Tampilkan postingan dengan label fokus. Tampilkan semua postingan


Berbagai pandangan dan pernyataan mulai bermunculan setelah berita agenda Raja Salman dan Staf berlibur di Bali diekspos oleh media. Sehingga banyak pihak mulai bekomentar dengan berbagai nada nyinyir, antara lain:
"Lho kok Raja Wahabi malah liburan ke Bali bukannya ke Banda Aceh atau Lombok?"
"Wahabi kurang piknik, ingin merasakan surga dunia di Bali..."
"Ternyata Raja Salman sangat MODERAT, tidak seperti Wahabi Indonesia"
Dan banyak lagi...


Catatan saya mengenai agenda liburan Raja Salman dan Staf ada beberapa poin, yaitu:
1. Apa yang salah dengan berlibur? semua orang berhak meluangkan waktu untuk refreshing. Berlibur adalah kebutuhan semua manusia, bukan aib dan bukan perkara yang diharamkan Agama selagi dalam koridor syari'at.
2. Lalu mengapa di Bali? jawabannya: mengapa tidak? Bali juga memiliki tempat-tempat yang baik dan halal. Jika anda generalkan Bali seluruhnya buruk, bagaimana dengan New York, Paris, Berlin, Seoul dan Tokyo? Bukankah lebih tidak layak dikunjungi, karena tentu disana lebih banyak maksiat dan hal-hal yang haram?
Come on, kita harus dewasa melihat dan menilai, jangan memakai kaca mata kuda yang hanya melihat dari satu arah!

3. Seharusnya isu utama yang kita bahas adalah dana investasi Arab Saudi sebesar 25 miliar US Dollar atau setara 334 triliun Rupiah yang akan Raja Salman investasikan di Indonesia. Dana sebesar itu bahkan mengalahkan total investasi RRC yang sangat didewakan oleh Pemerintah kita saat ini. Kedatangan Raja Salman dengan dana investasi super besar dan memborong 1500 staf bersamanya adalah pesan kuat bahwa Arab Saudi adalah alternatif bijak untuk masa depan ekonomi Indonesia.
4. Dampak kunjungan Raja Salman dan 1500 stafnya akan sangat besar. Yang paling signifikan adalah dampak ekonomi, dimana perhotelan dan restoran tentu akan kebanjiran order dan rejeki. Ditambah dengan rencana berlibur di Bali, bisa dibayangkan bagaimana dampak ekonomi yang akan dirasakan langsung oleh pelaku usaha di Bali. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kunjungan tersebut juga dimaksudkan untuk survei investasi. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah kanal berita nasional, bahwa motif utama Raja Salman berkunjung ke Bali karena banyak mendapatkan informasi tentang banyaknya pengantin baru Saudi berbulan madu di Bali. Mungkin saja nantinya Arab Saudi akan berinvestasi paket wisata halal di Bali dengan Hotel dan pelayanan syar'i yang super mewah. Sehingga bisa mewarnai Bali menjadi lebih baik.
5. Masih ingat kehebohan media internasional saat Raja Salman dan rombongannya berlibur di Paris? Pantai La Mirandole yang merupakan lokasi elit ditutup total untuk akses publik saat Raja Salman dan rombongannya menghabiskan waktu disana. Perancis yang menerapkan UU larangan cadar bagi wanita di muka umum tertunduk tak berdaya saat Raja Salman memboyong ratusan keluarga dekatnya bersantai di pantai elit kebanggaan rakyat Perancis tersebut. Para wanita yang datang dalam rombongan Raja Salman tentu berpakaian serba hitam dan bercadar. Setelah peristiwa itu, Pemerintah Perancis menuai kritik pedas oleh rakyatnya sendiri, kerena terkesan bersikap hina dan rendah di hadapan Raja Saudi.
Lalu, kunjungan Raja Salman dan 1500 stafnya ke Bali bermakna apa? Bayangkan 1500 wisatawan muslim dari kalangan royal bangsawan dengan nilai kekayaan super datang ke Bali, para pria memakai jubah putih dan wanita berhijab tertutup dan serba hitam. Bukankah ini adalah "Psy-War", perang budaya dan perang urat saraf? Bali yang selama ini dibanggakan dengan berbagai corak hedonisnya, akan menerima tamu penting yang membawa identitas kuat "KEARABAN" dan "KEISLAMAN". Dua hal yang sekarang ini manjadi objek dan bahan olok-olok kalangan Nasrani dan mereka yang mengaku sekuler dan liberal di Indonesia.
6. Jadi mari bersikap positif dan bijak.

Ini 3 Alasan Raja Salman Berkunjung ke Bali bukan ke Lombok (Destinasi Halal)

Mataram – Dipilihnya Nusa Dua, Bali sebagai lokasi berlibur rombongan Raja Arab Saudi selama kunjungan ke Indonesia tentu menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa Lombok yang menyabet predikat destinasi wisata halal tidak dipilih?
Berikut tiga alasan yang diberikan Kementerian Luar Negeri yang disampaikan melalui Kepala Dinas Pariwisata NTB, H. Lalu Muhammad Faozal. Menurutnya penentuan daerah yang dikunjungi raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud ini tidak ada kaitannya dengan predikat wisata halal tersebut.

raja salman ke bali


Alasan pertama, dari sisi keamanan yang harus sesuai standar sang raja. Keamanan yang dimaksud bukanlah keamanan global, keamanan dari kejahatan dan lain-lain. Melainkan keamanan lokasi yang telah disurvei langsung oleh tim dari rombongan.

“Dari sisi standardisasi sekuritas, Raja Arab Saudi ini memang membutuhkan sebuah lokasi yang secara sekuriti sudah disurvei oleh timnya. Dan akhirnya diputuskan bermalam di Nusa Dua Bali. Cuma di Bali saja yang standardisasinya sudah begitu,” jelasnya pada awak media, Kamis, 23 Februari 2017.

Alasan selanjutnya adalah fasilitas hotel yang ada di NTB belum memenuhi standar yang diinginkan rombongan ini. “Standar mereka itu hotel bintang lima plus. Memang kita punya hotel bintang lima plus?” tanya Faozal.

Lombok baru akan memiliki hotel bintang lima plus tersebut hanya setelah kawasan Mandalika rampung. Karena hotel-hotel yang akan dibangun di sana memang hotel berkelas dunia.

Jika melihat dari segi makanan, mungkin ada muncul pandangan Lombok ‘halal’ sementara Bali ‘tidak halal’, ini diakui Faozal tidak jadi soal. Sebab, Raja Salman akan menyantap hidangan dari koki kerajaan yang juga turut dalam rombongan ini. “Jadi tidak usahlah kita hubung-hubungkan masalah halal dan tidak halal begitu,” tegasnya.

Dan alasan terakhir adalah kapasitas Lombok International Airport (LIA) yang belum memenuhi standar. “Standar kebutuhan untuk landing, take-off dari seluruh rombongan raja ini, bandara kita memang belum sesuai dengan standar mereka. Beliau kan katanya menggunakan pesawat seperti Boeing 777, itu tidak memungkinkan di BIL,” katanya.

“Jadi sekali lagi ini tidak berhubungan dengan destinasi halal. Pihak kementerian juga sudah menyatakan demikian,” lanjutnya. Justru menurut Faozal, kondisi ini seharusnya dijadikan motivasi untuk semakin memperbaiki fasilitas pariwisata NTB.

“Ini harus jadi penyemangat buat Lombok, supaya dia jadi destinasi yang sama dengan Bali, infrastruktur dan keamanannya. Jangan ditanggapi buruk kenapa enggak ke NTB, justru ini bagus dia sudah masuk ke Indonesia. Biasanya beliau itu ke Maldives,” pungkasnya.

Meski tujuan utamanya Bali, Faozal menyebut beberapa orang dari rombongan Raja Salman akan berkunjung ke Lombok. Dimana salah satu agendanya yaitu meninjau kawasan Mandalika. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bisnis antara ITDC dengan pihak delegasi.

“Awalnya proposal dari pihak kerajaan itu tidak terjadwal buat ke Lombok. Tapi karena kita dorong Lombok sebagai destinasi halal, maka Kemenlu meminta untuk ada penjadwalan dan sudah disetujui untuk itu,” ucapnya. (ros)

(sumber : suarantb.com)

Raja Salman (Arab Saudi) ke Indonesia Atas Undangan Presiden Joko Widodo

Alhamdulillah beberapa waktu kedepan Bangsa Indonesia akan mendapatkan kunjungan-kunjungan tamu terhormat, yang pertama adalah kunjungan dari Ulama Islam asal Saudi Arabia yaitu Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abd Al Badr (Dosen Universitas Islam Madinah) yang akan menyampaikan penganjian di Masjid Istiqlal bulan februari 2017 besok (Baca selengkapnya disini). Yang kedua adalah kunjungan dari rombongan Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi.

Dalam surat resmi yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Saudi Arabia dituliskan bahwa kunjungan dari pelayan 2 tanah suci ini atas undangan dari presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo dan merupakan kunjungan balasan atas kunjungan presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo pada tahun 2015 lalu.

Semoga hubungan keduan Negara ini semakin baik dalam melakukan kerjasama di berbagai bidang baik ekonomi, sosial, budaya maupun politik.

Tidak tanggung-tanggung Raja Salman memboyong 1.500 orang yang berisi staf kerajaan dsb.



Artis sekaligus bintang  film menuliskan tweet yang membuat beberapa netizen membaca keheranan. Pasalnya ia menyinggung gaya masyarakat Indonesia yang ia anggap seperti ke Arab-araban. Padahal kita tahu bersama bahwa bangsa Indonesia adalah negara yang penduduk muslim terbesar di dunia dan sudah berabad-abad lalu rakyat Indonesia sudah menerima ajaran Islam sebagai kebenaran dan keyakinannya.



Wajar saja bila masyarakat Indonesia pada saat ini berpakaian dan bergaya Islami, dan gaya Islami ini sendiri ditafsirkan oleh ia dengan gaya ke Arab-araban. Jadi yang dilakukan dan dipakai oleh umat Islam Indonesia adalah semata-mata Karena bagian dari ajaran Agama Islamnya bukan Karena budaya Arabnya. Coba tanyakan langsung kepada muslimah yang mengenakan jilbab misalnya “Apakah anda memakai jilbab karena mengikuti budaya Arab?” pasti mereka menjawab “Tidak” Karena jilbab adalah bagian dari ajaran Islam kepada para wanita untuk menutu auratnya.

Kemudian bila kita lihat trending berpakaian dan bergaya masyarakat Indonesia saat ini terutama di Kota-kota besar Indonesia apakah keArab-Araban? kenyataanya tidak, malah kebarat-baratan. Mereka bangga dan sangat senang menggunakan pakaian dan gaya yang bernuansa barat, lalu adakah yang berkata atau menulis untuk mereka pindah ke Barat Karena mengikuti trend saat ini, setau saya belum ada yang melakukannya sampai saat ini.

Apakah kita lupa juga para politikus, calon presiden, calon gubernur, calon bupati, calon legislatif ketika masa kampanye tiba, mereka mendatangi tokoh-tokoh yang disebut keArab-Araban itu dan calon-calon tersebut juga memakai pakaian dan bergaya keArab-Araban apakah ini juga bagian dari keArab-Araban yang dimaksud?


يا سلمان ! لا تبغضني ، فتفارق دينك ، قلت : كيف أبغضك و بك هداني الله ؟ قال
: تبغض العرب فتبغضني "


Rasulullah ﷺ berkata kepada Salman Al Farisi (orang Non Arab: Persia):

"Hai Salman janganlah kamu membenciku lalu kamu pun meninggalkan agamamu."
Salman berkata:
"Bagaimana mungkin saya membenci anda sedangkan melalui andalah saya mendapatkan hidayah?"

Rasulullah ﷺ menjawab:
"Kamu membenci Arab lantas kamu pun membenciku."

(At Tirmidzi)

Maka berhati-hatilah jangan sampai kebencian kita kepada Arab malah membuat kita tidak suka juga kepada Islam. Waliyadzubillah.


AWAL MULA

Awal bulan diakhir tahun in, kita masih disibukan dengan isu tentang kasus penistaan Agama oleh tersangka Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Berawal dari video yang diambil oleh Buni Yani yang didapatkan dari video yang diunggah oleh pemprov DKI berkaitan tentang penyuluhan program pemerintah di kepulauan seribu. Video ini menjadi viral tersebar diberbagai social media. Bukan program yang disampaikan kepada masyarakat yang menjadi permasalahan, tapi potongan kalimat “…Dibohongi pakai surat Almaidah 51….” Yang menjadi sorotan berbagai kalangan. 

Sontak hal ini membuat heboh masyarakat, banyak umat muslim yang merasa tersinggung atas ucapan gubernur Jakarta tersebut. Karena dinilai ucapannya ini sangat tendensius, yang rawan dan memancing terjadinya konflik ditengah masyarakat. 

Gejolak opini membludak juga di social media. Masyarakat muslim, para ulama, kiayi, ustadz sangat tersinggung atas ucapan tersebut. Mereka menuntut agar ahok diperiksa dan dihukum atas perkataanya. Dorongan tuntutan terus mengalir ditengah masyarakat. Namun sepertinya tuntutan ini tidak mendapatkan respon yang cepat dari pihak kepolisian. Timbulah aksi masa yang menuntut agar ahok diadili atas ucapanya tersebut. Aksi masa pertama kali dilakukan pada hari Jum’at 14 Oktober 2016 dengan diikuti sekitar ratusan ribu masa.


Bebebrapa waktu berlalu akan tetapi tak kunjung diperiksa juga Pa Ahok itu, masyarakat semakin geram dan merencanakan untuk melakukan aksi masa lanjutan.

AKSI MASA LANJUTAN, TIMBULNYA 411

Aksi lanjutan yang ke 2 dilaksanakan pada 4 November 2016 atau dikenal juga dengan aksi 411. Masa yang hadir di aksi ke 2 ini lebih banyak dari peserta aksi yang pertama. Diluar dugaan intelejen masa membeludak sampai ke jalan dengan satu suara dan tuntutan yang sama “Penjarakan Ahok”. Aksi yang dimulai setelah shalat jum’at di masjid Istiqlal tersebut berjalan lancar, aman dan tertib sampai sore hari. Namun sayang ketika matahari mulai tenggelam dan malam mulai menyelimuti timbul tindakan-tindakan provokasi dari sebagian peserta aksi masa yang menyebabkan ada sedikit bentrokan antara peserta aksi dan pihak keamanan. Tapi kejadian ini bisa direda sampai akhirnya suasana bisa kondusif kembali hingga sampai akhirnya masa membubarkan diri ketika dini hari.



Tuntutan masa di aksi 411 adalah sama halnya dengan tuntutan pada aksi yang pertama yaitu “Penjarakan Ahok” setelah aksi 411 ini selesai. Polri mulai memeriksa ahok atas dugaan penistaan Agama. Proses pemeriksaan ini menjadi sorotan media & netizen. Presiden menghimbau agar kasus ini dibuka secara transparan dan tidak ada intervensi dari pihak manapun .

MENJADI TERSANGKA TAPI TAK DITAHAN?

Setelah dilakukan pemeriksaan akhirnya ahok ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan Agama. Tapi  masyarakat masih kecewa, Karena walaupun ahok sudah resmi menjadi tersangka tapi belum dilakuka penahanan oleh pihak kepolisian.

RENCANA LANJUTAN AKSI BELA ISLAM JILID III

Luka umat muslim belum terobati, GNPF MUI menjadi organisasi terdepan yang mewakili masyarakat muslim untuk menuntut pemerintah agar segera mengadili Ahok berencana untuk kembali melakukan aksi selanjutnya dengan tuntutan yang sama dengan tuntutan pada aksi jilid 1 dan 2. 

HAMBATAN DARI KEPOLISIAN?

Awalnya beredar kabar bahwa aksi bela islam jilid III/3 ini akan dilaksanakan pada tanggal 25 November 2016, tapi ternyata waktunya berubah menjadi tanggal 2 Desember 2016 atau dikenal juga aksi 212. Sebelumnya terjadi sedikit gesekan antara pihak GNPF MUI dengan pihak kepolisian berkaitan dengan aksi ini, Karena pihak kepolisian seakan menghambat warga yang akan melakukan aksi bela islam jilid 3 ini. Bahkan tersevar kabar PO bus pun dilarang untuk mengangkut jama’ah dari luar kota yang akan datang ke Jakarta mengikuti aksi ini. Tapi yang luar biasa adalah hal tersebut tidak menghalangi dan menghambat keinginan masyarakat untuk datang ke Jakarta. Salah satu rombongan masa yang menjadi perbincangan adalah masa dari Ciamis Jawa Barat yang memutuskan untuk berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk mengikuti aksi bela islam jilid 3. Aksi berjalan kaki ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari masyarakat lainnya.

Menjelang hari H Aksi Bela Islam Jilid 3, diadakan pertemuan oleh panitia aksi dan pihak kepolisian membahas tentang segala sesuatu yang akan dilaksanakan pada 212 besok. Termasuk berkaitan dengan keamanan dan ketertiban agar aksi ini tetap berjalan damai tidak merakhir dengan hal-hal yang tidak diinginkan bersama. Dalam pertemuan tersebut pula disepakati bahwa pihak kepolisian tidak akan mempersulit masyarakat dari daerah untuk datang ke Jakarta mengikuti aksi ini Bela Islam Jilid 3

AKSI SUPER DAMAI BELA ISLAM JILID III - AKSI 212

Setelah kesepakatan yang dilakukan oleh panitia GNPF MUI dan Pihak kepolisian tentang aksi damai ke 3 yang dilakukan oleh masyarakat yang menuntut agar Gubernur Jakarta segera ditahan atas dugaan penistaan Agama, akhirnya diputuskan dan disepakati bahwa aksi tersebut dilangsungkan pada tanggal 2 Desember 2016 dan berpusat di Monas, konsep acara juga berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya. Pihak GNPF MUI dan Polri membuat acara yang bersifat keagamaan seperti Doa & zikir bersama yang diakhiri dengan shalat jum’at berjama’ah di lapangan Monas.

KEHADIRAN PRESIDEN JOKOWIDODO

Aksi berjalan dengan damai dan tertib tanpa ada kendala sama sekali, jumlah peserta aksi membeludak diluar dugaan panitia dan pihak keamanan, tapi Alhamdulillah, aksi berjalan dengan sangat kondusif dan berjalan sesuai dengan temanya “Aksi Super Damai”. Diakhir acara Presiden Joko Widodo menyempatkan hadir di tengah-tengah kerumunan masa, untuk menyampaikan apresiasinya kepada peserta aksi yang melangsungkan aksi ini dengan tertib dan damai, beliau juga mengucapkan selamat kembali ketempatnya masing-masing dan membubarkan diri dengan tertib.



Aksi Super Damai , Bela Islam Jilid 3 ini memberikan kesan tersendiri kepada masyarakat yang mengikutinya, haru bercampur syukur menjadi satu atas kecemburuan dan kecintaanya kepada kitab suci yang mendapatkan perlakuan kurang menyenankan dari seorang pejabat yang sedang menyampaikan perkataan yang menyakiti saat penyuluhan program-program pemerintah.

Bagi sebagian orang yang tidak mengikuti aksi ini, tidak menghalangi mereka untuk mendoakan keselamatan kepada para peserta aksi dan bangsa Indonesia, selain doa bantuan berupa logistik juga mengalir deras dari para dermawan kepada peserta aksi. Saya termasuk orang yang meyakini bahwa demo adalah bukan jalan terbaik untuk menasihati pemerintah, namun saya tetap menghargai dan mengapresiai kecintaan mereka terhadap Agama dan Kitab sucinya.

Semoga Allah berikan hikmah atas kejadian ini dan diberikan petunjuk jalan yang lurus bagi kita semua.

"PERANG" BELUM BERAKHIR, BUNG!

Aksi telah selesai, berjalan dengan tertib dan damai. Apakah “peperangan” di dunia maya juga telah selesai. Apakah aksi saling sindir dan “nyinyir” sudah berakhir?, apakah tindakan saling menjatuhkan dan  memojokan sudah rampung?. Ternyata tidak, masing-masing oknum masih mencari-cari cacat baik kepada yang pro maupun kepada yang kontra atas aksi ini. Bahkan berbagai opini dan komentar di dunia maya terlihat lebih sibuk ketimbang aksi yang berjalan. Memanfaatkan situasi untuk menyerang kelompok-kelompok tertentu juga bermunculan. Tapi itulah karekteristik sebagian Netizan yang begitu senang untuk saling menghujat, berkata bebas seperti tak ada yang mengawasi, saling menghina dan mengolok-olok seperti menjadi tabiat mereka. Kita sepakat bahwa tindakan yang dilakukan tersangka merupakan kesalahan yang harus diadili oleh pihak berwenang, masalah pro dan kontra tentang aksi turun kejalan/demo seharusnya masing-masing pihak bisa menahan diri dan menghargai atas keyakinannya masing-masing, mengolok-olok orang yang meyakini bahwa aksi turun kejalan/ demo adalah perbuatan yang keliru tidak akan merubah keyakinan mereka, Karena pastinya mereka juga punya alasan tertentu kenapa mereka tidak ikut turun kejalan. Sebaliknya “nyinyiran” dari sebagian kita kepada masyarakat yang melakukan aksi juga bukan merupakan perbuatan terpuji.

AKSI SUSULAN 412, TANDINGAN?

212 berakhir, ternyata ada aksi susulan yang dimotori oleh partai-partai politik pendukung pemerintah. Acara ini mengusung tema “Parade Budaya, Kita Indonesia” yang dilaksanakan padi tanggal 4 Desember 2016, namun disayangkan aksi parade budaya ini dinilai telah menyalahi aturan tentang pemanfaatan CFD, Karena para peserta banyak yang mengenakan atribut partai seperti kaos, bendera, umbul-umbul dan sebagainya.

BOIKOT SARI ROTI?

Bola panas masih mengalir di lapangan media sosial, sensitifitas kaum muslimin Indonesia sedang tinggi-tingginya, ibarat bensin yang apabila kita sulutkan api akan sangat cepat membesar dan menjalar. Siapapun dia, apapun jabatanya, ormaskah, stasiun TV kah, perusahan besarkah apabila mereka salah-salah berucap atau berpandangan tentang aksi pembelaan terhadap Al Qur’an maka siap-siap untuk ditolak dan diboikot masyarakat. 

Sebut saja salah satu stasiun televisi terbesar yang dinilai tidak obyektif dalam pemberitaan aksi Super Damai 212, tidak hanya diusir saat peliputan dilapangan bahkan hastag boikotnyapun menjadi trending topik di Twitter. Mereka menganggap stasiun televise ini sering tidak adil dan obyektif saat menyuguhkan pemberitaan tentang Islam ke masyarakat. Al hasil stasiun televise ini sudah tidak mendapatkan simpati kembali dihati masyarakat atau minimal memiliki citra kurang baik dimata mereka.

Selanjutnya boikot produk Roti familiar yang sudah dikenal disekitar kita, berawal dari sebuah pengumuman/klarifikasi dari sebuah perusahaan roti tentang pembagian produknya secara gratis yang sebelumnya sudah diborong oleh seseorang untuk dibagikan secara Cuma-Cuma kepada peserta aksi. Alih-alih ingin menjaga Nasionalisme, keutuhan NKRI dan Bhineka Tungga Ika selanjutnya menyatakan bahwa tindakan tersebut (menggratiskan produk) diluar kebijakan perusahaan malah menjadi boomerang bagi perusahaan mereka sendiri. 

Banyak yang berkomentar bahwa tindakan perusahaan terlalu berlebihan dan seolah-olah menyatakan bahwa aksi damai 2 Desember 2016 tidak menjaga Nasionalisme, keutuhan NKRI dan Bhineka Tungga Ika . Hal ini mendapatkan banyak kritikan netizen dan berbagai kalangan, salah satu yang terbaik adalah dari Rendy Saputra. Sebenarnya bukan sebuah kritikan, hasutan untuk memboikot atau apalah itu tapi apa yang ditulis oleh CEO Keke Busana ini merupakan masukan terbuka yang ditujkan kepada manajemen perusahaan tersebut. Inti dari tulisan insan professional bisnis (begitu beliau memperkenalkan diri) adalah perusahaan harus mengevaluasi hubungan dengan publik, menurutnya tindakan tersebut berlebihan dan tendensius kepada kaum muslimin yang melakukan aksi 212. Selain itu perusahaan seharusnya memperhatikan juga muslim sebagai segmen pasar yang harus diprioritaskan mengingat bahwa kaum musimin merupakan konsumen terbesar perusahaan ini. Selanjutnya beliau menambahkan perusahaan sebaikanya menghindari isu kontroversial untuk meningkatkan branding dan dipikirkan kembali ujung dari viralitas tersebut membawa ke Brand Hell atau Brand Heaven. Terakhir dari tulisan beliau adalah agar perusahaan meminta maaf kepada kaum muslimin dan mengapresiasi keputusan peserta (aksi) yang meborong produk tersebut.

Sudah sampai disitu saja inti dari tulisan yang berisi tentang masukan beliau kepada pihak perusahaan roti yang membuat pernyataan klarifikasi terkait produknya yang dibagikan secara gratis kepada peserta aksi 212 dan tidak ada ajakan untuk memboikot produk roti tersebut dari tulisan diatas, Karena kita perlu memperhatikan juga bahwa dibawah perusahaan tersebut banyak kebutuhan ekonomi orang banyak salah satunya pedagang yang kemarin rotinya diborong juga. Bila mata pencaharian mereka terputus Karena aksi-aksi boikot serampangan ini  sangat disayangkan mengingat produk mereka pun adalah produk yang halal dikonsumsi oleh kita semua.

Menjadi pelajaran bagi kita semua, kejadian-kejadian yang telah kita lihat dan saksikan bersama merupakan sebuah reaksi dari sikap-sikap sebagian orang/kelompok yang meremehkan kekuatan kaum muslimin Indonesia yang merupakan Negara dengan berdasarkan ketuhanan yang maha esa dan jumlah penduduk muslim terbesar didunia. Menjadi pelajaran bagi mereka juga yang memandang sebelah mata kepada Agama Islam yang telah dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum Indonesia Merdeka. Puncaknya adalah ketika pejabat negeri ini berani secara terang-terangan berbicara tentang kitab suci Al Qur’an yang tidak diimaninya.

bersambung . . .

Waktu belum "ngaji" saya sangat kagum dengan dialog yang disampaikan oleh Ust Abdul Hakim bin Amir Abdaat -hafidzahullah- di Radio Dakta 107 FM mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Ketika itu beliau mengisi dan membahas tentang kekhalifahan Islam kalau ga salah, beberapa pertanyaan tentang khilafah Islamiyah juga dijawab dan dipatahkan dengan dalil dan analogi yang tajam dan membuat orang yang mendengarnya tertegun berpikir.

Kalau ga salah waktu itu saya posting juga di blog dengan format MP3 kajian Ust Abdul Hakim di Radio Dakta tersebut. (Diakhir saya kasih linknya)

Seiring waktu berlalu, saya mengenal Radio Rodja 756 AM ketika itu masih duduk di bangku SMK dan Alhamdulillah disana saya lebih banyak mengenal ustadz-ustadz lainnya termasuk ustadz Arifin Baderi -hafidzahullah- (Walaupun tidak ada ustadz-ustadz tersebut yang mengenal saya).

Mengenai status yang ditulis oleh Ust Arifin Badri jangan disalah pahami atau disalahgunakan. Ust Arifin Badri masih menghargai dan menghormati keilmuan dari Ust Yazid, Ust Hakim & Ust Syafiq, namun beliau mengkritik para murid yang terlalu berlebihan kepada ke tiga ustadz tersebut. Inget ya yang dikritik Ust Arifin itu bukan ke 3 ustadz tersebut, tapi yang dikritik adalah sebagian dari murid2 ke 3 Ust tersebut. Dan kami masih berkeyakinan bahwa tidak ada yang lepas dari kesalahan termasuk seluruh asatidz Indonesia apalagi saya.

Monggo kripik pedesnya ditambah cakwe dan batagornya biar lebih kalem dan jangan serius-serius banget yaa..., ini Medsos bukan ruang sidang. Udah bubar-bubar..hee '"Pissss"

Oh ia nih Link kajian Ust Abdul Hakim waktu masih di Dakta :

"Singa Lapar Tak Pernah Takut Melihat Mangsa"
Kita marah ketika kitab suci kita dianggap bohong atau minimal dianggap sebagai alat untuk membohongi. Kesal beriring geram menggerutu dalam hati, ko seberani itu seorang pejabat publik berbicara tentang kitab suci agama lain.
Kami tidak sedang membahas kehebatannya memimpin Jakarta saat ini, karena banyak pemimpin-pemimpin yang lebih hebat dari pada dia namun Allah tetap tidak mencintainya, contoh nyata seperti Fir'aun ketika masanya. Bukan kehebatan itu yang menjadi tolak ukur seorang muslim menilai seseorang, yang menjadi ukuran adalah kadar keimanan karena sebaik apapun seseorang akan tetap sia-sia tanpa iman dihatinya, baik ya...hebat yaaa..tapi itu hanya di mata Manusia bukan di Mata Allah.
Karena kebaikan yang paling baik adalah ketika seseorang meyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah karena ia yang menciptakan manusia yang menciptakan alam semesta beserta isinya, yang memberikan Rizki kepada kita dsb. Dan keburukan yang paling buruk adalah ketika kita menyekutukan Allah, tidak percaya akan ke esaan Allah dan kesombongan hati yang berkata bahwa harta yang kita miliki didapat atas kepintaran dan kepandaian kita semata. Kebaikan sebessar apapun akan sia-sia bila kita kufur kepada sang pencipta.
Oke baik kita tidak memaksa seseorang untuk pindah dari satu agama ke agama lainnya. Karena dalam Islam itu tak ada paksaan untuk menerima kebenaran Islam karena kewajiban seorang muslim hanya menyampaikan bukan memaksakan. Dan seorang muslim juga tidak serampangan untuk menyerang orang non muslim karena dalam Islam sendiri ada aturan dalam bermuamalah dengan orang non muslim.
Islam hanya menyerang kafir yang menyerang kaum muslimin, adapun kafir yang masih dalam perjanjian perdamaian maka kita tetap bisa berhubungan baik dengan mereka. Karena Rasulullah sendiripun mencontohkan bahwa brliau berinteraksi dan bermuamalah dengan orang-orang non muslim baik dalam berjualan, gadai menggadai dsb.


Inilah keindahan dan kehebatan Islam, kami akan tetap baik jika tak terusik. Bahkan ketika diusikpun kita diajarkan untuk tetap sabar, tapi ketika genderang perang ditabuh kami akan seperti singa lapar yang melihat musuh seperti mangsa. Adakah rasa takut ketika singa berhadapan dengan mangsa?


Diantara bantahan yang paling saya suka adalah bagian bantahan tentang hadits sebaik-baik manusia adalah pada kurun waktuku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya (cuma 3 generasi).

Ketika saya lihat video Nusron Wahid membawakan hadits ini kenapa menyebutkan "tsuma ladzi yalu nahum" nya lebih dari 3 kali bahkan diakhir dia menyebutkan sampai seterusnya. Saya mendengarnya sangat rancu sekali.

Baca Juga : Video ust Yusuf Mansur Menangis Tersedu atas Kelakuan Nusron Wahid

Alhamdulillah Ust. Al Amiry membuat bantahan atas argumen ini, Barakallahufiik.
Semoga kita terhindar dari api neraka jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah Al masih ad dajjal.

Berikut kutipan bantahannya :
Ini adalah makna derajat kebaikan. Saya ingin bertanya, sejarah membuktikan pada zaman bani Abbasiyyah (khalifah Abbasiyah ke 16), sultan Khalifah Al-Mu’tadhid billah pernah mengangkat seorang gubernur. Namanya Umar bin Yusuf, seorang kristen ta’at. Menjadi gubernur di Al-Anbar Iraq. Apakah di waktu itu tidak ada surat Al-Maidah 51? Apakah ulama-ulama pada masa itu kalah shalih dan kalah alim dengan ulama-ulama hari ini?
(Selesai)
Bantahan:
1- Nusron Wahid menyebutkan sebuah hadits untuk membenarkan apa yang dia inginkan. Akan tetapi di sini saya ingin mengkritik apa yang dia bawa. Pertama teks haditsnya tidak seperti itu. Teks yang benar adalah:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
“Sebaik-baik zaman manusia adalah zamanku. Kemudian setelahnya dan kemudian setelahnya. Kemudian akan datang setelahnya kaum-kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya” (HR. Bukhari Muslim)
Jadi yang disebutkan dalam hadits, hanyalah 3 zaman. Setelah lewatnya ketiga zaman tersebut, maka akan ada zaman yang buruk dan penuh dengan kedustaan. Dan 3 zaman yang dimaksud oleh Rasulullah adalah zaman Rasulullah sendiri  bersama para sahabatnya, kemudian zaman tabiin dan kemudian zaman tabiut tabiin. Hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah ta’ala:
وَالصَّحِيحُ أَنَّ قَرْنَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّحَابَةُ وَالثَّانِي التَّابِعُونَ وَالثَّالِثُ تَابِعُوهُمْ
“Dan yang benar bahwa zaman nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah zaman para sahabat. Dan yang kedua adalah zaman Tabi’in dan yang ketiga adalah Zaman Tabiut tabiin” (Syarh Shahih Muslim 16/85)
Jadi hadits ini adalah hadits yang mentazkiah dan merekomendasikan zaman yang terbaik kondisi agamanya. Jadi jangan merenovasi dengan menambahkan kata “tsummalladziina yaluunahum (kemudian setelahnya)” dengan sangat banyak untuk memasukkan zaman yang banyak kerusakan ke dalam 3 zaman yang direkomendasikan atau ditazkiah oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
2- Hadits ini adalah tazkiyah zaman secara umum bukan tazkiyah untuk afrad (personal) terlebih sampai menganggap maksum seseorang dengan hadits ini. Bukan itu. Betapa banyak dari kalangan sahabat yang melakukan kesalahan karena mereka tidak maksum, maka bagaimana zaman setelah mereka? Maka mereka lebih tidak maksum dan sangat mungkin berbuat salah. Ya masuk di antaranya adalah Al-Mu’tadhid Billah. Jadi ini hanyalah tazkiyah zaman secara umum bukan membenarkan perbuatan setiap person yang masuk ke dalamnya. Terlebih zaman Al-Mu’tadhid billah yang tidak masuk ke dalam zaman yang ditazkiyah oleh Rasulullah.
3- Anggaplah memang benar bahwa Al-Mu’tadhid billah mengangkat seorang nashrani menjadi gubernur, maka perbuatan ini sama sekali tidak ada pengaruhnya karena perbuatan ini menyelisihi ijma’ ulama yang menyatakan haramnya memilih seorang kafir menjadi pemimpin.
Imam An-Nawawi menukil perkataan Al-Qadhi Iyadh:
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْإِمَامَةَ لَا تَنْعَقِدُ لِكَافِرٍ وَعَلَى أَنَّهُ لَوْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْكُفْرُ انْعَزَلَ
“Para ulama telah berijma bahwasanya kepemimpinan tidak akan sah terjadi untuk orang yang kafir. Dan seandainya timbul dari dirinya kekufuran, maka dia harus dilengserkan” (Syarh Shahih Muslim 12/229)
Ini imam An-Nawawi yang menukilnya dari Al-Qadhi Iyaadh rahimahumallah.
Bukan hanya itu, Ibnu Hazm rahimahullah juga mengatakan:
وَاتَّفَقُوا أَن الامامة لَا تجوز لامْرَأَة وَلَا لكَافِر وَلَا لصبي لم يبلغ وانه لَا يجوز ان يعْقد لمَجْنُون
“Dan para ulama telah bersepakat bahwasanya kepemimpinan tidak boleh untuk wanita, orang kafir, dan anak kecil yang belum baligh dan bahwasanya kepemimpinan tidak boleh pula untuk orang yang gila” (Maraatib Al-Ijmaa’ 1/126)
Maka bagaimana pun perbuatan seseorang, jika dia menyelisihi ijma’ maka perbuatan itu sama sekali tidak ada harganya dan tidak berpengaruh, bahkan tidak boleh diamalkan.
4- Ketika Nusron Wahid membawakan hadits ini, justru dia telah menembak dirinya sendiri. Mengapa? Karena jelas-jelas Umar radhiyallahu anhu hidup di zaman pertama (yang mana Rasulullah telah mentazkiah zaman tersebut). Umar telah melarang ummat islam untuk mengangkat orang kafir menjadi pemimpin.
Sedangkan Umar telah ditazkiah zamannya oleh Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam. Lantas bagaimana dengan zamannya Al-Mu’tadhid billah? Mana yang lebih baik? Zamannya Umar atau Al-Mu’tadidh? Maka itu sama saja dengan senjata makan tuan. Menggunakan dalil namun menghancurkan argumentasi sendiri.

alamiry.net

Berikut adalah Surat Teguran Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta untuk Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok berkaitan dengan ucapan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu yang menyinggung tentang QS Surat Al Maidah ayat ke 51.

Hal ini mengundang banyak perhatian dan kemarahan  masyarakat Muslim terutama yang tinggal di DKI Jakarta, banyak yang mengatakan dan menilai bahwa perkataan itu tidak pantas dikatakan oleh seorang Gubernur apalagi dia bukanlah seorang muslim.

Karena urusan tafsir menafsir dan penjelasan tentang Al Qur'an sudah ada ahlinya sendiri dari kalangan ulama umat Islam.

Beberapa tokoh umat Islam seperti ustadz, kiayi dan habaib banyak yang memprotes tentang perkataan Ahok ini, diantara mereka ada yang menyampaikan lewat lisan/ucapan ada juga diantara ustadz yang menulis sebagai bentuk protes atas tindakan yang kurang pantas ini, bahkan ada juga yang sampai melaporkan perkara ini ke kantor Polisi.

Baca Juga : 

Tafsir Ibnu Katsir QS Al Maidah 51


MUI sebagai lembaga resmi ulama Indonesia tidak tinggal diam, MUI melayangkan surat teguran secara resmi kepada Ahok sebagai Gubernur Jakarta dan juga yang  bakal mencalonkan kembali dirinya sebagai Calon Gubernur pada tahun 2017 nanti.

Ngawi Cyber

Diberdayakan oleh Blogger.