Tampilkan postingan dengan label al maidah 51. Tampilkan semua postingan

AWAL MULA

Awal bulan diakhir tahun in, kita masih disibukan dengan isu tentang kasus penistaan Agama oleh tersangka Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Berawal dari video yang diambil oleh Buni Yani yang didapatkan dari video yang diunggah oleh pemprov DKI berkaitan tentang penyuluhan program pemerintah di kepulauan seribu. Video ini menjadi viral tersebar diberbagai social media. Bukan program yang disampaikan kepada masyarakat yang menjadi permasalahan, tapi potongan kalimat “…Dibohongi pakai surat Almaidah 51….” Yang menjadi sorotan berbagai kalangan. 

Sontak hal ini membuat heboh masyarakat, banyak umat muslim yang merasa tersinggung atas ucapan gubernur Jakarta tersebut. Karena dinilai ucapannya ini sangat tendensius, yang rawan dan memancing terjadinya konflik ditengah masyarakat. 

Gejolak opini membludak juga di social media. Masyarakat muslim, para ulama, kiayi, ustadz sangat tersinggung atas ucapan tersebut. Mereka menuntut agar ahok diperiksa dan dihukum atas perkataanya. Dorongan tuntutan terus mengalir ditengah masyarakat. Namun sepertinya tuntutan ini tidak mendapatkan respon yang cepat dari pihak kepolisian. Timbulah aksi masa yang menuntut agar ahok diadili atas ucapanya tersebut. Aksi masa pertama kali dilakukan pada hari Jum’at 14 Oktober 2016 dengan diikuti sekitar ratusan ribu masa.


Bebebrapa waktu berlalu akan tetapi tak kunjung diperiksa juga Pa Ahok itu, masyarakat semakin geram dan merencanakan untuk melakukan aksi masa lanjutan.

AKSI MASA LANJUTAN, TIMBULNYA 411

Aksi lanjutan yang ke 2 dilaksanakan pada 4 November 2016 atau dikenal juga dengan aksi 411. Masa yang hadir di aksi ke 2 ini lebih banyak dari peserta aksi yang pertama. Diluar dugaan intelejen masa membeludak sampai ke jalan dengan satu suara dan tuntutan yang sama “Penjarakan Ahok”. Aksi yang dimulai setelah shalat jum’at di masjid Istiqlal tersebut berjalan lancar, aman dan tertib sampai sore hari. Namun sayang ketika matahari mulai tenggelam dan malam mulai menyelimuti timbul tindakan-tindakan provokasi dari sebagian peserta aksi masa yang menyebabkan ada sedikit bentrokan antara peserta aksi dan pihak keamanan. Tapi kejadian ini bisa direda sampai akhirnya suasana bisa kondusif kembali hingga sampai akhirnya masa membubarkan diri ketika dini hari.



Tuntutan masa di aksi 411 adalah sama halnya dengan tuntutan pada aksi yang pertama yaitu “Penjarakan Ahok” setelah aksi 411 ini selesai. Polri mulai memeriksa ahok atas dugaan penistaan Agama. Proses pemeriksaan ini menjadi sorotan media & netizen. Presiden menghimbau agar kasus ini dibuka secara transparan dan tidak ada intervensi dari pihak manapun .

MENJADI TERSANGKA TAPI TAK DITAHAN?

Setelah dilakukan pemeriksaan akhirnya ahok ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan Agama. Tapi  masyarakat masih kecewa, Karena walaupun ahok sudah resmi menjadi tersangka tapi belum dilakuka penahanan oleh pihak kepolisian.

RENCANA LANJUTAN AKSI BELA ISLAM JILID III

Luka umat muslim belum terobati, GNPF MUI menjadi organisasi terdepan yang mewakili masyarakat muslim untuk menuntut pemerintah agar segera mengadili Ahok berencana untuk kembali melakukan aksi selanjutnya dengan tuntutan yang sama dengan tuntutan pada aksi jilid 1 dan 2. 

HAMBATAN DARI KEPOLISIAN?

Awalnya beredar kabar bahwa aksi bela islam jilid III/3 ini akan dilaksanakan pada tanggal 25 November 2016, tapi ternyata waktunya berubah menjadi tanggal 2 Desember 2016 atau dikenal juga aksi 212. Sebelumnya terjadi sedikit gesekan antara pihak GNPF MUI dengan pihak kepolisian berkaitan dengan aksi ini, Karena pihak kepolisian seakan menghambat warga yang akan melakukan aksi bela islam jilid 3 ini. Bahkan tersevar kabar PO bus pun dilarang untuk mengangkut jama’ah dari luar kota yang akan datang ke Jakarta mengikuti aksi ini. Tapi yang luar biasa adalah hal tersebut tidak menghalangi dan menghambat keinginan masyarakat untuk datang ke Jakarta. Salah satu rombongan masa yang menjadi perbincangan adalah masa dari Ciamis Jawa Barat yang memutuskan untuk berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk mengikuti aksi bela islam jilid 3. Aksi berjalan kaki ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari masyarakat lainnya.

Menjelang hari H Aksi Bela Islam Jilid 3, diadakan pertemuan oleh panitia aksi dan pihak kepolisian membahas tentang segala sesuatu yang akan dilaksanakan pada 212 besok. Termasuk berkaitan dengan keamanan dan ketertiban agar aksi ini tetap berjalan damai tidak merakhir dengan hal-hal yang tidak diinginkan bersama. Dalam pertemuan tersebut pula disepakati bahwa pihak kepolisian tidak akan mempersulit masyarakat dari daerah untuk datang ke Jakarta mengikuti aksi ini Bela Islam Jilid 3

AKSI SUPER DAMAI BELA ISLAM JILID III - AKSI 212

Setelah kesepakatan yang dilakukan oleh panitia GNPF MUI dan Pihak kepolisian tentang aksi damai ke 3 yang dilakukan oleh masyarakat yang menuntut agar Gubernur Jakarta segera ditahan atas dugaan penistaan Agama, akhirnya diputuskan dan disepakati bahwa aksi tersebut dilangsungkan pada tanggal 2 Desember 2016 dan berpusat di Monas, konsep acara juga berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya. Pihak GNPF MUI dan Polri membuat acara yang bersifat keagamaan seperti Doa & zikir bersama yang diakhiri dengan shalat jum’at berjama’ah di lapangan Monas.

KEHADIRAN PRESIDEN JOKOWIDODO

Aksi berjalan dengan damai dan tertib tanpa ada kendala sama sekali, jumlah peserta aksi membeludak diluar dugaan panitia dan pihak keamanan, tapi Alhamdulillah, aksi berjalan dengan sangat kondusif dan berjalan sesuai dengan temanya “Aksi Super Damai”. Diakhir acara Presiden Joko Widodo menyempatkan hadir di tengah-tengah kerumunan masa, untuk menyampaikan apresiasinya kepada peserta aksi yang melangsungkan aksi ini dengan tertib dan damai, beliau juga mengucapkan selamat kembali ketempatnya masing-masing dan membubarkan diri dengan tertib.



Aksi Super Damai , Bela Islam Jilid 3 ini memberikan kesan tersendiri kepada masyarakat yang mengikutinya, haru bercampur syukur menjadi satu atas kecemburuan dan kecintaanya kepada kitab suci yang mendapatkan perlakuan kurang menyenankan dari seorang pejabat yang sedang menyampaikan perkataan yang menyakiti saat penyuluhan program-program pemerintah.

Bagi sebagian orang yang tidak mengikuti aksi ini, tidak menghalangi mereka untuk mendoakan keselamatan kepada para peserta aksi dan bangsa Indonesia, selain doa bantuan berupa logistik juga mengalir deras dari para dermawan kepada peserta aksi. Saya termasuk orang yang meyakini bahwa demo adalah bukan jalan terbaik untuk menasihati pemerintah, namun saya tetap menghargai dan mengapresiai kecintaan mereka terhadap Agama dan Kitab sucinya.

Semoga Allah berikan hikmah atas kejadian ini dan diberikan petunjuk jalan yang lurus bagi kita semua.

"PERANG" BELUM BERAKHIR, BUNG!

Aksi telah selesai, berjalan dengan tertib dan damai. Apakah “peperangan” di dunia maya juga telah selesai. Apakah aksi saling sindir dan “nyinyir” sudah berakhir?, apakah tindakan saling menjatuhkan dan  memojokan sudah rampung?. Ternyata tidak, masing-masing oknum masih mencari-cari cacat baik kepada yang pro maupun kepada yang kontra atas aksi ini. Bahkan berbagai opini dan komentar di dunia maya terlihat lebih sibuk ketimbang aksi yang berjalan. Memanfaatkan situasi untuk menyerang kelompok-kelompok tertentu juga bermunculan. Tapi itulah karekteristik sebagian Netizan yang begitu senang untuk saling menghujat, berkata bebas seperti tak ada yang mengawasi, saling menghina dan mengolok-olok seperti menjadi tabiat mereka. Kita sepakat bahwa tindakan yang dilakukan tersangka merupakan kesalahan yang harus diadili oleh pihak berwenang, masalah pro dan kontra tentang aksi turun kejalan/demo seharusnya masing-masing pihak bisa menahan diri dan menghargai atas keyakinannya masing-masing, mengolok-olok orang yang meyakini bahwa aksi turun kejalan/ demo adalah perbuatan yang keliru tidak akan merubah keyakinan mereka, Karena pastinya mereka juga punya alasan tertentu kenapa mereka tidak ikut turun kejalan. Sebaliknya “nyinyiran” dari sebagian kita kepada masyarakat yang melakukan aksi juga bukan merupakan perbuatan terpuji.

AKSI SUSULAN 412, TANDINGAN?

212 berakhir, ternyata ada aksi susulan yang dimotori oleh partai-partai politik pendukung pemerintah. Acara ini mengusung tema “Parade Budaya, Kita Indonesia” yang dilaksanakan padi tanggal 4 Desember 2016, namun disayangkan aksi parade budaya ini dinilai telah menyalahi aturan tentang pemanfaatan CFD, Karena para peserta banyak yang mengenakan atribut partai seperti kaos, bendera, umbul-umbul dan sebagainya.

BOIKOT SARI ROTI?

Bola panas masih mengalir di lapangan media sosial, sensitifitas kaum muslimin Indonesia sedang tinggi-tingginya, ibarat bensin yang apabila kita sulutkan api akan sangat cepat membesar dan menjalar. Siapapun dia, apapun jabatanya, ormaskah, stasiun TV kah, perusahan besarkah apabila mereka salah-salah berucap atau berpandangan tentang aksi pembelaan terhadap Al Qur’an maka siap-siap untuk ditolak dan diboikot masyarakat. 

Sebut saja salah satu stasiun televisi terbesar yang dinilai tidak obyektif dalam pemberitaan aksi Super Damai 212, tidak hanya diusir saat peliputan dilapangan bahkan hastag boikotnyapun menjadi trending topik di Twitter. Mereka menganggap stasiun televise ini sering tidak adil dan obyektif saat menyuguhkan pemberitaan tentang Islam ke masyarakat. Al hasil stasiun televise ini sudah tidak mendapatkan simpati kembali dihati masyarakat atau minimal memiliki citra kurang baik dimata mereka.

Selanjutnya boikot produk Roti familiar yang sudah dikenal disekitar kita, berawal dari sebuah pengumuman/klarifikasi dari sebuah perusahaan roti tentang pembagian produknya secara gratis yang sebelumnya sudah diborong oleh seseorang untuk dibagikan secara Cuma-Cuma kepada peserta aksi. Alih-alih ingin menjaga Nasionalisme, keutuhan NKRI dan Bhineka Tungga Ika selanjutnya menyatakan bahwa tindakan tersebut (menggratiskan produk) diluar kebijakan perusahaan malah menjadi boomerang bagi perusahaan mereka sendiri. 

Banyak yang berkomentar bahwa tindakan perusahaan terlalu berlebihan dan seolah-olah menyatakan bahwa aksi damai 2 Desember 2016 tidak menjaga Nasionalisme, keutuhan NKRI dan Bhineka Tungga Ika . Hal ini mendapatkan banyak kritikan netizen dan berbagai kalangan, salah satu yang terbaik adalah dari Rendy Saputra. Sebenarnya bukan sebuah kritikan, hasutan untuk memboikot atau apalah itu tapi apa yang ditulis oleh CEO Keke Busana ini merupakan masukan terbuka yang ditujkan kepada manajemen perusahaan tersebut. Inti dari tulisan insan professional bisnis (begitu beliau memperkenalkan diri) adalah perusahaan harus mengevaluasi hubungan dengan publik, menurutnya tindakan tersebut berlebihan dan tendensius kepada kaum muslimin yang melakukan aksi 212. Selain itu perusahaan seharusnya memperhatikan juga muslim sebagai segmen pasar yang harus diprioritaskan mengingat bahwa kaum musimin merupakan konsumen terbesar perusahaan ini. Selanjutnya beliau menambahkan perusahaan sebaikanya menghindari isu kontroversial untuk meningkatkan branding dan dipikirkan kembali ujung dari viralitas tersebut membawa ke Brand Hell atau Brand Heaven. Terakhir dari tulisan beliau adalah agar perusahaan meminta maaf kepada kaum muslimin dan mengapresiasi keputusan peserta (aksi) yang meborong produk tersebut.

Sudah sampai disitu saja inti dari tulisan yang berisi tentang masukan beliau kepada pihak perusahaan roti yang membuat pernyataan klarifikasi terkait produknya yang dibagikan secara gratis kepada peserta aksi 212 dan tidak ada ajakan untuk memboikot produk roti tersebut dari tulisan diatas, Karena kita perlu memperhatikan juga bahwa dibawah perusahaan tersebut banyak kebutuhan ekonomi orang banyak salah satunya pedagang yang kemarin rotinya diborong juga. Bila mata pencaharian mereka terputus Karena aksi-aksi boikot serampangan ini  sangat disayangkan mengingat produk mereka pun adalah produk yang halal dikonsumsi oleh kita semua.

Menjadi pelajaran bagi kita semua, kejadian-kejadian yang telah kita lihat dan saksikan bersama merupakan sebuah reaksi dari sikap-sikap sebagian orang/kelompok yang meremehkan kekuatan kaum muslimin Indonesia yang merupakan Negara dengan berdasarkan ketuhanan yang maha esa dan jumlah penduduk muslim terbesar didunia. Menjadi pelajaran bagi mereka juga yang memandang sebelah mata kepada Agama Islam yang telah dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum Indonesia Merdeka. Puncaknya adalah ketika pejabat negeri ini berani secara terang-terangan berbicara tentang kitab suci Al Qur’an yang tidak diimaninya.

bersambung . . .

"Singa Lapar Tak Pernah Takut Melihat Mangsa"
Kita marah ketika kitab suci kita dianggap bohong atau minimal dianggap sebagai alat untuk membohongi. Kesal beriring geram menggerutu dalam hati, ko seberani itu seorang pejabat publik berbicara tentang kitab suci agama lain.
Kami tidak sedang membahas kehebatannya memimpin Jakarta saat ini, karena banyak pemimpin-pemimpin yang lebih hebat dari pada dia namun Allah tetap tidak mencintainya, contoh nyata seperti Fir'aun ketika masanya. Bukan kehebatan itu yang menjadi tolak ukur seorang muslim menilai seseorang, yang menjadi ukuran adalah kadar keimanan karena sebaik apapun seseorang akan tetap sia-sia tanpa iman dihatinya, baik ya...hebat yaaa..tapi itu hanya di mata Manusia bukan di Mata Allah.
Karena kebaikan yang paling baik adalah ketika seseorang meyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah karena ia yang menciptakan manusia yang menciptakan alam semesta beserta isinya, yang memberikan Rizki kepada kita dsb. Dan keburukan yang paling buruk adalah ketika kita menyekutukan Allah, tidak percaya akan ke esaan Allah dan kesombongan hati yang berkata bahwa harta yang kita miliki didapat atas kepintaran dan kepandaian kita semata. Kebaikan sebessar apapun akan sia-sia bila kita kufur kepada sang pencipta.
Oke baik kita tidak memaksa seseorang untuk pindah dari satu agama ke agama lainnya. Karena dalam Islam itu tak ada paksaan untuk menerima kebenaran Islam karena kewajiban seorang muslim hanya menyampaikan bukan memaksakan. Dan seorang muslim juga tidak serampangan untuk menyerang orang non muslim karena dalam Islam sendiri ada aturan dalam bermuamalah dengan orang non muslim.
Islam hanya menyerang kafir yang menyerang kaum muslimin, adapun kafir yang masih dalam perjanjian perdamaian maka kita tetap bisa berhubungan baik dengan mereka. Karena Rasulullah sendiripun mencontohkan bahwa brliau berinteraksi dan bermuamalah dengan orang-orang non muslim baik dalam berjualan, gadai menggadai dsb.


Inilah keindahan dan kehebatan Islam, kami akan tetap baik jika tak terusik. Bahkan ketika diusikpun kita diajarkan untuk tetap sabar, tapi ketika genderang perang ditabuh kami akan seperti singa lapar yang melihat musuh seperti mangsa. Adakah rasa takut ketika singa berhadapan dengan mangsa?


Diantara bantahan yang paling saya suka adalah bagian bantahan tentang hadits sebaik-baik manusia adalah pada kurun waktuku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya (cuma 3 generasi).

Ketika saya lihat video Nusron Wahid membawakan hadits ini kenapa menyebutkan "tsuma ladzi yalu nahum" nya lebih dari 3 kali bahkan diakhir dia menyebutkan sampai seterusnya. Saya mendengarnya sangat rancu sekali.

Baca Juga : Video ust Yusuf Mansur Menangis Tersedu atas Kelakuan Nusron Wahid

Alhamdulillah Ust. Al Amiry membuat bantahan atas argumen ini, Barakallahufiik.
Semoga kita terhindar dari api neraka jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah Al masih ad dajjal.

Berikut kutipan bantahannya :
Ini adalah makna derajat kebaikan. Saya ingin bertanya, sejarah membuktikan pada zaman bani Abbasiyyah (khalifah Abbasiyah ke 16), sultan Khalifah Al-Mu’tadhid billah pernah mengangkat seorang gubernur. Namanya Umar bin Yusuf, seorang kristen ta’at. Menjadi gubernur di Al-Anbar Iraq. Apakah di waktu itu tidak ada surat Al-Maidah 51? Apakah ulama-ulama pada masa itu kalah shalih dan kalah alim dengan ulama-ulama hari ini?
(Selesai)
Bantahan:
1- Nusron Wahid menyebutkan sebuah hadits untuk membenarkan apa yang dia inginkan. Akan tetapi di sini saya ingin mengkritik apa yang dia bawa. Pertama teks haditsnya tidak seperti itu. Teks yang benar adalah:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
“Sebaik-baik zaman manusia adalah zamanku. Kemudian setelahnya dan kemudian setelahnya. Kemudian akan datang setelahnya kaum-kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya” (HR. Bukhari Muslim)
Jadi yang disebutkan dalam hadits, hanyalah 3 zaman. Setelah lewatnya ketiga zaman tersebut, maka akan ada zaman yang buruk dan penuh dengan kedustaan. Dan 3 zaman yang dimaksud oleh Rasulullah adalah zaman Rasulullah sendiri  bersama para sahabatnya, kemudian zaman tabiin dan kemudian zaman tabiut tabiin. Hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah ta’ala:
وَالصَّحِيحُ أَنَّ قَرْنَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّحَابَةُ وَالثَّانِي التَّابِعُونَ وَالثَّالِثُ تَابِعُوهُمْ
“Dan yang benar bahwa zaman nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah zaman para sahabat. Dan yang kedua adalah zaman Tabi’in dan yang ketiga adalah Zaman Tabiut tabiin” (Syarh Shahih Muslim 16/85)
Jadi hadits ini adalah hadits yang mentazkiah dan merekomendasikan zaman yang terbaik kondisi agamanya. Jadi jangan merenovasi dengan menambahkan kata “tsummalladziina yaluunahum (kemudian setelahnya)” dengan sangat banyak untuk memasukkan zaman yang banyak kerusakan ke dalam 3 zaman yang direkomendasikan atau ditazkiah oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
2- Hadits ini adalah tazkiyah zaman secara umum bukan tazkiyah untuk afrad (personal) terlebih sampai menganggap maksum seseorang dengan hadits ini. Bukan itu. Betapa banyak dari kalangan sahabat yang melakukan kesalahan karena mereka tidak maksum, maka bagaimana zaman setelah mereka? Maka mereka lebih tidak maksum dan sangat mungkin berbuat salah. Ya masuk di antaranya adalah Al-Mu’tadhid Billah. Jadi ini hanyalah tazkiyah zaman secara umum bukan membenarkan perbuatan setiap person yang masuk ke dalamnya. Terlebih zaman Al-Mu’tadhid billah yang tidak masuk ke dalam zaman yang ditazkiyah oleh Rasulullah.
3- Anggaplah memang benar bahwa Al-Mu’tadhid billah mengangkat seorang nashrani menjadi gubernur, maka perbuatan ini sama sekali tidak ada pengaruhnya karena perbuatan ini menyelisihi ijma’ ulama yang menyatakan haramnya memilih seorang kafir menjadi pemimpin.
Imam An-Nawawi menukil perkataan Al-Qadhi Iyadh:
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْإِمَامَةَ لَا تَنْعَقِدُ لِكَافِرٍ وَعَلَى أَنَّهُ لَوْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْكُفْرُ انْعَزَلَ
“Para ulama telah berijma bahwasanya kepemimpinan tidak akan sah terjadi untuk orang yang kafir. Dan seandainya timbul dari dirinya kekufuran, maka dia harus dilengserkan” (Syarh Shahih Muslim 12/229)
Ini imam An-Nawawi yang menukilnya dari Al-Qadhi Iyaadh rahimahumallah.
Bukan hanya itu, Ibnu Hazm rahimahullah juga mengatakan:
وَاتَّفَقُوا أَن الامامة لَا تجوز لامْرَأَة وَلَا لكَافِر وَلَا لصبي لم يبلغ وانه لَا يجوز ان يعْقد لمَجْنُون
“Dan para ulama telah bersepakat bahwasanya kepemimpinan tidak boleh untuk wanita, orang kafir, dan anak kecil yang belum baligh dan bahwasanya kepemimpinan tidak boleh pula untuk orang yang gila” (Maraatib Al-Ijmaa’ 1/126)
Maka bagaimana pun perbuatan seseorang, jika dia menyelisihi ijma’ maka perbuatan itu sama sekali tidak ada harganya dan tidak berpengaruh, bahkan tidak boleh diamalkan.
4- Ketika Nusron Wahid membawakan hadits ini, justru dia telah menembak dirinya sendiri. Mengapa? Karena jelas-jelas Umar radhiyallahu anhu hidup di zaman pertama (yang mana Rasulullah telah mentazkiah zaman tersebut). Umar telah melarang ummat islam untuk mengangkat orang kafir menjadi pemimpin.
Sedangkan Umar telah ditazkiah zamannya oleh Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam. Lantas bagaimana dengan zamannya Al-Mu’tadhid billah? Mana yang lebih baik? Zamannya Umar atau Al-Mu’tadidh? Maka itu sama saja dengan senjata makan tuan. Menggunakan dalil namun menghancurkan argumentasi sendiri.

alamiry.net

Beberapa waktu lalu dalam sebuah acara diskusi yang diadakan di salah satu stasiun Televisi Nasional, Nusron Wahid memberikan pernyataan dan pembelaan terhadap apa yang dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alis Ahok yang menyinggung tentang QS Al Maidah ayat 51, dalam video tersebut terdapat kata-kata yang menyakiti umat Islam yaitu ucapan "Dibohongi oleh Al Maidah 51...". Hal ini mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan khususnya para Tokoh Umat Islam termasuk Majlis Ulama Indonesia (MUI). Atas pernyataannya yang kurang pantas tersebut MUI melayangkan surat teguran kepada Ahok berkaitan dengan kata-kata yang ia ucapkan tersebut, lihat di Surat Teguran MUI untuk Ahok.

Dalam kesempatan tersebut Nusron Wahid memberikan argumen pembelaan atas apa yang dilakukakn oleh Ahok, Nusron membawakan beberapa argumen dalil dari Al Qur'an, Hadits dan dari kejadian diangkatnya salah satu gubernur oleh khalifah Islam, namun menurut Ust Al Amiry dalil yang disampaikan oleh Nusron Wahid itu tidak relevan dengan kasus ini bahkan ada hadits yang salah menurutnya baca bantahannya disini Bantahan Ust Al Amiry untuk Nusron Wahid.

Salah satu tokoh umat Islam Indonesia juga geram dengan pembelaan membabi buta yang dilakukan oleh Nusron Wahid kepada Ahok, yaitu ust Yusuf Mansur, bahkan dalam video beliau menangis tersedu-sedu dan mewanti-wanti para pemuda dan remaja Indonesai tidak meniru perbuatan tersebut. 

Berikut videonya 




Berikut adalah Surat Teguran Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta untuk Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok berkaitan dengan ucapan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu yang menyinggung tentang QS Surat Al Maidah ayat ke 51.

Hal ini mengundang banyak perhatian dan kemarahan  masyarakat Muslim terutama yang tinggal di DKI Jakarta, banyak yang mengatakan dan menilai bahwa perkataan itu tidak pantas dikatakan oleh seorang Gubernur apalagi dia bukanlah seorang muslim.

Karena urusan tafsir menafsir dan penjelasan tentang Al Qur'an sudah ada ahlinya sendiri dari kalangan ulama umat Islam.

Beberapa tokoh umat Islam seperti ustadz, kiayi dan habaib banyak yang memprotes tentang perkataan Ahok ini, diantara mereka ada yang menyampaikan lewat lisan/ucapan ada juga diantara ustadz yang menulis sebagai bentuk protes atas tindakan yang kurang pantas ini, bahkan ada juga yang sampai melaporkan perkara ini ke kantor Polisi.

Baca Juga : 

Tafsir Ibnu Katsir QS Al Maidah 51


MUI sebagai lembaga resmi ulama Indonesia tidak tinggal diam, MUI melayangkan surat teguran secara resmi kepada Ahok sebagai Gubernur Jakarta dan juga yang  bakal mencalonkan kembali dirinya sebagai Calon Gubernur pada tahun 2017 nanti.

Tafsir ibnu katsir ayat tersebut dikisahkan menganggkat kafir jadi sekertaris aja gak boleh apalagi gubernur
Allah Swt. melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin mengangkat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali mereka, karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan para penganutnya; semoga Allah melaknat mereka. Kemudian Allah memberitahukan bahwa sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.

Selanjutnya Allah mengancam orang mukmin yang melakukan hal itu melalui firman-Nya:
وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat.


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Syihab, telah menceritakan kepada kami Muhammad (Yakni Ibnu Sa'id ibnu Sabiq), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Qais, dari Sammak ibnu Harb, dari Iyad, bahwa Umar pernah memerintahkan Abu Musa Al Asyari untuk melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan yang diberikannya (yakni pemasukan dan pengeluarannya) dalam suatu catatan lengkap. Dan tersebutlah bahwa yang menjadi sekretaris Abu Musa saat itu adalah seorang Nasrani. Kemudian hal tersebut dilaporkan kepada Khalifah Umar r.a. Maka Khalifah Umar merasa heran akan hal tersebut, lalu ia berkata, "Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah kamu dapat membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid yang datang dari negeri Syam?" Abu Musa Al-Asy'ari menjawab, "Dia tidak dapat melakukannya." Khalifah Umar bertanya, "Apakah dia sedang mempunyai jinabah?" Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Tidak, tetapi dia adalah seorang Nasrani." Maka Khalifah Umar membentakku dan memukul pahaku, lalu berkata, "Pecatlah dia." Selanjutnya Khalifah Umar membacakan firman Allah Swt.: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah mencerita­kan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Atabah pernah berkata, "Hendaklah seseorang di antara kalian memelihara dirinya, jangan sampai menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani, sedangkan dia tidak menyadarinya." Menurut Muhammad ibnu Sirin, yang dimaksud olehnya menurut dugaan kami adalah firman Allah Swt. yang mengatakan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah : 51), hingga akhir ayat.


Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Asim, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah ditanya mengenai sembelihan orang-orang Nasrani Arab. Maka ia menjawab, "Boleh dimakan."  Allah Swt. hanya berfirman: Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abuz Zanad.


Sumber : http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-al-maidah-ayat-51-53_5.html?m=1

Ngawi Cyber

Diberdayakan oleh Blogger.