Tampilkan postingan dengan label Kisah-Nabi. Tampilkan semua postingan

Kisah Nabi Isa Saat Mulai Memiliki Pengikut ~ Sesampai di makam, Isa berdiri persis di dekat makam, menatap ke langit, memohon kepada Allah serta berkata dengan penuh keyakinan “Wahai Azir, bangunlah!” Tiba-tiba makam itu terbelah, Azir keluar dari dalam makam. Sang ibu memeluk Azir, dengan air mata bercucuran.

Setelah Nabi Isa dianugerahi Allah, dengan mukjizat bisa mengolah tanah liat menjadi burung, dan burung itu dari tanah liat kemudian bisa mengepakkan sayap dan terbang tinggi ke angkasa tak lama setelah Nabi Isa meniupnya, pendeta Yahudi hanya bisa berdecak kagum dan heran. Tak pernah terpikir di benak mereka  jika Nabi Isa bisa melakukan hal yang tak mungkin menjadi mungkin.


Tetapi sekalipun mukjizat Nabi Isa itu telah dilihat di depan mata mereka, hati mereka seperti tertutup kabut. Mereka tidak mau mengakui akan kebenaran dan mukjizat yang dimiliki Nabi Isa. Sebaliknya, mereka semakin benci kepada Nabi Isa, selain menyebarkan kebencian dan fitnah, mereka pun bersepakat untuk membunuh Nabi Isa.

Nabi Isa hanya memandang mereka dengan heran. Lalu Nabi Isa berkata, “Siapa yang akan  menjadi penolongku untuk (menegakkan Agama) Allah?”

Ada dua belas orang lelaki bangkit, dan tanpa ragu lagi berkata,”Kami adalah penolong-penolong agama Allah.” (QS. 3 : 52)

Setelah itu, mereka menengadah ke langit dan berkata dengan penuh keyakinan “Ya Tuhan kami telah beriman kepada apa yang telah engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu  masukkanlah kami ke golongan orang-orang yang menjadi saksi.” (QS.3 : 53)

Meminta Makanan Lezat

Allah telah memberikan hidayah-Nya kepada murid-murid Nabi Isa itu, dan akhirnya mereka beriman kepada-Nya dan rasul-Nya. Murid-murid Nabi Isa itu mengikuti ajaran Nabi Isa, putra Maryam, juga bahkan beriman kepadanya dan mendukungnya.

Nabi Isa dikenal sebagai orang suci dan tidak memiliki keraguan kepada Allah akan apa yang diyakini Nabi Isa beriman kepada Allah tanpa keraguan Nabi Isa ingin orang-orang Bani Israil beriman kepada Allah, karena itu Nabi Isa selalu berdoa kepada Allah memohon kebaikan dan berharap semakin hari ada orang yang mau mendengarkan dan kemudian mengikuti ajaran yang dibawanya. Nabi Isa ingin orang-orang Bani Israil tidak tersesat, menemukan kebenaran dan berbuat kebaikan.

Sejak menerima risalah kenabian. Nabi Isa selalu berdakwah berbagai tempat dan berharap ada yang mendengarkan. Pernah Nabi Isa berdakwah ke daerah perbukitan. Nabi Isa mengajak murid-muridnya. Di perbukitan itu, Nabi Isa dan murid-muridnya yang menyertainya ingin mengajak penduduk setempat  mengenalkan risalah tauhid yang dibawa oleh Nabi Isa.

Perjalanan ke perbukitan itu tidaklah mudah, Nabi Isa dan murid-muridnya berhenti sejenak di dekat sebuah pancuran. Nabi Isa dan murid-muridnya duduk. Tapi diluar perkiraan murid-muridnya tiba-tiba Nabi Isa mengusap dan mencuci  kaki murid-muridnya itu. Tentu, murid-murid Nabi terhenyak kaget kemudian bertanya, “Wahai Nabi mengapa engkau mencuci kaki kami?”

Seraya masih terus mencuci kaki murid-muridnya, Nabi Isa menjawab dengan penuh rendah hati. “Aku ingin kalian memperlakukan orang-orang seperti aku memperlakukan kalian. Aku ingin kalian melayani mereka seperti aku melayani kalian.”

Matahari terus bergeser, pagi berganti menjadi siang. Murid-murid Nabi Isa  merasa ada yang melihat di perut mereka. Murid-murid  mulai merasa lapar, Nabi Isa memberikan contoh pada murid-muridnya cara menghilangkan rasa lapar dengan memakan dedaunan dan tumbuhan-tumbuhan liar. Tetapi murid-murid  Nabi Isa tidak tergolong pengembara, sehingga tidak mampu melakukan apa yang  dilakukan Nabi Isa. Sebab, bertahun-tahun Nabi Isa telah meninggalkan keduniawian bisa menahan lapar dan dahaga dengan cara  yang tak biasa. Hal itu yang belum bisa diteladani oleh murid-murid Nabi Isa.

Dalam kondisi lapar seperti itu, murid-murid Nabi Isa berharap ada keajaiban. Mereka pun membincangkan mukjizat Nabi Isa. “Nabi Isa bisa menciptakan sesekor burung dari tanah liat, dengan izin Allah. Jadi, jika dia memohon kepada Allah untuk menurunkan hidangan dari langit untuk kita,  pastilah bisa.”

Murid-murid Nabi Isa saling pandang, dengan alasan itulah mereka kemudian bertanya kepada Nabi Isa. “Wahai putra Maryam bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan kepada kita dari langit?”

Nabi Isa menoleh kemudian menjawab, “Apakah kalian meragukan kekuasaan Allah?” Kemudian Nabi Isa mengajak pada mereka. “Bertaqwalah kalian kepada Allah juka kalian benar-benar orang yang beriman!” (QS. 5 : 112)

Lalu mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu, dan supaya tentram  hati kami, dan supaya kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada  kami dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu” (QS.5 : 113)

Sejenak Nabi Isa terdiam, wajahnya yang semula bersinar kemudian berubah  menjadi layu dan sedih. Bagaimana tidak? Murid-muridnya sedang mengujinya. Padahal sudah jelas Nabi Isa dianugerahi satu mukjizat, pernah membuat burung dari tanah liat, kemudian atas izin Allah nabi Isa meniupnya, dan burung itu menggeliat, hidup dan bisa terbang.

Mata Nabi Isa hampir berkaca-kaca, karena merasa sedih. Tapi keinginan murid-murid nabi Isa itu seperti tak kuasa ditolaknya Nabi Isa kemudian bersujud kepada Allah. Setelah itu Nabi Isa menengadahkan tangan dan berdoa kepada Allah dengan hati penuh kekhusyukan, dengan satu harapan untuk memenuhi keinginan murid-muridnya.

“Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu. Berilah rezeki kepada kami, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. 5 : 114)

Tak selang lama kemudian, tempat nabi Isa dan murid-muridnya itu dipenuhi dengan cahaya. Kemudian Allah swt berfirman kepada mereka. ”Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian, barangsiapa  yang kafir di antara kalian, sesudah  (turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku dan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.” (QS. 5 : 115)

Beberapa saat kemudian, makanan istimewa (hidangan dari langit yang dijanjikan oleh Allah) itu turun. Dalam hidangan itu, terpampang roti dan daging. Roti dan daging itu terlihat menggiurkan lidah murid-murid Nabi Isa. Bahkan, aroma  dari hidangan itu sampai  menyebar ke segala penjuru disekitar tempat  itu, sehingga  mengundang orang-orang yang lapar dan yang miskin untuk datang menikmati  hidangan tersebut.

Setelah orang-orang itu datang dan melihat di hadapan Nabi Isa dan murid-muridnya terhampar hidangan makanan yang lezat, mereka pun ditawari untuk ikut makan dan minum. Mereka ikut makan dan minum  dengan penuh keceriaan. Tak pernah mereka makan-makanan senikmat dan selezat itu.

Mukjizat Menghidupkan Orang Mati

Nabi Isa memiliki seorang teman yang bernama Azir. Dia itu pemuda yang beriman sehingga Nabi Isa pun mencintainya. Setelah lama tak bertemu, Nabi Isa memutuskan berkunjung ke rumah Azir. Tiba-tiba, seorang wanita datang menyambutnya, seraya menangis.

“Azir telah meninggal dan dikuburkan tiga hari yang lalu,” jawab wanita itu. “Apakah engkau ingin melihat Azir?” Wanita yang tak lain adalah ibu Azir itu menjawab, “Ya”.

Isa berkata, “Besok aku akan kembali dan memberinya kehidupan, dengan izin Allah”. Esoknya, Isa datang dan berkata kepada Ibu Azir, “Ikutlah denganku ke makamnya.”

Sesampai di makam, Isa berdiri persis di dekat makam, menatap ke langit, memohon kepada Allah serta berkata dengan penuh keyakinan, “Wahai Azir, bangunlah!”

Tiba-tiba makam itu terbelah, Azir keluar dari dalam makam. Sang ibu memeluk Azir, dengan air mata bercucuran. Apakah engkau ingin tinggal dengan ibumu?” Azir menjawab, “Ya” Nabi Isa menjawab, “Allah telah memberimu sebuah kehidupan baru. Kau akan menikah dan Allah akan menganugerahimu anak-anak yang baik.”

Membantu Para Nelayan

Pada hari yang lain, Nabi Isa pergi ke pantai. Tapi hari itu, Nabi Isa melihat para nelayan sedih. Mereka tak mendapat tangkapan ikan. Nelayan-nelayan itu duduk di tepi pantai dengan muka murung. Mereka juga melipat layar mereka karena sudah merasa putus asa.

Tiba-tiba, Nabi Isa naik ke perahu, memerintahkan para nelayan itu untuk segera menaikkan layar, dan mengikuti perahu Nabi. Nabi Isa memerintahkan kepada para nelayan untuk berhenti di tempat tertentu di laut biru, dan melemparkan jala-jala mereka. Sesuatu yang mengejutkan pun terjadi, ketika nelayan-nelayan itu menarik jala-jala mereka, jala-jala mereka itu penuh dengan ikan. Mereka terus  menangkap ikan hingga perahu mereka penuh ikan.

Mukjizat Yang Menyembuhkan

Suatu hari, Nabi Isa diajak satu muridnya berkunjung ke rumahnya. Dalam perjalanan, Nabi Isa melihat seorang pemuda berjalan dan beberapa orang mengejek pemuda itu karena pemuda itu tuli dan bisu, tak mendengar apa pun, sehingga ia tak mampu berbicara. Namun ia menatap orang-orang itu dengan  kebingungan ketika mereka  mentertawakannya dengan sinis.

Nabi Isa meletakkan telapak tangannya ke telinga pemuda itu, dan ia bisa mendengar. Orang-orang heran, ketika mereka mengetahui pemuda itu bisa mendengar. Sebagian mereka kemudian beriman dan menjadi pengikut Nabi Isa.

Setelah itu, Nabi Isa meneruskan perjalanan, berkunjung ke rumah muridnya. Esoknya, Nabi Isa mendengar  beberapa orang  mengetuk pintu dengan kerasnya. Nabi Isa keluar melihat apa yang terjadi. Ketika Nabi Isa keluar, dia melihat  seorang yang menderita penyakit lepra yang sedang berjalan dan beberapa orang melempari orang itu dengan batu untuk memaksanya meninggalkan desa itu. Orang-orang itu melempari dari kejauhan dan merasa jijik melihatnya.

Nabi Isa kemudian mendekati orang yang menderita lepra itu, lalu meletakkan telapak tangannya di wajahnya dan ternyata berhasil dapat menyembuhkan penyakit lepra yang diderita orang itu.
Orang-orang itu saling pandang, dan kemudian berebut untuk menyentuh tangan Nabi Isa.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo

Dunia Nabi ~ Kaum Anshar dan kaum Muhajirin di Madinah bersatu,Islam semakin kuat. Selama itu, kaum Quraisy di Mekkah seringkali melancarkan serangan. Peperangan di antara umat Islam dan kaum Quraisy tidak dapat terhindarkan, seperti Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandak.

Dari berbagai pertempuran tersebut, hanya pada Perang Uhud Umat Islam kalah. Kekalahan umat Islam disebabkan oleh ketidakpatuhan pasukan ahli pemanah terhadap perintah Nabi Muhammad saw.


Setelah Perang Khandak, umat Islam dan kaum Quraisy mengadakan perjanjian perdamaian, yaitu Perjanjian Hudaibiyah. Umat Islam dapat hidup damai berdampingan dengan kaum Quraisy. Namun setelah beberapa lama, kaum Quraisy melanggar perjanjian tersebut dengan menyerang sekutu umat Islam.

Ketika itu, Bani Khuza’ah bersekutu dengan umat Islam, sedangkan Bani Bakar bersekutu dengan kaum Quraisy. Bani Bakar menyerang Bani Khuza’ah. Banyak orang dari Bani Khuza’ah yang terbunuh. Di antara Bani Khuza’ah yang selama meminta pertolongan kepada Rasulullah.

Rasulullah segera mempersiapkan pasukannya. Rasulullah dan tentaranya bergerak ke Mekkah pada bulan Ramadhan 8 Hijriah. Ketika sampai di Mar Al-Zahran, Rasulullah memerintahkan untuk menyalakan ribuan api obor. Rasulullah juga mengutus Abu Sufyan ke Mekkah. Kaum Quraisy pun menyadari kedatangan Rasulullah dan tentara Muslim. Kaum Quraisy bersembunyi karena tidak mampu melawan.

Baca juga :
Akhirnya, Rasulullah dan tentara Muslm tiba di Mekkah. Rasulullah mencium batu Hajar Aswad. Kemudian, Rasulullah dan tentara Muslim menghancukan 360 berhala di sekitar Ka’bah. Ia juga bertawaf sebanyak 7 kali. Lukisan Nabi Ibrahim dan patung berhala di dalam Ka’bah dihancurkan oleh Rasulullah.

Rasulullah mengatakan siapa saja yang bersembunyi di rumah masing-masing, di Masjidil Haram, atau di rumah Abu Sufyan akan dimaafkan. Penduduk Mekkah sangat senang dan banyak di antara mereka yang memeluk agama Islam.

Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam. Ketika Nabi Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam. Banyak rintangan dihadapi oleh Nabi Muhammad selama berdakwah. Namun, tidak sedikitpun, beliau berputus asa.

Nabi Muhammad diutus Allah bagi seluruh umat manusia. Hal itu sesuai dengan Al-Quran Surat Saba ayat 28, “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”

Hal itu berbeda dengan Nabi-Nabi sebelumnya. Mereka diutus oleh Allah untuk suatu kaum. Misalnya, Allah mengutus Nabi Shaleh kepada kaum Tsamud, Nabi Hud kepada kaum ‘Ad, dan Nabi Musa kepada kaum Bani Israil.

Meskipun demikian, terdapat persamaan antara Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi sebelumnya, yaitu sama-sama mengajarkan untuk hanya menyembah kepada Allah. Nabi-Nabi itu mengajarkan tauhid, yaitu tidak ada Tuhan selain Allah dan hanya Allah yang patut disembah. Hal itu sesuai dengan Al-Quran Surat Al-Anbiyaa ayat 25, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami Wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.”

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Ka’bah merupakan pusat kegiatan masyarakat jahiliyah Arab. Hal ini terjadi karena Ka’bah terdapat berhala-berhala. Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku datang ke Ka’bah untuk menjalankan ritual dan tradisi keagamaannya. Pada saat itulah, Nabi Muhammad berdakwah kepada mereka agar memeluk agama Islam. Di antara mereka yang tertarik memeluk agama Islam adalah orang-orang dari Yatsrib (Madinah).


Orang-orang Yatsrib menemui Nabi Muhammad di Bukit Aqabah secara diam-diam. Setelah memeluk agama Islam, mereka berjanji setia akan melindungi Islam, Nabi Muhammad, dan orang-orang Islam di Mekkah. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Baiat Aqabah yang pertama.

Pada tahun berikutnya, orang-orang Yatsrib datang lagi ke Bukit Aqabah dalam jumlah yang lebih banyak. Mereka memeluk agama Islam dan berjanji setia akan melindungi Nabi Muhammad dan ajarannya. Ketika itu, mereka mengundang Nabi Muhammad dan umat Islam di Mekkah untuk tingga di Yatsrib. Nabi Muhammad pun memutuskan agar ia dan pengikutnya berhijrah ke Yatsrib.

Ketika mengetahui Nabi Muhammad dan pengikutnya hendak berhijrah, kaum Quraisy berusaha menghalanginya. Namun, Nabi Muhammad dan umat Islam di Mekkah telah bertekad untuk hijrah ke Yatsrib. Mereka berhijrah ke Yatsrib secara bertahap. Akhirnya selama sekitar dua bulan, Nabi Muhammad dan umat Islam Mekkah sampai di Yatsrib. Umat Islam dari Madinah (kaum Muhajirin) disambut dengan suka cita oleh penduduk Yatsrib (kaum Anshar) yang hampir semuanya telah memeluk agama Islam. Kota Yatsrib kemudian dikenal dengan nama Madinah Al-Munawwarah yang artinya ‘Kota yang bercahaya’.

Di Madinah, Islam telah berkembang pesat. Umat Islam dapat beribadah dengan tenang. Di Madinah juga terbentuk pemerintahan Islam di bawah pimpinan Nabi Muhammad saw.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Nabi Muhammad sering kali menyendiri di Gua Hira. Belia sering kali memikirkan masyarakat Arab yang banyak melakukan perbuatan buruk dan dilingkupi dengan kebodohan. Beliau berusaha memahami tentang keesaan Allah.


Pada suatu malam, tepatnya pada malam 17 Ramadhan, malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad yang sedang menyendiri di Gua Hira. Pada saat itulah, Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama. Wahyu itu adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Ketika itu, Nabi Muhammad berumur 40 tahun dan telah menikah dengan Khadijah.

Setelah itu, wahyu dari Allah swt turun secara bertahap dalam jangka waktu 23 tahun. Wahyu Allah tersebut di kumpulkan dalam kitab yang bernama Al-Quran. Selain Al-Quran, kaum Muslim juga memiliki pegangan atau pedoman hidup yang diberi nama As-Sunnah. As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan segala perkataan, tindakan, dan persetujuan dari Nabi Muhammad saw.

Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad berdakwah mengajak orang-orang untuk menyembah Allah. Selama tiga tahun pertama, Nabi Muhammad hanya menyebarkan ajaran Islam kepada teman-teman dekat dan kerabat beliau secara sembunyi-sembunyi. 

Pada awal tahun 613, Nabi Muhammad saw mendapatkan wahyu dari Allah swt untuk berdakwah secara terang-terangan kepada penduduk Kota Mekkah dan sekitarnya. Ketika itu, Nabi Muhammad banyak mendapat tantangan dan cemoohan dari tokoh-tokoh Quraisy atau masyarakat jahiliah pada masa itu. Mereka menyiksa dengan kejam bahkan membunuh para pengikut Nabi Muhammad saw.

Meskipun mendapat banyak tantangan dari kaum musyirikin Quraisy, dakwah Nabi Muhammad saw tidak pernah surut. Beliau dan pengikutnya tetap menyebarkan ajaran Islam dengan penuh keteguhan dan keikhlasan.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Nabi Muhammad saw ialah Nabi akhir zaman sebab sesudah beliau tidak ada lagi orang yang diutus Allah swt sebagai Nabi.

Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Abdullah meninggal dalam perjalanan dagang di Yatsrib (Madinah). Ketika itu, Nabi Muhammad masih dalam kandungan ibunya. Abdullah meninggalkan harta berupa lima ekor unta, sekawanan biri-biri, dan seorang budak perempuan yang bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh Nabi Muhammad saw.


Ketika Nabi Muhammad berumur enam tahun, ibunya mengajak Nabi Muhammad pergi ke Yatsrib (Madinah). Mereka bermaksud untuk menziarahi makam Abdullah (Ayahnya) dan mengunjungi saudaranya yang tinggal di sana.

Setelah sebulan lamanya mereka tinggal di Madinah, akhirnya mereka kembali ke Mekkah. Nabi Muhammad saw telah mengetahui pusara ayahnya dan berkenalan dengan sanak keluarganya.

Namun, di tengah perjalanan pulang menuju Mekkah, tepatnya di daerah Abwa’ ibu beliau jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa’ yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, kemudian dikuburkan disana. Setelah ibunya meninggal, Nabi Muhammad saw diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Setelah kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Pada masa itulah, Nabi Muhammad diminta menggembala kambing-kambingnya di sekitar Kota Mekkah. Nabi Muhammad juga pernah menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam.

Nabi Muhammad saw tumbuh menjadi orang yang meyakini keesaan Allah swt. Beliau hidup sederhana dan tidak berlaku sombong. Beliau juga menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruk di kalangan bangsa Arab seperti berjudi dan minum-minuman keras serta menyembah berhala. Masyarakat di sekitarnya mengenal beliau sebagai Ash-Shadiq (orang yang benar) dan Al-Amin (orang yang terpercaya).

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Muhammad atau Mohammad atau Mohammed adalah pembawa ajaran Islam. Nabi Muhammad lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau bertepatan dengan tanggal 20 April 570 Masehi di Mekkah.

Dalam Bahasa Arab, ‘Muhammad’ memiliki arti ‘dia yang terpuji’. Nabi Muhammad biasa dipanggil dengan gelar Rasulullah dan menambahkan kalimat ‘Sallallahu alaihi wassalam’ yang artinya ‘Semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya’.


Muhammad diyakini sebagai Nabi yang utama dan terakhir dalam ajaran Islam. Pengakuan terhadap kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk menjadi muslim. Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad diposisikan sebagai Nabi penutup dari rangkaian para Nabi-Nabi sebelumnya. Jadi, Nabi Muhammad bukanlah pembawa ajaran baru.

Sekalipun Nabi Muhammad seorang Nabi, tetapi dalam pandangan Islam, Nabi Muhammad adalah seorang manusia biasa. Meskipun demikian, setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupan Nabi Muhammad dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang Muslim. Oleh karena itu, ajaran Islam mengenal istilah Hadits. Hadits adalah kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad. Hadits memberi sumber hukum kedua dalam agama Islam setelah Al-Quran.

Baca juga :
Islam artinya ‘berserah diri kepada Tuhan’. Islam adalah agama yang meyakini satu Tuhan, yaitu Allah. Agama ini termasuk agama Samawi, yaitu agama-agama yang dipercaya oleh pengikutnya diturunkan dari langit dan juga termasuk golongan agama Ibrahim.

Orang-orang yang beragama Islam atau mengikuti ajaran Islam disebut Muslim, lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimah bagi perempuan. Ajaran Islam merupakan penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi sebelumnya.

Al-Quran adalah kitab suci bagi umat Islam. Al-Quran adalah firman-firman Allah yang disampaikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Umat Islam sama sekali tidak meragukan hal itu. Oleh karena itu, umat Islam menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidupnya.

Umat Islam juga diajarkan untuk meyakini kitab Suci sebelum Al-Quran, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Namun, umat Islam juga percaya bahwa kitab-kitab suci selain Al-Quran telah mengalami perubahan yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang benar-benar asli.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Beberapa waktu sebelum Nabi Muhammad saw lahir terjadi peristiwa yang sangat dikenang oleh kaum Quraisy. Peristiwa tersebut adalah kehancuran pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah. Abrahah adalah seorang raja di daerah Yaman. Dia melihat orang-orang Arab berdatangan ke Ka’bah di Kota Mekkah. Dia merasa iri hati melihat keberkahan yang terjadi di Mekkah. Oleh karena itu, dia membangun sebuah gereja di Kota Sana’a.

Abrahah membangun gereja yang sangat indah. Gereja tersebut dibangun dengan seni arsitektur yang sagat tinggi. Di setiap sudutnya terdapat batu permata yang berkilauan. Dia bertekad ingin memindahkan orang-orang Arab ke gereja itu, bukan ke Ka’bah lagi.

Melihat hal tersebut, orang-orang Arab Adnaniyah dan Qahtaniyah sangat membencinya. Kaum Quraisy pun sangat marah. Kemudian, salah seorang Quraisy datang ke gereja tersebut pada malam hari. Dia membuat kerusuhan di dalamnya. Bahkan dia berani membakarnya. Pada saat itu, angin bertiup sangat kencang sehingga menghanguskan seluruh bangunan gereja
.
Mengetahui gerejanya telah terbakar, Abrahah sangat marah. Apalagi yang membakarnya adalah orang Quraisy. Abrahah bersumpah akan menghancurkan Ka’bah di Mekkah. Kemudian, Abrahah menyiapkan pasukan yang sangat banyak. Setiap pasukan menunggangi seekor gajah yang sangat besar yang bernama Mamut. Pasukan bergajah akhirnya bergerak menuju kota Mekkah.


Orang-orang Arab bertekad untuk mempertahankan Ka’bah. Salah seorang pemuda Quraisy, Dzu Nafar, menghadang pasukan bergajah. Namun, ia dengan mudah dikalahkan dan ditawan oleh Abrahah. Begitu pula, Nufail bin Habib Al-Khatsami. Dia bersama dengan teman-temannya berusaha menghadang pasukan bergajah. Namun, ia pun dapat dikalahkan.

Pasukan bergajah terus bergerak sampai ke Kota Al-Mughommas, yaitu suatu tempat yang sangat dekat dengan Mekkah. Di tempat tersebut, Abrahah dan pasukannya turun dari gajah. Mereka merampas harta kekayaan kaum Quraisy. Di antara harta rampasan tersebut adalah 200 ekor unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad saw. Abrahah mengutus Hanathah Al-Himyari agar menangkap orang Quraisy yang paling terhormat untuk menghadap kepadanya.

Hanathah datang kepada Abdul Muthalib. Dia mengajak Abdul Muthalib untuk menghadap Abrahah. Sesampainya di hadapan Abrahah, Abrahah menghormatinya dan turun dari kursinya. Kemudian dia duduk bersama dengan Abdul Muthalib di atas permadani. Abdul Muthalib berkata, “Aku datang ke sini hanya ingin mengutarakan maksudku. Aku ingin engkau mengembalikan 200 ekor unta milikku.

Abrahah berkata, “Aku sangat heran denganmu. Kamu ke sini hanya untuk membicarakan unta milikku. Kamu tidak menyinggung sedikit pun tentang bangunan yang merupakan simbol agama kamu dan peninggalan nenenk moyangmu. Padahal aku ke sini ingin menghancurkannya.” Abdul Muthalib menjawab, “Sesungguhnya aku adalah pemilik unta-unta tersebut. Sedangkan bangunan itu ada yang memilikinya. Dia sendiri yang akan mempertahankannya.” Abrahah dengan sombong berkata, “Dia tidak akan sanggup menghalangiku.” Abdul Muthalib membalas, “Silakan, kamu akan berurusan dengan-Nya.”

Kemudian, Abrahah mengembalikan unta-unta milik Abdul Muthalib. Abdul Muthalib menemui kaum Quraisy dan menyuruh mereka berlindung di puncak gunung. Dia khawatir kaumnya akan diserang oleh pasukan bergajah. Abdul Muthalib memegang pintu Ka’bah. Dia berkata, “Tidak ada kesedihan. Sesungguhnya setiap orang telah mempertahankan miliknya. Oleh karena itu, pertahankanlah milik-Mu. Kekuatan dan tipu daya mereka tidak akan dapat mengalahkan tipu daya-Mu.”

Pada saat Abrahah menyiapkan gajahnya dan mengarahkannya menuju Ka’bah, datanglah Nufail bin Habib. Dia berdiri di samping gajah sambil berbisik, “Berhentilah hai Mamut! Kembalilah ke tempat asalmu. Sekarang kamu berada di tanah Allah swt yang diharamkan untukmu.” Tidak lama kemudian, gajah itu pun berhenti dan duduk. Nufail pun meninggalkan tempat itu untuk bergabung dengan kaum Quraisy yang telah bersembunyi di balik gunung.

Pasukan Abrahah memukul gajah itu agar berdiri. Namun, gajah-gajah itu tidak mau berdiri. Jika mereka mengarahkan gajah itu ke arah selain Ka’bah, gajah itu mau pergi. Namun, jika diarahkan ke Ka’bah, gajah itu kembali berhenti sambil mengeluarkan suara yang keras. Melihat kejadian tersebut, Abrahah menaiki punggung gajah. Dia membentak dan memukul gajah itu untuk memaksanya masuk ke tanah haram. Abdul Muthalib dan kaum Quraisy lainnya melihat semua kejadian yang aneh tersebut. Mereka sangat heran melihat tingkah laku gajah-gajah itu.

Pada saat itulah, Allah swt mengirimkan sekawanan burung ababil yang sangat banyak. Setiap burung membawa tiga buah batu yang berasal dari neraka. Dua batu diletakkan di kedua kakinya, sedangkan satu batu di paruhnya. Burung-burung itu datang tepat di atas pasukan bergajah. Kemudian burung-burung itu melemparkan batu-batu itu. Pada saat itu, tidak ada satu buah batu pun yang menimpa kepala seseorang melainkan batu itu akan keluar melalui duburnya. Tidak ada satu buah batu pun yang menimpa tubuh seseorang melainkan batu itu akan keluar melalui sisi sebelahnya. Di antara pasukan bergajah itu ada yang langsung mati dan ada juga yang dagingnya jatuh sepotong-sepotong. Mereka lari tunggang langgang karena sangat ketakutan.

Abrahah, sang pemimpin pasukan, mengalami luka yang sangat parah. Daging dan anggota tubuhnya jatuh sepotong-sepotong. Bahkan jari jemarinya terlepas. Dia berhasil meninggalkan tempat itu hingga ke negerinya. Namun akhirnya, dia tewas setelah menceritakan kejadian hebat itu kepada kaumnya. Orang-orang Quraisy mendapatkan harta rampasan perang yang sangat berlimpah. Bahkan Abdul Muthalib mendapat emas sebanyak satu lubang besar. Demikianlah azab yang menimpa pasukan bergajah karena mereka ingin menghancurkan rumah Allah swt. Namun, Allah swt melindungi rumah-Nya dengan kekuasaan yang tanpa batas.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Berbagai cara telah dilakukan untuk membendung pengaruh Nabi Isa. Namun, pengikut Nabi Isa semakin banyak. Oleh karena itu, para pemuka agama Yahudi bersepakat untuk membunuhnya.

Nabi Isa dan beberapa pengikutnya bersembunyi karena Nabi Isa telah mengetahui niat jahat mereka. Namun, salah seorang pengikut Nabi Isa, Yahuza, telah berkhianat. Ia memberitahukan tempat persembunyian Nabi Isa.


Pada hari yang telah ditentukan, orang-orang Yahudi menyerbu tempat persembunyian Nabi Isa. Pada saat itulah, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit. Dalam Surat Ali Imran ayat 55, Allah telah berfirman tentang diangkatnya Nabi Isa. “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.” (QS. Ali Imran : 55)

Ayat lain yang juga menegaskan bahwa Nabi Isa diangkat oleh Allah adalah Surat An-Nissa ayat 158. “Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah adalah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Baca juga :
Ketika orang-orang Yahudi sampai di tempat persembunyian Nabi Isa, Allah telah mengubah wajah Yahuza menyerupai wajah Nabi Isa. Orang-orang Yahudi pun menangkap Yahuza yang disangka Nabi Isa. Yahuza mencoba memberitahu mereka bahwa dia bukanlah Nabi Isa. Namun, semua itu sia-sia saja.

Orang-orang Yahudi menyalib Yahuza di papan. Kedua tangannya dipaku. Mereka sangat senang melihat kejadian tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa yang berada di papan salib itu adalah Yahuza. Yahuza pun mati.

Surat An-Nissa ayat 157 menyatakan bahwa mereka tidak membunuh Nabi Isa dan tidak pula menyalibnya. Namun, mereka membunuh orang yang wajahnya dibuat menyerupai Nabi Isa. “Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” Mereka menyebut Isa Putra Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Nabi Isa senantiasa berdakwah kepada kaum Bani Israil. Ia mengajak kaum Bani Israil menyembah Allah. Dalam berdakwah, Nabi Isa menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah. Nabi Isa juga membenarkan tentang diutusnya Nabi Musa dengan Kitab Taurat.


Kemudian, Nabi Isa juga menceritakan tentang kabar gembira. Nabi Isa berkata, “Aku memberimu kabar gembira dengan datangnya seorang Rasul sesudah aku. Ia bernama Ahmad (Muhammad).” Demikianlah, Nabi Isa telah mengisahkan tentang Rasul yang akan datang sesudah dirinya, Nabi Muhammad saw.

Hal ini dikisahkan dalam Al Quran Surat Ash-Shaff ayat 6. “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku ada utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Usaha Menghalangi Dakwah Nabi Isa

Pada suatu ketika, pengikut Nabi Isa semakin banyak. Pengaruhnya juga semakin besar terhadap kaum Bani Israil. Para pemuka agama Yahudi merasa terancam kedudukannya. Oleh karena itu, mereka mulai menyebarkan fitnah tentang Nabi Isa. Namun, orang-orang tidak terpengaruh. Malahan, pengikut Nabi Isa semakin banyak.

Para pemuka agama Yahudi merasa sudah tidak dihormati oleh kaum Bani Israil. Usaha-usaha untuk membendung pengaruh Nabi Isa terus ditingkatkan. Namun, semuanya tidak berhasil.

Baca juga :
Akhirnya, para pemuka agama Yahudi bersepakat untuk membunuh Nabi Isa. Nabi Isa mendapat wahyu dari Allah tentang kesepatakan para pemuka agama Yahudi. Setelah itu, Nabi Isa dan beberapa pengikutnya bersembunyi di suatu tempat.

Demikianlah, para pemuka agama Yahudi berusaha menghentikan dakwah Nabi Isa.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Pada suatu ketika, Rasulullah sedang berdakwah di hadapan kaum Quraisy Mekkah. Ia menyeru kaum Quraisy untuk meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah kepada Allah.

Rasulullah berkata melalui Firman Allah swt, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah kayu bakar neraka Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS. Al-Anbiya : 98). Rasulullah menambahkan bahwa ayat ini ditujukan untuk tuhan-tuhan kaum Quraisy dan juga seluruh umat manusia.


Abdullah bin Az-Zab’ari bertanya, “Bagaimana dengan Isa anak Maryam yang disembang orang Nasrani? Apakah ia juga menjadi kayu bakar neraka Jahanam seperti halnya tuhan-tuhan kami? “Rasulullah pun terdiam. Sementara itu, mereka tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa telah mampu mematahkan pendapat Rasulullah. Sebenarnya, Rasulullah terdiam karena menunggu wahyu dari Allah.

Kemudian, Rasulullah menjawab, “Isa bukanlah anak Allah. Ia adalah seorang hamba Allah yang mengajak menyembah Allah. Allah memberikan nikmat kenabian kepadanya. Pendeta Nasrani yang meminta kaum bani Israil menyembah Isa.” Rasulullah menambahkan bahwa Nabi Isa dilahirkan tanpa bapak. Hal itu menunjukkan bahwa Allah dapat melakukan segala hal sesuai dengan kehendak-Nya. Allah menjadikannya sebagai bukti kekuasaan-Nya kepada kaum Bani Israil.” Orang-orang Quraisy itu bertanya hanya untuk membantah Rasulullah dan bukan mencari kebenaran.

Ayat Al Quran yang berkaitan dengan hal ini adalah ayat 116-117 Surat Al-Maidah. “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa Putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia’, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriku. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib.’ Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya, yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”

Baca juga :
Kemudian, Rasulullah saw mempertanyakan kaum Quraisy yang menyembah berhala, padahal Allah telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaannya. Apalagi, mereka menyembah benda-benda yang diciptakan oleh mereka sendiri.

Setelah mendengar penjelasan Rasulullah, kaum Quraisy seketika terdiam. Mereka tidak dapat membantah perkataan Rasulullah yang mengandung kebenaran.

Kisah ini di diceritakan dalam Al Quran Surat Az-Zukhruf ayat 57-58, “Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf : 57-58)

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Pada suatu ketika, orang-orang miskin kaum Nasrani mendatangi Nabi Isa as. Mereka mengungkapkan keinginan mereka untuk mendapatkan makanan.


“Wahai Isa, mohonkanlah kepada Allah makanan untuk kami. Dengan demikian, keyakinan kami kepada Allah semakin kuat,” kata orang-orang miskin itu. Kemudian, Nabi Isa mengajak mereka berpuasa dan berdoa kepada Allah. Mereka beribadah dengan penuh ketakwaan.

Kisah ini ada dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 114, “Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dar langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama.”

Setelah Nabi Isa berdoa, tiba-tiba terhampar hidangan yang banyak di hadapan mereka. Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 115, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.”

Peristiwa hidangan yang diturunkan oleh Allah terjadi juga pada umat Nabi Musa as. Inilah bukti kekuasaan Allah. Namun, banyak di antara manusia yang mengingkarinya.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Pada usia 30 tahun, Isa putra Maryam diangkat menjadi seorang Rasul Allah. Allah mengutusnya untuk berdakwah kepada kaumnya.

Pada masa itu, kaum Bani Israel telah banyak melakukan penyimpangan dari Kitab Taurat. Mereka menghalalkan hal-hal yang diharamkan. Mereka juga menambahkan hukum-hukum yang ditetapkan. Hari sabtu digunakan untuk bersenag-senang, padahal Allah telah menetapkan hari itu sebagai hari untuk beribadah. Orang-orang Bani Israel yang kaya juga mulai enggan membayar zakat dan sedekah kepda fakir miskin.

sumber gambar : lampuislam.blogspot.com
Selain penyimpangan-penyimpangan tersebut, orang yang bersikap munafik juga bertambah banyak. Mereka berlagak seperti orang yang alim, padahal diam-diam mereka banyak melakukan kemaksiatan. Oleh karena itulah, Allah mengutus Nabi Isa untuk mengembalikan Bani Israel pada ajaran yang lurus.

Dakwah Nabi Isa

Nabi Isa berdakwah kepada kaum Bani Israel. Ia senantiasa mengajak kaum Bani Israel untuk menjalankan ajaran sesuai dengan perintah Allah swt.

Ketika Nabi Isa mnyeru pada ajaran yang benar, kaum munafik mulai khawatir jika rahasia mereka terbongkar. Mereka sangat membenci Nabi Isa. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk melayangkan tuduhan jahat kepada Nabi Isa. Mereka menyebarkan isu bahwa Nabi Isa adalah seorang pendusta.

Kaum Bani Israel termakan oleh hasutan kaum munafik. Mereka berkumpul dan meminta bukti kenabian Nabi Isa. Kemudian, Nabi Isa menunjukan mukjizatnya. Ia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan menghidupkan burung dari tanah dengan seizin Allah. Namun, sebagian dari mereka tetap tidak percaya dengan kenabian Nabi Isa. Mereka menuduh Nabi Isa sebagai tukang sihir.

Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Nabi Isa terus berdakwah kepada Bani Israel. Suatu ketika, ia berdakwah kepada Bani Israel. Suatu ketika, ia berdakwah di Baitul Maqdis. Para pemuka agama di sana meyakini ajaran yang dibawa Nabi Isa. Semakin lama, pengikutnya semakin banyak.

Mukjizat Nabi Isa

Allah melebihkan Rasul-rasul-Nya dari manusia yang lain. Begitu juga dengan Nabi Isa, Allah memberikan beberapa mukjizat kepadanya.

Pada saat Nabi Isa berdakwah, sebagian kaum Bani Israel tidak mempercayai kenabiannya. Mereka meminta Nabi Isa untuk menunjukkan mukjizatnya. Kemudian, Nabi Isa membentuk tanah serupa dengan burung. Tiba-tiba, tanah itu benar-benar menjadi burung yang hidup. Mereka sangat takjub dengan peristiwa itu. Sekaipun kagum dengan peristiwa itu, tetapi mereka hanya menganggapnya sebagai sihir semata. Dalam hati mereka belum tertanam keimanan kepada Alah swt.

Pada saat yang lain, Nabi Isa juga menemui seseorang lelaki yang buta sejak lahir.Nabi Isa mengusap mata lelaki buta itu dengan tangan dan sambil berdoa. Dengan izin Allah, lelaki buta itu menjadi sembuh dan mampu melihat. Nabi Isa juga menyembuhkan oang yang memiliki penyakit kusta. Sekalipun telah melihatt tanda-tanda kenabian, kaum Nabi Isa masih menganggapnya sebagai sihir semata.

Ketika melewati kuburan, Nabi Isa mendengar tangisan seseorang. Setelah dilihat, seorang wanita sedang menangis di sisi kuburan anaknya. Wanita itu menginginkan anaknya hidup kembali. Nabi Isa pun menolongnya. Ia berdoa kepada Allah. Tiba-tiba, tanah kuburan tersebut terbelah. Orang yang meninggal hidup kembali. Wanita itupun sangat senang.

Bagi kaum Bani Israel, mukjizat-mukjizat hanyalah sihir semata. Bagi pengikut Nabi Isa, mukjizat itu semakin menambah iman mereka. Para pemuka Bani Israel merasa terancam kekuasaannya dengan keberadaan Nabi Isa. Mereka melakukan berbagai cara untuk membendung pengaruh ajaran Nabi Isa, termasuk berusaha membunuh Nabi Isa.   

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Maryam bin Imran adalah anak dari Imran dan Hannah. Maryam dititipkan kepada para pemuka di agama di Baitul Maqdis. Ia diasuh oleh Nabi Zakaria. Di Baitul Maqdis, Maryam senantiasa beribadah kepada Allah swt.


Pada suatu ketka, Maryam sedang beribadah di mihrabnya. Pada saat itulah, Malaikat Jibril mendatanginya dalam bentuk laki-laki tampan agar Maryam tidak ketakutan. Kisah ini digambarkan dalam Al-Quran surat Maryam ayat 17, “Maka ia mengadakan tabir (yang melindungnya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami (Malaikat Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung dari dirimu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”

“Aku datang sebagai utusan Allah. Dia akan memberimu seorang anak lelaki yang suci.” Kata Malaikat Jibril. Maryam terkejut dan berkata, “Bagaimana aku dapat memperoleh anak laki-laki, tidak pernah seorang manusia pun menyentuh aku dan aku bukan pula seorang pezina?” Malaikat Jibril menjelaskan bahwa itu adalah hal yang mudah bagi Allah dan suatu perkara yang telah diputuskan. Setelah itu, Malaikat Jibril meninggalkan Maryam yang kebingungan.

Maryam benar-benar mengandung. Karena khawatir dengan cemohan orang-orang, dia pulang ke Anna-shirah. Dia terus beribadah kepada Allah. Dengan izin Allah, Maryam memperoleh ketenangan. Maryam melalui hari-harinya dengan ketabahan. Kelak, ia akan melahirkan bayi laki-laki yang akan menjadi Nabi dan diberi nama Isa.

Kelahiran Nabi Isa

Waktu melahirkan bagi Maryam telah tiba. Maryam keluar rumah secara diam-diam. Karena sudah tidak dapat menahan rasa sakit, ia terpaksa berhenti dan bersandar di bawah pohon kurma.

Maryam melahirkan seoang anak lelaki yang diberi nama Isa. Dengan berlinangan air mata, Maryam berkata, “Alangkah baiknya kalau aku mati sebelum melahirkan anak tanpa seorang suami.” Maryam juga merasa haus dan lapar. Tidak lama kemudian, ada suara, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” Suara itu adalah suara Malaikat Jbril yang diutus oleh Allah. Malaikat Jibril juga memerintahkan, “Goyangkan pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Kemudian, makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seseorang, katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, aku tidak akan berbicara kepada siapapun pada hari ini.”

Maryam pun makan dan minum sehingga tubuhnya kembali sehat. Namun, ia masih risau dan bingung. Ia membayangkan tanggapan dan reaksi orang-orang di kampung halamannya. Maryam yakin orang-orang akan menghinanya karena memiliki anak tanpa suami.

Maryam berdoa kepada Allah agar diberi ketenangan dan ketabahan. Selanjutnya, Maryam menggendong anaknya dan berjalan ke arah kampung halamannya. Maryam sampai di kampung halamannya. Seperti yang telah dia duga, orang-orang mencemohnya. Mereka menganggap Maryam telah melakukan perbuatan zina.
Orang-orang berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat munkar. Yang lainnya berkata, “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” Maryam dipanggil sebagai saudara perempuan Harun karena ia adalah seorang wanita yang saleh seperti kesalehan Nabi Harun as.

Baca juga :
Maryam sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Maryam memberi tahu dengan bahasa isyarat bahwa ia sedang berpuasa dan tidak berbicara kepada siapa pun. Ia menunjukan pada bayi yang berada dalam buaian. Kemudian, orang-orang berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan.”

Tiba-tiba, bayi yang berada dalam buaian (Nab Isa) berkata, “sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; serta berbakti kepada ibuku. Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Demikianlah Isa putra Maryam mengucapkan perkataan yang benar. Orang-orang berbanta-bantah tentang kebenarannya. Cerita tentang Isa yang masih bayi mampu berbicara tersebar luas. Hal itu menghapus fitnah pada diri Maryam.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Pada suatu masa, Nabi Zakaria telah berusia lanjut. Usianya ketika itu mencapai sekitar sembilan puluh tahun. Namun, ia dan istrinya belum dikaruniai seorang anak pun. Siang dan malam, Nabi Zakaria dan istrinya terus berdoa memohon kepada Allah agar dirinya diberi seorang anak. Hati Nabi Zakaria mulai risau karena belum memiliki anak. Ia khawatir tidak ada yang meneruskan dakwahnya kepada kaum Bani Israil. Apabila hal itu terjadi, ia cemas kaum bani israil akan kembali pada kekufuran.


Doa Nabi Zakaria terdapat di dalam Al Quran Surat Al Anbiya ayat 89, “Dan ingatlah kisah Zakaria, ketika ia menyeru Tuhannya, Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri. Engkaulah sebaik-baik pewaris.” Setiap harinya, Nabi Zakaria pergi ke mihrab untuk bersembahyang dan menjenguk Maryam. Suatu ketika, Nabi Zakaria berkunjung ke mihram Maryam. Ketika itu, Maryam sedang bersembahyang dengan khusyuk sehingga tidak mengetahui kedatangan Nabi Zakaria. Pada saat itulah, ia merasa heran karena melihat makanan berada di salah satu sudut mihrab Maryam. Dalam hati, Nabi Zakaria bertanya, “Dari mana Maryam mendapatkan makana ini?”

Setelah Maryam selesai bersembahyang, Nabi Zakaria bertanya tentang asal makanan tersebut. Maryam menjawab, “Makanan itu adalah rezeki pemberian Allah kepadaku setiap hari. Aku tidak pernah meminta, tetapi Allah memberikannya kepadaku.” “Bagaimanakah kamu mendapatkannya?” tanya Nabi Zakaria dengan penuh keheranan. Maryam menjawab bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Zakaria pun mengerti.

Peristiwa itu sangat membekas dalam hati Nabi Zakaria. Dari peristiwa itu, Nabi Zakaria menjadi yakin jika ia berdoa, Allah akan mengabulkan doanya. Setibanya di rumah, Nabi Zakaria menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Sejak saat itu, Nabi Zakaria dan istrinya berdoa kepada Allah dan tidak pernah berputus asa.

Kabar Gembira Untuk Nabi Zakaria

Nabi Zakaria senantiasa berdoa kepada Allah. Ia berharap Allah akan memberikan keturunan kepadanya. Pada suatu ketika, kabar gembira datang kepada Nabi Zakaria. Doanya akan dikabulkan oleh Allah. Hal itu di kisahkan dalam Al Quran Surat Maryam ayat 7, “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” Nabi Zakaria tidak langsung mempercayainya. Dengan penuh keheranan, ia berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.” Tuhan berfirman, “Demikianlah.” Tuhan berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.”

Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” Tuhan berfirman, “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat mencakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.” Kemudian Nabi Zakaria keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka agar mereka bertasbih di waktu pagi dan petang. Demikianlah, Nabi Zakaria sangat bahagia mendengar kabar itu. Ia bersyukur karena Allah mengabulkan doanya. Ia mengajak kaumnya untuk senantiasa bertasbih kepada Allah.

Kelahiran Nabi Yahya

Allah swt Yang Maha Mendengar dan Berkuasa mengabulkan doa Nabi Zakaria. Melalui Malaikat Jibril, Allah mmeberikan kabar gembira kepada Nabi Zakaria. Ketika itu, Nabi Zakaria sedang melaksanakan shalat di mihrabnya. Malaikat Jibril memanggil, “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang saleh.” (QS. Ali Imran : 39)

Kemudian Nabi Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?” Allah berfirman, “Demikianlah, Aku berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” Zakaria berkata, “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran : 40-41)

Akhirnya, lahirlah anak tersebut. Allah memberikan nama anak itu dengan nama Yahya. Sejak masa kanak-kanak, Nabi Yahya mendapatkan kasih sayang yang besar dari kedua orang tuanya. Nabi Yahya dididik dengan pendidikan agama. Selain itu, Allah mengaruniakan Nabi Yahya beberapa keistimewaan, seperti bijak, cepat memahami suatu perkara, lemah lembut, dan terhindar dari bahaya. Nabi Yahya adalah seorang yang berkepribadian baik, bertakwa, dan hidup sederhana. Allah juga menjauhkan Nabi Yahya dari perbuatan maksiat. Nabi Yahya membantu ayahnya berdakwah kepada kaum Bani Israil dengan menegakkan ajaran-ajaran Allah. Ia adalah salah seorang hamba yang saleh.

Dakwah Nabi Yahya

Al Quran menggambarkan Nabi Yahya sebagai seorang yang diberi ilmu dan hikmah sejak kecil. Selain itu, ia adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, tidak sombong dan tidak durhaka. Nabi Yahya adalah juga seorang yang cerdas dan berpikiran tajam. Ia sangat rajin beribadah pada siang hari dan malam hari.

Sejak masih kecil, Nabi Yahya telah di beri kemampuan untuk memahami kitab Taurat. Penguasaan dan pemahamannya terhadap ilmu agama menjadikan Nabi Yahya sebagai tempat bertanya tentang hukum-hukum agama. Ia tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi ia juga menerapkannya dalam sehari-hari. Ia menegakkan hukum-hukum Allah di kalangan Bani Israil dengan tegas. Dengan berani, ia akan mengungkapkan kebenaran berdasarkan ajaran-ajarannya sekalipun hal itu ditentang oleh pihak penguasa.
Sebelum usia 30 tahun, Nabi Yahya telah diangkat Allah menjadi Nabi dan Rasul. Suatu ketika, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Yahya. Wahyu itu adalah lima perkara yang harus disampaikan kepada kaum Nabi Yahya.

Baca juga :
Setelah itu, Nabi Yahya berdakwah kepada kaumnya di sebuah masjid. Ia menyatakan bahwa Allah telah mengutusnya untuk menyampaikan lima perkara kepada kaumnya. “Lima perkara itu adalah hal-hal yang harus kalian laksanakan. Pertama, Kalian harus menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Kedua, kalian diperintahkan untuk mendirikan shalat. Ketiga, kalian disuruh untuk berpuasa. Keempat, kalian diminta untuk bersedekah. Kelima, kalian diperintahkan untuk berzikir dan mengingat Allah. Jika kalian melaksanakan lima perkara tersebut, kalian termasuk golongan orang beriman. Kelak orang-orang beriman akan ditempatkan di surga,” seru Nabi Yahya.

Wafatnya Nabi Yahya

Nabi Yahya adalah Rasul Allah yang taat melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah. Ia sangat membenci tindakan-tindakan yang melanggar ketentuan Allah. Pada masa itu, wilayah Palestina dipimpin oleh Herodus. Ketika itu, Herodus berkeinginan untuk menikah dengan anak saudaranya sendiri yang bernama Herodea. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Herodea adalah anak tiri Herodus. Pernikahan seperti itu tidak diperbolehkan dalam syariat ajaran Musa atau melanggar hukum dalam kitab Taurat.

Nabi Yahya menentang pernikahan tersebut. Banyak orang juga menentang pernikahan tersebut. Herodea yang sangat ingin menikah dengan Herodus menjadi marah. Ia merasa khawatir dengan penentangan Nabi Yahya dan orang-orang tersebut akan mempengaruhi keputusan Herodus untuk menikah dengannya.

Penentangan itu membuat Herodea marah. Ia pun berniat membunuh Nabi Yahya. Herodea pun membujuk Herodus untuk membunuh Nabi Yahya. Pada awalnya, Herodus keberatan. Namun akhirnya, Herodus menyanggupinya. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menangkap dan membunuh Nabi Yahya. Para pengawal itu diperintahkan untuk membawa kepala Nabi Yahya ke hadapan Herodus.

Akhirnya, para pengawal berhasil menangkap dan memenggal kepala Nabi Yahya. Kepala Nabi Yahya dibawa ke hadapan Herodus dan Herodea. Herodea sangat senang karena keinginannya tercapai. Setelah peristiwa itu, Allah melaknat Herodea dan seluruh kaum Bani Israil. Mereka mendapat kemurkaan Allah.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Imran adalah seorang yang taat menjalankan perintah Allah swt. Ia juga dihormati pada masa itu. Ia menikah dengan wanita bernama Hannah. Hannah juga seorang wanita yang taat beribadah. Ia senantiasa mengingat dan memuji Allah.


Setelah berpuluh-puluh tahun menikah, mereka tidak dikaruniai seorang anak pun. Pada awalnya, mereka hidup bahagia. Namun lama-kelamaan, Hannah merasa kesepian. Ia berdoa kepada Allah. Hannah merasa kesepian. Ia berdoa kepada Allah. Hannah bernazar bila ia memperoleh anak lelaki, ia akan membawanya ke rumah suci Baitul Maqdis. Anaknya akan mengabdi kepada Tuhan. Allah mengabulkan doa Hannah. Hannah mengandung, Imran dan Hannah sangat bahagia. Namun, Imran meninggal sebelum Hannah melahirkan.

Pada saat tiba masanya, Hannah pun melahirkan. Namun, ia kecewa karena anaknya adalah perempuan. Ia memberi nama anaknya, Maryam. Meskipun anaknya perempuan, Hannah tetap mengantar Maryam ke Baitul Maqdis.

Nabi Zakaria Mengasuh Maryam

Hannah menyerahkan Maryam kepada para pendeta untuk dijaga. Setelah Hannah pulang, para pemuka agama tidak dapat memutuskan siapa yang mengasuh Maryam. Semua pemuka agama ingin mengasuh Maryam.

Baca juga :
Kemudian, para pemuka agama membuat kesepakatan. Mereka membuang pena (alat tulis) ke sungai. Pemilik pena yang tidak tenggelam adalah orang yang mengasuh Maryam. Ternyata, hanya pena Nabi Zakaria yang tidak tenggelam. Oleh karena itu, Nabi Zakaria mengasuh Maryam. Kebetulan, Hannah dan istri Nabi Zakaria adalah kakak beradik. Nabi Zakaria mengasuh Maryam dengan penuh kasih sayang. Apalagi, Nabi Zakaria belum memiliki anak.

Maryam tumbuh menjadi perempuan shalihah. Ia adalah perempuan yang sangat mulia dan suci. Ia senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi perbuatan maksiat. Maryam memenuhi hari-harinya dengan beribadah kepada Allah.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Setelah Nabi Yunus diselamatkan dari perut ikan paus, ia kembali ke Ninawa. Di perjalanan pulang, ia bertemu dengan seorang penggembala kambing. Nabi Yunus bertanya kepada penggembala kambing tersebut, “Siapakah kamu wahai Abdullah ?” orang itu menjawab, “Aku adalah salah seorang dari kaum Yunus bin Muta.”


Nabi Yunus bertanya, “Apakah yang dilakukan oleh Yunus ?” Orang itu menjawab, “Aku tidak mengetahui keberadaannya sekarang. Namun, yang aku ketahui tentang Nabi Yunus, ia adalah orang yang paling baik dan paling jujur. Ia mengabarkan kepada kami tentang azab yang akan ditimpakan kepada kami. Kemudian azab tersebut benar-benar datang kepada kami. Setelah azab itu datang, kami bertobat kepada Allah swt. Kemudian Allah swt menerima tobat kami. Kami telah lama mencari Yunus, tetapi kami tidak mengetahui keberadaannya sekarang.

Nabi Yunus berkata kepada penggembala kambing tersebut, “Apakah kamu mempunyai susu ?” Penggembala itu menjawab, “Tidak. Demi Tuhan yang memuliakan Yunus. Sejak Yunus meninggalkan kami, langit belum pernah menurunkan hujannya. Tumbuh-tumbuhan tidak ada yang tumbuh.”

Nabi Yunus berkata, “Bukankah aku melihat kamu bersumpah atas nama Tuhannya Yunus ?” Penggembala itu menjawab, “Kami tidak pernah bersumpah selain kepada Tuhannya Yunus. Hal ini disebabkan barangsiapa di antara kami ada yang bersumpah kepada selain Tuhannya Yunus, maka lidahnya akan dicabut dari lehernya.”

Nabi Yunus bertanya kepada orang itu, “Sejak kapan kamu melakukan kebiasaan itu ?” Orang itu menjawab, “sejak kami diselamatkan dari azab itu.”

Nabi Yunus berkata, “Berikanlah aku seekor kambing betina.” Penggembala kambing itu pun memberikan seekor kambing betina yang kurus kepada Nabi Yunus. Kambing itu tidak mempunyai susu sehingga seharusnya tidak boleh diperah.

Baca juga :
Kemudian Nabi Yunus mengusap perut kambing betina itu. Beliau berkata, “Dengan izin Allah swt pancarkan air susumu.” Seketika memancarlah air susu itu. Nabi Yunus mulai memerahnya. Setelah itu, Nabi Yunus dan penggembala kambing itu meminum susu kambing tersebut. Penggembala kambing itu berkata, “Jika Yunus masih hidup, niscaya dia bisa melakukan apa yang kamu lakukan tadi.” Nabi Yunus berkata, “Akulah Yunus, temuilah kaummu dan sampaikan salamku untuk mereka.”

Penggembala kambing itu berkata, “Sesungguhnya raja pernah berkata, “Barangsiapa yang datang kepadaku dengan membawa berita bahwa dia telah bertemu dengan Yunus disertai dengan bukti kebenaran yang mendukung pernyataan itu, maka aku akan menyerahkan kekuasaan ini kepadanya dan aku akan mengikuti Yunus. Akan tetapi, barangsiapa yang berdusta, maka dia akan dibunuh.”

Penggembala itu tidak dapat menyampaikan kebenaran itu, kecuali disertai dengan bukti-bukti yang nyata. Dia khawatir apabila mengatakan hal tersebut, dia dianggap ingin mendapatkan kekuasaan. Dia juga takut dibunuh apabila dianggap telah berdusta. Nabi Yunus berkata, “Kambing yang susunya telah kita minum ini yang akan menjadi saksinya.”

Kemudian Nabi Yunus bersandar pada sebongkah batu besar. Ia berkata kepada batu besar tersebut, “Jadilah kamu sebagai saksi untuk penggembala kambing ini.” Selanjutnya Nabi Yunus berkata kepada penggembala kambing, “Pergilah kepada kaummu dan sampaikanlah salamku kepada mereka. Katakanlah kepada mereka bahwa kamu pernah melihat aku.”

Penggembala kambing itu pergi menemui kaumnya. Dia mengabarkan bahwa dia telah bertemu dengan Nabi Yunus. Namun, kaumnya menganggap dia telah berdusta. Dia pun memberikan bukti-bukti berupa batu besar dan kambing betina tersebut. Batu besar dan kambing betina itu dapat berbicara dan menjadi saksi atas kebenaran perkataan penggembala tersebut. Akhirnya, kaumnya percaya. Mereka menangis karena mendengar kabar tentang Nabi Yunus.

Kaumnya berkata kepada penggembala kambing itu, “Kamu adalah orang terbaik di antara kami karena kamu telah bertemu dengan Nabi Yunus. Oleh karena itu, kami akan mengangkat kamu menjadi raja. Kami akan taat kepadamu.” Pada saat itulah hari terakhir Nabi Yunus tinggal bersama kaumnya. Akhirnya, penggembala kambing itu menjadi raja selama empat puluh tahun.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Negeri Ninawa adalah negeri di Irak yang dihuni oleh penduduk yang menyembah berhala. Nabi Yunus diutus oleh Allah untuk berdakwah di negeri Ninawa. Nabi Yunus mengajak mereka menyembah Allah swt. Dia menjelaskan bahwa penyembahan berhala tidak memberikan manfaat.

Ajaran-ajaran Nabi Yunus merupakan hal yang baru bagi para penduduk Ninawa. Mereka belum pernah mendengar ajaan seperti itu. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerimanya. Mereka telah memeluk ajaran dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sudah menjadi adat kebiasaan mereka turun temurun. Apalagi, pembawa ajaran baru itu adalah seorang asing yang tidak satu keturunan dengan mereka. Penduduk Ninawa tidak mau menerima ajaran Nabi Yunus. Mereka tetap menyembah berhala.

generusjaktim2.wordpress.com
Pada suatu ketika, Nabi Yunus berdoa kepada Allah agar penduduk Ninawa menerima dakwahnya. Kemudian, Allah meminta Nabi Yunus tetap berdakwah selama empat puluh hari. Apabila dalam waktu itu penduduk Ninawa tidak beriman kepada Allah, Allah akan menurunkan azab-Nya.

Nabi Yunus terus berdakwah, bertahun-tahun Nabi Yunus telah berdakwah, tetapi mereka tetap tidak mau menerima ajarannya. Mereka mengatakan, “Kami tidak takut akan siksaan Tuhanmu itu. Datangkanlah siksaan itu sekiranya kamu dari golongan yang benar.” Nabi Yunus marah dan meninggalkan mereka. Dia berhijrah ke negeri lain.

Baca juga :
Nabi Yunus meninggalkan negeri Ninawa dengan perasaan penuh amarah. Ia benar-benar kecewa. Tidak lama setelah Nabi Yunus pergi, Allah menimpakan azab bagi penduduk Ninawa. Allah menurunkan cuaca yang sangat panas. Akibatnya, warna kulit mereka berubah. Penduduk Ninawa menjadi cacat dan tampak jelek. Mereka pun teringat dengan dakwah Nabi Yunus. Akhirnya mereka sadar bahwa Yunus adalah orang yang benar, dan ajarannya berasal dari Allah.

Kemudian, mereka beriman dan menyesali perbuatan mereka terhadap Yunus. Mereka lari tunggang langgang dari kota mencari Yunus sambil berteriak meminta pengampunan Allah atas dosa mereka.

Penduduk Ninawa bertobat seperti yang pernah diajarkan Nabi Yunus. Tobat mereka benar-benar ikhlas. Oleh karena itu, Allah mengampuni mereka dan keadaan mereka pulih seperti sedia kala. Kehidupan mereka kembali tenteram. Mereka ingin Nabi Yunus kembali ke negeri mereka dan menuntun mereka pada ajaran yang benar. Namun, Nabi Yunus telah pergi dengan membawa kekecewaan.

Nabi Yunus Menumpang  Kapal

Nabi Yunus meninggalkan Ninawa dengan hati kesal. Berhari-hari, ia berjalan tak menentu arahnya. Pada suatu ketika, ia sampai di suatu pantai. Di sana, ia melihat kapal yang akan menyeberangi laut. Ia pun meminta izin untuk dapat ikut serta berlayar. Setelah diizinkan, Nabi Yunus naik ke kapal.

Pada saat kapal berlayar, tiba-tiba kapal berguncang hebat karena gelombang dan angin yang besar. Penumpang kapal pun panik. Untuk mengurangi muatan, mereka membuang barang mereka. Namun, kapal masih tetap berguncang.

Kemudian, mereka memutuskan agar salah satu dari mereka dibuang ke laut. Hal itu dilakukan dengan cara mengundi. Ternyata, undian jatuh pada Nabi Yunus. Semua penumpang merasa keberatan karena Nabi Yunus adalah orang yang mulia. Oleh karena itu, mereka mengundi kembali.

Hasil undian yang kedua ternyata tetap jatuh kepada Nabi Yunus. Mereka kembali mengulang undian. Ternyata, undian tetap jatuh kepada Nabi Yunus. Nabi Yunus menyadari bahwa ini kehendak Allah swt. Ia menerima keputusan itu dengan ridha. Dengan penuh keikhlasan ia pun meloncat ke laut.

Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus

Nabi Yunus benar-benar meloncat ke laut. Ia melakukannya dengan ikhlas. Ia menyadari kesalahannya yang begitu saja meninggalkan penduduk Ninawa. Setelah itu, Allah memerintahkan ikan paus untuk menelan Nabi Yunus. Nabi Yunus pun ditelan ikan paus. Di dalam perut ikan, Nabi Yunus berdzikir. Ia terus-meneruskan mengucapkan, “Laa ilaaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minazh zhalimiin (Tiada Tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang yang telah berbuat zalim).”

Allah mendengar doa Nabi Yunus. Allah memerintahkan ikan paus mendamparkan Nabi Yunus di sebuah pantai. Allah Yang Maha Pengasih menumbuhkan pohon labu sehingga Nabi Yunus yang lemah tidak berdaya dapat bernaung dan memakan buahnya.

Setelah pulih, ia diperintahkan kembali ke Ninawa. Ia terkejut ketika melihat perubahan penduduk Ninawa yang telah beriman kepada Allah. Selanjutnya, Nabi Yunus mengajarkan kepada mereka tauhid dan menyempurnakan iman mereka.

Kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan paus diceritakan dalam Al Quran Surat Al-Anbiya ayat 87-88. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. ‘Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” Sungguh, Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengatur dan Maha Bijaksana.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Nabi Ilyasa adalah murid dari Nabi Ilyas as. Ia adalah salah seorang Nabi dan Rasul dari kalangan Bani Israil.

Dalam Al Quran, nama Ilyasa disebutkan sebagai orang yang dilebihkan derajatnya. “Dan Ismail, Ilyasa, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)”. (QS. Al-An’aam : 48).


Allah juga menggolongkan Nabi Ilyasa sebagai orang yang paling baik. “Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS. Shaad : 48).

Pertemuan Nabi Ilyas dengan Nabi Ilyasa bermula saat Nabi Ilyas memasuki rumah seorang kaum Bani Israil. Di rumah tersebut terdapat anak kecil yang sedang sakit. Nabi Ilyas berdoa kepada Allah agar anak kecil itu sembuh.

Tidak lama kemudian, anak kecil itu sembuh. Anak kecil itu mengikuti ajaran Nabi Ilyas. Ia beriman kpada Allah. Anak kecil itu adalah Nabi Ilyasa.

Dakwah Nabi Ilyasa

Ketaatan Nabi Ilyasa telah terlihat sejak ia masih kecil. Nabi Ilyasa telah sering mengikuti Nabi Ilyas berdakwah. Oleh karena itu, Nabi Ilyasa mendapat kepercayaan dari Nabi Ilyas untuk menggantikannya.

Setelah Nabi Ilyas wafat, Nabi Ilyasa meneruskan dakwahnya. Ketika itu, sebagian kaum Nabi Ilyas masih ada yang menyembah berhala. Mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Mereka tidak mau menerima agama yang dibawa oleh Nabi Ilyasa. Meskipun demikian, Nabi Ilyasa tetap sabar dan tidak berputus asa. Nabi Ilyasa tetap bertekad untuk membawa kaumnya hanya menyembah kepada Allah swt.

Sebagian kaum Bani Israil ada yang menjadi pengikut Nabi Ilyasa. Mereka hidup rukun dan damai hingga Nabi Ilyasa wafat. Mereka sangat sedih dengan wafatnya Nabi Ilyasa.

Setelah sekian lama Nabi Ilyasa wafat, mereka mulai meninggalkan ajaran Nabi Ilyasa. Semakin lama, mereka semakin kufur terhadap Allah swt.

Oleh Sugiasih, S.Si.

Dunia Nabi ~ Nabi Ilyas adalah benar-benar seorang Rasul. Hal itu ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran Surat Ash-Shaaffaat ayat 123 : “Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang dari rasul-rasul.” Nama Ilyas disebut empat kali dalam Al-Quran, yaitu di Surat Ash-Shaaffaat dan Surat Al-An’aam. Nabi Ilyas adalah seorang yang saleh dan taat menjalankan perintah Allah swt.

sumber : hambamuslim.com
Sekalipun Nabi Ilyas adalah seorang yang bertakwa, ia hidup di tengah-tengah masyarakat yang syirik, yaitu menyembah berhala. Kaum Nabi Ilyas adalah keturunan Bani Israil yang tinggal di Kota Balbek. Kota ini berada di wilayah Lebanon. Mereka menyembah berhala yang dinamakan Baal.

Allah mengutus Nabi Ilyas untuk berdakwah tentang tauhid yang benar. Nabi Ilyas diminta mengajak kaumnya untuk menyembah Allah swt.

Dakwah Nabi Ilyas

Allah telah mengutus Nabi Ilyas kepada kaum Bani Israil di Kota Baalbek. Nabi Ilyas pun melaksanakan perintah Allah dengan penuh kesungguhan.

Nabi Ilyas menyeru kepada kaumnya untuk menyembah Allah. Namun, mereka tidak mau memperdulikannya. Sekalipun begitu, Nabi Ilyas tetap bersabar dan terus berdakwah.

Suatu hari, Nabi Ilyas berkata, “Mengapa kamu tidak bertakwa ? Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhamu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu ?” Kaum Nabi Ilyas tetap tidak menghiraukan perkataan Nabi Ilyas.

Nabi Ilyas berkata kepada kaum Bani Israil, “Apakah engkau tidak takut dengan azab Allah ? Engkau menyembah berhala Baal, padahal hanya Allah, Tuhan semesta alam, yang patut disembah.” Kaum Bani Israil tetap tidak mengindahkan seruan Nabi Ilyas. Meskipun demikian, Nabi Ilyas tidak berputus asa.

Kaum Bani Israil tetap menyembah berhala, padahal berhala tidak memberikan manfaat sedikit pun kepada mereka. Bagaimana mungkin mereka meminta pertolongan kepada berhala yang tidak bernyawa ? Demikianlah, mereka menjadi kafir karena mereka tetap menyembah berhala.

Hukuman Untuk Kaum Nabi Ilyas

Nabi Ilyas terus-menerus meminta kaum Bani Israil untuk menyembah Allah. Namun, kaum Bani Israil tetap menolak dakwah Nabi Ilyas. Nabi Ilyas tetap bersabar.

Suatu ketika, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah supaya menghentikan hujan. Allah memperkenankan doa Nabi Ilyas. Selama tiga tahun wilayah tersebut tidak turun hujan. Akibatnya, hewan-hewan ternak dan tumbuhan banyak yang mati. Kaum Nabi Ilyas mengalami banyak kesusahan.

Nabi Ilyas berkata kepada kaumnya apabila mereka meninggalkan berhala, dia akan berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesusahan mereka. Mereka pun membuang berhala-berhala mereka. Setelah itu, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah. Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas, yaitu menghilangkan kesusahan dan menurunkan hujan.

Meskipun demikian, kaum Nabi Ilyas tetap memelihara kekafiran mereka. Nabi Ilyas berdoa sekali lagi kepada Allah untuk menghentikan hujan. Allah pun mengabulkan kembali doanya. Mereka beriman kepada Allah. Kemudian, Allah mengutus Nabi Ilyasa untuk menggantikan Nabi Ilyas.

Pada akhirnya, kaum Bani Israil akan menjadi kafir lagi dan azab Allah yang pedih menimpa mereka. “Maka mereka mendustakannya. Oleh karena itu, mereka akan diseret (ke neraka), kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).” (QS. Ash-Shaaffaat : 127-128).

Oleh Sugiasih, S.Si.

Ngawi Cyber

Diberdayakan oleh Blogger.