Saya Terima Nikahnya, dengan Mas Kawin… Eit, Crotot!

foto: cong kenek
Orang latah selalu menyisakan kisah konyol. Itu pula yang menimpa Cong Kenek, warga asli Probolinggo yang lama tinggal di Lumajang. Ritual sakral berubah jadi arena ger-geran, karena sikap latahnya itu. Eit, crotot!

                Eit…. Crotot! Pekikan spontan inilah yang jadi kharakter Cong Kenek, jika pinggangnya dijiwit atau dicolek orang lain. Dimanapun tempatnya, jika dia kesenggol orang lain, ungkapan spontan ini akan muncul begitu saja. Ada yang lantas tertawa, namun juga ada yang hanya cuek saja mendengar ungkapan latah tersebut. Untungnya, yang keluar bukan kalimat ‘saru’. Sehingga justru sikap latah Cong Kenek ini jadi bahan lelucon bagi teman-teman yang baru dikenalnya. Namun, sikap latah ini pulalah yang membuat acara akad nikah Cong Kenek berubah jadi arena ger-geran. Bahkan Mat Tasan, seorang penghulu yang menikah kan Cong Kenek dengan Yu Tub, tak kuasa ikut ngakak terpingkal-pingkal melihat kelatahan Cong Kenek ini. Jauh-jauh hari sebelum akad nikah dengan buah hatinya, warga berusia 28 tahun ini sudah di-trainning oleh Pak Naib sendiri. Kata-kata akad nikah dihapal kan betul.
                Jangan sampai salah. ”Pokok ojo sampe salah ucap. Nikahmu batal,” kata Pak Naib Mat Tasan. Cong Kenek dengan polosnya hanya manthuk-manthuk saja mendengar penjelasan tersebut. ”Nggih, Pak,” jawabnya. Hampir tiap ke sempatan, dia ndleming sendiri (koyok wong edyan), gara-gara menghapalkan password akad nikahnya itu. Singkat kata, pas hari H akad nikah, ratusan undangan berjubel memenuhi rumah Cong Kenek. Tepat jam 09.00 tet, Mat Tasan sudah duduk di posisi mulianya. Pak Naib ini berhadap-hadapan dengan pasangan calon mempelai. Rona tegang me nye limuti wajah Cong Kenek (mbuh opo sing dipikir). Namun dico banya senyum yang ’dima nis-maniskan’ ke semua tamu undangan yang akan menyak sikan akad nikahnya. Termasuk, ke semua saksi yang telah dipilih. ”Saudara Cong Kenek bin Mat Pi’i…. apakah saudara menerima nikahnya saudari Yu Tub Binti Yu Nah…..” kata Pak Naib. Eee, ndilalah… di saat puncak ritual seperti ini Cong Kenek kelihatan gelagapan.

 Dia seperti plonga-plongo. Cong Kenek lupa tahap demi tahap yang harus dilakukan, termasuk kata-kata yang harus diucapkan agar akad nikahnya sah. Melihat hal ini, Mat Bobi, salah satu rekan yang duduk di belakangnya sedikit berbisik agar Cong Kenek segera mengucapkan kata-kata yang sudah dihapalkannya…. ”Saya terima nikahnya, dengan mas kawin… (Cong Kenek yang masih ge lagapan lupa menyebut mas kawinnya…). Karena kelamaan ngomong, Mat Bobi mencolek Cong Kenek… ”……. dengan mas kawin… Eit, Crotot!” Ledakan tawa langsung memecah keheningan pagi itu. Seluruh hadirin dan undangan terpingkalpingkal. Bahkan Pak Naib Mat Tasan sendiri tak kuasa cekikikan melihat kekonyolan Cong Kenek ini. Semua ger-geran, sedangkan Yu Tub hanya mesam-mesem saja. ”Mosok mas kawin-e ’Mak Crotot’. Baru kali ini aku mengawinkan orang pake mas kawin Mak Crotot. Ayo, ulangi lagi,” pinta Mat Tasan. Sebelum memulai lagi dari awal, dia mewanti-wanti agar Cong Kenek bersikap santai dan tenang saja. ”Wis, rasah gupuh, santai ae. Ambil nafas dalam,” lanjutnya. Ritual akad nikah pun kembali dimulai, sampai semua dianggap sah. Mat Bobi, yang tadi nyoleknyolek Cong Kenek, sudah tak berani lagi mendekat lagi. Dia sudah keluar ruangan, dan terus terpingkal-pingkal sendiri. Aalaahhh…