang pun juga, yaitu: Sa'ad bin Mu'adz, Usaid bin Hudlair dan 'Abbad bin Bisyir.....!"

Dalam peperangan menghadapi orang-orang murtad sepeninggal Rasulullah Saw, maka 'Abbad memikul tanggung jawab dengan keberanian yang tak ada taranya. Apalagi dalam pertempuran Yamamah dimana Kaum Muslimin menghadapi bala tentara yang paling kejam dan paling berpengalaman dibawah pimpinan Musailamatul Al-Kaddzab, 'Abbad melihat bahaya besar yang akan mengancam Islam. Maka jiwa pengorbanan dan rasa kepahlawanannya mengambil andil sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh keimanannya, sampai meningkat ke taraf yang sejajar dengan kesadarannya akan bahaya tersebut, hingga menjadikannya sebagai prajurit yang berani mati, yang tak menginginkan apapun kecuali mati syahid dijalan  Allah.

Sehari sebelum perang Yamamah itu dimulai, "Abbad mengalami sebuah mimpi diketahui Tabirnya secara gamblang dan terjadi di area pertempuran sengit yang diterjuni oleh Kaum Muslimin. Seorang sahabat mulia Abu Sa'id al-Khudri radhiallahu' anhu menceritakan mimpinya yang dilihat oleh 'Abbad tersebut begitu pun Tabirnya, serta peranannya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahidnya. Demikian cerita Abu Sa'id 'Abbad bin Bisyir kepadaku: "Hai Abu Sa'id, Saya bermimpi semalam melihat langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi...! Saya yakin bahwa tabirnya insya Allah, saya akan menemui syahidnya...! "Demi Allah!" ujarku, "itu adalah mimpi yang baik...!"

"Dan di waktu perang Yamamah itu saya lihat ia berseru kepada orang-orang Anshar; "Pecahkan sarung-sarung pedangmu dan tunjukkan kelebihan kalian...!" Maka segeralah menyerbu yang mengiringinya sejumlah empat ratus orang dari golongan Anshar, hingga sampailah mereka ke pintu gerbang kebun bunga, lalu bertempurlah dengan gagah berani. Ketika itu 'Abbad menemui syahidnya. Wajahnya saya lihat penuh dengan bekas sambaran pedang, dan saya mengenalnya hanyalah dengan melihat tanda yang terdapat pada tubuhnya....!

Demikianlah 'Abbad meningkat naik ke taraf yang sesuai untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang Mu'min dari golongan Anshar, yang telah mengangkat bai'at kepada Rasulullah Saw, untuk membaktikan hidupnya bagi Allah dan menemui syahid di jalan-Nya...

Dan tatkala pada awal dilihatnya neraca pertempuran sengit itu lebih berat untuk kemenangan musuh, teringatlah olehnya ucapan Rasulullah Saw, terhadap kaumnya golongan Anshar; "Kalian adalah utama...! Maka tak mungkin saya dikhianati oleh pihak kalian!"

Ucapan itu memenuhi rongga dada dan hatinya, hingga seolah-olah sekarang ini Rasulullah masih berdiri, mengulang-ulang kata-katanya itu. 'Abbad merasa bahwa seluruh tanggung jawab peperangan itu terpilkul hanya di atas bahu golongan Anshar semata atau diatas bahu mereka sebelum golongan lainnya.....! Maka ketika itu naiklah ia ke atas sebuah bukit lalu berseru; "Hai golongan Anshar...! Pecahkan sarung-sarung pedangmu, dan tunjukkan keistimewaanmu dari glongan lain.....!

Dan ketika seruannya dipenuhi oleh empat ratus orang pejuang. 'Abbad bersama Abu Dajanah  dan Barra' bin Malik mengerahkan musuh ke kebun maut, suatu kebun yang digunakan oleh Musailamah sebagai benteng pertahanan dan pahlawan besar itu pun berjuanglah sebagai layaknya seorang laki-laki, sebagai seorang Mu'min, dan sebagai seorang warga Ashar.

Dan pada hari yang mulia itu, pergilah Abbad menemui syahidnya ! Tidak salah mimpi yang dilihat dalam tidurnya semalam"? Bukankah ia melihat langit terbuka, kemudian setelah ia masuk ke celahnya yang terbuka itu, tiba-tiba langit bertaut dan tertutup kembali...! Dan mimpi itu dita'wilkannya bahwa pertemuan yang akan terjadi ruhnya akan naik kepangkuan Tuhan dan penciptanya.

Sungguh, benarlah mimpi itu dan benarlah pula tabirnya...! Pintu-pintu langit telah terbuka untuk menyambut ruh "Abbad bin Bisyir dengan gembira, yakni seorang tokoh yang oleh Allah diberi cahaya.

Sumber : Google

Ngawi Cyber

Diberdayakan oleh Blogger.