Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan


Sudah menjadi kebiasaan kalau hari kamis malam (atau malam Jumat), banyak tersebar kicauan atau status di social media yang isinya berkisar pada perkataan “Sunnah Rasul”. Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari di dunia nyata, istilah tersebut juga sering terdengar. Menurut mereka, istilah “Sunnah Rasul” yang populer di malam Jum’at adalah penghalusan dari hubungan suami istri atau ML. Coba lihat sejenak hasil penelusuran super singkat ini, bagaimana ribuan kicauan serasa berlomba-lomba menyebut istilah “Sunnah Rasul”.

Bagi mereka yang muslim dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi karena ingin menutupi sesuatu yang dianggap vulgar / tabu baginya bila disampaikan dalam ruang publik. Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks belaka.

Sedangkan bagi mereka yang berhati fasiq dijangkiti penyakit islamophobia dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi hanya ingin mengolok-olok, karena baginya ajaran Islam identik dengan urusan sex atau selangkangan. Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kimpoi dan pedofilia. (Insya Allah, soal ini nanti akan saya bahas)

Dari mana asalnya muncul istilah “Sunnah Rasul” yang di-identikkan dengan aktivitas ML?

Semuanya berawal dari hadits ini:

Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”

Dalam hadits yang lain ada disebutkan sama dengan membunuh 1000, ada juga yang menyebut 7000 Yahudi.

Sebenarnya bagaimana derajat hadits tersebut, apakah shahih, dhaif atau palsu?

Hadits di atas tidak akan ditemukan dalam kitab manapun, baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih. Kalimat tersebut tidak mempunyai sanad / bersambung ke sahabat, apalagi ke Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits “Sunnah Rasul” di atas adalah sama sekali bukan hadits, itu hadits PALSU yang telah dikarang oleh orang iseng, orang tidak jelas, dan tidak bertanggung-jawab yang mengatasnamakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan kita tidak akan menemukan satu-pun hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at.

Kemudian lanjutan penelusuran singkat malam ini di “timeline pencarian”, pandangan mata saya tertarik pada sebuah kicauan yang berbunyi:

Kalau menikah itu harus,,kenapa namanya harus sunnah rasul,,bukannya fardu ain,,,kenapa??

Pertanyaan ini mungkin mewakili ke-awam-an dalam masyarakat kita. Hukum pernikahan dalam Islam itu bisa Wajib, bisa Sunnah, bahkan bisa Haram, bisa Makruh, atau bisa Mubah; yang semuanya itu tergantung kondisi / latar belakang dalam pernikahan tersebut. Sedangkan dalam soal berhubungan badan (jima’), yang SALAH adalah pasangan suami istri tersebut mengkhususkan malam Juma’t untuk berhubungan badan dengan niat untuk mengamalkan hadits Palsu di atas dan “bersemangat membunuhi ribuan Yahudi” . Saatnya Membunuh Yahudi Malam Ini jika ada yang masih mengatakan seperti, wajib dinasehati.

Kalau mau berhubungan badan dengan pasangan sahmu, jangan mengkhususkan hari-hari, kemudian lebih baik itu diniatkan sebagai ibadah sehingga diawali dan diakhiri dengan do’a. Berhubungan badan dengan pasangan sah adalah merupakan ibadah seperti sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” [HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah].

Di Indonesia sangat subur akan hadits-hadits palsu dan dhaif (lemah) yang beredar dan bermaksud untuk menyesatkan dan membodoh-bodohi umat. Oleh karena itu berhati-hatilah, kawan!

Mari STOP mengatakan “Sunnah Rasul” sebagai pengganti dari istilah berhubungan suami istri alias ML ! Karena itu dosa besar. Bahkan meskipun itu ucapan dalam bentuk “kode”, karena itu sama dengan menyuburkan kedustaan. Dikatakan berdusta karena mengatakan sebuah hadits padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan apa-apa terhadap yang dikatakan itu.

“Kode” itu misalnya begini:

Papa: “Mah, ntar malam kita berburu dan membunuhi Yahudi yuk!”
Mama: “Maaf, pah, Yahudi nya sudah habis” kode kalau si mama lagi datang bulan / pms

Pasutri (pasangan suami istri) terpaksa menggunakan bahasa sandi tersebut agar komunikasinya sulit dipahami anaknya di dalam rumah. Bercanda seperti ini hanya akan menumbuh-suburkan kedustaan hadits tersebut. Itupun akan dituntut di akherat kelak. Maka silakan cari kode atau bahan candaan yang lebih bermutu.

Lantas, apa sih sebenarnya Sunnah Rasul itu?

Definisi yang benar tentang Sunnah Rasul dalam Islam mengacu kepada sikap, perilaku / tindakan, ucapan dan cara Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani hidupnya. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran. Narasi atau informasi yang disampaikan oleh para sahabat tentang sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah disebut sebagai hadits. Sedangkan Sunnah yang diperintahkan oleh Allah disebut Sunnatullah.

Keseharian dan perilaku Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang yang harus diikuti dan diteladani. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” [QS Al Ahzab: 21].

Bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah KEWAJIBAN yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an:

Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah.” [Q.S. Al-Hasyr: 7]

Sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya; jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:

Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah.” [Q.S. An-Nisaa': 80]

Apakah ada Sunnah Rasul yang ada keterkaitannya dengan aktivitas pada hari Jumat (atau malam Jum’at)?

Ada. Hadits di bawah ini shahih.

Memperbanyak membaca shalawat. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum’at dan malam Jum’at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al Baihaqi)

Membaca Al-Qur’an khususnya surat Al Kahfi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua Jum’at.” (HR. Al Hakim)

Memperbanyak do’a. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)

Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam Sholat Subuh. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at “Alam Tanzil …” (surat As Sajdah) pada raka’at pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro” (surat Al Insan) pada raka’at kedua.” (HR. Muslim)

Dan dianjurkan ketika di rakaat pertama sampai pada bacaan ayat ke 15, imam sujud diikuti oleh makmum. Setelah sujud, imam berdiri kembali membaca ayat selanjutanya sampai selesai.

Shalat Jum’at, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Salat Jumat itu wajib atas tiap muslim dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR.Abu Daud dan Al Hakim)

Jadi, kalau bicara Sunnah Rasul di hari Jumat dan malam Jum’at, ya silakan kaitkan dengan LIMA aktivitas yang disebutkan di atas. Jangan dikaitkan dengan nge-seks atau ML. Bagi pasutri, kalau mau ML bisa kapan saja, tidak ada hari istimewa.

Mari menjaga, memelihara dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang selama ini menjadi hukum syariat kedua setelah Al-Qur’an. [muslimjuara]


10 Sifat Wanita yang Mendatangkan Rezeki Bagi Suami . Banyak suami yang mungkin tidak tahu bahwa rezekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak bisa dilihat secara kasat mata, namun bisa dijelaskan secara spiritual bahwa 10 sifat istri ini ‘membantu’ mendatangkan rezeki bagi suaminya.

1. Istri yang pandai bersyukur

Istri yang bersyukur atas segala karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk rezeki. Punya suami, bersyukur. Menjadi ibu, bersyukur. Anak-anak bisa mengaji, bersyukur. Suami memberikan nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberikan kenikmatan sebagai suami istri, bersyukur.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

2. Istri yang tawakal kepada Allah

Di saat seseorang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupi rezekinya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3).

Jika seorang istri bertawakkal kepada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rezekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selalu harus langsung diberikan kepada wanita tersebut. Bisa jadi Allah akan memberikan rezeki yang banyak kepada suaminya, lalu suami tersebut memberikan nafkah yang cukup kepada dirinya.

3. Istri yang baik agamanya

Rasulullah menjelaskan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya.
“Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Beruntung itu beruntung di dunia dan di akhirat. Beruntung di dunia, salah satu aspeknya adalah dimudahkan mendapatkan rezeki yang halal.

Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya taat kepada Allah kemudian mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat kepada Allah tetapi rezekinya lancar? Bisa jadi Allah hendak memberikan rezeki kepada istri dan anak-anaknya melalui dirinya. Jadi berkat taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah kemudian mempermudah rezekinya. Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.

4. Istri yang banyak beristighfar

Di antara keutamaan istighfar adalah mendatangkan rezeki. Hal itu bisa dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 hingga 12. Bahwa dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu”(QS. Nuh : 10-12).

5. Istri yang gemar silaturahim

Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik kepada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, dan saudari-saudari seaqidah, pada hakikatnya ia sedang membantu suaminya memperlancar rezeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

6. Istri yang suka bersedekah

Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rezeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah hingga 700 kali lipat. Bahkan hingga kelipatan lain sesuai kehendak Allah.

Jika istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak langsung dibalas melaluinya. Namun bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rezekinya berlimpah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).

7. Istri yang bertaqwa

Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq: 2-3).

8. Istri yang selalu mendoakan suaminya

Jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Ia tidak bisa mendapatkan sesuatu tersebut melainkan dari pemiliknya.

Begitulah rezeki. Rezeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rezeki. Maka jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi namun perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami agar senantiasa mendapatkan limpahan rezeki dari Allah, dan yakinlah jika istri berdoa kepada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.

“DanTuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir: 60).

9. Istri yang gemar shalat dhuha

Shalat dhuha merupakan shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah tiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rezekinya sepanjang hari.

“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.”(HR. Ahmad).

10. Istri yang taat dan melayani suaminya

Salah satu kewajiban istri kepada suami adalah mentaatinya. Sepanjang perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya.

Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang istri taat kepada suaminya, maka hati suaminya pun tenang dan damai. Ketika hatinya damai, ia bisa berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya pun menggebu. Ibadah juga lebih tenang, rizki mengalir lancar. (reportaseterkini)


Aku tertegun saat suamiku berucap akan mengenalkan istri barunya. Antara percaya dan tidak percaya. Ternyata suamiku telah menikah lagi beberapa pekan yang lalu. Seorang madu telah suamiku hadirkan. Seorang wanita yang usianya lebih tua sedikit di atasku.

Jujur, awalnya aku merasa biasa. Taqdir telah bicara. Tak ada luka apalagi sakit. Perasaanku tak berubah sedikitpun. Secara kok beda banget dengan kebanyakan wanita, yang biasanya langsung berlinang air mata. Aku hanya ingin sangat berhati-hati menyikapi semua ini. Agar tidak sampai terpeleset dalam ujian sensitif bagi wanita seshalih apapun ia.

Namun perlahan tapi pasti, ada sesuatu yang menyeruak dalam dadaku. Inikah rasa yang begitu sulit untuk digambarkan dalam kata. Entahlah, yang aku tahu suami yang amat aku cintai telah membagi cinta dan segalanya.

Terkesima, untuk sesaat aku terkenang kisah istri-istri nabi saat sang rasul menghadirkan madu baru dalam biduk rumah tangga beliau. Adalah Aisyah yang cemburu saat Juwairiyah menemui sang kekasih dan kemudian rasulullah nikahi. Pun saat Aisyah cemburu ketika selepas safar rasul membawa istri baru Shafiyah yang jelita. Juga cemburunya Hafsyah terhadap Mariatul Al-Qibtiyah yang cantik rupawan. Namun mereka tetap mengucapkan selamat dan menyampaikan doa atas pernikahan suami, sang rasul pilihan.

Ya Robb, istri rasulullah saja cemburu saat hadir madu baru, bagaimana mungkin aku tidak? Sementara aku adalah wanita yang amat biasa. Tak seujung kuku dibandingkan istri nabi. Namun hingga detik ini, cemburuku memang bukan cemburu biasa. Apalagi pada seseorang yang aku pun sama sekali tak mengenalnya. Karena sampai saat ini, aku belum bisa cemburu dengan madu, siapa pun ia. Hanya bidadari yang betul-betul membuatku cemburu, makhluk langit yang akan mengejekku saat aku marah dengan suami.

Tiba-tiba semua memori tentang poligami mereka yang biasa curhat denganku berloncatan keluar. Aah, hampir semua meneteskan airmata dan luka. Hampir semua merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap sang suami. Tak banyak yang mau bertahan dan justru memilih jalan kesendirian dalam menyikapinya. Teringat pula aku dengan kisah istri Aa Gym yang kemudian pernah minta cerai saat sang Ustadz menikah lagi. Baru aku tahu, mungkin inilah rasanya. Sakit dan kemudian serasa ada yang hilang.

Aku hampa dalam rasa. Entahlah, semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Poligami ternyata punya rasa yang amat berbeda dari sisi mana posisiku berada. Sebagai yang terlebih dahulu dinikahi atau yang kemudian. Di awal-awal poligami, tak ada sejarahnya bila yang tidak suka atau cemburu adalah yang terkemudian dinikahi. Gak wajar malah. Pasti yang terdahulu yang cemburu. Aisyah yang cemburu saat rasul menikahi Shafiyah, bukan sebaliknya.

Kini setelah suamiku menikah lagi, ini menjadi ujianku. Terngiang kembali bayangan saat aku mengisi sebuah kajian. Kala aku bercerita tentang pemuda miskin, yang atas perintah rasul disuruh menikah. Menikah membuka pintu rezeki, begitu sabda beliau. Maka menikahlah sang pemuda, namun bukannya jadi kaya tapi justru tambah miskin. Lalu datanglah sang pemuda menghadap rasul untuk minta solusi. Rasul pun menyuruh untuk menikah lagi. Meski bingung, sang pemuda tetap mematuhi perintah nabi junjungan. Namun setelah itu, kemiskinan sang pemuda semakin bertambah. Menghadap lagi ia pada baginda rasul. Dan lagi-lagi rasul menyuruh sang pemuda menikah lagi. Saat kemiskinan semakin membelit dengan tiga orang istri, sang pemuda komplain kepada nabinya. Lagi-lagi rasul memberi solusi untuk menikah lagi, hingga genaplah istrinya empat orang, memenuhi quota maksimal yang diberikan. Setelah itu perubahan besar terjadi, istri keempat ternyata memiliki ilmu ketrampilan baru yang bisa ditularkan ke semua istri. Jadilah si pemuda orang kaya yang sukses berbisnis dan berpoligami.

Ya Allah, Sesungguhnya bibir ini pernah berucap ridha dan menerima poligami sebagai syariat-Mu. Namun mendadak semua lupa, seolah tak pernah ada. Sesungguhnya pelajaran tentang poligami telah begitu nyata di hadapan mata. Tentang sahabat, saudara yang juga hidup berpoligami. Dan mereka yang memilih jalan itu baik-baik saja, selama berpijak pada aturan-Nya, tak ada masalah yang tak mampu untuk diselesaikan. Namun goresan luka, telah melepas sendi kesadaran saat berpijak. Duhai hati, kemana engkau membalik? Kemana jiwa yang tenang pergi?

Malam itu, aku terlelap dengan tanpa sadar berucap segala dzikir dan doa. Entah apa saja yang aku ucapkan. Aku hanya ingin selamat dari pusaran rasa yang tak kunjung bertepi. Ingin rasanya menangis, tapi tetap tak bisa. Padahal airmata lah yang biasa melapangkan hati, membersihkan pikiran dan penyakit kotor.

Esoknya…

Aku benar-benar kecewa dengan suamiku. Bisikan setan mulai menyelinap di telingaku. Benar-benar kacau. Tak boleh aku biarkan. Tapi sebal dan dongkol malah mulai bermunculan dan tak mau pergi, rasanya masih begitu sulit untuk berbagi suami dengan pendatang baru.

Ini yang akhirnya membuatku amat geregetan. Di satu sisi aku dongkol dengan suami, tapi di sisi lain aku gak mau diejek, sama bidadari pula. Oh my God, masa’ hamba tega dengan seorang imam yang amat aku kasihi? Seorang suami yang hadirnya pun sangat aku rindukan, saat giliranku tiba. Seorang pria yang telah menjadi ayah anak-anakku. Duuh, sampai kapan ikhlas hadir, menghilangkan dongkol mikio. Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku (nah loh malah latah ikutan lagu yang setiap hari terdengar di telingaku saat di jalanan). Sakit saat harus sebal dengan suami belahan jiwa. Saat dua rasa beraduk jadi satu antara benci dan cinta. Tubuhku jadi ikut-ikutan sakit, lemes dan menjadi lemah.

Ya Robb, begini amat rasanya saat pujaan hati memiliki istri lagi. Kemana menguapnya kajian ilmu yang sering aku ikuti. Yang antara lain juga tentang poligami. Kemana menjauhnya kalimat-kalimat nasihat, saat beberapa orang sahabatku terluka mendapati suaminya telah poligami. Kemana? Aku hanya ingin segundah apapun hatiku, semua masih dalam rel-Nya. Sungguh aku tak lagi mampu berpikir apa-apa, aku hanya ingin mengandalkan-Mu saja untuk menyelesaikan kegalauan hati. Hatiku pun hanya Engkau yang memiliki dan berkuasa membolak-balikkan ke arah yang mungkin tak terduga.
Dalam doa di sepertiga malam aku hanya bisa pasrah. Apapun itu segala yang telah terjadi adalah yang terbaik dan atas seizin Allah. Semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Demikian juga dalam pernikahanku. Ucapan lembut dan mesra suamiku pun masih menghujani hatiku. Tak ada yang berubah. Sejak menikah lagi, suamiku pun masih tetap romantis. Tak ada yang berubah dengan cinta dan rindunya untukku. Stabilitas politik di antara kami masih pula terjaga. Lalu mengapa aku mesti dongkol? Tak ada alasan.

Kalau memang cinta, seharusnya kebahagiaan suamiku adalah yang utama. Jika memiliki banyak istri akan membawa kebaikan untuk suami, ketenangan dan kebahagiaan, serta lebih bisa menjaganya dari fitnah wanita, kenapa harus aku permasalahkan? Kasihannya suamiku, kala dalam safarnya harus sering bertemu wanita-wanita cantik nan seksi mempesona. Wanita yang memang Allah ciptakan penuh keindahan, bertebaran di jalanan tanpa menutup aurat dan menggoda iman pria. Wanita-wanita yang sebagai sesama wanita aku pun kadang mengakui kecantikan dan keindahannya yang luar biasa.

Kalau sudah seperti ini masa iya aku masih tak mengerti. Lagipula kuota suami untuk menambah istri lagi memang masih ada. Siapalah aku, Aisyah yang amat rasul sayangi pun punya madu. Madu-madu shalihah yang dinikahi rasul setelah beliau ada delapan orang.

Bukankah madu juga hadiah terindah? Allah menjanjikan syurga bagi istri yang ridha suaminya menikah lagi. Madu shalihah juga bisa menjadi sahabat dan saudara seiman. Punya ikatan dan tujuan yang sama, untuk membahagiakan pria yang sama-sama dicintai. Astaghfirullah, mengapa aku mesti larut dalam lautan rasa yang begitu luasnya? Mengapa mesti terpengaruh dengan sebagian besar wanita yang memang alergi dengan poligami?

Wuih, aku bisa tidur tenang setelah ini. Suami hanyalah manusia biasa yang penuh kekurangan, kelemahan dan keterbatasan. Hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil kembali. Egepe aja daah. Sepertiga malam sudah menungguku. Di sana aku bisa mengadukan segala isi hati. Bisa menangis kala teringat segala dosa. Bisa kuadukan pula suamiku pada Rabbnya.

Sebelum tidur, aku menelpon maduku. Komunikasi keduaku, setelah sebelumnya saling menelpon untuk sedikit berkenalan. Aku tidak tau apa-apa tentangnya kecuali sebuah nama panggilan dan status sebelum menikah dengan suamiku. My lovely handsome husband juga gak cerita apa pun tentangnya. Ternyata, sesuai usianya yang di atasku sedikit ia wanita yang memang dewasa dan InsyaAllah shalihah. Setidaknya dari beberapa pertanyaan yang aku ajukan, aku dapati jawaban yang melegakan. Gaya bicaranya sama persis dengan sahabatku yang telah lama tak jumpa. Menggugah kerinduanku pada sebuah masa ketika kuliah dulu.

Meski sama sekali gak mengenalnya, kenalan pun hanya lewat udara, aku merasa ada kecocokan dengannya. Merasa dekat seperti bicara dengan seorang kakak. Rasanya aku juga mulai menyayanginya. What? Entahlah. Gak tahu juga kenapa. Kok berbeda kali ya dengan cerita pengalaman teman-teman yang pada “panas” saat komunikasi pertama dengan sang madu via telpon. Apalagi komunikasi selanjutnya, kalau gak diam penuh kesinisan ya sewot-sewotan.

Esoknya lagi…..

Di sepertiga malam tepat jam 3 pagi aku terbangun. Tidur yang sekejap sudah menyegarkanku. Setelah berwudhu, aku bergegas tahajud. Benar juga, saat ingat mati, segala dosa dan kedzaliman yang pernah aku lakukan, air mataku tak terbendung lagi. Aku jadi lupa kalau mau mengadu badai hati kala suami membagi cintanya.

Subhanallah, tiba-tiba hatiku terasa enteng. Nyaman, dan aku merasa biasa lagi, gak kepikiran lagi dengan pernikahan suami. Kok bisa? Mene ketehe… hehehe… Hatiku plong. Wuih, aku bisa membagi pengalaman dikasih madu tuk teman-teman. Gak sesulit dan sepahit yang mereka kira. Apalagi saat kita yakin, ada kekuatan Allah yang Maha di balik setiap ujian hamba. Ternyata aku gak kalah sama para istrinya eyang subur. Yess!

Selepas subuh, aku baca Alquran. Kitab suci yang sedari kecil sangat menenangkanku saat aku baca. Apa pun masalah yang aku hadapi, setelah membaca Alquran hatiku menjadi tenang. Kadang langsung saat itu juga, kadang beberapa saat kemudian.

Mendadak, tiba-tiba ada angin segar menerpaku. Ada debaran aneh menyelimuti di dadaku. Aku teringat suami dan semua tentangnya. Tatapan matanya yang menggetarkan, ucapannya yang meneduhkan, candaannya yang sering membuatku terpingkal, keromantisannya yang selalu mendatangkan debaran, dekapannya yang menyejukkan dan semuamua tentang suamiku. Memoriku berputar tak terkendali. Semua waktu saat bersama suami terasa begitu indah. Oh my God, aku jadi amat merindukannya. Jiwaku melayang dengan segala rasa yang berloncatan, membuncah tak karuan. Aku baru seperti mengenal suamiku, kala cinta menggoda di pandangan pertama. Help me… rasa ini semakin tak bisa aku kuasai. Aku merasa seperti orang yang sedang jatuh cinta. Seperti awal-awal dulu saat bertemu suami. Hanya ada rindu dan cinta yang menggebu-gebu. Melayang-melayang terbang tinggi rasaku dibuatnya. (akhwatmuslimahindonesia)


Sebuah kisah membuat hati setiap anak akan merasakan kesedihan karena kelakuannya terhadap orang tua sendiri.

Ada seorang pria tua yang sudah berumur memutuskan tinggal bersama dengan anak laki-laki sulungnya. Anaknya tersebut sudah menikah dan mempunyai anak berusia lima tahun. Pria tua tersebut karena sudah faktor usia, tangannya sering gemetaran, penglihatan sudah semakin kabur, jalannya sudah tidak kuat seperti dahulu.

Suatu malam, saat sedang makan malam bersama keluarga anaknya, pria tua tersebut menjatuhkan gelas susunya sehingga membuat meja makan menjadi sedikit berantakan. Selain gelas susu, ia juga kesulitan makan karena tangannya sering gemetaran dan saat makan sedikit berantakan.

Apa yang terjadi ?
Menantu dan anak lelaki kandungnya agak merasa jengkel akibat kejadian tersebut. Anak lelakinya berkata kepada istrinya ‘Karena kejadian tersebut kita harus melakukan sesuatu terhadap ayah .’

Dan istrinya menjawab,
‘Kita tidak punya stok susu yang banyak untuk selalu ditumpahkan. Ayah juga sering berisik saat makan. Aku capek membersihkan makanan yang berserakan dilantai seusai makan’.

Dicapailah kesepakatan antara istri dan anak lelaki kakek tersebut.
Mereka akhirnya membuat sebuah meja makan yang kecil dan menempatkan disudut ruangan tidak jauh dengan ruang makan keluarga. Selain itu mereka berdua menyediakan gelas plastik, piring plastik untuk orang tuanya. Hal ini dilakukan agar saat gelas jatuh tidak pecah.

Hari demi berhari berlalu dimana orang tua mereka menghabiskan waktu untuk makan di meja kecil tersebut dengan diwaktu bersamaan anak, menantu dan cucunya makan di meja utama keluarga.

Suatu waktu ketika makan malam, menantu dan anaknya melihat orang tua mereka sedang makan. Terlihat jelas pria tua tersebut sedang kesedihan. Namun, apa yang terjadi. Anak lelakinya berucap, tidak ada lagi gelas dan piring yang jatuh dan pecah.

Malampun telah larut. Disaat siang hari pada saat jam istirahat kerja, anak lelaki pria tua tersebut pulang dari kantor dan didapati anaknya sendiri sedang sibuk bermain dengan mainan kebanyakan dari plastic seperti gelas, piring, sendok dan lain-lain. Ia pun bertanya, Nak senang mainnya, apa yang sedang kamu kerjakan ?

Anak kecil 5 tahun merupakan cucu dari pria tua tersebut menjawab dengan polos. ‘ Piring sama gelasnya aku siapin dan berikan untuk papa dan mama saat aku sudah besar nanti.’

Mendengar kata-kata dari anaknya sendiri, begitu menghujam pria tersebut. Ia begitu sedih karena merasa bersalah kepada Ayahnya dan ia pun menangis. Mulai hari itu, meja kecil untuk ayahnya disimpan. Kemudian ia bersama istrinya meminta maaf kepada ayahnya karena memperlakukannya seperti orang lain di rumah mereka.

Sejak hari itu, ayahnya sudah berkumpul dan makan bersama di meja makan keluarga. Bahkan ketika ayahnya menjatuhkan sendok, gelas sesekali atau makanan yang berserakan ia langsung membersihkan sendiri.

Sahabat, jadikanlah gambaran kisah tersebut sebagai renungan bagi pribadi sendiri. Adalah sudah kewajiban setiap anak untuk memperlakukan orang tuanya baik Ibu atau Ayah dengan baik saat mereka berusia lanjut. Ingatlah, saat kita masih kecil orang tua kita dengan tulus menjaga, merawat, memberi perhatian bahkan rela bertaruh nyawa demi anaknya tercinta. Maka, janganlah sama sekali membuat hati orang tua bersedih karena perbuatan kita.

Ya Allah, ampunilah kami karena telah lalai menjaga kedua orang tua kami, Ya  Allah sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami disaat kami kecil. Amin. Semoga bermanfaat, jazakumullah.

sumber: Renungan Islam.com


Wahai para mertua hormatilah menantu perempuanmu,karena kalian tak pernah mengandungnya, menyusuinya,apalagi menyekolahkannya, tetapi dia rela meninggalkan orang tuanya mengabdi sampai mati demi anak laki2mu, apalagi dia rela meregang nyawa untuk mengandung dan melahirkan cucu penerus keturunanmu...


Rumah mertua ....
Tidak mudah bagi seorang wanita utk "datang" sendirian ke sebuah keluarga baru..
kemudian harus menyesuaikan diri sedemikian rupa..
untuk dapat hidup bersama keluarga baru tersebut juga

Tidak mudah..
Yang sering terjadi adaLah konflik batin..

Tangis..
Ketidak cocokan di banyak haL,
Dan Tetap Bertahan demi Orang Yang Dicintainya Meskipun sebenarnya

Dia stress!!
Para Laki-Laki Kamu harus Tau..
Istrimu rela meninggalkan kedua orangtua yg sudah menyayanginya sejak kecil..
Rela meninggalkan rumahnya yg merupakan tempat ternyamannya sejak kecil..
Hanya demi menaati..mengikutimu dan membahagiakanmu wahai suami...

Ia Hanya berharap Kamu Lah Suami yang akan Menjadi Pengganti Orang Yang menyayanginya Dan Menjadi Tempat Ternyamannya Setelah meninggalkan Rumahnya..
Setengah Dari Suami Memahami HaL itu..
Setengahnya Lagi Tak Mau Tau Akan haL itu..

Maka.. hargai perasaan istrimu..sayangi istrimu.. jangan disakiti lagi dengan hal2 lain..
Sungguh.. kedua orangtuanya mengizinkan ia menikah denganmu..karena mereka berharap,engkau bisa membahagiakannya...
Karena, jika istri sudah bahagia,maka tidak sulit baginya utk selalu menaatimu...SUAMI....

Renungkanlah... [siraman]


Pekerjaan seorang istri tak hanya mengurus rumah dan anak saja, tapi juga mengatur keuangan keluarga. Berapapun nafkah yang diberikan suami, istri harus dapat mengatur dan menggunakannya secara bijak. Semua istri tentu menginginkan ekonomi keluarganya selalu cukup dan tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun. Untuk itu, suami harus bekerja keras untuk bisa memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya agar selalu dalam keadaan cukup. Sebagai seorang istri, ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk menambah barokah rezeki keluarga yang diperoleh dari usaha suami. Apa saja itu?

Berikut amalan-amalan yang dapat dilakukan istri untuk menambah barokah rezeki yang didapatkan suami agar rezeki keluarga berlimpah dikutip dari The Vocket :

1. Berikan sebagian nafkah dari suami untuk orangtua dan mertua

Sekecil apapun atau sedikit apapun, sisihkan sebagian nafkah dari suami untuk orangtua dan mertua. Walaupun hanya dengan membelikan beras atau keperluan pokok yang lain, sadari bahwa faktor ini sanggup menambah keberkahan rezeki yang diperoleh. Tutup telinga rapat-rapat dan jangan hiraukan bila menerima cibiran atau dibanding-bandingkan dengan jumlah yang didapat dari menantu lain yang lebih besar, jangan sampai menjadikan hal itu merusak niat baik yang kita punya. Hindari pula berpikiran seperti ini, “Jangankan untuk orangtua, buat keluarga sendiri saja tetap kurang” atau “Orangtua dan mertua bukankah telah mapan?”

Kemungkinan ada yang berpikir begitu, tetapi percayalah seandainya menafkahkan sebagian rezeki buat keluarga dekat, tak cuma akan menambah barokah bagi kita tetapi dapat mempererat silaturahmi.

2. Senantiasa mengingatkan suami untuk memberikan nafkah keluarga dengan rezeki halal

Kewajiban istri yang lain adalah selalu mendoakan dan mengatkan suami untuk selalu menafkahi istri dan anaknya dengan rezeki yang halal.Elemen ini demikian mutlak mengingat sejumlah istri yang merongrong suami dengan banyak tuntutan dan membuat suami menempuh jalan tidak baik dalam mencari nafkah.

3. Mengubah gaya hidup boros

Masak sendiri di rumah akan lebih menghemat biaya daripada makan diluar atau membeli makanan dari luar. Untuk itu istri perlu belajar memakasak untuk mengubah gaya hidup yang boros.Melakukan perawatan tubuh di salon akan menambah pengeluaran. Jika hal ini bisa dilakukan di rumah, sehingga bisa menghemat pengeluaran, mengapa tidak?

Bawakan bekal untuk suami supaya tidak perlu makan siang di luar kantor, juga untuk anak supaya tidak jajan sembarangan.Jalan-jalan ke mal tiap minggu dapat ditukar dengan ke lokasi lain yang lebih hemat dan tidak mengeluarkan banyak biaya, seperti ke taman, alun-alun kota dan tempat wisata gratis lainnya. Mudah-mudahan ikhtiar berhemat dan mengubah gaya hidup ini mampu menambah keberkahan rezeki keluarga.

4. Jalankan ibadah bersama

Ibadah dan ketakwaan yang kita laksanakan sangat erat hubungannya dengan keberkahan rezeki keluarga.Selain melakukan shalat berjamaah setiap harinya, coba rencanakan sekian banyak ibadah yang mampu dilakukan bersama dengan keluarga. Mulai dari puasa sunnah Senin dan Kamis, salat tengah malam, membaca Al Quran dan lainnya.

5. Hindari pertengkaran dalam rumah tangga

Pertengkaran hanya akan menyulut kebencian dan menghilangkan keberkahan rumah tangga.Istri harus bisa menjadi air pendingin apabila suami dalam keadaan stres, bukan malah menyulut pertengkaran yang lebih besar. Mudah-mudahan informasi ini dapat berguna dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar membuat pendapatan suami lebih berkah, melimpah dan mengalir deras. [mozaikinilah]


Andai suami tahu betapa SAKITnya melahirkan anak, pasti tidak akan sanggup MENYAKITI hati istrinya.

Diantara jasa-jasa Isteri anda;
1. Mau menikah denan anda.
2. Menyelamatkan anda dari perbuatan terlarang.
3. Setia menemani dan membantu anda dalam suka dan duka.
4. Mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anak anda.
5. Menjadi madrasah bagi anak-anak anda, mengajari bicara, mendidik, dll
6. Sabar merawat anak-anak anda dalam segala keadaan, ketika mereka sehat atau sakit.
7. Menjadi pelengkap hidup anda…
dan lain-lain

Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik sikapnya kepada istrinya.

Nasehat untuk para Suami
pula yang lebih tlaten merawat anak anakmu sampai usia dewasa..Ia pula yang melayani biologismu dg halal dan tulus..
Ia pula yang merawat isi rumahmu dan menjaganya..
Masakan yang nikmat adalah masakan istrimu..
Ia mendampingimu dikala suka maupun duka..
Ia merawatmu dengan tulus dikala sakitmu..
Ia akan tetap mendampingimu walau engkau sudah tua renta..dan sakit sakitan..
Mungkin terkadang keta'atan istrimu kepadamu lebih besar dari pada ta'atnya anak anakmu kepadamu..

Wahai suami yang sholeh..
Jangan sampai engkau tidak penuhi hak dia sebagai istri..
Jangan engkau sia-siakan dia..
Jika Ada waktu senggang yang sebenarnya dapat digunakan untuk ikut membantu pekerjaan rumah tangga atau ikut merawat anak anakmu.. Maka lakukakanlah..
Ajak dia berseda gurau dengan mesra atas kebaikannya padamu agar terpupuk kasihsayangnya padamu...
Jangan engkau buang waktumu hanya untuk bbm ria, ngenet, nonton film,atau malah keluyuran malam gak jelas tujuan.. Innalillah..
Jangan sekali kali engkau cela masakannya.. Jangan pula engkau pukul dia sesuka hatimu..
Berbuatlah baik kpd mereka sebagaiman junjungan kita

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ (رواه الترمذي)
“Sebaik-baik kalian, (adalah) yang sikapnya terbaik terhadap perempuan-perempuan mereka (sendiri).” (HR. Tirmidzi).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda :


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي (رواه ابن حبان)
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dari kalian sikapnya kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik dari kalian sikapnya kepada keluarga.” (HR. Ibnu Hibban)

Semoga kita bisa berbuat baik kepada kaum hawa.. Dg ini إِنْ شَاءَ اللّهُ akan mudah bagi kita mengarahkan, dan mendidiknya kpd jalan yg baik dan benar...

Barokallhu fikum.. [salamdakwah.com]


MAMPU MENENANGKAN PERASAAN ISTRI YANG SEDANG SEDIH. Wanita adalah wanita biasa, yang hatinya mudah sekali terluka. Alangkah bahagianya seorang wanita memiliki suami yang mampu menenangkan perasaannya. Bukannya malah balik memarah saat melihat istrinya menangis.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun pernah menenangkan istrinya, Shafiyah binti Huyay. Pada hari itu, beliau melihat Shafiyah menangis. Ternyata yang membuat dirinya menangis adalah karena Hafsah mengatakan bahwa dirinya adalah keturunan Yahudi.

Rasulullah pun kemudian berkata, "Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa!" (Tafsir Al-Qurthubi)

Wanita mana yang hatinya tidak langsung tenang bila dibela oleh sang suami. Rasanya hati yang tadinya berkecamuk langsung reda mendengar kata-kata lembut yang menenangkan hati. [reportaseterkini]

Ilustrasi

Salah satu tipe suami yang tercela di hadapan Rasulullah adalah mereka yang tidak peduli dengan istri dan anak-anak mereka. Lelaki yang tidak punya rasa cemburu. Dalam sejumlah hadis, Rasul menyebut para lelaki itu sebagai dayyuts.

"Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya." [HR. Ahmad]

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda:

"Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts.." [HR. An-Nasa-i dan Ahmad]

Dayyuts sebagaimana disebutkan dalam Al Mu’jam Al Wasith adalah para lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya namun dia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu, membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan.

Selain tidak pernah memiliki perasaan cemburu terhadap istrinya, terkadang seorang suami tipe dayyuts ini juga tidak keberatan ketika sang istri mencoba menarik perhatian dari laki-laki lain atau bahkan digoda oleh laki-laki lain.

Betapa Mulianya Rasa Cemburu Seorang Suami

Banyak hal-hal mulia yang terkandung dalam cemburu menurut pandangan Islam. Suami yang cemburu tidak akan suka bila melihat istrinya tidak menutup aurat. Dengan tegas seorang suami harus meminta kepada istrinya untuk menutup auratnya demi memenuhi kewajiban sebagai seorang muslimah. Suami yang baik akan merasa cemburu dan tidak suka bila mengetahui keluarganya melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum-hukum syariat. Suami yang mulia akan cemburu bila ada laki-laki lain yang menggoda istrinya karena istrinya adalah sepenuhnya milik dan haknya. Maka di dalam pernikahan cemburu itu diperbolehkan asal tidak berlebihan, salah, dan membabi buta.

Para ulama berpendapat, perasaan cemburu yang timbul dalam hubungan suami istri hendaknya diikuti dengan jernihnya akal sehat. Sehingga kecemburuan itu menjadi sesuatu yang mulia. Melalui karyanya, secara sederhana Syekh Ibrahim menegaskan bahwa hakikat dari rasa cemburu adalah bersih. Cemburu menurut pandangan Islam adalah cemburu yang jauh dari nafsu duniawi. Dalam bahasa Arab, cemburu diistilahkan sebagai ghirah. Ada dua macam ghirah. Ghirah yang pertama disebut ghirah lil mahbub, yaitu rasa cemburu untuk membela orang yang dicintai. Ghirah yang kedua disebut ghirah ‘alal mahbub. Ghirah ini lah yang menjelaskan tentang rasa cemburu terhadap orang lain yang juga mencintai orang yang dicintainya. Suami yang memiliki ghirah seperti inilah yang disebut sebagai suami terpuji karena ia betul-betul menjaga apa yang sudah menjadi miliknya.

Suami yang tidak memiliki cemburu, inilah tipe suami yang dikecam oleh Rasulullah. Meski dibolehkan, rasa cemburu tetap mempunyai batas. Jangan sampai kecemburuan yang salah justru merusak kebahagiaan rumah tangga yang sudah diciptakan. Sejauh mana rasa cemburu itu muncul, pasangan suami istri harus mampu mengelolanya dengan baik supaya tidak menimbulkan cacat cela dalam rumah tangganya apalagi sampai berpengaruh kepada anak-anak. [dream/kumpulanmisteri]


KETIKA MARAH PADA ISTRI, PANDANGILAH IA KETIKA TIDUR.  “Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah. Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponseldan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulahia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya. Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam
wajah Aminah, istrinya.

Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia
menikah. Kakeknya mengatakan, Jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamupun juga tidak sama persis dengan maunya.

Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri
adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur….

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.
Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan
untuk membuktikannya sendiri.

Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin memuncak perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat.
Pancaran tulus dari kalbu. Memandaginya menyeruakkan berbagai macam perasaan.
Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, dia bergumam,

“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktifitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu
dengan banyak aturan. Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku. Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak- anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku, dikala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di
sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu? Dengan alasan apa aku perlu marah padamu? Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata. Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah.
Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumahtangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah swt. Segala puji hanya untuk Allah swt yang telah memberikanmu sebagai jodohku.” Tanpa terasa airmata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap. [reportaseterkini]


“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkannya saat dia melihat, menaatinya saat ia memerintah dan tidak menyelisihinya dengan hal yang dibencinya pada dir-inya dan hartanya.”
(HR. Ahmad, An Nasai dan Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani)

Beginilah potret wanita yang akan membawa ketenangan, kasih dan sayang:

1. Bertanggung jawab dan mampu mengatur rumah dan anak
2. Menyenangkan jika dipandang
3. Taat suami
4. Menjaga dirinya dan harta suami, saat suami tidak ada
5. Tidak melakukan hal yang tidak disukai suami walau pada harta sang istri sendiri
6. Melaksanakan shalat lima waktu
7. Menjalankan Puasa Ramadhan
8. Menjaga kemaluan
9. Mampu membuat suami ridho, hingga wafat
10. Karena hartanya (kekayaannya)
11. Karena kemuliaan keluarga besarnya
12. Karena kecantikannya
13. Karena agamanya

Sumber : Islampos


Memberikan perhatian kepada istri. Seorang suami muslim harus sangat perhatian dan penuh perasaan kepada istrinya. Istri pasti pernah mengalami dan melewati bermacam-macam perubahan baik secara fisik dan psikologis.

Pada saat-saat seperti itu, contohnya pada saat tanda akan melahirkan akan segera datang ketika sang istri sedang hamil tua. Istri sangat memerlukan suatu perlakuan yang mesra dan penuh perhatian, agar sang istri bisa menghapus kesusahan dan kesedihanyang sedang dialaminya, serta menenangkan perasaannya yang mudah tersentuh

Perkenalkan dia dengan pujian. Mengatakan sesuatu seperti “Saya ingin Anda bertemu dengan istri saya yang cantik,” atau ini belahan jiwa saya” sangat bermakna. Mengenalkan istri Anda secara publik sebagai mitra terbaik Anda membuktikan bahwa Anda mencintainya.

Sikap seperti ini akan membuat istri semakin percaya dan cinta kepada suami. Kebahagiaan akan muncul dalam suasana yang penuh cinta seperti ini. Orang yang melihatnya pun juga akan menilai bahwa Anda merupakan suami yang baik dan setia. [reportaseterkini]


Istri yang Tidak Dilihat oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (tidak berterimakasih) kepada suaminya, padahal dia membutuhkannya.” (HR. Nasa’i)

Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya, agar mereka tergolong kedalam orang orang yang mensyukuri Allah Ta’ala, sebagaimana yang di jelaskan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dalam sabda beliau:

“Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia” [reportaseterkini]


Perempuan atau Istri Tidak Boleh Menyakiti Suaminya. “Al-Hasan bin Arafah menceritakan kepada kami, ismail bin Ayyas memberitahukan kepada kami dari bahir bin Sa’ad, dari Khalid bin Mad;an, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal, dari nabi Saw. Beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang perempuan menyakiti suaminya di dunia melainkan istri bidadarinya (di surga nanti) akan berkata, ‘Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah membalasmu, karena sesungguhnya, dia disampingmu sebagi tamu yang sebentar lagi akan berpisah darimu akan datang kepadaku.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Hadits tersebut merupakan peringatan keras bagi kaum perempuan, khususnya para istri agar tidak menyakiti perasaan suaminya, terlebih bila si suami sudah menunjukan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.

Menyakiti hati atau fisik suami merupakan perbuatan terlarang karena hal itu termasuk perbuatan dosa. Bila ada sikap suami yang kurang berkenan di hati istrinya, maka cara terbaik untuk menyikapi hal itu adalah dengan tidak menyakiti perasaan si suami secara langsung dan ingatkanlah dengan perkataan lemah lembut.

Islam mengajarkan cara terindah dalam menyelesaikan persoalan rumah tangganya, yaitu dengan melaksanakan musyawarah atau berdiskusi dengan baik dan santun. Tidak elok rasanya bila seorang istri menhardik, memarahi, atau bahkan mengeluarkan kata-kata kasar yang dapat membuat hati suaminya terluka, padahal masalah tersebut dapat dimusyawarahkan terlebih dahulu. Maka seharusnya, pergunakanlah jalan musyawarah tersebut dan jangan mengutamakan emosi.

Begitu pula sebaliknya, seorang suami tidak boleh berlakukasar kepada istrinya selama si istri masih menunjukan ketaatan kepada suaminya. Apabila seorang istri melakukan kesalahan, maka seorang suami harus membimbing dan menasehatinya secara lemah lembut. Perlakukanlah istri dengan penuh kasih sayang sebagaimana perintah Rasulullah Saw. Beliau menganjurkan agar para suami berbuat baik kepada istri mereka, karena beliau sendiri telah berlaku baik kepada istri-istrinya. [reportaseterkini]


Istri Mukminat Jadi Penolong Suami. “Dari Tsauban, ia berkata, ‘Tatkala turun (hukum) mengenai emas dan perak, mereka(para sahabat) berkata, ‘Harta apa yang harus kita bawa?’ Umar berkata, ‘Aku akan mengetahui hal itu untuk kalian.’ Ia mempercepat tunggangannya dan menemui Nabi Saw. dan saat itu aku berada dibelakang beliau. Maka, Umar berkata, ‘wahai Rasulullah, harta apa yang harus kita bawa?’ Beliau bersabda, ‘hendaklah setiap kalian membawa hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, dan istri mukminat yang dapat menolong setiap orang dari kalian untuk kepentingan akhirat.” (HR. Ibnu Majah).

Istri yang beriman dan taat kepada suami merupakan anugerah yang paling berharga bagi seorang suami. Tidak mudah mendapat istri seperti itu. Seorang laki-laki bisa memperistri perempuan yang ia inginkan, tetapi hanya sedikit orang yang mendapat istri shalihah, serta taat kepada Allah Swt., Rasulullah Saw., dan suami dengan sepenuh hati.

Berdasarkan hadits tersebut, seorang isri mukminat laksana harta yang pantas dijadikan bekal dalam menempuh kehidupan guna menggapai kebahagiaan. Selama ia mendampingi suami dengan setulus hati, maka apapun kehidupan yang mereka hadapi---baik dalam keadaan kekurangan maupun kelebihan atau sulit maupun senang akan berjalan dengan baik dan bahagia.

Secara tidak langsung, hadits tersebut menjadi peringatan bagi kaum perempuan agar berusaha menjadi istri shalihah yang mencerminkan kepribadian yang taat kepada Allah Swt., dan rasul-Nya, serta menunjukan pengabdian kepada suami. [reportaseterkini]

Ilustrasi

Berkurangnya kualitas tampilan fisik adalah salah satu ujian yang harus dihadapi pasangan suami istri. Mungkin bagi seorang istri, perubahan fisik suaminya tidak akan terlalu menjadi masalah. Namun lain halnya bagi para suami. Kecantikan visual seorang istri sangatlah penting baginya. Pasalnya laki-laki menambatkan hatinya terlebih dahulu lewat pandangan ketimbang mengetahui kualitas kepribadian sang wanita.

Sayangnya suami tanpa sadar menuntut istrinya untuk tampil cantik semenarik mungkin, tanpa memberikan kemudahan pada istri untuk mencapainya. Misalnya saja kurangnya biaya yang dia nafkahkan untuk perawatan kecantikan sang istri. Bahkan bukan saja kurang, dana untuk perawatan kecantikan istri tersebut kadang-kadang tidak dialokasikan sama sekali.

Belum lagi berbagai amanah yang dia embankan pada istrinya dalam urusan dapur serta mengurus rumah dan anak-anak. Jika beban itu terlalu berat tanpa pernah suami memikirkan untuk membantu meringankan pekerjaan istri atau berusaha menghadirkan pembantu, maka beban itu akan membuat sang istri kelelahan dan tidak ada waktu serta tenaga lagi untuk mengurus kecantikannya.

Istri pun tampil alakadarnya di depan suami. Dia tidak memoles wajahnya sedikit pun karena bedak yang dimiliki dipikirnya begitu sayang jika harus cepat habis atau dipakai terus-terusan. Dan lagi, uangnya sayang jika dibelikan peralatan kecantikan. Bahkan ia mungkin akan dimarahi suami karena dianggap terlalu boros. Jadi lebih baik uang itu ia pakai untuk mencukupi kebutuhan perut keluarga.

Pakaian yang dipakainya pun tidak terlalu gonta-ganti. Ia hanya memakai pakaian yang itu-itu saja dengan potongan yang sama sekali tidak menampilkan sisi cantiknya. Model pakaiannya paling hanya berkutat pada kaos dan daster. Itu pun sudah pada pudar warnanya disana sini.

Melihat penampilan istrinya seperti itu, sang suami langsung memvonis bahwa istrinya tak cantik lagi disebabkan tak pandai merawat kecantikan. Kemudian ketika sang suami keluar rumah, dengan tanpa merasa berdosa, matanya pun bebas berselancar menikmati bunga-bunga mekar di luar sana. Sang suami berpikiran bahwa bukan salahnya mencari kesegaran mata dengan melihat wanita lain yang cantik-cantik di luaran. Toh ia tidak mendapat kepuasan dengan memandang istrinya yang tidak pandai merawat diri.

Pikiran ini sungguh salah besar. Sedikit banyaknya, dialah orang yang harus bertanggungjawab atas memudarnya kecantikan fisik sang istri. Maka bertanggungjawablah, berikan hak-hak istri dari segi nafkah untuk perawatan kecantikannya. Lalu ringankanlah pula pekerjaan rumah tangga yang selama ini begitu membebaninya. Disamping itu, janganlah membesar-besarkan masalah sepele hingga memarahi istri yang sudah setia mendampingi selama ini.

Masalah demi masalah dan pertengkaran demi pertengkaran dalam rumah tangga akan semakin membuat kecantikan istri memudar. Ia akan mengalami stres yang akhirnya berpengaruh pada kecantikan serta kekenyalan kulitnya. Seorang istri yang stres akan terlihat lebih tua dibandingkan dengan usia sesungguhnya.

Jika ikhtiar ini sudah dilakukan, jangan lupa tundukan pandangan apabila pergi keluar rumah. Konon ada seorang suami yang mengeluhkan istrinya yang sudah tidak cantik lagi pada seorang Syeikh. Padahal berdasarkan informasi lain, istri si suami itu adalah salah satu wanita tercantik di lingkungannya. Maka sang Syeikh pun berkata: “Wahai... jika semua wanita sudah kau nikahi sekali pun, maka binatang pun akan terlihat cantik bagimu”.

Begitulah sifatnya nafsu. Ia akan membutakan pandangan sehingga kita akan melihat bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput yang tumbuh di halaman rumah. Kita akan selalu melihat bahwa wanita lain lebih menarik daripada istri sendiri. Maka sekali lagi, tundukan pandangan jika keluar rumah untuk menjaga diri agar tidak tergoda wanita lain yang dirasa lebih cantik.

Demikian ikhtiar yang harus dilakukan seorang suami jika ingin istrinya tampil cantik. [Kabarmakkah]

Reportase Terkini Terkadang Sebagai seorang Istri seringkali Merasa sudah Cukup dalam menjadi Pakain sang Suami. Namun beberapa hal tidak kita sadari, ternyata hal-hal Kecil kerap menjadi alasan seorang Istri durhaka atau akan berdosa kepada suaminya.


26 Inilah Dosa Istri Kepada Suami

  1. berlebihan dan menuntut kesempurnaan
  2. kurang mempercantikkan diri di hadapan suami
  3. kurang memperhatikan orang tua suami
  4. menyebarkan masalah rumahtangga kepada orang lain
  5. kurang memperhatikan posisi dan status sosial suami
  6. membebani suami dengan banyak tuntutan
  7. mengungkit ungkit kebaikan kepada suami
  8. banyak berkeluh kesah dan kurang bersyukur
  9. memasukkan orang yang tidak diizinkan suami ke dalam rumahnya
  10. kurang membantu suami dalam kebajikan dan ketakwaan
  11. bersikap nusyuz terhadap suami
  12. membuat suami risau dengan banyak menjalin hubungan
  13. lalai dalam melayani suami
  14. menolak ajakan suami berhubungan badan
  15. menaati suami dalam kemaksiatan kepada Allah swt
  16. buruknya perilaku isteri bila suamiberpoligami
  17. keluar dari rumah tanpa izin suami
  18. isteri yang ikhtilah dan tabarruj di hadapan kaum laki-laki
  19. cemburu berlebihan terhadap suami
  20. kurang perhatian terhadap keadaan dan perasaan suami
  21. lalai dalam mendidik anak-anak
  22. isteri mendeskripsikan seorang perempuan kepada suami
  23. menyebarluaskan rahsia tempat tidur
  24. kurang setia terhadap suami
  25. menggugat kepimpinan suami
  26. kurangnya ketakwaan kepada Allah setelah berpisah dari suami
Itulah 26 Dosa Istri Terhadap Suami, Semoga Sebagai istri kita bisa menghindari 26 dosa ini.

Reportase Terkini - Keluarga dalam Islam mempunyai arti yang tidak kecil. Keluarga merupakan bagian kesatuan terbawah yang melandasi tegaknya sebuah jamaah di dalam Islam.
Keluarga-keluarga yang baik dan solid akan mengokohkan suatu jama’ah, dan apabila keluarga-keluarga itu buruk dan rusak, akan bisa memperlemah kondisi jamaah dalam Islam secara keseluruhan.

Keluarga Rasulullah SAW dan keluarga para sahabatnya yang telah beriman adalah keluarga-keluarga yang baik yang menghasilkan sebuah jama’ah yang kokoh di masanya.   Mereka telah menjadi orang-orang terbaik dari ummat ini di muka bumi.

“Dan orang orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs.Al-Furqon : 74)

KELUARGA diibaratkan seperti batu bata pertama dalam sebuah bangunan masyarakat. Apabila keluarga baik, maka masyarakat pun akan ikut menjadi baik dan sebaliknya jika keluarga rusak, maka masyarakat akan menjadi rusak pula.

Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian kepada urusan keluarga dengan perhatian yang sangat besar, sebagaimana Islam juga mengatur hal-hal yang dapat menjamin keselamatan dan kebahagiaan keluarga tersebut.

Sangat fundamental dalam keluarga adalah perlakuan seorang suami terhadap istrinya. Bisa jadi juga berbuah dosa. Coba cek poin-poin di bawah ini :

1. Lalai Berbakti kepada orang tua setelah menikah
2. Kurang serius dalam mengharmonisasikan antara istri dan orang tua
3. Ragu dan buruk sangka kepada istri
4. Kurang memiliki sikap cemburu terhadap istri
5. Meremehkan kedudukan istri
6. Melepaskan kendali kepemimpinan dan menyerahkannya kepada istri
7. Memakan Harta istri secara batil
8. Kurang semangat dalam mengajari istri ajaran-ajaran agamanya
9. Bersikap pelit terhadap istri
10. Datang secara tiba-tiba setelah lama pergi
11. Banyak mencela dan mengkritik istri
12. Kurang berterima kasih dan memotivasi istri
13. Banyak bersengketa dengan istri
14. Lama memutus hubungan dan meninggalkan istri tanpa sebab yang jelas
15. Sering berada di luar rumah dan jarang bercengkrama dengan keluarga
16. Interaksi yang buruk dengan istri
17. Tidak menganggap penting berdandan untuk istri
18. Kurang perhatian terhadap doa yang dituntun ketika menggauli istri
19. Kurang memperhatikan Etika, Hikmah dan Hukum hubungan badan
20. Menyebarkan rahasia ranjang
21. Tidak mengetahui kondisi biologis perempuan
22. Menggauli istri ketika haid
23. Menggauli istri pada duburnya
24. Memukul istri tanpa alasan
25, Kesalahan tujuan poligami
26. Tidak bersikap Adil antara beberapa istri
27. Terburu-buru dalam urusan Talak
28. Tidak mau mentalak, padahal sudah tdk mungkin ada perbaikan dan kecocokan
29. Mencela istri setelah berpisah dengannya
30. Menelantarkan anak-anak setelah mentalak istri
31. Kurang setia terhadap istri
32. Kurang puas dan selalu melirik perempuan lain.
Baca Juga : Al-Qur'an Sangat Melarang Keras Merebut Istri Atau Suami Orang, Ini Akibatnya !
Demikianlah Ke-32 perbuatan tercela yang dibenci Oleh Allah SWT dan merupakan kedurhakaan terhadap istri yang jika para suami langgar maka rahmat dan nikmat Allah tidak akan mereka rasakan. [reportaseterkini]

Reportase Terkini - Istri Bershadaqah Bagi Suami.“Dari zainab, istri Abdullah bin Mas’ud, Ia berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, ‘Bersedekalah, hai kaum perempuan, walaupun berupa perhiasan kalian!’ Zainab berkata, ‘Maka, aku pulang menemui Abdullah bin Mas’ud, lalu aku katakan kepadanya, ‘Engkau adalah orang yang ringa tangan, sedangkan rasulullah Saw memerintahkan kami agar bersedekah. 



Oleh karena itu temuilah Rasulullah Saw, lalu tanyakan kepada beliau, apakah sedekahku cukup untuk keluargaku sendiri? Jika tidak boleh, maka aku akan memberikannya kepada orang lain. ‘Zainab berkata, ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, ‘Kamu saja yang menemui Rasulullah Saw.’Zainab berkata,’Kemudian, aku pergi, ternyata di pintu Rasulullah Saw ada seorang perempuan dari kaum Anshar yang mempunyai keperluan yang sama denganku.’Zainab berkata, ‘Rasullah Saw telah diberikan wibawa pada dirinya (yang membuat orang lain segan untuk bertemu).’Zainab berkata, ‘Tiba-tiba Bilal keluar menemui kami, maka kami pun berkata kepada Bilal, ‘temuilah Rasulullah, lalu beritahukan kepadanya bahwa di pintu ada dua orang perempuan yang ingin bertemu dengannya. Apakah boleh dua orang perempuan ini bersedekah kepada suami mereka dan anak-anak yatim dari keluarga mereka sendiri? Tapi, jangan beritahukan kepada beliau siapa kami ini!’ Zainab berkata, ‘Lantas, Bilal masuk menemui Rasulullah dan menanyakan seperti yang diminta perempuan itu. Maka Rasulullah Saw bertanya, ‘Siapakah dua orang perepmuan itu? ‘Bilal menjawab, ‘Salah seorang perempuan dari kaum Anshar dan Zainab. ‘Rasulullah Saw menanyakan lagi, ‘Zainab yang mana’? Jawab Bilal, ‘Istri Abdullah bin Mas’ud.’ Lalu, Rasulullah Saw berkata kepaa Bilal, ‘Dua perempuan itu mendapat dua pahala, pahala karena berbuat baik kepada keluarganya dan pahala sedekah.” (HR. Muslim, 3/80).

Ada dua pelajaran berharga yang terdapat dalam hadits tersebut. Pertama, pelajaran tentang pentingnya seorang perempuan atau seorang istri untuk menyedekahkan harta yang ia miliki kepada orang lain yang lebih membutuhkan, seperti anak yatim, fakir miskin, dan sebagainya.
Baca Juga : Pintu Surga Bagi Orang Yang Gemar BerSedekah
Kedua dalam hadits tersebut juga disebutkan bahwa seorang istri yang membelanjakan hartanya untuk keperluan keluarga atau suaminya akan diganjar dengan dua pahala karena berbuat baik dan sekaligus pahala shadaqah.

Hadits tersebut seharusnya menjadi berita gembira bagi kaum perempuan, khususnya para istri dan para ibu. Sebab, yang mereka lakukan terhadap suami dan anak-anaknya, seperti membelanjakan hartanya untuk keperluan mereka, merupakan perbuatan yang sangat mulia, dan akan diganjar dengan pahala kebaikan.

Dalam riwayat lain disebutkan, jika seorang istri menginfaqkan (bershadaqah) makanan kepada keluarganya dengan tidak bermaksud tidak untuk mencari kerusakan maka baginya pahala dari yang ia infaqkan. Begitu juga pahala bagi suaminya berkat harta yang diusahakan itu.

Demikianlah betapa indahnya islam itu. Dalam sebuah keluarga, seorang suami yang menafkahi istrinya maka diganjar dengan pahala shadaqah. Dan, seorang istri yang membelanjakan harta suaminya untuk keperluan mereka sekeluarga juga diganjar dengan pahala shadaqah dan kebaikan. Jadi, baik kerja keras suami maupun istri, keduanya sama-sama bernilai kebaikan jika dilakukan dengan penuh keiklhasan. [reportaseterkini]

Reportase Terkini - Daya Pikat Prempuan Karena Pengaruh Syetan. “Dari Jabir, ia berkata, ‘Sesungguhnya, Rasulullah Saw pernah melihat seorang perempuan, lalu beliau mendatangi Zainab, istri beliau, yang sedang menyamak kulit miliknya. Kemudian, beliau menyalurkan keinginan beliau. Setelah itu, beliau keluar kepada para sahabat, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya, perempuan itu bila dilihat dari depan tampak memikat karena ada pengaruh setan. Apabila seseorang melihat perempuan lalu terpikat, maka segeralah pulang untuk berhubungan ba.dan dengan istrinya, karena hal tersebut bisa meredam hawa nafsu sek.sualnya.” (HR. Muslim, 4/130)


Seperti yang telah dibahas pada hadits sebelum-sebelumnya bahwa perempuan akan menjadi godaan terbesar bagi laki-laki. Mungkin saja seorang laki-laki masih bisa kuat bertahan dari godaan harta. Namun, tidak sedikit diantara mereka yang mudah takluk oleh rayuan seorang perempuan.
Baca Juga : Setelah Pulang Bekerja Lakukanlah Dua Hal Ini Kepada Istri Anda
Hadits ini menginformasikan kepada kita, setan menjalankan salah satu modusnya melalui rupa dan tubuh seorang perempuan. Dengan berbagai cara, setan akan menjadikan seorang perempuan tampak memikat bagi setiap mata laki-laki yang melihatnya. Dengan modus seperti ini, tidak jarang laki-laki yang berhasil diperdaya setan sehingga laki-laki tersebut terjerumus ke perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan Allah Swt.

Sedari dulu banyak suami yang terjerumus ke dalam perselingkuhan, karena mereka sudah begitu menikmati kebiasaanya memandang seorang perempuan lain. Awalnya, mungkin sekedar melihat biasa saja. Teteapi cepat atau lambat ketertarikan akan muncul dalam hatinya. Selama ketertarikan itu dibiarkan menguasai pikiran, maka setan akan semakin kuat menanamkan pengaruhnya sehingga perlahan-lahan benih-benih perselingkuhan dan perzinaan akan tumbuh dengan subur.

Melalui hadits ini, Rasulullah Saw juga memberikan terapi, khususnya bagi para suami, agar tidak tertipu oleh perangkap setan. Suami yang merasa tertarik saat melihat perempuan lain, mereka dianjurkan untuk segera menemui istrinya dan melakukan hubungan sek.sualnya demi meredam gejolak syah.wat yang sudah dihembuskan oleh setan saat melihat perempuan lain. [reportaseterkini]

Ngawi Cyber

Diberdayakan oleh Blogger.